03 • Mimpi

1675 Kata
Aku pengen Derel kecil, boleh ndak? -Soya- ??? Mobil mewah itu berhenti di sebuah gedung yang mewah dengan dekorasi yang elegan. Banyak orang-orang memakai stelan jas hitam dan beberapa wanita yang memakai dress pendek. Derel melepaskan sabuk pengaman, sebelum dia keluar dari mobil ia memberikan jasnya ke Soya "Pakai ini, aku tak mau milikku dilihat orang lain, kau tau itu sayang" Ucapnya datar. Soya hanya menurut, dia memakai jas hitam Derel di pundak. Soya memakai topeng pesta berwarna hitam, pemberian dari Derel. Derel membukakan pintu untuknya "Jangan jauh-jauh dari ku, mereka semua bukan orang baik" Ucapnya. Soya mengangguk lalu menggandeng tangan Derel. Saat mereka berjalan di red carpet, seketika atensi sebagian besar orang mengarah kepada mereka. Derel memasang wajah datar, jangan lupakan tangannya yang memeluk pinggang Soya "Jangan tersenyum!" Bisiknya. 'Bukankan dia ketua mafia yang menguasai Asia?' 'Kau benar!! Aku tak menyangka seorang remaja laki-laki bisa menguasai Asia' 'Walaupun dia seorang remaja, tapi perawakan tubuhnya sangat kekar. Lihat, lengannya memeluk kuat pinggang kekasihnya' 'This!! Aku yakin dia tak akan membiarkan perempuannya didekati salah satu dari kita, termasuk Big Leader' 'Tentu saja, siapa yang senang jika gadisnya didekati laki-laki lain! Jangan kalian coba-coba mendekati kekasihnya. Kalian tak tahu berapa banyak anak buahnya yang mungkin ikut dalam acara ini' 'Aku yakin, dia sangat menjaga kekasihnya atau bahkan dia sudah memilikinya seutuhnya' Derel mulai was-was saat 'Big Leader' berjalan mendekatinya, dia memegang erat tangan Soya "Kau berdiri lah di belakang ku" Ucapnya. "Kenapa?" "Lakukan saja" Soya pun mundur beberapa langkah. Seorang pria tua tadi sudah berada di depan Derel, dia tersenyum "Hai Mallory, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana mana keadaan mu?" Tanya Dezon. "Aku baik-baik saja" Jawab Derel datar, tangannya semakin erat menggenggam tangan Soya saat Dezon menyeringai samar ke Soya. "Apakah dia kekasih mu? Jika iya, aku bisa merebutnya haha" Tawa Dezon bercanda, namun ada maksud tersembunyi di ucapannya. "Benar, kau bisa merebutnya secara kau adalah pria tua yang mengambil sisa dari orang lain karena kau tak bisa berusaha. Maklum faktor umur jadi tenaga habis, sehingga rela memungut barang sisa" Balas Derel sambil tersenyum tipis. Tawa Dezon pun hilang saat mendengar penuturan Derel, namun dia berusaha untuk tidak emosi "Hai nona, perkenalkan namaku Dezon" Dezon mengulurkan tangannya ke Soya. "Kurasa tidak penting, istriku tau atau tidak tau nama mu. Kami permisi, ayo duduk sayang" Derel duduk di sofa panjang "Apa yang kau lihat? Duduk sini" Dia menepuk satu pahanya, Soya mengerucutkan bibirnya lalu duduk di paha Derel. "Kenapa hm?" Tanya Derel sambil menyelipkan rambut Soya ke telinga. "Dingin" Jawab Soya. Derel terkekeh "Itu salah mu, aku sudah bilang pakai dress yang panjang tapi kau membantahku" Balasnya. Soya melengkungkan bibirnya, dia merasa ada yang menatapnya dari segala arah. Saat Soya ingin melihat ke arah atas, tiba-tiba Derel berbisik "Jangan menatap atas! Jangan menatap kemana pun, tatap aku" Bisik Derel. Seketika suasana di gedung itu menjadi mencekam, sunyi tidak ada yang berbicara. 'Kenapa suasana sangat mencekam?!' 'Sial! Aku tau apa penyebabnya, lihatlah ke atas' dor... dor... Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari atas, saat itu juga Derel memeluk Soya "Tenang lah, jangan menangis. Kau harus melawan ketakutan mu sayang, permainan di mulai. Kau takut kau mati" Bisik Derel sambil mengusap rambut Soya. dor... dor... Derel menembak musuh yang ingin menyerang "Pegang pistol ini dan tembak mereka seperti yang aku ajarkan. Aku mohon jangan menangis, kau mengerti?" Derel menyeka air mata Soya "Jadilah perempuan yang kuat jangan lemah" Soya mengambil nafas nya lalu mengambil pistol itu "Derel!!" Soya shock melihat peluru berhasil bersarang di lengan Derel saat berusaha melindunginya. "Lawan ketakutan mu sayang" Bisik Derel sebelum laki-laki itu berdiri dan menembaki musuh yang memang di rencanakan sejak awal. Terjadi lah kericuhan di gedung itu, peluru saling di lesatkan. Para anak buah-anak buah ketua mafia disitu berdatangan. Soya menjadi sangat takut, sangat takut tapi bagaimanapun dia harus berani jika tidak... maka bersiaplah untuk mati. dor... dor... Derel tersenyum tipis "Bagus sayang" Soya berdiri di belakang Derel, mereka saling membelakangi dan menembaki musuh. Saat ada musuh yang ingin memukul Derel dari samping, dengan cekatan Soya menendang perut laki-laki itu hingga terjatuh. "Dress ini sangat merepotkan" Soya pun merobek dress bagian bawah dan memperlihatkan celana pendek berwarna hitam. Saking fokusnya menembaki musuh, Soya tak sadar ada laki-laki yang berlari dan hendak menusuknya. "SOYA DI BELAKANG MU!!! SIALAN!!" Derel menendang alat vital musuh lalu menembak orang yang hendak menusuk Soya. Tapi... dor Soya diam membeku, dia melihat sendiri peluru itu melubangi kepala Derel. Perlahan cairan bening keluar dari pelupuk matanya. "Kau mati Mallory, tapi tenang saja aku akan menjaga istri mu hahaha" Dezon, Dezon lah yang menembak Derel. Tiba-tiba sebuah suara membangunkan Soya "Sayang! Hey, kamu kenapa?" Soya membuka matanya, nafas perempuan itu terengah-engah. Pelipis nya sudah basah oleh keringat, Derel pun mengusap keringat Soya "Kamu kenapa? Sayang!" Soya tak menjawab tapi dia langsung memeluk Derel dan menangis. Derel semakin di buat bingung dam khawatir "Mimpi buruk ya?" Soya mengangguk "Aku mimpi kamu di tembak sama dia" Isaknya semakin kencang. "Aku gak pa-pa, itu cuma mimpi buruk sayang. Kamu jangan banyak gerak dulu!" Peringat Derel. "Aku ambilin minum ya, kamu tunggu sini. Jangan kemana-mana" Soya melepaskan pelukannya, Derel pun menyibak selimut bagiannya lalu berjalan keluar kamar. Soya menenangkan dirinya, mimpi itu benar-benar terasa nyata. Bahkan Soya masih ingat kapan terjadinya kericuhan dan dimana tempat itu. Soya berniat untuk turun ke bawah menyusul Derel, dia menyibak selimut tebal yang membalut tubuhnya. Baru saja kakinya melangkah, dia merasakan perih di bagian bawah "Aww" Soya kembali terduduk. cklek Derel masuk sambil membawa segelas s**u coklat "Aku udah bilang jangan banyak bergerak" Ucapnya. "Apa yang terjadi?" Tanya Soya linglung, Derel duduk disampingnya dan tersenyum. Derel memberikan s**u itu ke Soya "Kamu lupa? Kamu minta pulang, kamu mabuk dan... masih ingat?" Jelas Derel singkat, Soya mengerutkan dahinya. "Aku mabuk?" Derel mengangguk "Ga usah di pikirin kalau gak inget, sekarang tidur udah mau pagi" Ucapnya lalu meletakkan gelas di nakas samping kasur. Derel naik lalu berbaring di kasur "Sini Mommy" Ucap Derel sambil merentangkan tangannya. Soya menggeleng dan mengerucutkan bibirnya "Perih, gak bisa" Ucapnya ingin menangis, sebenarnya apa yang terjadi dia benar-benar tidak mengingat apapun selain mimpi itu dan kini kepalanya terasa pusing. Derel tertawa kecil, dia mengangkat Soya ke sampingnya "Dah tidur" Soya pun masuk ke dekapan Derel. "Tadi kenapa? Aku kenapa? Kapan aku mabuk?" Tanya Soya masih penasaran. "Kamu minta pulang karena dingin, trus sampai di rumah kamu gak sengaja minum minuman aku trus kamu mabuk, habis itu kamu narik aku masuk ke kamar, kamu bilang 'Aku pengen Derel kecil, boleh ndak?' inget?" Jelas Derel sambil memejamkan mata. Soya berusaha mengingat nya, seketika matanya membulat. Soya baru menyadari jika dia hanya memakai stelan tanktop abu-abu sementara Derel tak menggunakan atasan. "Inget?" Tanya Derel sekali lagi. Soya tak menjawab, sekarang dia malu ingin dia menghilang dari hadapan Derel. Derel tersenyum melihat semburat merah di pipi Soya "Tidur" Soya tak tau lagi ingin mengatakan apa, jadinya dia membenamkan wajahnya di d**a Derel dan berusaha untuk tidur. ‧⁺˚*・༓☾ ☽༓・*˚⁺‧ Pagi hari datang, sekitar pukul 6 pagi Soya mulai membuka matanya. Dia masih berada di dekapan Derel, ia merasakan hembusan nafas teratur di dahinya. Soya mendongakkan kepalanya, tangannya terulur untuk memegang rahang tegas Derel. Diusapnya pipi Derel dengan lembut, sesaat kemudian senyum manis terbit di wajahnya. Melihat Derel tidur dengan memeluknya itu merupakan kebahagiaan sendiri untuknya, seorang perempuan biasa bisa menjadi istri seorang mafia. Mimpi apa dia sampai seorang mafia jatuh cinta kepadanya. Soya masih mengusap pipi Derel dengan tangan nya yang lebih kecil daripada tangan Derel. Derel yang merasakan usapan lembut di pipinya pun perlahan membuka mata. Terlihat tangan kecil berada di pipinya "Kenapa hm?" Tanya Derel dengan suara khas orang bangun tidur. Soya menggeleng yang artinya tidak apa-apa, dia menghentikan usapan lembut itu dan masuk lagi ke dekapan Derel. Derel melirik ke arah jam, sekarang sudah pukul 06.30 dia berfikir jika Soya tak usah sekolah. "Jam berapa?" Tanya Soya. "Kenapa?" Tanya Derel balik. "Ini hari senin, aku masuk sekolah" "Gak usah!" "Tapi ada ulangan harian Matematika sama Bahasa Inggris" "Gak!" "Nanti nilai ulangan aku jelek kalau gak ikut hari ini" Cicit Soya, takut jika Derel marah karena membantah ucapannya. Derel diam saja dan mengeratkan pelukannya, Soya menghela nafas singkat. Ok! Dia tak akan bisa lepas dari Derel hari ini. Soya kembali memeluk Derel dan mencoba untuk tidur lagi, tapi tak bisa dia merasa lapar "Derel" Panggilnya sedikit takut. "Hm?" "Eng... gak jadi" Derel menundukkan kepalanya "Tunggu disini!" Ucapnya lalu melepas pelukan, laki-laki itu berjalan keluar kamar. Soya menatap balkon dan tirai-tirai belum di buka, udara kamar menjadi dingin karena tidak ada sinar matahari hangat yang masuk. Dia menyibak selimut lalu berjalan pelan ke arah balkon, dia membuka tirai yang menutupi pintu balkon lalu membuka kunci balkon dan menarik handle pintu. Sedikit dia bisa merasakan kehangatan dari sinar matahari yang menyinarinya. Dia beralih ke tirai-tirai. Suhu kamar pun menghangat, sinar matahari sudah memenuhi ruangan itu. cklek Derel masuk sambil membawa nampan yang berisi sarapan untuk mereka berdua.  Derel duduk di sofa panjang depan kasur mereka "Soya" Panggilnya, Soya pun menoleh dan berjalan mendekati Derel. Derel tersenyum melihat langkah pelan perempuan itu, dia meletakkan nampan di meja lalu mendekati Soya "Lama, keburu dingin makanannya" Laki-laki itu menggendong Soya. Soya mendengus kesal mendengar perkataan Derel, Soya duduk di samping Derel lalu menyenderkan kepalanya di d**a Derel. Mereka sarapan sambil menonton salah satu drama Korea. Derel melingkarkan tangannya di pinggang Soya. Entah kenapa Derel mengusap perut rata istrinya, Soya juga bingung lantas dia ikut-ikutan mengusap perutnya. Derel tersenyum, dia memegang tangan Soya dan mengusap perut istrinya. Derel menggeser rambut Soya ke depan pundak, dia memberi satu kecupan yang sekaligus membuat tanda lagi di sana. "Jangan mulai lagi Derel, nanti aku ada urusan di sekolah buat ambil rapot ku kemarin. Nanti nutupin nya gimana?" Tanya Soya kesal. "Pakai syal" Jawab Derel enteng. "Kamu gak cuma buat tanda di leher, di lengan atas juga, bawah telinga juga" Ucap Soya. "Ya udah, gak usah ambil rapot" Ucap Derel tanpa beban. Soya mendengus kesal, dia tak memperdulikan nya lagi. Terserah apa yang akan nyamuk besar itu lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN