Tapi aku ingin membuatnya lagi
-Derel-
???
Saat waktu menunjukkan pukul 03.45 pagi, Derel menggigil kedinginan. Laki-laki itu tidur membelakangi Soya.
Soya mengerutkan dahinya mendengar Derel yang mengigau, dia membuka matanya "Dia mengigau dan menggigil" Ucapnya.
Soya mengubah posisi nya menjadi duduk, dia beranjak mendekat Derel "Hm... tinggi kan suhunya! Kebiasaan emang, mentang-mentang ketua mafia trus di biarin aja sakitnya" Gerutunya.
Soya turun dari kasur, dia berjalan keluar kamar untuk mengambil sesuatu. Tak perlu waktu lama, perempuan itu kembali masuk dengan membawa 1 bye bye fever.
"Pakek ini dulu, nanti kalau di kompres malah kebangun" Ucapnya sambil menempelkan benda itu ke dahi Derel.
Soya naik ke kasur dan menarik Derel hingga berbalik menghadapnya, terlihat mata Derel sedikit terbuka.
Soya tersenyum melihat senyuman tipis dari Derel "Dih senyum-senyum" Telunjuk nya menyentuh bibir tipis Derel.
Saat tengah asik menikmati pemandangan didepannya, dengan mudah Derel menarik Soya ke dekapannya.
"Aku kira udah tidur" Ucap Soya, Derel diam. Tangan Derel menelusup masuk ke kemeja tipis yang Soya gunakan.
Sekarang tangan Derel melingkar sempurna di pinggang ramping istrinya.
Soya juga tak mau kalah, dia melingkar kan tangannya ke pinggang Derel, namun punggung laki-laki itu lebar jadi tangannya tak sampai ke bawah.
"Gak nyampe" Ucap Soya dengan nada rendah, Derel tersenyum mendengarkan ucapan perempuannya.
Kini tangan Derel satunya juga melingkar, dia mengubah posisinya menjadi telentang dan otomatis Soya di atasnya. Paham gak? pahamin aja.
"Tidur!" Satu kata itu membuat Soya mengangguk saja, dia meletakkan kepalanya di d**a bidang Derel lalu memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, Soya belum tidur dia hanya memejamkan mata. Dia membuka matanya perlahan, dia melihat jari-jari tangan Derel berada di pipinya.
Dengan perlahan dia mengangkat kepalanya "Udah tidur?" Tanyanya sendiri sambil menyentuh bibir Derel.
Derel membuka matanya sedikit
"Tidurlah!" Ucapnya dengan suara yang berat.
Soya menjatuhkan kepalanya di d**a Derel dan mendengus kesal "Ck! Gak bisa tidur!" Ucapnya sedikit kesal.
"Kenapa?"
"Ga tau"
Akhirnya Derel mengubah posisi mereka seperti semula, mungkin Soya tak nyaman tidur seperti tadi makanya gak bisa tidur.
"Bisa tidur sekarang?"
Soya mengangguk dan tersenyum, lantas perempuan itu memeluk badan kekar Derel.
Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus dari Soya, Derel menundukkan kepalanya melihat Soya yang ada di dekapannya.
。・:*:・゚☆。・:*:・゚☆
Pagi pun menyingsing, sinar nya menyinari kamar yang didominasi warna abu-abu dan putih. Derel masih tidur dengan selimut menutup badannya sebatas pinggang.

Tangan nya melemparkan bantal yang menutup kepala, lalu meraba tempat di sampingnya.
Dia berdecak mengetahui jika Soya tidak ada di sampingnya, dia mengangkat kepalanya "Ck! Dia dimana? Sudah ku bilang jangan bangun jika aku belum bangun" Kesalnya.
Derel membalikkan badannya, sesaat dia memandang langit-langit kamar lalu berpindah memandang balkon yang sudah dibuka Soya.
Dia memejamkan mata, tangannya menyentuh benda yang menempel di dahinya "Apa ini?" Derel mengambil benda itu "Bye bye fever? Ini pasti Soya"
Derel menyibak selimut itu dan menurunkan kakinya, dia berjalan ke ke pintu sambil melemparkan bye bye fever ke tong sampah di sudut dekat pintu.
Saat berjalan menuruni tangga, Derel mencium bau masakan dari arah bawah.
Di meja makan sudah terhidang beberapa makanan ada nasi liwet, nasi kuning, ayam goreng, ayam bakar, tempe tahu goreng dan sambal pete. Sangat lokal kawand.
Soya tengah mengaduk bubur yang akan di makan Derel, mengingat jika laki-laki itu masih sakit.
Sepasang tangan besar melingkar di pinggangnya, bisa ditebak jika itu Derel "Kenapa kau pergi dari kamar?" Tanya Derel masih kesal.
Soya tertawa kecil "Aku harus membuat sarapan, kau tau sendiri jika Bibi libur hari sabtu minggu. Jadi tidak ada yang membuat sarapan" Jawabnya.
"Lepaskan tanganmu, aku tidak bebas bergerak jika tanganmu melingkar erat di pinggang ku" Ucap Soya.
"Tidak akan!" Balas Derel, lalu meletakkan dagunya di pundak Soya. Dia menghirup aroma vanilla di tubuh Soya, aroma istrinya menjadi candunya.
"Kau duduklah, aku ingin mengangkat buburnya" Ucap Soya, lagi-lagi Derel diam masih dalam posisi yang sama.
"Derel!"
"Apa?"
"Aku ingin mengangkat buburnya, jadi kau minggir dulu" Derel menggeleng, dia membalikkan badan Soya menghadap nya.
"Ck! Kau ken--" Belum juga menyelesaikan ucapannya, Derel lebih dulu mencium bibirnya sekilas.
"Morning kiss" Ucap Derel datar.
"Udah?" Tanya Soya memastikan namun Derel menggeleng "Di sini belum" Ucapnya sambil menunjuk leher jenjang Soya.
"Jangan di sana, kau sudah membuat banyak tanda di sana. Kau tau! Aku harus menutupinya saat sekolah" Ucap Soya menjelaskan dengan raut wajah masam, namun bukan Derel jika menurut.
Derel menggendong Soya seperti koala "Tapi aku ingin membuatnya lagi" Ucapnya lalu mencium leher jenjang Soya, membuat tanda di sana.
"Derel! Sudah, itu terlalu banyak!!" Protes Soya kesal, dia menatap Derel dengan wajah kesal. Bukannya merasa tidak enak malahan laki-laki itu tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
"Malah senyum!! Liat, banyak banget. di sini, sini, sini, sini, sini, sini aku udah kayak digigit nyamuk, nyamuk besar!!" Marah Soya.
Derel terkekeh "Nyamuk nya dimana?" Tanyanya sambil menyelipkan anak rambut Soya di telinga dan menatap leher putih bersih istrinya.
"Nyamuknya di-- Derel!!!" Belum juga menjawab, Derel malah mencuri kesempatan dengan mencium di leher bagian bawah telinga, huft... laki-laki itu membuat tanda lagi.
Wajah Soya sudah merah padam, menahan amarahnya dengan laki-laki yang masih menggendongnya "Udah ciumnya!!! Nanti aku susah nutupin nya!!! HIHH!!"
Derel tertawa puas, menjahili perempuan ini sudah menjadi hobinya setelah membunuh.
"Nyamuknya besar, punya wajah, punya nyawa, lebih ngeselin nya nyamuk itu hidup!!" Cibir Soya sambil menatap sengit ke Derel.
"Kenapa gak di bunuh aja nyamuknya? Kan ngeselin" Tanya Derel.
"Eng... gak mau, sayang sama nyamuknya" Jawab Soya lalu memeluk leher Derel dengan sayang. Owww co cwit.
Derel mengacak rambut Soya "Nyamuknya nakal loh, gak mau dibunuh? Tu ada pisau di belakang, tinggal tusuk aja" Ucapnya sambil mengusap-usap kepala Soya.
Soya menggeleng "Gak pa-pa nakal, yang penting nakalnya sama Soya bukan cewek lain" Jawabnya.
"Kalau nakalnya sama cewek lain?"
"Aku tembak ceweknya"
dor
"AAAA" Soya kaget mendengar suara tembakan itu, sementara Darel tertawa "Lagaknya mau nembak, denger tembakan aja takut. Jadi kalau nakal sama cewek lain bakal aman, kan kamu gak bisa nembak"
Soya diam membuat Derel bingung. Sesaat Derel panik, dia baru ingat jika Soya mempunyai phobia dengan suara keras yang akan membuat perempuan itu panik dan ketakutan.
"f**k! Baby, I'm sorry" Derel melemparkan pistol ke sembarang arah, dia memeluk Soya erat dan mengusap rambutnya.
Isakan Soya pun terdengar, perempuan itu menangis di leher Derel "Aku takut" Isak Soya, jantungnya benar-benar berdebar.
"Aku minta maaf, sayang" Ucap Derel merasa bersalah. Dia berusaha menenangkan Soya dengan cara menepuk-nepuk punggungnya dan mengusap kepala Soya.
"Aku minta maaf, aku lupa. Kamu boleh pukul aku"
"Jangan kayak gitu lagi, aku takut"
"Iya sayang, aku minta maaf. Aku gak sengaja, maafin aku ya"
Derel duduk di kursi meja makan sambil memangku dan memenangkan Soya "Aku minta maaf" Ucap Derel benar-benar tulus.
Sesaat kemudian, tangis Soya mereda dan jantungnya kembali berdetak normal. Derel mengambilkan minum "Minum dulu"
Soya meminum air putih itu, dengan sesegukan dia menatap Derel sambil melengkungkan bibirnya "Takut" Ucapnya hampir tidak ada suara.
Soya memeluk leher Derel dan kembali menangis. Derel mengelus-elus rambut istrinya, untung saja tadi Soya tak sampai sesak nafas. Dia harus lebih berhati-hati.
༶•┈┈⛧┈♛♛┈⛧┈┈•༶
"SAYANG!!! KAU INI GANTI BAJU ATAU TIDUR!??" Teriak Derel dari lantai bawah, sudah 1 jam dia menunggu Soya berganti pakaian.
Dan yang dilakukan laki-laki selama 1 jam hanya bermain ponsel, guling-guling di karpet tebal, nonton TV bahkan sampai menghitung anak tangga saking lamanya.
Akhirnya Soya selesai juga, dia berjalan menuruni tangga. Saat sudah berada di hadapan Derel, Derel malah menatap tak suka ke arahnya.
"Kenapa? Bajunya jelek ya?" Tanya Soya sambil memperhatikan pakaiannya.
"Ganti!"
"Kenapa? Bajunya bagus, aku suka"
"Gak!"
"Aku mohon"
"Gak Soya!"
"Pokoknya aku mau pakek baju ini, terserah kamu suka atau gak!"
"Soya! Aku gak suka bantahan"
"Dan aku gak suka paksaan!"
Derel membuang pandangan asal dan menghela nafas kasar, benar-benar menguji kesabaran. Dia pun mendekati Soya "Baiklah! Kau tau akibat membantah ucapan ku, sayang" Bisiknya.
Laki-laki itupun berjalan duluan meninggalkan Soya yang diam, bisikan laki-laki itu membuatnya merinding dan takut. Dia sudah memasukkan diri sendiri ke kandang singa, jadi tunggu saja singa itu menerkam mu.
Di dalam mobil, Derel sama sekali tidak melirik atau melihat ke arah Soya pandangan nya hanya memperhatikan jalanan.
Soya mengerucutkan bibirnya karena merasa di acuhkan Derel "Rel?" Panggilnya.
"Rel?!"
"Derel!"
"Sayang!"
"By!"
"Baby"
"Big baby"
Soya menarik nafasnya dalam-dalam. lalu ia menghembuskan nya "Daddy" Kali ini suara Soya lebih... sexy.
Satu sudut bibir Derel terangkat "Yes Mommy?" Balas laki-laki itu.
Bayangkan kalian sedang bersama suami kalian lalu kalian memanggilnya 'Daddy' lalu dia membalas dengan suara yang berat, serak, dan senyuman miring. Bye mo pingsan dulu.
"What do you want? hm?" Tanya Derel, tangan nakal laki-laki itu mengusap paha mulus Soya.
Sial! Siapapun tolong carikan jantung Soya yang berlari pergi, situasi ini benar-benar membuatnya ingin pingsan detik ini juga.
"Soya" Panggil Derel masih dengan suara yang berat.
"I-iya? Apa?"
"Kenapa kau memanggil ku seperti itu? Kau memancing ku?" Tanya Derel, jujur saja Soya benar-benar ingin pingsan. Sekarang Soya membutuhkan tips untuk pingsan dalam 1 detik.
Soya menggeleng "T-tidak! A-aku hanya memanggil saja, tidak ada maksud lain" Ucapnya gemetar.
Derel tertawa renyah lalu menghentikan mobil di pinggir jalan, dia menatap Soya yang tengah gelisah dan juga gemetar.
"Kenapa kau gelisah? Apa ada yang menyeramkan? Mommy?" Tanya Derel semakin menjadi.
Soya menggeleng "Nggak!"
Derel memegang rahang Soya lalu mengusap pipi perempuan nya dengan ibu jari "Apa kau setuju dengan... little Derel?" Tanyanya.
Soya diam, dia benar-benar takut dengan laki-laki itu. Entah lah mungkin kalian menganggap dia lebay atau alay, tapi tatapan dan nada bicara Derel seperti...
Derel tersenyum "Kau sangat cantik jika ketakutan seperti ini, aku tidak akan menakuti mu lagi. Kita sudah terlambat"