Angin malam itu tidak membawa kesejukan, ia membawa firasat seolah-olah oksigen telah dihisap keluar oleh ketegangan yang membeku di antara dua manusia. Kata-kata Alisa yang terakhir, sebuah belati yang dibungkus dalam nada bicara yang tenang namun meremehkan, masih menggantung di udara, bergetar di tengah keheningan malam yang ganjil. “Kau hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik setelan jas mahal dan nama besar Don Corvus, Damian. Di balik itu semua, kau kosong,” bisik Alisa, suaranya halus namun tajam, membelah kesunyian. Damian sudah berbalik. Punggungnya yang lebar, terbungkus jas hitam custom-made yang sempurna, tampak seperti siluet gunung batu yang tak tergoyahkan. Dia sudah siap untuk melangkah pergi, kembali ke dalam ballroom yang berkilauan dengan lampu kristal dan ta

