“Hrrmmhhh! Hrrmhhhh!!” Rey menggeram lebih keras. Hidungnya benar – benar sudah tidak tahan membaui celana dalamnya yang apek.
Wajahnya mengiba pada Naya. Namun, bukannya segera menghampiri Rey, Naya bergegas melangkah ke daun pintu kamar sambil berjinjit lagi.
Perlahan ia menguping suara di balik pintu. Terdengar suara langkah kaki yang pelan –pelan menjauh. Setelah dirinya yakin suara langkah itu menghilang, Naya berjalan ke atas kasur lalu mencabut sempak dari dalam mulut Rey.
“Dasar wanita macam apa kamu?! Aku hampir muntah gara – gara kamu bekap pake sempak!” teriak Rey kesal.
Naya enggan menjawab ocehan Rey. Ia memilih berbaring dengan posisi terbalik dari lelaki itu.
“Udah melintir p****g, menyentil anuku, membekap mulut pake sempak, besok apalagi?!” gerutu Rey. Suaranya terdengar makin kesal setelah menyadari Naya diam saja.
“Emm.. aku jadi ngerasa bersalah tauk.” balas Naya. Kali ini raut wajahnya lebih serius.
“Ya bagus lah kalo kamu ngerasa bersalah sama aku..”
“Bukaan.. bukan sama kamu.. aku ngerasa bersalah sama orangtua kita. Mereka bener – bener mengharapkan kita punya anak.”
Hening sejenak. Hanya ada suara nafas panjang mereka berdua.
“Yaudah, pokoknya besok kita bikin anak. Titik!”
“Tapi aku ragu.. apa pernikahan kita bakal langgeng seterusnya? Kita kan cuma nikah kontrak. Lagipula, kamu nggak mau jatuh cinta sama cewek.” ucap Naya sembari menghela nafas panjang.
“Untuk apa jatuh cinta kalo hidup kita udah bahagia? Nggak selamanya cinta itu indah. Banyak tuh orang di luar sana yang sakit hati gara – gara cinta, bunuh diri karena cinta. Aku mah ogah kayak gitu. Mending mencintai diri sendiri aja, dijamin nggak terluka.” jelas Rey.
Lagi – lagi suasana hening. Kedua mata Naya berkedip – kedip melihat kelambu di atasnya. Pikirannya melayang, menebak – nebak pola pikiran Rey. Sepertinya lelaki itu tidak mau jatuh cinta karena takut tersakiti.
Lalu pikirannya melayang pada kejadian beberapa bulan lalu, dimana ia memergoki mantan suaminya yang dikenal alim sedang bermesraan dengan gadis berusia 18 tahun di warung remang – remang. Hatinya sakit luar biasa. Tidak menyangka bahwa Andra setega itu mengkhianatinya.
Namun, kejadian itu mengajarkannya pada satu hal, untuk tidak mencintai manusia secara berlebihan. Sudut pandang baru itu malah membuatnya anti kepada kaum lelaki. Bahkan tidak ingin jatuh cinta lagi.
Dirinya pun menyadari, bahwa dia dan Rey punya rasa takut yang sama akan cinta. Rey yang takut tersakiti, dan Naya yang takut dikhianati.
Perlahan ia menghela nafas panjang lagi dan segera memejamkan mata.
“Hehh.. jangan tidur dulu.. lepasin borgolku!” gertak Rey menggeram.
“Diem ahh.. mulutmu bau sempak!”
***
“Baik semuanya.. cukup sampai di sini briefing pagi ini.. selamat bekerja.” Pak Umay, manajer front office baru mengakhiri briefing senin pagi.
Ucapan terima kasih para tim front office sahut menyahut di ruang kerja manajer berusia 30an itu, lalu satu per satu mereka keluar menuju tempat kerja masing – masing.
Pagi itu Naya in-charge bersama Elsa, resepsionis yang sudah bekerja selama setahun, Jelita, mahasiswa yang sedang menjalani training dan Yeka, bellboy gendut gampang lapar. Naya bergegas menyuruh mereka menyiapkan segala item untuk kedatangan tamu.
“Berapa arrival hari ini?” tanya Naya kepada Elsa.
“114 kamar, Mbak, sebagian besar grup pns dari Aceh, sisanya tamu dari OTA. Malesin dah kalo hotel rame gini, nggak bisa tiktokan.” keluh Elsa sambil mendengus kesal. Meskipun gadis itu tukang mengeluh sama seperti Naya, tapi ia tetap menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Gadis cantik itu memang baru bekerja satu tahun. Tapi kemampuan menghandle tamu dan tingkat ketelitiannya patut diacungi jempol.
“Oya, Mbak.. kemarin kamu diapain sama Pak Rey? Katanya Mbak ketahuan jongkok ya sama beliau?” tanya Elsa tiba – tiba. Tangannya terus menggeser mouse di samping layar komputer. Matanya fokus bergulir mengecek kedatangan tamu satu per satu.
“Ya nggak diapa –apain, sih.. cuma ditanyain kenapa jongkok. Gitu aja.” balas Naya berbohong. Sudut matanya melirik Elsa yang masih memasang raut curiga. Maklum, selama ini, tidak ada satu karyawan pun yang pernah disuruh masuk di ruang kerja Rey. Bahkan Pak Johan pun tidak pernah.
“Mbak.. aneh nggak sih apa yang dibilang Pak Umay tadi?”
“Yang mana?”
“Itu lho.. katanya kita wajib upgrade menu restoran ke tamu pas check – in. Oke lah kalo menunya mewah kayak steak wagyu atau sushi premium. Lha menunya cuma green ball cake isi coklat milo.. makin hari makin aneh hotel ini..” jelas Elsa mulai menjulid.
Gadis itu memang suka mengawali perjulitan hal – hal remeh yang terjadi di hotel. Meskipun begitu, ia tipe partner kerja yang bisa diajak kerjasama dengan tim. Dia juga tidak pernah menjelek – jelekkan tim front office ke departemen lain.
“Iya emang aneh.. pake dibahasa-inggrisin segala, GREEN BALL CAKE.. bilang aja klepon” spontan Elsa dan Jelita langsung tertawa lepas mendengar lelucon supervisor mereka.
Kedua gadis itu lebih semangat bekerja jika in-charge bersama Naya. Karena selain humoris, Naya tidak gampang memarahi bawahannya.
Pekerjaan mereka terasa tidak lengkap jika tidak menjulid hal – hal yang kurang bermanfaat. Elsa nyerocos kesana kemari sambil menyiapkan keycard untuk tamu grup, sementara Naya membuat jadwal baru untuk bulan depan.
Karena departemen mereka dipimpin manajer baru, otomatis obrolan mereka diisi dengan menjulid Pak Umay yang agak aneh. Elsa dan Jelita kompak jika Pak Umay tidak akan bertahan lebih dari setahun.
Sementara Naya menebak jika Pak Umay yang berambisi besar akan membuat peraturan yang lebih ketat lagi, seperti mewajibkan tim front office bermake – up tebal, berkumur dengan obat kumur sehabis makan siang agar tamu tidak menghirup aroma tidak sedap dari mulut mereka, dan masih banyak lagi.
“Aneh banget disuruh kumur – kumur. Sekalian aja disuruh gosok gigi segusi – gusinya.” ucap Elsa sambil nyengir.
Obrolan remeh temeh mereka seketika terhenti saat melihat lima bus besar memasuki area parkir hotel.
“Ehh.. siap – siap. Tamu grup udah dateng. Buruan konfirmasi sama housekeeping” perintah Naya kepada Jelita.
“Baik, Mbak” Bergegas anak training itu meraih handie talkie dan segera menyuruh tim housekeeping untuk segera menyelesaikan kamar yang akan ditempati grup tersebut.
Tampak dari luar gerombolan bapak – bapak pns turun dari bus sambil menenteng tas masing – masing. Mereka hampir seumuran ayah Naya. Wajah mereka lugu –lugu, khas orang – orang yang tinggal jauh dari pusat kota.
Sebagian bapak – bapak tersebut mengenakan topi korpri. Sebagian lagi tidak. Namun pakaian mereka semuanya seragam.
Satu per satu mereka memasuki lobi hotel, Yeka membukakan pintu lobi dan menyambut mereka sangat ramah. Begitu pun dengan Naya, Elsa dan Jelita.
“Siang semuanya.. saya Aris, penanggung jawab grup dari Aceh. Kamarnya sudah siap semua?” lelaki bernama Aris itu langsung to the point mengingat rombongan tamu mereka sudah kelelahan dan ingin segera beristirahat.
“Sudah, Pak.” Jawab Elsa amat santun.
Bergegas Aris memanggil nama tamu di lembar kertas daftar tamu yang sudah ia siapkan. Satu per satu bapak – bapak pns maju mengambil kunci yang dipegang Aris dan bergegas menuju lift tamu.
Tamu yang belum dipanggil memilih duduk bersila di lobi hotel. Ada yang berdesak –desakan duduk di sofa. Ada juga menyentuh semua hiasan di sekitar lobi, bahkan ada yang berkali – kali menghirup bunga plastik yang tidak ada aromanya sama sekali.
Tiga tim front office memang sudah biasa menangani tamu yang jarang menginap di hotel. namun, kali ini berbeda. Bapak – bapak dari Aceh itu tingkahnya agak usil. Membuat intuisi Naya langsung mengarah pada kejadian yang harusnya ia antisipasi segera.
Di tengah suara Aris yang menggema memanggil nama para tamu, tiba – tiba saja mereka dikejutkan oleh suara seseorang di dalam lift.
“Toloongg!! Toloongggg!!!”