Aku dan mas Kautsar saling mengenal bukan tanpa kisah, di balik perkenalan kami memang tanpa sengaja, waktu itu dia menolongku dalam bencana yang membuat aku sempat terguncang, dan berpaling arah hidupku
Flashback on
" Kita akan kemana Dev? bukankah ini bukan ke arah jalanku pulang Dev?"
" Tenang Mit yang penting kamu sampai rumah dengan selamat."
katanya penuh penekanan.
" Terapi Dev ini sudah mau hampir malam tempat yang kita lalui ini sepi Dev," dengan tiba-tiba Devan menghentikan mobilnya di pinggir pesawahan yang sepi karena waktu mau menjelang mahrib.
"Ayo Mit, sini mendekat duduk lah di atas pangkuanku,"
" Apa!! tidak Dev aku tidak mau, jawabku ketakutan
" Ayolah Mitha jangan sok suci kamu itu, aku menginginkan kamu Mith," dengan cepat dia meraih bajuku dengan kasar sehingga kancing bajuku berserakan entah ke mana.
" Lepaskan aku Dev, kamu sudah gila ya, jangan coba-coba kamu menyentuhku Dev,kalau tidak aku akan berteriak," ambil ku hempaskan tangan dia yang sedari tadi berusaha meraih tubuhku untuk di bawa ke pangkuannya, aku terus saja meronta dengan memukul-mukul dia dengan tak kalah brutalnya,
" Siapa yang akan mendengarkannya Mitha, lihat lah kita ada di mana ga akan ada yang lihat kita,"seringai Devan dan jawabnya masih dengan posisi berusaha melumpuhkan aku dengan menamparku berkali-kali, hingga pada kesempatan yang terlena ku dengan sekuat tenaga meraih tasku yang sudah jatuh kebawah jog mobil untuk mengambil semprot mrica, setelah kudapatkan aku tak menunggu lama ku semprotkan langsung ke arah matanya hingga membuat dia menjerit, dan memaki-maki aku, hingga kesempatan itu aku gunakan untuk membuka pintu mobil dan berlari kencang menelusuri jalan itu.
Hingga tak berapa lama aku lihat ada cahaya sorot lampu mobil yang mendekat, akhirnya aku berteriak-teriak melambaikan tangan untuk meminta tolong, cahaya itu semakin mendekat sebuah mobil berwarna putih, lalu keluarlah seorang pria berbadan atletis memakai sarung, berbaju putih, dan memakai peci hitam, mendekati aku dan menuntunku ke dalam mobilnya.
" Buruan mas tolong saya ayo cepat mas sebelum mobil itu mengejar saya, tolong mas, kita segera pergi dari sini kataku terbata-bata dan badan gemetaran,"
" Tenang mba mobil di depan itu sudah Balik arah kok mba, jadi jangan takut ya, ada apa dengan mbak bisa Sampai seperti ini?" tanya pria itu sambil mengambil jaket yang ada di kursi belakang dan memakaikannya kepadaku.
" Terimakasih mas, saya akan cerita sambil jalan ya mas,?" kataku sambil gemetaran tangan ini, lalu di sodorkannya sebotol air mineral kepadaku,
" minumlah dulu mba, biar tenang" katanya sambil menyodorkan botol itu
" Iya mas terimakasih" jawabku
" Iya mbak silahkan di minum dulu, katanya setelah aku minum dia menstater mobilnya meninggalkan tempat itu.
Akupun menceritakan semua yang terjadi pada diriku, dan ketika dia menawari untuk laporan polisi aku tak mau aku hanya minta tolong di antar ke rumah sakit saja untuk di visum biar nanti bisa buat jaga-jaga bila sewaktu-waktu Devan berbuat asusila lagi terhadapku, dan itu bisa di buat sebagai ancaman buat dia.
Sampai di rumah sakit aku menyerahkan ktp guna di pakai untuk pendaftaran sedangkan aku menunggunya di ruang pasien, aku menunggu hampir dua jam baru selesai, dan hasilnya baru bisa diambil hari berikutnya, dan kuputusan untuk pulang ke rumah simbok akhirnya, karena aku ga mau nanti ketemu mami dan di cecar dengan pertanyaan yang pasti menyudutkan aku, secara mami ga suka sama Devan dari awal, pastinya mami akan membawa masalah ini kejalur hukum itu jelas.
" Saya minta tolong di antar pulang ya mas, sekali lagi aku minta maaf ya mas sudah ngrepotin mas," kataku sambil memelas dan merasakan badanku masih terasa lemas.
" tidak apa-apa kok mbak, sudah kewajiban saya sebagai manusia untuk saling membantu, oh ia nama saya Kautsar mba," katanya sambil senyum
" saya Paramitha biasa di sapa Mitha " kataku sambil menunduk.
" Oh iya mba Mitha biar besuk hasil tesnya saya yang ambil saja, sepertinya mba masih butuh istirahat." katanya sambil mengemudikan mobil sesekali melihat ke arahku.
" ia mas terimakasih sekali, btw panggil saja saya Mitah mas, ga usah pakai mba segala," kataku sambil menunduk malu.
" Iya mba, eh... maaf Mit,
Tak berapa lama akhirnya kami sampai juga di depan rumah, di mana di sana hari sudah malam, Alhamdulillah mbok sudah pulang, aku lega,
" Mas ga mampir dulu?"
" Sudah larut malam Dik Mitah, saya langsung saja ya?, tapi apa perlu saya menjelaskan peristiwa tadi pada orang tuamu?" katanya sambil sesekali menatapku.
" Ga usah mas, nanti saya aja yang jelaskan pada simbok, soalnya kami hanya tinggal berdua saja kok mas," kataku sambil ku sunggingkan senyuman walaupun rahang ini rasanya masih sakit dan ngilu.
" Ya sudah kalau gitu saya pamit dulu ya, besuk biar saya yang ambil hasilnya, dik Mitha ga usah kemana-mana dulu harus banyak istirahat dan jangan lupa obat sama vitamin di minum,"
" Iya mas terimakasih banyak ya atas bantuannya kalau tidak ada mas saya jadi apa, kataku sambil ku seka bulir bening yang menetes di pipiku.
" Iya sama-sama Dik, sudah sana masuk dulu, baru saya akan pergi," perintah mas kautsar sambil membukakan pintu gerbang rumah simbok.
Setelah aku masuk mas Kautsar pamit dan masuk ke dalam mobil, dan kulihat sudah menghilang dari pandangan mata ini, aku pun yang ada di depan pintu seketika kaget ternyata simbok sudah membuka pintu dan berdiri di depanku, seketika melihat mukaku simbok langsung memasang wajah penuh dengan pertanyaan,
" Non kenapa?" sambil menarikku masuk kedalam rumah.
" Mbok jangan bilang mami ya,? mami ga ada kan mbok? mami belum pulangkan? sebelum ku ceritakan semua aku mau mbok jangan cerita apa-apa sama mami ya " crocosku tanpa henti, dengan memohon pada wanita paruh baya yang mengasuh aku dari aku di lahirkan Sampai sebesar ini untuk tidak bilang sama mami,
sementara simbok hanya menganggukkan kepala dan mengelus-elus pipiku yang lebam akibat pukulan dari Devan tadi,
" Aduh mbok sakit tahu, rengekku,"
" Oh maaf non, mbok pemanggilkan dokter saja gimana non,? "
" Ga usah mbok tadi Mitha sudah di tolong orang dan di ajak ke rumah sakit sekalian visum," aduku pada simbok.
Akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi pada ku hari ini hingga tentang seorang pria yang bernama Kautsar menolong aku dan mengantar aku sampai ke rumah, dan ide gilaku yang mengaku-ngaku jadi anaknya simbok pada mas Kautsar, jujur di benakku ada sesuatu yang sulit aku utarakan, tapi aku belum yakin sebab baru pertama kali aku jumpa dia dan dia adalah orang yang menurutku sangat tulus sosok yang baru aku kenal belum genap satu hari yaitu mas Kautsar.