Episode 8. Resign

1308 Kata
POV Kautsar Semenjak pak Damar datang ke sini, istriku mulai berubah, dia sudah tidak lagi bermanja-manja denganku lagi seperti biasanya, pada hal aku suka dengan manjanya dia, apa dia takut aku akan berubah padanya, rasanya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan dia, apa aku harus resign dari perusahaan milik pak Damar biar aku tidak merasa bersikap dengan tegas, dan tentunya Istriku mungkin akan berpandangan lain bahwa aku serius dengan ucapanku. " Dek sarapan dulu sini," ku tarik tangannya ketika dia keluar dari kamar dan ku dudukan dia di dekatku sambil aku mengambilkan makanan untuk dia dan lauk pauk lalu aku pun menyuapi dia tetapi dia menolak, aku hanya bisa mendesah kasar. " Aku makan sendiri saja mas," katanya sambil mengambil sendok dari tanganku. " Tapi di habiskan ya?" kataku sambil ku tatap matanya dengan lekat-lekat, sementara dia hanya menganggukan kepalnya dan menunduk. " Dek,... sepertinya mas akan resign dari perusahaan secepatnya mungkin Minggu depan dek," kataku sambil aku mengunyah sarapanku. " Hah memang kenapa mas?" katanya sambil menatapku heran. " Mas ga mau di kekang karena perjodohan yang gila itu, biarkan saja mas bebas menentukan sikap, bahwa mas tidak main-main, dan juga menunjukan pada mereka bahwa mas bisa berdiri sendiri tanpa mereka," " Mas serius?" tanya Mitha sambil mengulum sebuah senyuman. " Mas serius sayang, mas ga mau mereka beranggapan bahwa mas ga bisa hidup tanpa dapat kerjaan dan jabatan dari mereka, mas ga mau juga di anggap silau akan kekayaan dan jabatan yang tinggi yang mereka tawarkan pada mas, dan satu lagi biar mereka tidak menganggu kehidupan kita dan kamu tetap nyaman bersama mas"kataku sambil ku usap pipinya yang merona, dan aku kecup bibirnya sekilas. " Terimakasih mas, mas mengerti apa maunya Mitha." katanya sambil tersipu malu. " Mas yang terimakasih sayang do'ain mas ya semoga bisa cepet dapat kerjaan yang baru, dan terimakasih telah mau terima mas apa adanya, mas janji akan segera mendapatkan pekerjaan, mas yakin kita akan dapat rejeki di tempat lain." akhirnya kamipun berpelukan saling merasakan kenyamanan masing-masing. *** Aku putuskan hari ini menulis surat resign ku dan aku jeda satu Minggu untuk mencari penggantiku, aku kemarin sempat kaget karena sempat tersebar desas desus bila aku akan di jadikan sebagai CEO di perusahaan ini, tetapi aku tak ambil pusing yang jelas niatku awal tak terbantahkan, aku ingin membahagiakan istriku tercinta, " dek mas akan memperjuangkan mu sayang," gumamku lirih,biar mas merangkak lagi dari bawah tak apa yang penting kerjaan sampingan mas sudah berjalan lancar sambil menunggu panggilan kerjaan datang," InshAllah mas masih bisa ngasih nafkah kamu dan bunda untuk beberapa bulan ke depan. " Berarti nanti malam jatah mas lancarkan dek?" bisiknya di telinganya sambil menggesek-gesek kepalaku di telinga Mitha, dan ku lihat wajahnya merona dan senyuman yang mengembang keluar juga dari istriku tercinta, dan ku ciumi pipinya bertubi-tubi, dan sekilas aku melumat bibir ranumnya yang menggoda, yang sudah menjadi candu tersendiri buatku. " Mas sudah yuk nanti malah telat jadinya" katanya sambil mengurai pelukanku, dia tampak malu-malu menatapku pada hal kami menikah bukan lagi pengatin baru hamir dua tahun usia pernikahan kami. " Oke sayang kita berangkat bareng aja ya? nanti mas jemput kamu" kataku sambilku tarik tangannya untuk bangkit dari duduknya, kami berjalan ke depan untuk bersiap berangkat kerja bersama. *** Dengan langkah lebar aku menuju ruang HRD, membawa sebuah surat yang sudah aku yakin sebagai keputusan final buat aku, ku yakinkan pada diri sendiri pasti aku dapat rejeki dari tempat lain, aku yakin semua bisa aku atasi dengan beban yang terpampang nyata di hadapanku, yaitu istri, ibuku dan adikku, tidak aku tidak bisa menyebut sebuah beban mereka adalah tanggungjawab ku, walaupun Mitha bisa berdiri sendiri tanpaku tetapi aku adalah seorang lelaki yang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadapnya. Bismilah semoga ini awal yang baik bagi kami, aku dan istriku gumamku dalam hati sebelum aku mengetuk pintu manager HRD ,tok tok tok Ku dengar jawab dari dalam ruangan mempersilahkan aku masuk, lalu akupun membuka pintu dan masuk , ku lihat pria paruh baya berdiri menyambutku dan akupun datang mendekat mejanya, " Assalamu'alaikum pak Kusumo apa kabar " kataku sambil ku ulurkan tanganku untuk menjabat tangan dengannya. " Alhamdulillah baik pak Kautsar, tumben ini pagi-pagi sudah ke sini ada perlu apa ya pak," katanya to the poin. " ini pak sebelum saya minta maaf bila selama ini saya kerja di sini saya banyak salah kepada bapak, maaf mungkin ini kesannya mendadak tetapi ini sifatnya urgen, jadi mohon di terima surat pengunduran diri saya ini, dan bapak adalah orang yang pertama yang saya rasa kasih tahu perihal ini, dan selanjutnya saya akan ke ruang direktur utama untuk memberikan surat pengunduran diri saya," kataku sambil ku tatap mata tua itu lekat-lekat, yang tadinya tersenyum seketika senyum itu hilang berubah menjadi sebuah keheranan dengan keputusan ku ini. " Aduh pak Kautsar kenapa mendadak gini ada masalah apa sebenarnya pak, apa ada kendala di perusahaan sini, sehingga membuat pak Kautsar buru-buru cabut dari sini, jujur saya sangat kagum dengan bapak selain masih muda tetapi sifat ada tidak seperti manager yang lainnya." tanya pak Kusumo penuh cemas, beliau adalah satu-satunya manager yang di segani di sini, sifatnya yang selalu bisa ngemong, mengayomi dan, selain usianya yang sudah berumur tetapi, beliau adalah sosok panutan di semua kalangan termasuk direktur utama yaitu pak Damar. " Wah tidak pak, saya tidak ada masalah apa-apa hanya saja saya ingin mengembangkan diri saya ke bidang IT, saya berniat ingin merintis usaha sendiri jadi, saya tidak bisa fokus kerja di sini lagi, tentunya akan memakan waktu banyak untuk bidang saya itu," kataku panjang lebar. " Ya sudah kalau itu yang jadi alasan utama Bapak, saya tidak bisa melarang sebab itu sudah menjadi hak bapak untuk mengembangkan diri." kata pak Kusumo dengan bahasanya yang selalu halus dan sopan pada siapapun itu. " Sekali lagi saya minta maaf ya pak bila selama ini kurang berkenan di hati bapak selama saya di sini, dan saya mohon diri dulu untuk menghadap ke pak Damar," kataku sambil aku bangkit dari dudukku. " Ia pak Kautsar semoga saja sukses selalu dan saya harap bapak Kautsar tidak memutuskan silaturahmi kepada saya," katanya sambil ku jabat tangan dan berpelukan dengan beliau, " Tentu saja pak kusumo, saya tidak akan lupa sama bapak, apa lagi bapak sudah saya anggap seperti Bapak saya sendiri," kataku sambil ku urai pelukanku, "mari pak Kalau gitu saya langsung mau ketemu pak Damar dulu, kataku sambil berlalu meninggalkan ruangan pak kusumo, sebelum aku tutup pintu ku ucapkan salam padanya. Dan setelah itu ku langkahkan kaki lebar-lebar menuju lantai lima di mana direktur utama berada, sambil ku sapa beberapa karyawan yang berpapasan denganku sambil ku sematkan senyuman pada mereka, setiap melewati lorong bagian staf selalu ada yang berbisik-bisik dan menoleh ke arahku, tentunya adalah kaum hawa yang selalu menatapku, bila ketemu seperti kucing yang mendapatkan ikan asin, aku selalu risih sendiri pada kelakuan mereka yang seperti itu, kadang aku bergidik ngeri lihat cara berpakaiannya yang menurutku tidak lazim, yah mau gimana lagi isi dunia memang bermacam-macam, layaknya seperti ketemu hantu saja bila berpapasan dengan wanita yang model dandanan kaya gitu, bawaannya Istighfar melulu, kadang aku berpikir lebih baik ketemu hantu dari pada ketemu manusia dari jaman batu, bagaimana tidak di kata manusia dari Jaman batu cara berpakaiannya saja hanya setengah-setengah saja, pada hal kalau beli kain aku rasa di jaman sekarang melimpah ruah, kalau jaman dulu pasti masih belum ada kain atau baju yang memadai, hanya geleng-geleng kepala bila di pikir. Tak berapa lama lift membawaku ke lantai lima, ku tarik nafasku panjang dan siap untuk berdebat lagi masalah pribadi, aku yakin pak damar dan Laras tidak tinggal diam saja, rasanya masih panjang saja urusanku ini, bismilah semoga saja mereka mau mengerti sama keadaanku dan perasaanku sebenarnya, dan tak jadi panjang urusannya, karena bila sudah bunda merajuk aku jadi apa nanti, ujung-ujungnya aku yang ngalah, tetapi untuk kali ini aku tidak bisa mengalah aku harus tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN