Pagi itu suasana lobi tampak redup. Tidak ada pancaran sinar matahari pagi yang biasanya menembus tembok kaca di setiap sisi lobi. Langit gelap yang menggantung segera memuntahkan air hujan. Sepertinya, suasana pagi itu memang mendukung wajah sendu Naya.
Hari ini Naya tak sesemangat hari biasanya. Insiden bapak – bapak yang dikira terjebak di lift benar – benar membuatnya merasa bersalah. Apalagi setelah itu, Rey memanggilnya. seolah –olah bos besar itu menyalahkan kelalaiannya. Padahal lelaki menjengkelkan itu hanya ingin dia merapikan kamar.
Jika Rey tidak memanggil Naya karena insiden jongkok dan tamu terjebak di lift, maka staf hotel lainnya tidak akan menganggap hal itu berlebihan. Rey, sang pewaris tunggal Sadewa Group sudah memanggilnya dua kali. Yang artinya, seluruh staf hotel menganggap Naya telah melakukan kesalahan besar.
Padahal, staf front office lainnya juga sering jongkok, untuk sekedar meregangkan kaki karena mereka harus berdiri di konter reception selama tujuh jam. Pun juga dengan insiden bapak – bapak yang tidak bisa menggunakan lift. Para staf front office tidak serta merta standby di depan pintu lift. Karena jumlah staf front office terbatas. Hampir setiap menit tamu berdatangan di konter reception, untuk sekedar menanyakan tempat oleh – oleh, fasilitas hotel dan juga meminta kamar dibersihkan.
Namun, panggilan Rey kepada Naya membuat semuanya berubah. Staf hotel lebih berhati – hati lagi saat bekerja, agar tidak ketiban sial seperti Naya.
“Mbak Naya, ke ruangan saya dulu..”
Deg!
Hati Naya mencelos seketika mendengar panggilan Pak Umay. Wajah sendunya memerah. Dilihatnya Rendi yang mengangguk pelan. Meyakinkan dirinya bahwa tidak akan terjadi apa –apa.
Lalu setelah mendapatkan dukungan moral dari Rendi, Naya bergegas memasuki ruangan Pak Umay.
“Setelah cuti tiga hari kok kayaknya Mbak Naya jadi nggak fokus kerja. Emangnya lagi ada masalah di rumah, ya?” tanya Pak Umay lembut. Matanya menatap fokus wajah Naya.
“Emm.. anu, Pak.. s- saya habis bertengkar hebat sama suami saya” jawab Naya berbohong. Kedua netranya tidak berani menatap balik sang manajer. Karena dia bukan lah pembohong handal.
“Oalahh.. pantesan akhir – akhir ini kamu melakukan kesalahan..”
Naya semakin meringkuk. Apalagi mengetahui dirinya sedang disalahkan. Andai saja Pak Umay tahu kalau Rey memanggilnya hanya untuk memotong kukunya dan juga merapikan kamar, pasti ia tidak akan disudutkan seperti ini.
Andai saja semua orang tahu bahwa mereka telah bersuami – istri, maka sudut pandang akan panggilan sang bos besar itu bakal berubah. Staf hotel pasti akan memaklumi mengapa Rey memanggilnya ke kamarnya hingga dua kali.
Ternyata, status hubungan yang sempat Naya remehkan malah menimbulkan masalah yang tidak ia duga sebelumnya. Sempat terbesit niat untuk membocorkan kepada seluruh karyawan hotel bahwa dia lah istrinya Rey. Tapi tentu saja, pengakuan itu malah akan menghambat cita – citanya.
“Saya udah bilang sama HRD untuk nggak mempermasalahkan kesalahan kecil ini. Karena saya menganggap kamu lagi ketiban sial aja. Pas kejadian itu malah Pak Rey tiba – tiba datang. Aneh.. tapi itu lah yang namanya keberuntungan sedang tidak berpihak sama dirimu.” jelas Pak Umay.
Kali ini Naya mulai berani mendongak. Bukan karena sang manager baru yang memahami situasi sulit yang sedang ia alami, tapi juga suaranya yang renyah ingin menunjukkan kedewasaannya dalam mengambil sikap.
“M- makasih, Pak.. tapi saya tetep merasa bersalah..” ucap Naya berusaha merendah. Bagaimana pun juga jabatannya mengharuskannya untuk merendahkan diri.
“Nggak apa – apa, Mbak Naya. Saya ngerti kok karena saya pernah berada di posisi, Mbak. Yang penting sekarang lupain aja masalah yang kemarin – kemarin. Supaya kamu bisa fokus kerja. Oke?” ucap Pak Umay. Kali ini suaranya tambah hangat dan mendewasa. Membuat hati Naya melega.
Segera Naya berpamitan dengan sang manager baru, lalu beranjak dan kembali bekerja.
“Tuh, kan.. nggak ada apa – apa kan, Mbak?” kata Rendi bangga.
Naya mengangguk mantap kepada Rendi. Binar wajahnya memancarkan kelegaan dan juga kekaguman pada Pak Umay, manager yang sempat ia remehkan.
“Mbak.. tadi aku upselling green ball cake ke tamu Aceh, kamu tahu berapa porsi yang mereka pesen?” dengan bangganya Rendi menunjukkan kertas catatan yang berisi jumlah tamu yang memesan green ball cake.
“Astaga! 85 tamu yang pesen klepon? Serius?!” Naya sampai menutup mulut saking tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Siapa dulu?” ucap Rendi menyombongkan diri. Ditepuknya d**a bidangnya saking bangga. Rasanya seperti superman yang menyelamatkan banyak nyawa.
Hari itu Naya dan Rendi disibukkan dengan menjelaskan apa itu green ball cake kepada tamu dari aceh. Saking keponya dengan makanan itu, mereka sampai memesan tiga porsi untuk sendiri.
“Ohhh.. kenyel – kenyel gitu ya, Mbak?” tanya salah satu bapak – bapak yang sudah lebih dari sejam berada di konter reception.
“Iya, Pak.. ditaburi parutan kelapa di atasnya jadi lebih gurih rasanya..” jelas Naya. Rahangnya sampai kaku karena menjelaskan hal yang sama berulang kali.
“Oalah.. kalo gitu saya pesen satu ya, Mbak. Saya makannya di restoran juga bareng temen – temen, tidak usah diantar ke kamar.” ucap bapak tersebut mengakhiri percakapan panjang lebar mereka.
Bergegas Naya menelepon staf Food and Beverage untuk mengkonfirmasi ada tambahan pesanan klepon.
“Oke, Nay.. udah aku catet.. makasih banget ya udah upselling kleponku.. hihihi..” balas Desti, admin F&B yang suka kegirangan sendiri kalau staf front office berhasil menjual produk departemennya sendiri.
Restoran yang biasanya sepi kali ini ramai oleh bapak – bapak pns yang sedang menunggu pesanan mereka datang. Sebagian para bapak memilih menunggu di luar lobi sambil merokok. Sebagian lagi saling bersaing masalah harga kaos dagadu kw. Siapa yang berhasil menawar dengan harga termurah, dia lah yang paling berbangga hati.
Naya tersenyum melihat geng bapak –bapak yang masih tak mau kalah mendapatkan harga murah. Mereka menganggap harga yang sudah mereka tawar sudah paling murah. Eh, malah kebahagiaan mereka digagalkan oleh teman yang mendapatkan harga setengah dari yang mereka tawar. Benar – benar momen yang lucu.
Di tengah keterpakuannya pada geng bapak – bapak tersebut, Naya dikejutkan oleh Rendi yang berlari kecil memasuki konter reception dengan wajah tak sedap dipandang.
“Kenapa, Ren?”
“Gawat, Mbak.. staf pastry cuma ada satu. Yang lainnya lagi cuti. Si Daren cuma dibantu anak – anak training. Gimana ini kalo mereka gagal bikin klepon?” ucap Rendi khawatir. Berkali – kali ia mengigit jari dan menggosok – gosok tangannya yang berkeringat.
Tidak dapat dipungkiri, ketiadaan pastry yang lebih berpengalaman dari anak training biasanya akan menimbulkan masalah besar.
“Waduhh.. tapi sous chef-nya ada, kan?”
“Cuti juga!”
“Apa?!”
Istilah – istilah dalam perhotelan:
1. Upselling : strategi penjualan untuk mendorong pelanggan agar membeli produk mereka
2. Pastry : koki yang bertugas membuat makanan dingin, segalam macam kue dan makanan penutup lainnya
3. Sous chef : koki yang bertugas memberikan instruksi dari Head Chef (Chef de Cuisine) kepada bawahannya.