Satu bulan kemudian.
"Saya terima nikah dan kawinnya Gwen Ariyani binti Burhan almarhum dengan mas kawin uang sebesar satu miliar dibayar tunai."
"Sah?"
"Saah!"
Kenzo mengucap ijab qobul dengan lancar tanpa hambatan apapun. Hanya dengan satu tarikan napas saja, wanita bernama Gwen Ariani telah sah menjadi istrinya. Kenzo benar-benar merasa bahagia, akhirnya ia mengakhiri statusnya sebagai duda. Selain itu, ia tidak sabar ingin segera mengakhiri masa puasanya. Kebahagiaan itu turut dirasakan oleh mereka yang menyaksikan moment sakral tersebut, tapi hal berbeda dirasakan oleh Damar, putra semata wayang Kenzo. Anak itu tidak merasa bahagia sama sekali dengan pernikahan kedua sang ayah. Harapan dan mimpinya hancur karena kedua orang tuanya sudah sama-sama memiliki pasangan baru.
Setelah menyaksikan moment bahagia Ayahnya dari kejauhan, Damar meninggalkan aula pernikahan yang digelar di salah satu hotel berbintang lima itu dengan wajah muram. Ia melangkah menyusuri koridor dengan tangan mengepal, hingga suara seruan seorang gadis menghentikan langkahnya dengan sangat terpaksa.
"Damar," seru gadis tersebut berlari menghampiri.
Damar memutar badan dengan kesal dan memandang wajah Nadia, wanita yang baru ia putuskan satu bulan yang lalu. "Astaga, lagi ngapain lagi si Nadia di sini?" gumamnya, memalingkan wajahnya ke arah lain lalu hendak menghindar.
"Tunggu aku, Damar. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," pinta Nadia, meraih pergelangan tangan Damar memaksakan untuk berhenti.
Damar menepis kasar telapak tangan Nadia. "Apaan sih? Udah gak ada lagi yang perlu dibicarakan, Nadia. Kita udah putus," bentaknya lalu kembali melangkah.
Nadia mengejar. "Tunggu aku, Damar. Ini tuh penting banget tau," ucapnya, mengekori Damar dari belakang.
Damar mengabaikan ucapan Nadia, langkahnya semakin lebar berharap wanita itu berhenti mengikutinya. Namun, Nadia sama sekali tidak menyerah. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepada mantan kekasihnya itu. Ia harus berbicara dengan Damar tidak peduli meskipun pria berusia 17 tahun itu mengabaikannya.
"Aku hamil!" teriak Nadia, langkahnya terhenti seraya terisak.
Damar sontak melakukan hal yang sama. Matanya membulat terkejut, mulutnya dibuka lebar lalu berbalik dan memandang wajah Nadia dengan tajam.
"Apa? Kamu ngomong apa tadi?" tanyanya dengan dahi mengerut.
Nadia terisak seraya melangkah mendekat. "Aku hamil, Damar. Kamu harus tanggung jawab," ucapnya lemah dan bergetar.
Damar mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam. "Kamu hamil anak siapa, Nadia? Kita udah putus dari satu bulan yang lalu. Gak mungkin kamu hamil anak saya," sanggahnya.
"Jahat kamu, Damar. Aku cuma ngakuinnya sama kamu dan kamu tau sendiri, waktu pertama kali kita ngelakuin itu, aku masih virgin," ucap Nadia, menahan rasa sesak.
"Tapi kita udah putus, gimana dong? Lagian, bisa aja 'kan kamu ngelakuinnya juga sama cowok lain? Satu bulan lho, udah satu bulan kita putus. Mana mungkin kamu tiba-tiba hamil dan minta tanggung jawab," jawab Damar dengan santainya.
"Aku gak pernah ngelakuin sama cowok lain selain sama kamu, Damar. Aku berani bersumpah demi apapun. Aku cuma ngelakuinnya sama kamu," jawab Nadia, buliran bening berjatuhan membasahi kedua sisi wajahnya.
Hidupnya terasa hancur, hamil di luar nikah bahkan masih duduk di bangku sekolah sudah membuatnya frustasi, ditambah dengan Damar yang menolak tanggung jawab? Hidup seorang Nadia seakan berada diambang jurang kematian. Yang tersisa hanya dua pilihan, melompat ke dalam jurang dan mengakhiri hidupnya atau berbalik dan kembali menjalani kehidupan dengan aib yang akan terus menghantuinya seumur hidup.
"Jangan bohong, Nadia. Jangan coba-coba bohongin saya. Kamu pasti ngelakuin juga sama cowok lain, 'kan? Sana, minta tanggung jawab sama cowok yang ngehamili kamu," tegur Damar, terdengar sangat menyakitkan.
Nadia kembali menyeka air matanya dengan d**a naik turun karena isakan. "Oke, kalau kamu gak mau tanggung jawab dan ngakuin bayi ini sebagai anak kamu, aku akan masuk ke dalam dan ngomong langsung sama orang tua kamu!" ancam Nadia, lalu berbalik dan hendak melangkah.
"Tunggu, Nadia. Jangan berani-beraninya kamu masuk ke dalem, di dalem itu lagi ada--"
"Ya, aku tau. Di dalem itu lagi ada pesta pernikahan Ayah kamu, 'kan?" sela Nadia bahkan sebelum Damar menyelesaikan apa hendak ia ucapkan. "Biarin aja, biar semua orang tau kalau kamu ngehamilin anak gadis orang dan gak mau tanggung jawab."
Damar mendengus kesal. "Oke, kita bicarakan masalah ini baik-baik, Nadia. Kita pergi ke suatu tempat, ya."
Nadia menahan langkahnya lalu kembali memutar badan. Dadanya bergemuruh menahan isakan juga menahan berbagai rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. "Tapi kamu harus tanggung jawab, Damar. Aku gak mau lahirin anak haram," rengeknya seraya terisak.
"Kita pergi dulu dari sini, Nadia. Kita bicara di tempat lain, oke?" pinta Damar.
Nada suara Damar sudah tidak seketus sebelumnya. Ia tidak ingin ayahnya tahu masalah ini. Damar meraih telapak tangan Nadia lalu membawanya berjalan meninggalkan tempat itu.
***
Di dalam mobil, Damar dan Nadia duduk di jok mobil dengan perasaan berkecamuk. Nadia bahkan tidak henti-hentinya menangis, ia menyesalkan hubungannya dengan Damar. Wanita berambut pendek itu merutuki dirinya sendiri karena termakan rayuan Damar dan melakukan hubungan terlarang dengan iming-iming cinta dan pengorbanan.
Sementara Damar, tatapan matanya nampak lurus menatap ke depan, memandang jalanan yang tidak terlalu padat pengendara hingga akhirnya menepikan mobilnya dan berhenti di tempat sepi.
"Kita harus gimana, Damar? Orang tuaku pasti marah banget sama aku kalau mereka tau aku hamil," rengek Nadia seraya terisak.
"Itu dia, Nadia. Orang tua saya juga pasti marah banget kalau mereka tau saya gehamili anak orang," jawab Damar tanpa menoleh. "Kita masih sekolah, umur kita aja masih 17 tahun, mana mungkin kita nikah."
"Terus, mau kamu gimana, Damar? Kamu gak mau tanggung jawab dan memintaku menanggung ini semua sendiri, begitu?" tanya Nadia tegas dan penuh penekanan. "Kita ngelakuinnya berdua, jadi kita tanggung akibatnya berdua juga. Kalau kamu gak mau tanggung jawab, mendingan aku mati aja deh!"
Damar menoleh dan memandang wajah Nadia, meletakan kedua telapak tangannya di bahu wanita itu. "Hey, kamu gak boleh ngomong kayak gitu. Masih ada cara lain buat masalah ini, tanpa harus menikah, Nadia."
Nadia mengerutkan kening. "Maksud kamu cara lain gimana?"
Damar menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, matanya terpejam sejenak lalu kembali memandang wajah Nadia. "Dengerin saya, Nadia. Kita masih sekolah, tahun depan kita naik kelas 12 dan lulus. Emangnya kamu mau ngehancurin masa depan kamu dengan hamil, menikah dan ngelahirin?" ucap Damar. "Kamu masih punya cita-cita yang pengen kamu raih, 'kan? Saya juga sama, saya belum siap jadi Ayah."
"Langsung aja ke intinya, Damar. Maksud kamu cara lain buat masalah ini, apa?"
"Gugurin kandungan kamu, Nadia. Cuma itu satu-satunya cara agar kita berdua selamat dari amukan orang tua dan kita bisa lanjutin sekolah sampe lulus dan meraih cita-cita kita, paham?"
Bersambung ....