"Apa? Kamu bilang apa tadi? Gugurin kandungan aku?" tanya Nadia dengan mata membulat, seraya mengusap perutnya sendiri, di mana si jabang bayi bersarang di dalam sana. "Bayi di dalam perut aku ini anak kamu, Damar. Darah daging kamu sendiri! Tega sekali kamu suruh aku ngebunuh anak kita!"
"Terus, kamu mau kita berhenti sekolah, nikah terus punya anak, gitu? Kamu mau jadi ibu rumah tangga yang tiap hari pake daster, hah?" bentak Damar mulai merasa frustasi.
Nadia terdiam, tangisnya pecah, dadanya pun terasa sesak. Ya, apa yang baru saja diucapkan oleh Damar memang benar, usia mereka masih 17 tahun, menikah, hamil dan melahirkan hanya akan memblokir masa dengan dan cita-citanya, tapi tetap saja mereka sudah melakukan dosa besar dengan melakukan perbuatan terlarang, sekarang ditambah dengan mengugurkan kandungan yang akan menambah dosa mereka?
"Nggak, aku gak mau. Aku gak akan gugurin kandungan aku, Damar," jawab Nadia seraya menyeka air matanya.
Damar kembali meletakan kedua tangannya di bahu Nadia, memandang wajahnya dengan tajam. "Dengerin saya, Nad. Jaman sekarang yang namanya ngegugurin kandungan udah gak aneh lagi. Banyak di luaran sana yang ngelakuin itu dan mereka baik-baik aja. Masa depan mereka kembali cerah dan bisa ngeraih cita-cita mereka, Nadia."
Nadia melepaskan kedua tangan Damar dengan kesal. "Nggak, aku tetap gak mau, Damar. Kamu harus nepatin janji kamu buat bertanggung jawab, kalau nggak--"
"Kalau nggak, apa? Kamu mau nemuin Daddy dan bilang sama dia kalau saya ngehamili kamu, gitu?" sela Damar, bahkan sebelum Nadia menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan.
"Tidak, kayaknya kamu gak takut sama Daddy kamu," jawab Nadia. "Kalau kamu gak mau tanggung jawab, lebih baik aku mati dan kamu akan dihantui rasa bersalah seumur hidup!"
Nadia membuka pintu mobil lalu keluar dengan perasaan kesal. Damar sontak melakukan hal yang sama, sepertinya Nadia tidak main-main dengan ucapannya. Orang yang tengah jatuh dan terpuruk bisa saja melakukan hal yang di luar dugaan. Benar saja, Nadia berlari ke tengah jalan seraya menangis sesenggukan.
"Astaga, Nadia," teriak Damar, sontak menarik pergelangan tangan Nadia dan menariknya ke tepi jalan lalu memeluk tubuhnya erat.
Nadia berontak berusaha untuk melepaskan diri. "Lepasin aku, Damar. Kamu gak denger tadi aku ngomong apa, hah? Kalau kamu gak mau tanggung jawab, lebih baik aku mati!" teriaknya dengan histeris.
"Ya Tuhan, apa kamu tau mati itu apa, hah? Kalau kamu mati saya--"
"Gak usah peduliin aku, Damar. Toh kamu emang gak berniat buat tanggung jawab, 'kan? Jadi, mendingan aku mati aja biar kamu bebas. Lepasin aku!" Nadia kembali berteriak histeris seraya menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa.
"Oke, saya akan tanggung jawab, Nadia. Saya akan nikahi kamu, tapi kasih saya waktu, Nad. Saya harus ngomong sama Daddy, sama orang tua kamu juga," jawab Damar akhirnya menyerah. "Saya harus nyiapin mental saya dulu, Nad. Kasih saya waktu, ya."
Nadia berhenti bergerak, kepalanya mendongak menatap wajah Damar dengan wajah pucat. "Kamu serius?" tanyanya lemah dan bergetar.
Damar melonggarkan lingkaran tangannya balas menatap wajah Nadia. "Iya, saya serius, Nad, tapi seperti yang saya bilang tadi, saya butuh waktu buat nyiapin mental saya."
"Tapi kamu gak bakalan kabur, 'kan?"
"Kamu tau alamat saya, kamu tau hotel punya Daddy saya, kalau saya kabur kamu tinggal datengin orang tua saya, Nadia."
Nadia kembali memeluk tubuh Damar. Tangisnya kembali pecah hingga air matanya membahasi jas hitam yang dikenakan oleh pria itu. Akhirnya, Damar bersedia bertanggung jawab, semoga pria itu tidak mengucap kebohongan dan menepati janjinya.
"Saya anterin kamu pulang, ya," ucap Damar seraya mengurai pelukan dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Nadia.
***
Malam hari, pukul 22.00, pesta pernikahan akhirnya selesai diadakan. Para tamu undangan pun sudah meninggalkan tempat acara begitupun dengan sepasang pengantin baru yang kini sudah berada di kamar pengantin yang sengaja dipesan hotel tersebut. Kamar VVIP yang menyediakan pasilitas mewah juga ranjang super besar tempat di mana Kenzo akan mengakhiri masa puasanya.
Pria itu nampak berjalan mondar-mandir di depan ranjang, mengenakan jubah tidur merasa tidak sabar menunggu Gwen yang masih berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Honey, ko lama banget? Kamu lagi mandi apa lagi tidur sih?" teriak Kenzo memandang pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Iya sebentar, Mas. Ini udah selesai ko," jawab Gwen, suaranya terdengar samar-samar dari dalam kamar mandi.
"Lama banget sih? Gak tau apa kalau saya udah kebelet banget," decak Kenzo, duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah.
Junior miliknya bahkan sudah menegang, padahal ia belum menyentuh istrinya barang sedikit pun. Kenzo mengusap junior kesayangannya seraya menghela napas panjang.
"Sabar ya, Junior. Bentar lagi kamu akan dimanjakan. Pokoknya, malam ini kamu akan bersenang-senang semalaman, oke?" ucapnya dengan senyum lebar.
Pintu kamar mandi akhirnya dibuka, Gwen dengan mengenakan lingerie tipis berwarna hitam melangkah keluar dengan tubuh yang diliuk-liukan layaknya seorang poto model yang sedang berjalan di atas cath walk. Tatapan matanya nampak genit, memandang wajah Kenzo dengan penuh gairah.
Kenzo seketika berdiri tegak dengan mata membulat. "Honey, kamu seksi banget," ucapnya, air liurnya bahkan menetes menatap bagian dalam tubuh sang istri yang terlihat samar-samar.
Gwen menghentikan langkahnya tepat di depan Kenzo, mengusap dadanya menggunakan jari telunjuk seraya memandang wajahnya masih dengan tatapan yang sama.
"Malam ini akan menjadi malam yang spesial dan panjang buat kita, Mas," bisiknya di telinga Kenzo.
Meta Kenzo terpejam, sekujur tubuhnya seketika merinding dan semakin tidak sabar ingin segera mengarungi surga dunia. "Langsung aja, ya," ucapnya, hendak menggendong tubuh Gwen.
Gwen menahan tangan Kenzo dengan senyum. "Sttt! Jangan buru-buru, Mas. Pemanasan dulu dong," decaknya.
Kenzo tertawa nyaring. "Hahahaha! Pemanasan dulu, ya. Oke! Hmm ... gimana kalau Mas kasih sesuatu yang nikmat yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya," ucapnya, seketika berjongkok tepat di depan tubuh Gwen.
Gwen menunduk menatap kepala Kenzo dengan jantung berdetak kencang. "Kamu mau ngapain, Mas?" tanyanya, merasa gugup.
"Mas akan kasih kamu surga yang sesungguhnya," jawab Kenzo, mengusap kedua kaki Gwen dengan lembut.
Gwen memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya keras. Sekujur tubuhnya terasa disengat listrik bertegangan tinggi saat Kenzo mengecup pahanya sementara kedua tangannya hendak menurunkan segitiga yang menutup bagian intinya. Namun, kegiatan itu tidak berlangsung lama karena ponsel Kenzo tiba-tiba berdering nyaring.
"Ada telpon, Mas," ucap Gwen seraya mendesah nikmat.
"Biarkan aja, Honey. Gak ada yang lebih penting selain malam pertama," jawab Kenzo dengan napas tersengal-sengal.
Mereka benar-benar menikmati kegiatan yang memabukkan itu, tapi dering ponsel sama sekali tidak berhenti dan sangat mengganggu. Gwen memutuskan untuk menghentikan Kenzo dengan sangat terpaksa.
"Sebentar, Mas. Angkat telpon dulu, takutnya penting," ucapnya menahan gairah seraya mengurai jarak.
"Udah biarin aja, Honey," jawab Kenzo, ia tidak suka jika ada yang mengganggu kesenangannya.
"Takutnya penting, Mas. Bentar aja ko."
Gwen melangkah ke arah meja lalu meraih dan menatap layar ponsel sebelum akhirnya mengangkat sambungan telpon.
"Halo," sapanya, meletakan benda pipih itu di telinga.
"Iya halo. Kami dari kepolisian, apa benar ini orang tuanya Damar Pratama?" tanya seorang laki-laki di dalam sambungan telepon.
"Iya betul, Pak. Saya ibunya," jawab Gwen dengan kening mengerut.
"Putra Anda ada di kantor Polisi, Mbak. Kami tunggu Anda di kantor sekarang juga."
Bersambung ....