Bagaimana kondisi Adinda saat ini? Apakah gadis itu benar baik-baik saja? Apakah dia terluka? Apakah dia menangis? Banyak pertanyaan yang kini bercabang di kepala Hafiz. Salahnya sendiri tak mau ikut campur dan menolong Adinda. Ia sendiri yang memilih menjadi orang bodoh yang berdiri diam menyaksikan kondisi gadis itu. Jika kini ia baru mengkhawatirkan kondisi gadis itu, bukankah sudah terlambat? Hafiz menatap layar presentasi di depannya dengan tatapan kosong. Matanya memandang lurus ke depan. Tangannya sejak tadi menggambar abstrak tak jelas. Materi yang dipaparkan tak ada yang masuk ke dalam telinganya. "Hafiz? Apa kamu mendengarkan saya?" Hafiz mengerjap cepat. Duduknya menjadi tegap dan tatapannya sudah berubah fokus. "Kamu terlihat tidak enak badan, apa kamu sedang sakit, Haf

