Pelaku pemerkosa

1189 Kata
"Hentikan Deva! " Devano Deandra, seorang teman Sekolah Menengah Atas ku dulu, siswa yang selalu berbuat rusuh, sering keluar-masuk ruang BK, siswa yang tergolong nakal itu menunduk mengungkapkan cintanya padaku. Banyak ku dengar dia sering berantem dengan cowok yang menggangguku di sekolah, walaupun hanya sekedar menyapaku, dia pasti memukul lelaki itu. "Maaf, aku tidak bisa, pergilah. " ucapku menunduk dan meninggalkan dia di belakangku setelah dia menyatakan cinta kepadaku. Aku berjalan dengan cepat membawa buku-buku novel yang kudekap, segera hilang dari pandangannya, setelah cukup jauh aku bersembunyi di balik dinding untuk menetralkan detak jantungku yang tak beraturan. Entah mengapa ketika berada di dekat Deva aku sangat gugup, apalagi dia menyatakan cinta seperti itu, aku bisa mati berdiri. Ya, walaupun Deva orang yang nakal, namun dia selalu memperlakukanku dengat baik. Aku memukul-mukul pelan dadaku karena bodoh telah menolaknya, karena aku sangat tertekan tak tahu harus merespon apa. Lagipula dia pasti akan datang lagi, dan aku bisa menyiapkan jawabanku dengan sangat bagus. Namun, sudah 3 hari dia tidak masuk sekolah, surat panggilan orangtua pun tidak ada jawaban, hingga minggu berlalu, berbulan, Deva absen dari sekolah, dan dinyatakan keluar. Setelah itu, dirinya tak pernah lagi terlihat. Aku menunggu kedatangannya untuk mengulang pernyataan cintanya, namun ia tak pernah datang. Padahal aku sudah menyiapkan jawaban yang tertunda waktu itu, aku ingin bilang YA, AKU JUGA MENCINTAIMU. Dan, kini sosok yang hilang itu datang lagi di hidupku. Datang mengambil aset berhargaku, dan menumbuhkan makhluk di rahimku. Kini pria itu sedang duduk di ruang tamuku memegang sebuah pisau, siap mengiris pembuluh darahnya. Saat pisau itu menyentuh kulitnya aku refleks berteriak, "Hentikan Deva! " dia pun menghentikan gerakannya. Aku belum siap melihat dia pergi untuk selamanya, walaupun aku yang memintanya untuk mati. "Apa kau tidak lihat ada anak kecil disini, kau mau mengakhiri hidupmu disini. " aku menjadikan Sanum sebagai alasan untuk menghentikannya. Aku pun bangkit meninggalkannya menuju kamar bersama putriku, karena aku tak mau dia melihatku menangis. Aku menyeka air mataku, mencoba untuk tenang. Ingat, ada Sanum dia tak boleh melihatmu begini. Setelah beberapa lama, ibu memasuki kamarku. Ibu bilang pria itu telah pergi, ayah menyarankan dia untuk pulang dulu dan menyelesaikan di lain waktu. Aku berhambur memeluk ibu, dan menangis sesenggukan, "Buk, dia adalah Deva bu, teman lelakiku, yang mengantarku pulang, waktu hujan saat masih sekolah dulu, ibu ingat, " ucapku terbata karena sesak karena menangis. Ibu tampak berfikir, dulu Deva pernah mengantarku pulang sekolah karena hujan, dia juga sempat berkenalan dengan ibu dan ibu sangat berterima kasih waktu itu padanya. Saat itu, dia mengantarku pulang dengan menggunakan payung, dia memintaku melepas sepatuku karena takut basah, dan memintaku untuk memakai sepatunya walau kebesaran. Dia memasukan sepatuku di kantung plastik, dan dia pun berjalan nyeker tanpa alas. *** POV Deva "Berhenti! Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan seorang wanita bernama Pricilia, " seorang polisi mengarahkan pistolnya ke arahku. "Angkat tanganmu! " aku mengangkat pelan tanganku. Apa ini? Aku tidak membunuh siapapun, semua fitnah! Aku memang mengenal Pricilia dan aku pernah tidur dengannya namun tidak pernah aku berniat membunuh. "Ini semua fitnah, pak! Saya tidak tau apa-apa. " belaku. "Anda bisa jelaskan di kantor, tangkap dia! " seorang rekannya bersiap memborgol ku. Aku tidak ingin mendekam di dalam sel lagi, aku sudah berniat untuk pulang menemui ibu dan adikku. Satu-satunya yang bisa ku lakukan adalah melawan, karena semua ini juga fitnah! Aku melawan mereka mengalihkan untuk kabur, berlari sebisa yang kulakukan. Mereka kehilangan jejakku. Aku membuka pintu rumah yang selama ini aku tinggali bersama temanku, "Bram, kenapa mereka menangkapku menuduhku membunuh Pricilia! " ucapku kepada temanku yang asik merokok. "Ya mana ku tahu, lagian itu juga salahmu karena telah meniduri sembarang wanita, " ucapnya santai. "Aku harus bagaimana sekarang, bantu akulah. " ucapku putus asa, masalah memang selalu datang bahkan disaat kita ingin berubah. "Kenapa kau tidak meminta tolong pada wanita-wanita malam mu itu saja, " Aku menjambak rambutku merasa frustrasi, mungkin memang aku harus pulang, tidak ada yang tahu identitas keluargaku, mereka tak akan menemukanku. Aku pulang dengan membawa pakaian yang melekat pada tubuhku saja. Setelah sekian lama, bertahun lamanya, rumah yang kutinggali saat aku kecil itu terpampang jelas dimataku. Rindukah aku? Entahlah, semuanya menyakitkan. Aku mengetuk pintu dengan pelan, aku sengaja datang malam agar tidak ada orang yang melihatku, wajah sepuh itu membuka pintu menatapku intens, "Siapa ya? " itu suara ibuku. "A-aku, aku Devano, bu, anakmu. " ibu membulatkan matanya menutup mulut dengan tangannya. Ibu menangis dan memukuliku, sedih, senang, marah, semua ia luapkan saat kehadiranku. Esoknya adikku, Vanesha datang. Dia pun sama reaksinya dengan ibu. "Kenapa kau tidak pulang semalam?" tanyaku dengan menunduk, masih merasa bersalah. "Tentu aku tidur dirumahku, aku sudah menikah. " jawabnya ketus. Ah, adikku telah menikah. "Bang ikutlah denganku ke rumah, ada yang ingin ku tunjukan padamu, " Aku menggeleng tak tertarik. "Bang, ini penting. " Akhirnya aku ikut dengan adikku ke rumah suaminya. Aku membulatkan mataku ketika sampai di rumah itu, rumah ini? Bukankah rumah ini? Rumah yang waktu itu aku rampok bersama temanku. Ah, mungkin rumahnya hanya mirip. Setelah masuk memang rumah ini sangat mirip dengan waktu itu, hatiku merasa tak tenang memasuki rumah ini. "Bang, kau tau aku menikah dengan siapa? " Aku menggeleng. "Dulu, aku adalah istri kedua dari suamiku sekarang, istri pertamanya di ceraikan karena hamil, " Aku menatap bingung pada adikku, "Mengapa di ceraikan? Bukankah suaminya seharusnya senang kalau istrinya hamil? " "Karena istrinya hamil bukan karena suaminya, tapi orang lain, " "Lalu? " tanyaku penasaran belum mengerti arah pembicaraan ini. "Istri pertamanya hamil karena di perkosa dengan orang yang berniat jahat ke rumah ini, dia hamil bahkan sekarang telah melahirkan anak haram itu, " aku meremas bajuku, apakah itu karena ulahku dulu? Aku tidak melihat wajah wanita itu dengan jelas. "Suaminya tentu merasa tak suka, karena istrinya di noda orang lain, dan suaminya mendekatiku, aku ambil kesempatan saja, apalagi suaminya itu adalah orang yang ku suka di masa sekolah dulu, awalnya aku hanya ingin hidup bersamanya walau menjadi yang kedua. Tapi, setelah ku tahu siapa istri pertamanya, ku rebut saja semuanya, " ucapnya sinis. "Siapa istri pertamanya? " aku meremas bajuku lebih kuat untuk menunggu jawaban Vanesha. "Dia adalah Lisa bang, Lisa. Perempuan yang menyakitimu dulu yang telah membuatmu pergi dari rumah meninggalkan ibu dan aku! " "Aku telah membalaskan dendammu, aku telah menang. " Keringat dingin yang kurasakan saat ini, berarti wanita yang kutiduri waktu itu adalah Lisa? Wanita satu-satunya yang aku cintai daridulu, dan kini hidupnya telah hancur karena ku? Aku menjambak rambutku menunduk dalam-dalam. Dan, apa kata Vanesha? Dia melahirkan anak itu? Anak dariku? "Aku telah mengambil suami, rumah, dan apa yang segala ia miliki disini, setidaknya dia merasakan akibatnya. Aku telah memberikanmu kejutan bahagia untuk kepulanganmu. " ingin sekali aku menampar Vanesha, karena telah menyakiti Lisa. "Dimana dia sekarang? " "Katanya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan orang baru. " Aku pergi keluar menemui Lisa tak menghiraukan panggilan Vanesha di belakangku, aku harus datang sebelum terlambat, juga anak, aku harus melihat anak itu. Aku memang lelaki b******k, aku sering meniduri wanita-wanita malam, w************n, karena wanita itu yang selalu menggodaku duluan, bahkan wanita-wanita itu selalu meminta tidur denganku lagi, tapi tak pernah sampai membuatnya hamil. Apalagi, sampai melahirkan anakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN