Teriakan minta tolong itu langsung membuat semua orang di lobi menoleh ke lift tamu. Pun juga Naya, secepat kilat ia keluar dari konter reception dan berlari sekencang – kencangnya. Tak peduli setinggi apa dia menjinjing rok ketat yang menghalangi langkahnya, yang penting, insiden Mr. Humbert yang terjebak di dalam lift tidak terulang lagi.
“Toloongg!!!” teriakan itu terdengar semakin keras, diiringi dengan suara gedoran yang semakin kencang.
Suara heels Naya yang mematuk lantai amat keras berhenti tepat di pintu lift. Pun juga Yeka dan dua staf banquet. Mereka secepat kilat mengerubungi pintu lift dan langsung menarik daun pintu lift agar terbuka. Sekuat tenaga mereka menarik pintu tersebut. Geraman demi geraman bersahutan. Namun pintu lift tak kunjung terbuka. Membuat suasana kian mencekam.
Elsa secepat kilat memanggil staf engineering melalui handie talkie. Dan beberapa bapak – bapak pns berjalan cepat ke pintu lift untuk membantu mereka berempat.
Suasana semakin menegang saat staf engineering berpakaian serba hitam dengan wajah cemas berlari secepat kilat sambil membawa alat pencokel. Derap suara sepatu boots staf tersebut menimbulkan suara yang mengerikan. Membuat para bapak pns yang duduk bersila memilih menepi. Pun juga Elsa dan Jelita yang saling berpelukan karena ketakutan.
“Hrrrmmm!” geraman staf engineering yang mencongkel pintu lift membuat suasana tambah mencekam. Apalagi pintu lift tidak juga terbuka.
“Hrrmm!” semua tenaga mereka keluarkan sampai keringat berkucuran.
Di tengah usaha mereka yang mati – matian, tiba – tiba terdengar suara pintu lift yang terbuka dengan normal,
Tiingg..!
Spontan saja para staf hotel yang masih memegang daun pintu amat kencang langsung jatuh tersungkur begitu saja. Badan mereka terpental keras di lantai. Pun juga Naya, gadis itu mengaduh kesakitan karena pantatnya yang lancip mengenai batu kali yang menghiasi sudut tembok.
Tak berapa lama, dua bapak pns dari Aceh berjalan keluar dari lift. Raut wajah mereka keheranan melihat staf hotel jatuh terkapar di depan lift. Bahkan, salah satu dari mereka garuk – garuk kepala, tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
“Bapak nggak apa – apa?” tanya Naya setelah susah payah berdiri dibantu Yeka.
“Saya mau ke lantai enam, tapi liftnya tidak begerak – gerak, Mbak. Saya kira saya terjebak di lift. Ehh.. ternyata pintunya bisa buka sendiri.” Naya, dan para staf hotel lainnya terbengong mendengar pengakuan sang bapak. Sampai – sampai staf engineering mendengus kesal karena ia hampir merusak pintu lift yang sebenarnya baik – baik saja.
“Bapak sudah memencet tombol nomor lantai belum?” tanya Naya dengan nafas tersengal. Ditepuk –tepuknya roknya yang berdebu karena menimpa batu kali. Setelah dirasa bersih, Naya menatap sang bapak. Bapak paruh baya itu terlihat berpikir keras mengingat –ingat tombol yang dimaksud.
“Memangnya tombolnya dimana?” tanya sang bapak, ia menyerah dengan ingatannya.
Bergegas Yeka masuk ke dalam lift dan menunjukkan dimana tombol lantai kepada dua bapak pns tersebut.
“Ooo..” balas kedua bapak tersebut bersamaan dan saling bertatap – tatapan.
Naya menghela nafas panjang setelah kedua bapak tersebut mengerti bagaimana cara menggunakan lift. Staf engineering dan staf banquet pun kembali bekerja ke tempat masing – masing. Begitu pun juga Aris, penanggung jawab yang sedari tadi mengigit jari karena ketakutan langsung mulai berteriak memanggil nama – nama tamu yang masih berada di lobi.
Tiba – tiba saja, suasana yang tadinya lega kembali tegang saat Pak Johan dan bos besar memasuki area lobi. Wajah wibawa mereka berdua langsung memicing ke arah Naya dan Yeka. Membuat Naya sedikit gugup. Apalagi alis sang bos besar bertaut seperti sedang memburunya.
“Ikut saya!” kata Rey pada Naya.
Spontan saja Naya langsung gelagapan melihat wajah bengis Rey. Ia sudah membatin pasti lelaki itu akan mempermasalahkan insiden lift barusan.
Dilihatnya para tim front office menatapnya iba. Elsa sempat membisikkan kata semangat pada Naya agar tidak down.
Bagaimana tidak? Supervisor itu benar – benar ketiban sial. Insiden ketahuan jongkok tempo hari masih menjadi pembicaraan hangat di seluruh hotel. Belum juga gosip itu surut, sang bos besar lagi – lagi memergoki Naya tidak menyuruh timnya untuk standby di pintu lift.
Bagaimana pun juga, jika ada tamu yang seperti tidak pernah menginap di hotel, staf front office diwajibkan membantu mereka menjelaskan bagaimana caranya menggunakan lift. Untuk mengantisipasi hal – hal seperti barusan.
Bergegas Naya memasuki lift tamu bersama Rey yang menatapnya acuh.
Tiingg..
Begitu pintu lift tertutup, Naya mengeluarkan kalimat pembelaan panjang lebar.
“Tadi tamunya nggak tau cara gunain lift. Bukan kasus kejebak lift kayak Mr. Humbert dulu..”
“Siapa juga yang mau bahas itu?” balas Rey tanpa menoleh sedikit pun ke arah Naya
“Hah? Terus?”
“Rapiin kamarku..”
“Apa?! Kan bisa minta tolong housekeeping..”
“Ya kan aku maunya kamu..” ucap Rey datar. Pipinya sedikit memerah saat mengatakan itu.
Tiingg..
Pintu lift pun terbuka di lantai 7. Bergegas Naya berlari kecil menuju lift karyawan. Ia memilih kembali bekerja daripada harus merapikan kamar lelaki songong itu.
“Heh.. mau kemana?” teriak Rey. Lelaki itu langsung mengejar Naya yang hampir mendekati pintu karyawan.
Begitu Naya memencet tombol lift ke bawah, tangan Rey bergegas menarik rambut Naya yang dicepol. Membuat Naya mendongak dan meringis kesakitan.
“Eh.. eh.. apa –apaan sih?!” seru Naya, tangannya mengibas – ngibas tangan Rey yang masih saja menggenggam erat cepol rambutnya.
“Ini perintah bos..” Rey memelototi Naya, kedua bibirnya ia katupkan rapat – rapat saking jengkelnya pada Naya yang keras kepala.
“Bas.. bos.. bas.. bos.. mana ada bos yang suka merintah seenaknya?! Minggir ahh!!”
Rey sama sekali tidak bergeming oleh tangan Naya yang berusaha melawan. Lelaki itu tetap saja menggenggam kedua tangan Naya agar tidak pergi.
Di tengah pertengkaran mereka, tiba – tiba saja suara sayup – sayup petugas housekeeping dari dalam lift karyawan terdengar. Tak berapa lama kemudian, pintu lift di sebelah mereka terbuka. Spontan saja Rey langsung melepas genggamannya dari Naya dan berdiri tegak seolah tidak terjadi apa – apa.
“Sudah saya bilang tugas team leader itu mengantisipasi insiden seperti itu.” Suara Rey yang biasanya menjengkelkan seketika berubah penuh wibawa. Telunjuknya menuding – nuding Naya, menyalahkan sang supervisor yang tidak menyuruh bawahannya stand by di pintu lift.
“B- baik, Pak.. saya memang salah..” kata Naya terbata.
Diliriknya petugas housekeeping yang keluar dari lift sembari mendorong troli. Bowo dan Pristin, dua petugas housekeeping muda yang incharge siang itu tampak ketakutan melihat sang bos besar memarahi Naya. Sampai – sampai mereka tidak berani menoleh ke arah Naya.
“Tukang jongkok, nggak gesit.. karyawan di sini diwajibkan cekatan dan anggun. Kalau kamu melakukan kesalahan lagi, saya nggak segan – segan minta HRD untuk kasih surat peringatan!” Rey mengakhiri kalimat seperti orang marah beneran.
Bersamaan dengan itu, Bowo membuka pintu kamar yang akan ia bersihkan. Sekian detik kemudian, dua petugas housekeeping itu langsung masuk ke dalam kamar sambil membawa linen. Raut wajah mereka ketakutan. Selama bekerja, tak pernah sekali pun mereka melihat sang bos besar semarah itu.
Naya yang mengetahui Bowo dan Pristin sudah tidak melihat mereka langsung mendongak dan memelototi Rey.
“Dengar tidak?! Kok nggak dijawab?!” pekik Rey tiba – tiba, sampai air ludahnya muncrat di wajah Naya.
“Iyaaa.. denger Pak!” kata Naya masih melotot. Tangannya terus menerus mengepal ke wajah Rey.
“Ngapain bengong di sini? Sana balik kerja!” pekik Rey tak mau kalah. Ia acungkan jari tengah di depan Naya, agar gadis itu tambah jengkel.
“Iya, Pak Venus Rey Sadewa!” melihat jari tengah Rey, Naya semakin tak mau mengalah. Ia sunggingkan p****t lancipnya di depan Rey, agar lelaki songong itu terintimidasi.
Naya bergegas masuk ke pintu lift karyawan. Sebelum pintu lift tertutup sempurna mereka berdua saling melotot dan saling membisik kata ‘awas’. Pintu lift pun tertutup. Naya menghela nafas kesal. Hari ini ia benar – benar bernasib sial.