"Damar, yang sopan kamu kalau ngomong! Dia ini calon istri Daddy, calon Ibu tiri kamu!" bentak Kenzo dengan mata membulat kesal.
Damar tersenyum sinis seraya memandang tubuh Gwen dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Saya 'kan udah pernah bilang sama Daddy, kalau saya cuma punya satu Ibu. Saya gak sudi punya Ibu tiri macam dia. Apalagi cewek yang udah dipake duluan sebelum resmi jadi istri!"
Kenzo melayangkan telapak tangannya ke udara hendak mendarat di wajah putranya. Apa yang Damar katakan benar-benar sudah keterlaluan, anak itu bukan hanya tidak sopan, tapi sudah menyentuh ranah pribadi orang lain. Namun, belum sempat telapak tangan Kenzo mendarat di wajah Damar, Gwen mencengkram kuat pergelangan tangannya, memintanya untuk tenang.
"Tenang, Om. Tenang ... aku mohon jangan emosi kayak gini," ucapnya, memandang wajah Kenzo dengan sayu.
Kenzo mendengus kesal seraya menurunkan telapak tangannya juga memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara Damar, anak itu kembali tersenyum menyeringai bahkan memandang wajah Gwen dengan jijik.
"Om? Hahahaha! Kayak ani-ani aja sih," decaknya lalu melangkah meninggalkan ayah dan calon istrinya dengan santai.
Mata Kenzo semakin membulat dengan rahang mengeras kesal. "Dasar anak gak tau diri!" umpatnya hendak mengejar Damar.
"Sudah cukup, Om. Gak usah dikejar," pinta Gwen seraya menggenggam telapak tangan Kenzo erat. "Anak yang punya sifat keras jangan dikerasin lagi, Om. Kalau Om sama Damar sama-sama keras, dia akan semakin lari menjauh dari Om."
Kenzo mengusap wajahnya kasar dengan d**a naik turun menahan emosi yang sebenarnya ingin sekali ia ledakan. Emosi yang ditahan membuat jiwanya tertekan. Seharusnya ia tampar saja wajah Damar agar anak itu sadar, tapi mendengar ucapan Gwen, membuatnya berpikir. Ya, melawan kekerasan dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada, hubungannya dengan Damar akan semakin merenggang.
"Om sabar, ya. Anak remaja emang seperti itu," ucap Gwen, mengusap punggung tangan Kenzo dengan lembut
"Tapi si Damar udah keterlaluan lho, Honey. Masa dia bilang kamu ani-ani?" jawab Kenzo, bola matanya memerah karena amarah.
"Ya itu karena aku manggil Om. Hmm ... gimana kalau mulai sekarang aku manggil Om dengan sebutan Mas?"
Kenzo seketika tersenyum lebar, memandang wajah Gwen dengan tatapan berbinar. "Mas?" serunya dengan perasaan senang. "Waaah! Saya justru seneng banget kamu manggil saya Mas!"
Gwen balas tersenyum. "Oke, mulai sekarang aku akan memanggil Om, Mas. Mas Kenzo."
Kenzo tertawa nyaring, memandang wajah Gwen dengan gemas. Ingin rasanya ia membopong tubuh aduhai Gwen dan membawanya ke atas ranjang saking gemasnya. Namun, mengingat persyaratan yang diajukan oleh Gwen mengharuskannya menahan gairah, hasrat dan keinginannya untuk bercinta.
Kenzo mencubit kedua sisi wajah Gwen dengan gemas. "Hiiih ... gemes banget sih denger kamu manggil Mas. Rasanya pengen ta telen kamu bulat-bulat," ucapnya.
"ikh, Om apaan sih," decak Gwen seraya mengusap kedua sisi wajahnya yang memerah.
"Lho, ko Om lagi."
"Ups, lupa. Maksud aku Mas Kenzo. Puas?"
Kenzo tersenyum lebar seraya memeluk tubuh Gwen erat dengan perasaan bahagia. "Puas banget, Honey. Puaaas banget, ya ... meskipun saya gak akan pernah puas sebelum kamu benar-benar jadi istri saya dan kita--" ucapan Kenzo tertahan karena Gwen tiba-tiba mengurai pelukan.
"Stttt! Jangan dibahas, udah ya ... Mas gak lupa 'kan sama syarat yang aku ajuin?" decak Gwen seraya meletakan kedua telapak tangannya di pinggang Kenzo.
"Ya nggaklah, masa lupa? Pokoknya demi kamu, Mas bakalan nahan gak bercinta sampe kita benar-benar sah jadi suami istri. Oke?"
Gwen tersenyum lebar lalu kembali merapatkan tubuhnya seraya melingkarkan kedua tangannya di punggung Kenzo. Aroma maskulin tercium begitu menenangkan, Gwen memejamkan kedua matanya merasakan begitu nyamannya berada di dalam dekapan hangat seorang Kenzo.
"Kita masuk, yu. Mas mau kasih kamu tour istana kita ini, mau?" ucap Kenzo seraya mengurai pelukan dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Gwen Ariyani.
***
Sementara itu, Damar mengendarai mobil barunya dengan kecepatan tinggi. Mobil Ferarri berwarna hitam yang baru siang ini dibelikan oleh ayahnya sebagai hadiah. Sesempurna itu kehidupan seorang Damar, hanya memanggil ayahnya dengan sebutan Daddy saja, ia diberi hadiah barang mewah yang diimpikan oleh banyak orang di luaran sana. Namun, bukan hanya materi saja yang ia inginkan, remaja berusia 17 tahun itu mendambakan kasih sayang dari keluarga yang utuh dan impiannya itu kandas saat ibunya memutuskan untuk menikah kembali dan memberikan hak asuh atas dirinya kepada Kenzo, ayah yang selama ini ia benci karena meninggalnya dan sang ibu.
"Akh, siaal! Si Gwen benar-benar, ya. Katanya dia udah putus sama Daddy, sekarang malah dikenalin sebagai calon istri. Dasar cewek munafik!" umpatnya dengan kesal.
Damar menginjak pedal gas guna menambah kecepatan mobil. Ia bahkan mengabaikan ketika ponselnya tiba-tiba berdering nyaring. Moodnya sedang berantakan, hadiah mobil yang diberikan oleh sang ayah tidak membuat rasa bencinya kepada pria itu berkurang sedikit pun. Akan tetapi, Damar terpaksa memperlambat laju mobil karena suara dering ponsel sama sekali tidak berhenti membuatnya kesal.
"Alaah, siapa lagi yang nelpon? Gak tau gue lagi bad mood apa," decaknya mulai menepikan mobil sebelum akhirnya berhenti di tepi jalan.
Damar merogoh saku celana jeans yang ia kenakan lalu meraih ponsel canggihnya dari dalam sana.
"Halo," sapanya dengan dingin, meletakan benda pipih itu di telinga.
"Halo, Sayang. Kamu di mana? Bisa jemput aku nggak?" Samar-samar terdengar suara seorang wanita di dalam sambungan telpon.
"Sorry, Nadia. Saya sibuk," jawab Damar masih dengan nada suara yang sama.
"Emangnya kamu sibuk apaan sih, Sayang? Masa jemput aku aja gak bisa?"
"Kalau saya bilang sibuk ya sibuk, Nadia. Jangan ganggu saya dulu atau kita putus. Paham?"
Nadia terdiam, hanya hembusan napasnya saja yang terdengar di dalam sambungan telepon. Sepertinya ia kesal karena Damar tiba-tiba mengucap kata putus.
"Saya tutup dulu, ya. Baay!" Damar hendak menutup sambungan telepon.
"Tunggu, Damar. Jangan ditutup dulu," rengek Nadia.
"Apa lagi sih? Apa kamu mau kita putus beneran, hah?"
"Bukan begitu, Damar. Aku--"
"Oke, kita putus sekarang juga, Nadia. Jangan pernah hubungi saya lagi, oke?" Ucapan terakhir Damar sebelum ia menutup sambungan telepon.
Damar terdiam, tatapan matanya nampak lurus menatap ke depan melayangkan tatapan kosong. Ia memang kerap bergonta-ganti pasangan. Meskipun ia masih duduk di bangku kelas 11 SMA, tapi dirinya sudah menjajal banyak wanita. Ya, dengan ketampanan dan harta pemberian sang ayah, tidak ada wanita yang akan menolak berkencan dengannya.
"Akh, gue gak bisa. Gue butuh barang itu, gue bisa gila kalau terus-terusan kayak gini," gumamnya lalu kembali menatap layar ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo," sapanya meletakan ponsel di telinga.
"Iya halo, Damar. Apa kabar, Bos Kecil?" tanya seorang laki-laki di dalam sambungan telepon.
"Gue butuh barangnya sekarang juga."
"Hmm ... oke, saya bisa kirim pesanan kamu secepatnya, tapi jangan lupa bayar uang dimuka."
"Gak usah khawatir, saya transfer uangnya sekarang juga. Saya butuh dua kali lipat dari yang biasa saya pesan."
"Beres, saya tunggu transferannya, ya."
Damar menutup sambungan telepon. Tanpa berfikir panjang, anak itu segera mentransfer sejumlah uang dan kembali menghubungi orang tadi.
"Udah saya transfer," ucapnya singkat.
"Oke, thanks you, Bos kecil. Sekarang katakan di mana posisi kamu, saya kirim kurir buat nganterin pesanan kamu."
"Saya di jalan ****** saya tunggu sekarang juga."
"Oke, pesanan siap meluncur!"
Damar menutup sambungan telepon. Meletakan benda pipih itu di jok samping lalu mengusap wajahnya kasar. "Maafin saya, Mom. Saya mengingkari janji saya sama Mommy. Saya gak bisa berhenti," gumamnya merasa frustasi.
Bersambung ....