Sesampainya di rumah aku masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam atau menegur mama yang sedang berada di teras rumah. Aku sempat dengar mama memanggilku namun karena kondisi aku yang kesal jadi aku tidak menghiraukannya. Sesampainya di kamar aku langsung menjatuhkan tubuh ini dan aku menangis dengan puas walau masih ditutupi bantal tapi setidaknya aku merasa puas. Setelah merasa puas aku pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan, setelah selesai aku langsung tidur karena mataku yang perih. Sorenya aku terbangun tapi aku tidak langsung keluar, aku keluar saat jam makan malam. Saat hendak membuka pintu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Tok… tok… tok… . "
Aku langsung membukanya dan itu mama.
"Ra, kamu habis nangis?" Tanya mama saat melihat keadaan wajahku.
Aku tak menjawab hanya diam saja. Mama cuman bisa menghela nafa lalu berkata lagi
"Kamu makan dulu ya sayang! "
"Iya mah" jawabku.
Akun pun turun bersama mama dan di sana sudah ada papa dan adikku. Aku langsung duduk dan mengambil makanan tanpa melihat orang di sekitarku. Tapi aku tahu kalau mereka memperhatikan aku. Aku makan dengan diam,setelah makan aku minta mama untuk ke kamarku.
"Ma,ada yang mau ceritakan sama mama, nanti mama ke kamar ya! " Ucapku pada mama. Mama hanya mengangguk dan aku langsung kembali ke kamar. Tak lama mama masuk ke kamarku dan duduk di sampingku yang sedang duduk di sandaran kasur.
"Ada apa?" Tanya mama sambil menatapku.
Ku tarik nafas sebelum menceritakan.
"Aku dimarahi orang ma"ucapku dengan pelan.
" Kok bisa?"kaget mama.
"Mama ingat sama laki-laki yang nganterin aku dulu yang bernama Reyhan?" Tanyaku pada mama.
Mama pun mengangguk.
"Semalam saat aku temani Ayu ke rumah sakit, aku tak sengaja bertemu dengannya dan dia sedang bersama seorang cewek dan itu tunangannya" Ucapku.
Mama hanya diam sambil menatapku meminta melanjutkan ceritaku.
"Tapi dia malah mengajakku berbicara dan mengantarkan aku pulang,tadi saat di kafe tunangannya menemui aku dan memaki aku kalau aku sudah menggoda tunangannya" Lanjut ku.
"Wajar kalo dia marah, kan dia berstatus sebagai calon tunangan nya" ucap mamah sambil memegang telapak tanganku.
"Iya mah sih aku juga ngerti, tapi kan ini semua Reyhan yang mulai" ucap ku membela.
"Tapi seharusnya kamu jangan biarkan dia mendekati kamu lagi" Mama menjelaskan.
"Reyhan cowok yang selama ini Nara suka ma" Ucapku dengan lirih.
"Tapi dia sekarang sudah memiliki wanita lain sayang, jadi kamu harus bisa lupain dia" Ucap mama.
"Aku sudah mencoba tapi malam itu Reyhan bilang padaku kalau dia juga suka sama aku, dia kan membatalkan perjodohan itu karena dia tidak menyukai wanita itu" Ucapku dan tak terasa air mataku sudah keluar.
"Kamu temui Reyhan dan bicarakan semua ini, mama Minta kamu lupain dia dan keluar dari tempat kamu kerja, mama tidak mau kamu punya masalah dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan dan uang" Ucap mama tegas.
Aku menatap mama dengan wajah sedih.
" Mamah nggak mau kamu sedih. "ucap mamah sambil mengusap pipiku.
"Iya mah aku akan coba untuk ajak Reyhan bicara" Ucapku.
Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan Reyhan siap nggak siap aku harus siap dengan keputusan nya.
Besok nya aku berangkat kerja seperti biasa dan saat makan siang aku mencoba mendatangi ruang bang Irfan untuk menanyakan perihal Reyhan.
Ku ketuk pintu ruangan nya.
" Masuk"ucap bang Irfan
"Siang bang" sapa ku
"Eh Nara ada apa? " tanya nya
"Em... anu bang Gue mau tau kapan pak Reyhan datang ke sini ya?" tanya ku
"Ngapain lo tanya Reyhan?" tanya bang Irfan
"Ada sesuatu yang mau gue bicarakan sama dia bang" jawabku
"Gue nggak tau kapan dia mau kesini, kalo lo mau gue ada nomornya, lo hubungi dia sendiri" ucap bang Irfan.
Akhirnya aku di kasih nomor Reyhan oleh bang Irfan dan nanti saat di rumah aku mau nyoba menghubunginya. Aku pun kembali bekerja setelah balik dari ruangan bang Irfan.
Sorenya aku pulang dan setelah mandi dan makan aku masuk kamar lagi dan
Sekarang aku sedang memandangi ponsel untuk mencaba menghubunginya. Ada rasa takut untuk menghubunginya, tapi aku butuh kepastian juga. Tiba-tiba ponselku berbunyi aku pun kaget sampai ponsel di tangan ku terjatuh. Aku langsung melihat di layar siapa yang menelepon dan ternyata itu Reyhan.
"Dari mana dia dapat nomorku" Gumam Ku sebelum mengangkat nya. Akhirnya di geser gambar yang berwarna hijau.
"Malam Pak" Ucapku.
… … … …
"Em… ada sesuatu yang mau aku bicarakan pak" Ucapku.
… … … … ..
"Baik Pak" Jawabku.
Langsung ku matikan telponnya, baru dengar suaranya saja sudah bikin jantung dag dig dug gak karuan.
Paginya aku bekerja seperti biasa dan tak terasa sudah jam makan siang dan aku meminta izin pada bang Irfan untuk keluar sebentar. Aku pun bersiap untuk bertemu Reyhan sekarang. Aku menjalankan motor dengan agak cepat supaya cepat sampai. Sesampai nya di sana aku merasa jantungku mau copot, aku mencoba menetralkan detak jantung ku agar tidak terlihat grogi juga.
Setelah cukup aku pun melangkah masuk dan aku mencari keberadaan nya. Setelah ketemu aku pun menghampirinya.
"Maaf Pak menunggu lama" ucap ku.
Reyhan pun menoleh dan menyuruhku duduk
"Tidak apa ko Nara, aku juga baru sampai ko" ucap nya.
"Iya Pak" ucapku
"Tadi aku pesankan ini kalau kamu sudah tidak suka bisa kamu ganti" ucap nya menu bukan minuman yang ada di meja.
"Tidak usah Pak, makasih" jawabku
"Apa yang mau kamu bicarakan kepada saya?" tanya nya the point'.
Sebelum bicara aku pun menarik napas dan ku hembuskan.
" Maaf mungkin sekarang aku akan bicara sebagai Nara yang kamu kenal buka Nara karyawan mu"ucapku dengan tenang.
Ku lihat Reyhan kaget.
"Saya cuman ingin kamu bersikap tegas pada tunangan kamu, karena aku tidak Terima diperlakukan seperti kemarin." Ucapku.
"Nara, aku minta maaf dengan perlakuan Donita" ucap nya.
"Aku bisa mengerti dia Pak, kalau saya di posisinya mungkin saya juga sama,melihat calon tunangan saya jalan dengan wanita lain" ucap ku.
"Aku akan mencoba bicara sama papa untuk masalah pertunangan aku dengan Donita" Ucapnya.
"itu masalah kamu, aku tidak mau di sangkut pautkan dengan masalah itu"ucapku dengan tegas.
"Aku minta waktu Ra, asal kamu tahu aku kembali ke sini karena kamu" ucap nya.
Aku hanya menatapnya.
"Saat Irfan memberikan foto semua karyawan kafe pada ku, aku sungguh kaget saat melihatmu ada di antara mereka, aku pun segera balik kesini dan aku akan menemui mu untuk meminta maaf kesalahan ku dulu" ucap nya dengan memegang tanganku, namun aku langsung menepisnya.
"Buat apa kamu meminta maaf, karena aku sadar aku tidak pantas untuk mu" ucap ku.
"Kamu salah Nara, sebenarnya aku juga sama suka sama kamu, namun saat itu aku harus pergi" ucap nya menjelaskan.
Aku terdiam karena mendengar ucapannya kalau selama ini dia memiliki perasaan yang sama terhadapku.
"Aku cuman minta kamu untuk bersabar lagi dan menungguku, aku akan dengan cepat membereskan masalah pertunangan ini" Katanya dengan sungguh-sungguh.
"Tapi Pak" ucapku terpotong karena Reyhan menyela ku.
"Semua keluarga ku sudah tau kalo cuman kamu yang aku cintai, hanya papa yang tidak Terima" Ucapnya lagi.
Sekarang aku tau kenapa semua keluarga nya bersikap seolah-olah mengenalku dan ternyata memang sudah tau aku.