Aku bingung harus gimana menelpon dia apa tidak ya, seketika perasaan itu terpatahkan karena ponselku bergetar seolah menjawab keraguanku,
" Hallo mas ?"
" Assalamu'alaikum dek gimana kabar ?"
" Alhamdulillah baik mas, mas maaf mau minta tolong bisa?"
" InshAllah selama aku bisa aku akan membantumu, apa yang bisa aku bantu sekarang?",
" Itu mas anu mm..., saya minta tolong di jemput di kampus boleh?, soalnya di depan parkiran ada mantan aku yang menunggu di sana, aku jadinya ga berani pulang mas?" rengekku pada mas Kautsar.
" Ya sudah tunggu dulu ya dek Mitha, ini kebetulan mas juga keluar untuk makan siang,"
" Iya mas aku tunggu di dalam ya mas aku ga berani keluar ini,"
" oke di tunggu ya?" katanya di ujung telpon sana.
Karena jarak antara kantor mas Kautsar dan kampus lumayan dekat jadi aku tidak lama menunggunya, setelah bermain kucing-kucingan dengan Devan, akhirnya aku berhasil keluar dari sana di bantu mas Kautsar dan sekarang aku di sini di sebuah restoran Padang pilihannya, katanya sih langganan mas Kautsar.
" Maaf ya mas aku jadi merepotkan lagi?" kataku sungkan dengannya, walaupun aku sebenarnya deg-degan bila dekat dengan dia.
" Ga apa-apa dek, kan aku sudah bilang jangan sungkan sama aku, sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
" iya mas " lirihku
" Gimana kabar simbok dek ?"
" Simbok sehat mas, cuma beliau tanyain mas terus kok ga pernah mampir," kataku malu-malu
" Iya nih dek, kalau pas libur ngantar bunda pengajian kadang, trus acara kondangan juga yahh jadi kadang libur aja aku ga bisa nikmati, tapi seneng sih ketemu banyak orang.
" Boleh ga mas kalau aku ikut pengajian sama simbok juga?, tanyaku lirih.
" Boleh sekali, besuk Minggu gimana?" jawabnya sangat antusias.
" Iya mas nanti saya di kasih tahu tempat acaranya ya mas?" kataku lagi
" Nanti aku jemput saja ya?" jawab mas Kautsar sambil tersenyum merekah.
" Iya mas nanti Mitha bilang simbok dulu ya mas," mas Kautsar mengangguk kepalanya dan mengangkat kedua jempolnya.
Selesai makan siang aku di antar pulang ke rumah, entah rasanya senang saja bisa berdua dengannya, tapi ada perasaan yang mengganjal di hati,apa itu aku sendiri tak tahu.
Tetapi semoga aku sefrekwensi sama dia, harapanku demikian.
" Aku langsung saja ya dek , jangan lupa hari Minggu aku jemput kamu ya sama simbok,?"
" Iya mas dan terimakasih sudah di antar sampai rumah,"
" sama-sama dek" katanya sambil tersenyum.
Setelah aku turun dari mobilnya, mas Kautsar melajukan mobilnya meninggalkan rumahku, lalu akupun buru-buru menghubungi sopir mami untuk mengambil mobilku yang aku tinggal tadi di parkiran kampus.
***
Dua bulan sudah ku lewati rutinitas ku di kantor dan di kampus tempat aku menimba ilmu yang sempat kandas karena menuruti kemauan mami, hubunganku kian hari kian deket dengan mas Kautsar tetapi aku tetap ada dalam jalurku pura-pura menjadi gadis miskin.
Walaupun intensitas kedekatan kami hanya sebatas Chart saja, tetapi semua berjalan sesuai yang aku inginkan, perhatiannya pada ku terus bertambah, hingga dia suatu ketika menegurku pada hari minggu aku di rumah terus, karena aku ga pernah pergi sembahyang, karena semenjak kejadian itu aku tidak pernah pergi untuk beribadat, aku akhirnya memberikan jawaban yang membuat dia tercengang sesaat dan di saat itu dia mengajak aku untuk bertemu di rumah dia dan dia menjemput ku bersama dengan adiknya Zahra.
***
Di sinilah sekarang aku berada di rumahnya mas kautsar, pertama aku di kenalkan sama bundanya mas Kautsar, beliau begitu ramah dan lemah lembut serta tutur katanya begitu halus seperti mas kautsar.
Ada perasaan yang menyusup d**a ini entah apa itu aku saja juga tak tahu.
" Kenapa mas? apa ada hal penting tiba-tiba pingin ketemu dan ngobrol apa?" tanyaku bingung.
" Bunda pingin kenalan saja sama kamu dik,"
" Oh cuma itu ya, ia mas ga apa-apa kalau gitu, maaf aku kira ada apa, kataku sambil aku memilin jari-jariku, menantikan bunda Kautsar yang masih di dalam rumah.
Sementara aku duduk di depan bersama mas Kautsar yang sedang merokok, mas kautsar itu memang perokok berat kalau aku lihat dia pasti membawa rokok Marlboro kemana-mana di dalam kantongnya selain Ponsel.tak lama kemudian Zahra membawa nampan berisikan minuman dan kue kering di dalam toples bening.
" Silahkan mba di minum, siang-siang begini seger mba minum es sirup," katanya.
" Iya terimakasih Zahra " kataku sambil tersenyum manis.
Tak selang berapa lama bunda keluar rumah menemuiku, senyum teduh terpancar dari wajahnya yang kharismatik.
" Paramitha ya?" sapa bunda
" Iya Bun, lalu akupun berdiri dan bersalaman dengan takzim pada beliau,
" Gimana kabarnya? kok simbok ga di ajak?" tanya bunda.
" Itu Bun mbok lagi kerja," jawabku singkat.
" Mitha selain kuliah juga kerja ya kata mas Kautsar?" tanya bunda
" Iya Bun, jadi saya kuliahnya habis pulang kerja, jawabku gugup entah mengapa aku begitu gugup dengan beliau.
" Gini Mitha, mas kautsar cerita banyak tentang Mitha kepada bunda, jadi sedikit tahu Mitha jadinya, bagi bunda kalau kalian sudah tahu masing-masing ya bunda hanya bisa merestui saja sebagai orang tua." Kata bunda panjang lebar.
Ya Tuhan demi apa coba, bunda berkata demikian, tak ku sangka rasaku kepada mas Kautsar tidak bertepuk sebelah tangan, aku sudah lama memendam rasa terhadapnya semenjak dia menolongku dari perkosaan itu aku kian mengaguminya, hingga rasa kagum itu berubah menjadi perasaan yang sulit aku artikan.
Memang beberapa minggu yang lalu mas Kautsar ngajakin serius terhadap hubungan kami, setelah mendengar dariku tentang keinginanku untuk mengikuti keyakinan simbok dan dia, walaupun hubungan kami terbilang masih seumur jagung dan cara pemahaman kami hanya sebatas via pesan saja.
" Terimakasih bunda," hanya itu yang dapat aku ucapkan.
" Ya sudah kita makan dulu hayuk tadi bunda sengaja masak banyak lho karena Mitha mau kesini," kata bunda sambil berdiri dan menari tangan aku menuju ke dalam rumah.
***
Setelah melalui serangkaian kesepakatan, akhirnya kamipun menyusun serangkaian persiapan pernikahan kami, aku bilang sama mas kautsar pernikahan kami di selenggarakan secara sederhana saja, tetapi yang membuat aku bingung mengenai statusku sebagai anak seorang pengusaha itu yang belum pernah aku utarakan ke mas Kautsar,
Aku jadi bingung bagaimana menceritakannya aku takutnya nanti dia membatalkan pernikahan kami setelah tahu statusku sebenarnya, dan aku tidak mau hal itu terjadi. sementara aku sudah mencaritakan kepada mami tentang pernikahan kami, dan keyakinan ku mengikuti suami, Jujur mami sangat bahagia mendengarnya, secara aku anak tunggal tetapi yang membuat mami sedih adalah permainan sandiwara ku yang berpura-pura jadi anak orang miskin itu yang membuat mami tak terima, secara aku adalah anak satu-satunya jadi wajar dong bila mami mengeluh hal demikian.
Tapi akhirnya mami menyetujuinya sebab, mami ga bisa berbuat apa-apa bila aku sudah punya kemauan, rasa bahagia mami tak terkira apa lagi sekarang aku mengikuti suamiku sebagai seorang mualaf.