Episode 7. Hari H

1169 Kata
Hari yang di tunggu-tunggu sudah datang, segala persiapan sudah dilakukan, sebelum pernikahan di laksanakan aku sudah mengucapkan syahadat dulu, resmilah aku menjadi seorang muslimah, setelah itu aku menjalani serangkaian acara ijab Kabul yang di lakukan di rumah simbok, dan mamipun ikut hadir dalam pernikahan ini, akhirnya aku berterus terang sama mas kautsar tentang jatidiri ku, dengan serangkaian bujuk rayuan mami dan masukan-masukan serta melalui banyak pertimbangan. Di bantu oleh mami untuk menjelaskan prihal diriku kepada mas Kautsar hanya mas kautsar yang di beri tahu sementara bunda dan Zahra tidak tahu akan hal itu biarlah itu jadi rahasia antara aku sama mas Kautsar, dan untung saja mas Kautsar menerima semua kebohonganku selama ini tetapi ada syarat yang membuat mami berat menjalaninya, yaitu aku harus tinggal bersama dengan mas kautsar di mana aku sudah di persiapkan sebuah rumah yang tidak sebesar seperti rumah mami, tetapi rumah yang sedang bisa di katakan menengah ke atas. Upacara ijab Kabul pun berjalan dengan lancar sebagai mas kawin seperangkat alat sholat dan sebuah rumah yang akan kami tempati sebagai mas kawin dan juga satu set perhiasan, tidak ada tamu undangan dalam acara kami. yang menyaksikan ijab Kabul itu adalah tetangga kanan kiri, pak rt keluarga dari mas kautsar, mami dan simbok sementara aku sebagai wali adalah dari pihak wali hakim, sebab papiku dan keluarganya adalah seorang non muslim juga. Acarapun selesai juga, perasaanku sudah lega akhirnya aku menjadi seorang Istri dari mas Kautsar, semoga aku bisa mengimbanginya, semoga dia bisa sabar menghadapi ku yang terhitung manja ini, itulah kejelekanku. " Mas kita tinggal di sini apa langsung pulang ke rumah kita?" tanyaku harap-harap cemas. " Ehhh mami kan sudah kasih kalian kado honeymoon ke Bali dan luar negeri harus di pakai dong," kata mami sambil cemberut. " Iya mi, kan besuk berangkatnya," kataku menimpali. " Ya sudah kalau gitu mami pulang dulu ya jangan lupa, mami segera di beri cucu yang banyak ya Mit ya," kata mami girang banget deh. Mataku melotot ke arah mami, bagaimana bisa ijab aja baru selesai sudah minta cucu, dasar mami. kedatangan mami tentunya jadi pertanyaan bunda dan Zahra serta keluarga yang lain, aku bilang kalau mami adalah majikan simbok dan orang tua angkatku, itulah ide yang tercetus dari mulutku ketika mereka tanya tentang mami, tentu saja mami sempat mencak-mencak padaku dan aku di bilang anak durhaka, hadehh tapi apa boleh buat aku udah terlanjur bilang anaknya simbok sama keluarga mas Kautsar. Setelah berpamitan mamipun pulang ke rumah dan aku juga ikut pulang mas Kautsar untuk pulang ke rumah baru dulu, kali ini rumah baru kami yang sudah di persiapkan untuk ku sebagai mas kawin, rasanya hati ini tersanjung deh, walaupun tak semewah rumah mami tetapi ini adalah hadiah dari suamiku untuk aku. Bahagia tentu saja, menikah dengan seorang yang sangat istimewa bagiku. setelah pulang dari bulan madu, kami langsung ke rumah baru, keadaan masih berantakan, akhirnya aku menyerah, aku minta simbok mengirim pelayan mami untuk membantu aku beres-beres, aku tak sanggup kamu sudah seperti ini, untung saja mas Kautsar tak keberatan, dia sudah tahu tentang aku seperti apa, dia hanya memakluminya saja. flashback off *** Hari ini pagi-pagi mas kautsar sudah siap-siap untuk berangkat kerja, aku siapkan sarapan paginya dengan roti isi saja, karena apa? karena aku ga bisa masak dan segelas s**u simpel saja sarapannya pagi ini, tapi mas Kautsar tak keberatan dengan hal itu, dia tahu dari simbok tentang aku gimana, dari nyapu, ngepel, beberes dialah akhirnya yang bisa mengatasi semuanya.setelah mengantar di depan pintu mas Kautsar berangkat kerja, tiba-tiba ada segerombolan ibu-ibu yang lagi belanja, aku berinisiatif untuk ikut belanja juga, walaupun aku ga bisa masak ga apa-apa biasanya mas Kautsar yang masak bila sudah pulang dari kerja, sekalian biar kenal dengan tetangga kanan kiri ku, berawal dari sanalah semua terjadi, aku berkenalan dengan ibu-ibu itu jadi mengenal beberapa tetangga kanan kiri " Mbak Mitha suaminya ganteng banget lho," kata Bu Selly yang rumahnya di sebelah kiriku yang memang nampak genit sekali bisa di katakan dia itu umurnya setahun atau dua di atasku. " Makasih mba Selly, saya beruntung punya suami genteng dan gagah." kataku menimpalinya. " Ngomong-ngomong kerja di mana suaminya mbak?" tanya mba Irma yang sedang memilih sayuran di sebelahku. " Di PT Prima Angkasa" jawabku " kayaknya itu perusahaan lumayan besar lhoo, itu lho sebelah Bu RT kan juga di sana kerjanya," sahut Bu Lia yang ada di sebelah Bu Irma. " Maksudnya janda itu tho mbak Merlin yang bohay itu," kata Bu Irma " Iya itu menjabat sebagai direktur keuangan lho di sana.kata Bu Lia " btw suami mbak Mitha sebagai apa di sana?" tanya mbak Selly " Suami saya hanya manager kok bu Selly jawabku sambil tersenyum. " Yaa... lumayan lah mbak, dari pada nganggur, cletuk Bu Selly aku seketika kaget dengan pernyataannya. "Suami saya itu wakil direktur lhoo mbak jangan salah, jadi ya ke mana-mana saya harus jaga sikap" katanya lagi dengan gayanya yang lebay. sebulan sudah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ku rasakan adalah di lingkungan yang baru ini begitu banyak ibu-ibu sering menghibah antara satu dengan yang lainnya. candaan ketika di grup arisan maupun ketika ketemu langsung pagi-pagi di tukang sayur keliling, ada aja gibahnya dari a sampai z komplit dah. Mas kautsar pergi pagi-pagi sekali, katanya di kantor lagi ada audit, jadi tidak seperti biasanya dia berangkatnya lebih awal, seperti biasa aku hanya belanja saja di tukang sayur tapi ga bisa memasak sekali memasak tetap hasilnya tidak sesuai expectasiku, selama seminggu aku kuliah siang jadi aku sering nyantai kalau pagi-pagi, soalnya semua sudah di kerjakan suamiku tercinta, kalaupun belanja sayuran aku cuma nyimpan saja di kulkas biasanya sore pulang kerja mas Kautsar lah yang akan memasaknya, sebenarnya aku tidak enak tapi gimana lagi semenjak pertama aku masak dan kena minyak akhirnya aku di larang sama suamiku untuk masak, bersyukur sekali aku punya dia yang selalu memanjakan aku, tiap hari kerjaku hanya bantuin mami via online dengan mengecek email yang masuk jadi mami tinggal eksekusi saja, dan ke kampus saja itupun kadang-kadang. *** flashback off Semenjak keluarga pak Damar datang ke sini aku menjadi enggan bermanja-manja dengan mas Kautsar, biasanya setiap hari adanya seperti orang lagi jatuh cinta saja, tetapi sekarang berubah, entah hanya saja aku masih ketakutan di tinggalkan, ketakutan dengan sakit hati, cemburu jelas sekali, tapi apa mau di kata bila aku harus hidup dengan hari yang mendua, walaupun mas Kautsar masih kekeh dengan jawaban bahwa aku tak akan pernah di duakan dan akan menolak lamaran pak damar untuk anaknya, sampai mas Kautsar telah siap bila nanti dia di pecat. " Dek ... sini dong, masak masih uring-uringan sih, mas kangen sama kamu dek," katanya dengan menatapku sendu. aku hanya menggelengkan kepalaku saja dan makan dalam diam, biasanya aku di suapin sama dia, tapi berhubung aku masih saja kesel jadi semenjak itu aku makan sendiri, kulihat mas Kautsar menghembus nafasnya dengan kasar dan menghabiskan makan lalu pergi keluar untuk merokok. Sementara aku menghabiskan makanku dan masuk ke dalam kamar dan aku mengerjakan email-email yang biasanya di kirim mama untuk aku kerjakan, tinggal mama yang tandatangani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN