Nadia pergi dengan perasaan hancur, air matanya mulai membasahi pipinya. Ia masih sakit hati, menerima takdir yang tak merestuinya untuk bisa hidup bersama dengan Dika. "Dia, cukup. Dika cuma masa lalu. Kamu sendiri yang dorong Dika buat nikahin Maya. Kamu sendiri yang minta, jangan menangis atas keputusanmu sendiri." ucap Nadia lantang, tentu saja untuk dirinya sendiri. Nadia memilih menepikan mobilnya ketika ia sudah berada di tempat yang cukup jauh dari sekolah Bobi. Ia memilih berhenti sebentar, memberi waktu agar dirinya bisa menenangkan dirinya sendiri. Bayangan ketika melihat Dika yang sudah bahagia dengan Maya dan anak mereka, membuat Nadia semakin menangis semakin dalam. Bukan karena Nadia iri, ia hanya masih bermimpi kalau dirinya lah yang seharusnya di samping Dika. Suara

