Episode 5. pura-pura miskin

1081 Kata
Akhirnya aku ceritakan semua rencana aku selanjutnya sama mbok inah, aku ingin pura-pura jadi anaknya di hadapan mas Kausar. " Mbok nanti mas Kautsar mau ke sini habis pulang dari kantor, mbok cepet pulangnya ya mbok,?" kataku sama mbok inah " Ia non akan mbok usahakan" kata mbok inah sambil bersiap-siap berangkat menuju rumahku. " Duhh... mbok jangan sampai keceplosan lho panggil aku Non lho ya mbok," kataku sambil menepuk jidatku " ia Non e...h ndok , mbok panggil ndok aja ya?" katanya sambil nyengir. " Ya udah terserah mbok aja yang penting nanti pas mas Kautsar ke sini mbok adalah ibuku gitu," kataku tanpa bantahan. Sore pun tiba mbok sudah pulang jam tiga tadi, dia aku suruh pulang cepet lagian di rumah mami juga ga ngapa-ngapain, ngapain lama-lama di sana, grutuku. Ketika habis Maghrib ada mobil berhenti di depan rumah, mobil CRV berwarna putih sudah terparkir di sana, aku buru-buru memanggil mbok di belakang untuk siap-siap, entah apa yang ada di otakku begitu antusiasnya aku menyambut kedatangan mas Kautsar yang memang baru aku kenal, mungkin karena kebaikannya yang membuat aku jadi terpesona sama dia, duhh aku jadi bingung sendiri jadinya, secara diakan seorang muslim sementara aku penganut kepercayaan lain, apa mungkin kami bisa bersatu, gumamku. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku, tok tok tok... Assalamu'alaikum. Waalaikum salam warohmatulohi simbok menjawab salam dan membuka pintu rumah, di sana terlihat mas Kautsar dan seorang gadis cantik yang berhijab terlihat sangat cantik sekali berdiri di teras rumah kami. " Nak Kautsar ya,?" tanya simbok " Iya Bu saya Kautsar, saya mau ketemu sama dik Mitha bisa, kata mas Kautsar ramah. " Bisa nak, bisa mari silahkan masuk dulu," kata simbok mempersilahkan mas Kautsar masuk. " Duduk dulu ya nak, saya panggilkan genduk dulu," genduk ( sebutan untuk anak perempuan ) " Iya ibu " jawab mas Kautsar lembut. Simbok pun melangkah ke dalam menemuiku yang masih ngintip di balik korden kamar ku. " Nduk temui yuk nak Kausar, sudah nunggu tuh tapi sama seorang gadis nduk, ga tahu siapa tapi cantik orangnya," kata simbok heboh banget deh grutuku. Entah mengapa ada rasa nyeri di ulu hatiku ini, ketika simbok bilang mas Kautsar bersama seorang gadis. " Iya mbok " jawabku sambil melangkah mengikuti simbok dari belakang. Aku mengangguk ketika berdiri di hadapan mereka, " Halo mas apa kabar?" sapaku sambil mengangkat kedua tanganku di depan d**a. " Alhamdulillah baik dik Mitha, oh ia maaf kmr saya tidak bisa langsung ke sini sebab ternyata saya di suruh mengantar ibu saya ke pengajian jadi ga sempet mampir rumah sini," kata mas Kautsar menjelaskan. " Tidak apa-apa mas, malah saya jadi merepotkan mas sama mbak juga, kataku sambil menunduk menahan malu, karena wajahku masih kelihatan lebam bekas tamparan Devan dua hari yang lalu. " Ga apa-apa dik, oh ia kenalkan ini adik saya namanya Zahra, dia masih sekolah kelas 12 Sekarang," " Oh ia kenalkan saya Paramitha tapi bisa di panggil Mitha, jawabku ada desiran perasaan lega entah apa itu aku ga tahu. " Saya Zahra " jawabnya sambil tersenyum. " Ini dik saya sudah menerima hasilnya dari pihak rumah sakit, dan bila dik Mitha mau meneruskan ke jalur hukum atas tindakan temen adik kemaren itu, maka saya bersedia untuk mengantarkan sebagai saksi," kata mas Kautsar. " Iya mas terimakasih banyak ya, tapi saya sama simbok kayanya tidak mau memperpanjang masalah ini, tapi nanti bila dia berbuat macam-macam lagi mungkin saya akan berubah pikiran untuk menempuh jalur hukum," kataku menjelaskan. " Oh begitu, baiklah kamu itu memang sudah menjadi keputusan adik sama mbok, tapi bila ada apa-apa maka saya akan siap membantu adik sama simbok kok," Tak lama kemudian simbok keluar membawa nampan yang berisikan teh dan cemilan untuk mereka. " Silahkan nak Kautsar, neng di minum dulu tehnya, maaf seadanya ini," kata simbok mempersilakan, mas Kautsar dan adiknya untuk mencicipi hidangan kami. " iya mbok terimakasih banyak malah repot-repot ini, kata mas Kautsar " cuma ala kadarnya nak, dan sekali lagi mbok ucapakan beribu-ribu terimakasih ya nak sudah menolong dan membantu genduk, kalau tidak ada nak Kautsar entah apa yang akan terjadi." tutur simbok sambil berkaca-kaca, tentu saja simbok adalah wanita yang paling dekat sama aku setelah mami. " Iya mbok sama-sama sebagai manusia kita harus saling membantu," " Oh ia maaf mbok dik Mitha berhubung ini sudah malam maka kami mohon ijin untuk pamit dulu, mungkin lain waktu kita bisa bersilaturahmi lagi ke sini, katanya sambil tersenyum manis pada kami. " Iya mas, makasih ya nanti bila ada apa-apa saya minta maaf kalau ngrepoin mas, dan salam buat ibu ya mas," kataku malu-malu walaupun aku tak kenal ibunya mas Kautsar, aku bayangin dia adalah orang baik sehingga bisa melahirkan seorang anak seperti mas Kautsar ini, batinku. " baik kalau begitu mbok dan dik Mitha, saya mohon diri dulu, Assalamu'alaikum." " Waalaikum salam" jawab kami bebarengan. Walaupun kami beda keimanan tetapi mamiku dan simbok adalah seorang muslim, jadi aku sudah biasa bila mendengar kan interaksi antara simbok dan mamiku ketika di rumah. *** Sebulan sudah berlalu komunikasi antara aku sama mas Kautsar terus berjalan walaupun lewat ponsel saja, hampir tiap hari kami saling chart sama dia, Selama aku membantu mami di perusahaan yang mami pimpin aku juga masih kuliah lagi, aku mengambil arsitek di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta, meneruskan cita-citaku yang sempat terhambat akibat, menuruti kemauan mami yang menginginkan aku kuliah bisnis di luar negeri tepatnya di London, selama tiga tahun aku di sana dan akhirnya kembali ke sini dan meneruskan bisnis mami menjadi asisten mami sambil kuliah di jurusan arsitektur. Minggu ini aku tidak berangkat sembahyang, aku bermalas-malasan di kamarku rasa trauma masih menghantuiku, aku tidak mau ketemu sama Devan lagi, walaupun aku bisa melaporkan dia tetapi aku memilih untuk menghindari dia saja. Hari senin, I hate Monday, sibuk di kantor dan kampus tetapi aku bilang sama sekertaris mami bila aku tak berangkat lagian tidak ada meeting hari ini, kuhabiskan waktuku mengerjakan tugas kampus yang sempat terbengkalai karena sibuk di kantor. Seharian aku benar-benar bertekat menyelesaikan tugas ku, tetapi apa mau di kata hanya sebagian yang bisa aku kerjakan, aku sudah lelah akupun beranjak untuk pulang, tiba-tiba di parkiran aku melihat Devan yang berdiri di deket mobil aku, sepertinya dia menunggu seseorang, aku jadi bingung harus terus ke sana atau balik saja, kalau aku nekat ke sana pasti dia akan berbuat yang macam-macam nanti gimana, tapi tiba-tiba terbesit sebuah ide untuk menghubungi seseorang untuk menjemput aku, tapi aku ragu juga dia bisa apa tidak, tapi alangkah lebih baik aku mencobanya dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN