Kedua orang itu memeluk satu sama lain. Saling merapatkan badan, mencari kehangatan. Selimut tebal yang mereka pakai nyatanya tak mampu menghangatkan keduanya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, namun keduanya masih merasa nyaman satu sama lain. Terlebih lagi dengan kegiatan yang mereka lakukan semalam. Vanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Menyesuaikan pencahayaan dengan retina matanya. Wajah Deka lah yang ia lihat pertama kali. Suara napasnya terdengar teratur, menandakan jika laki-laki itu masih larut dalam dunia mimpi. Wajah tegas, rahang kokoh, mata yang tertutup indah, serta bibir yang menggoda. Astaga! Tiba-tiba saja Vanya merasakan hawa panas lagi hanya memandang bibir itu. Vanya masih mengingat bagaimana bibir itu menciumnya tadi malam. Wajah perempuan itu memerah me

