Sudah hampir setengah jam Hafiz hanya terdiam menatap plafon kamarnya yang berwarna putih. Ia sibuk memikirkan jawaban apa yang harus segera ia berikan pada ayahnya. Tentang Hanum, Hafiz masih belum mengerti. Terlihat jika Hanum adalah perempuan sempurna untuk menjadi seorang istri, namun seperti ada sesuatu yang kurang, yang tak bisa Hafiz lihat dari Hanum. "Calon Suami!" Hafiz sontak menolehkan wajahnya ke arah pintu. Ia terbengong untuk sesaat sebelum mulutnya menghela napas kasar. Ia terlalu berhalusinasi saat ini, hingga suara Adinda saja bisa terdegar begitu jelas di telinganya. "Apa anak itu benar-benar marah padaku?" Hafiz beranjak duduk dengan kening mengerut bingung. Hafiz tidak habis pikir jika Adinda akan benar-benar mengabaikannya pagi tadi. Padahal ia hanya berniat untuk m

