Sepanjang perjalanan, Adinda hanya bisa menggembungkan pipinya. Ia bahkan belum sempat sarapan, tapi sekarang ia sudah dikirim oleh Hendra untuk pergi ke tempat pelanggan terhormat yang Mahesa maksudkan. Belum lagi uang yang ia sisakan di dompetnya hampir habis karena ia pakai untuk ongkos ojek dari rumah sampai dengan tempat kerjanya. "Gue heran deh, Mahesa tadi kenapa bisa tiba-tiba dateng ke resto, sih?" tanya Lia yang membuka percakapan sepi di dalam mobil berisikan 5 manusia. "Tahu, heran gue juga. Itu orang bisa tiba-tiba nongol kayak jin. Mana dateng-dateng langsung ngomel. Ada aja yang dia komentarin," timpal Risma ikut bersuara. "Nama Mas yang tadi itu Mahesa?" tanya Adinda penasaran. "Lah, lo baru tahu, Din?" Adinda nyengir sambil meringis kecil. "Untung aja lo nggak bodoh

