Mata Rey yang sedari tadi menahan kantuk langsung membelalak melihat borgol yang dipegang Naya. Meskipun borgol itu berwarna pink muda, tapi tetap saja, bentuknya yang melingkar dan runcing di sisi dalam benar – benar mengintimidasinya. Jantungnya berdegup kencang menebak isi pikiran gadis itu. Apakah Naya punya fetis menyakiti pasangan sebelum berhubungan intim? Apakah alasannya cerai dengan suami sebelumnya karena punya kelainan itu? tiba –tiba bulu kuduknya langsung berdiri membayangkan jiwa sadis istri barunya.
“K- kamu penganut b**m?” tanya Rey terbata.
“Enggak lah, gila aja.. aku bawa ini karena aku takut kamu melintir punyaku.” balas Naya. Tangannya menunjuk – nunjuk dua gundukan empuk agar lelaki itu tahu betapa takutnya ia dipelintir.
“Astagaa.. sampe segitunya..” ucap Rey melega. Kali ini raut wajahnya lebih tenang. Meskipun ia masih menyimpan kecurigaan.
“Nanti aku borgol tanganmu di tiang itu.” seru Naya. Sudut matanya melirik tiang yang menyangga tirai kelambu kasurnya Rey.
Rey menelan ludah, matanya masih melotot. Ia coba melawan rasa takutnya karena memang sepertinya tidak mungkin gadis polos itu punya jiwa sadis.
Disekanya peluh di dahi sebelum melangkah maju. Sekian detik kemudian, mereka berdua saling bertukar barang yang harus mereka pakai.
Naya mengambi lingerie merah dari tangan Rey dengan wajah malas. Lingerie itu lebih mirip tali rafia daripada pakaian seksi wanita. Bentuknya yang kurang bahan, transparan dan tipis membuat Naya kegelian. Ia tidak mengerti mengapa ada orang yang menjual pakaian aneh itu. Tapi yang lebih aneh lagi, ada orang yang membelinya. Termasuk lelaki di hadapannya.
Bergegas Naya berjalan ke ruang ganti Rey. Secepat kilat ia melepas piyama pemberian sang ayah, lalu memasang lingerie merah di badan mungilnya.
“Ihh.. Ya ampuunn.. geli banget” seru Naya di depan cermin. Alisnya mencekung melihat dirinya terlalu seksi. Saking seksinya, kedua tangannya menutup belahan d**a yang menonjol. Sesekali tangannya juga menutup sudut tubuhnya yang tidak tertutup sempurna.
“Tenang.. tenang, Naya.. gimana pun juga kalian udah nikah. Hidupmu yang sekarang lebih baik daripada saat kamu menikah dengan Andra.” bisik Naya membesarkan hati.
Perlahan ia mengatur nafasnya yang sedikit tersendat dan keluar dari ruang ganti. Dilihatnya Rey yang sedang membaca buku langsung melongo saat pintu ruang ganti dibuka. Bahkan buku yang dipegangnya hampir jatuh.
Wajah kedua insan itu memerah seketika. Terlebih Naya, ia tak mampu menyembunyikan ketersipuannya dari wajah lelaki yang sedang termangu menatapnya.
“Ternyata gede juga, ya..” kata Rey memecah keheningan.
“Ya emang gede.. kamunya aja yang suka ngeremehin orang lain..”
“Habisnya kamu pake baju longgar pas awal kita ketemu, jadi keliatan kayak tulang berjalan..”
“Apa katamu?!” Naya langsung melotot dan mengepalkan tangan ke arah Rey. Membuat belahan dadanya terpampang jelas. Spontan saja pemandangan tak biasa itu membuat Rey menelan ludah berkali – kali.
“Jadi nggak? Celanaku udah sempit nih!” seru Rey, tangannya menuding sesuatu di bawah sana yang telah mengeras. Meskipun Rey berkali – kali menunjuk ‘adek’-nya yang menonjol, Naya enggan meliriknya sedikit pun.
Tak berapa lama kemudian, Rey berbaring di ranjang dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Cepetan pasang borgolnya!” pinta Rey.
Bergegas Naya mengambil borgol di atas kasur lalu mulai meraih tangan kiri Rey. Mata lelaki itu tidak bergeming sama sekali pada dua gundukan empuk yang menggantung di atasnya. Jantungnya perlahan berdegup kencang. Ingin sekali tangan satunya meremas sedikit gundukan itu, atau sekedar memencetnya sekali saja. Tapi menyadari sifat Naya yang gampang terpancing emosi ia urungkan niat itu.
Tangan Rey sudah diborgol dua- duanya. Saatnya mereka memulai pertempuran pertama semenjak menyandang status suami – istri.
Namun, bukannya langsung melepas celana Rey dan menumbuhkan suasana romantis, Naya malah cekikikan melihat Rey yang sudah tidak sabar ingin segera melakukan adegan panas. Alis Rey bertaut, meskipun begitu, ia berusaha positive thinking pada Naya,
“Kok malah ketawa?” tanya Rey keheranan.
“Mukamu m***m banget.. hahahaha..” balas Naya terpingkal – pingkal.
“Buruan ahh.. lepas celanaku!” perintah Rey, bola matanya melirik ke bawah menunjuk sudut tubuh Rey membumbung memenuhi celana.
Perlahan Naya melepas celana Rey dengan wajah malas. Setelah semuanya terlepas, matanya membelalak melihat adek kecil Rey mencondong ke atas. Ukurannya besar, bahkan lebih besar daripada milik mantan suaminya. Berkali – kali Naya menelan ludah melihat adek kecil yang siap mengebor lubang kegelapan di bawah sana, dan menciptakan sensasi geli dan enak tiada tara. Tapi mengingat adek kecil itu milik lelaki yang mulutnya seperti admin akun lambe, Naya pun jadi malas memasukkan adek itu ke dalam lubang kehangatannya.
“Hehh.. ngapain bengong?” gertak Rey. Nafasnya tersendat karena sudah tidak sabar menahan nafsu.
“Males ahh.. aku nggak nafsu sama barang gede..” kata Naya sambil bersila dan bertopang dagu.
“Banyak cewek diluar sana yang suka barang gede, bego!”
“Apa kamu bilang?!
“Cewek aneh bin beg-!” belum sempat melanjutkan ledekannya, tiba – tiba saja Naya menyentil adek kecil Rey dengan jarinya.
“Aaaauuuuuwwwww....” Rey menjerit kesakitan. Tubuhnya menggelinjang merasakan sensasi panas di kepala si adek. Kedua tangannya yang diborgol bergerak – gerak mencoba melepaskan diri, tapi usahanya sia –sia. Semakin ia bergerak, rasa sakitnya semakin bertambah. Karena gerakannya membuat si adek yang udah loyo menepik pahanya amat keras.
“Kenapa kamu menyentil adekku?!”
“Salah sendiri ngatain aku bego!”
“Tapi kenapa harus disentil?! Tuh liat, adekku loyo! Dasar b-!”
“Hayoo.. bilang bego sekali lagi aku sentil lebih keras!” seru Naya, kedua tangannya yang siap menyentil mengambang di atas si adek kecil Rey.
“Iya.. iya.. ampuuunnn!!Aaarrgghhh.. kenapa aku nikah sama cewek sadis kayak kamu?” seru Rey kesal. Giginya merapat menahan perih. Bahkan perihnya lebih parah daripada saat gadis itu memelintir p****gnya.
“Kenapa sih kamu ngatain aku terus?! Huh!” Ucap Naya kesal. Segera ia menurunkan kedua kakinya ke lantai. Niat beradu di atas ranjang hilang seketika gara – gara cemoohan Rey.
“Ehhh.. mau kemana?” kepala Rey mendongak melihat Naya yang berniat meninggalkannya.
“Tidur di luar..”
“Udah dibilangin ada hantunya nggak percaya..”
“Biarin.. mending tidur sama hantu daripada sama kamu.. week!” Naya meledek sambil menunggingkan p****t ke arah Rey. Lalu pergi begitu saja.
“Hehh.. lepasin borgolnya dulu!”
“Besok pagi, ya.. Byee” Naya langsung menutup pintu kamar Rey keras – keras. membuat Rey langsung menggeram saking jengkelnya.
“Sial banget aku nikah sama tuh cewek! Huh!” kata Rey jengkel. Kedua tangannya bergerak – gerak lagi, berharap gerakannya bisa melepas borgol mainan itu. Tapi sekali lagi, usahanya sia – sia belaka. Meskipun terbuat dari plastik, namun lingkaran borgol itu benar – benar kuat seperti borgol asli.
Sekian detik kemudian, tiba – tiba saja pintu kembali terbuka. Dilihatnya Naya menutup kembali pintu kamar dengan raut wajah terkejut. Badannya menempel di daun pintu, nafasnya ngos –ngosan seperti habis melihat sesuatu.
“Kenapa? Liat hantu? Dibilangin nggak percaya!” tanya Rey tersenyum nyengir.
“B- bukaaan.. ibu kamu ke sini”
“Terus kenapa?”
“Dia mau mastiin kalo kita lagi berhubungan intim.”
“Yaudah ayo lakuin aja..”
“Hihh.. ogahh...!”
Rey mendengus kesal mendengarkan jawaban yang tidak diharapkan. Sementara itu, Naya menempelkan telinganya di daun pintu. Lamat – lamat ia mendengar suara langkah seseorang yang sengaja di tahan. Lalu langkah itu mendadak berhenti tepat di balik pintu.
“Ahh.. pasti ibu mertuaku lagi nguping!” serunya dalam hati.
Perlahan Naya melangkahkan kaki menghampiri Rey sambil berjinjit. Lalu ia menempelkan telunjuk di hidung agar Rey tidak berisik.
“Kamu mau ngapain?” tanya Rey sesaat setelah Naya duduk di sampingnya.
“Aaaahhhh..” Naya mengeluarkan suara engahan seperti seseorang melakukan hubungan intim.
“Kenapa harus pura – pura gitu?! Mending ayo kita lakuin aja..” seru Rey. Spontan Naya menutup mulut lelaki itu dengan telapak tangannya sambil membisikkan kata diam.
“Aaaahhh!” suara engahan Naya meninggi. Membuat Rey semakin kesal dengan tingkahnya. Ingin sekali ia menutup mulut gadis itu. Tapi apa daya, dua tangannya tidak berfungsi.
“Aaahhh.. terus Rey.. lagi.. Aahhhhh!!” Naya berteriak semakin kencang, agar ibu mertuanya yang sedang menguping percaya jika mereka sedang bikin anak.
Sementara itu, Rey terus menggerakkan kepalanya agar tangan Naya yang membekap mulutnya terlepas. Namun, bukannya dilepas, Naya malah makin kencang membekap mulut Rey.
“Aku buka mulutmu tapi kamu harus bilang ahhh, oke?” ancam Naya. Rey tidak punya pilihan lain selain menuruti apa kata Naya. Akhirnya ia mengangguk pelan dan perlahan Naya membuka mulut Rey.
“Mommy.. Naya p-!!” belum sempat melanjutkan teriakannya, Naya kembali membungkam mulut Rey rapat- rapat. Matanya melotot tajam pada lelaki itu. Namun, bukannya semakin diam, Rey menggeram keras – keras agar tangan Naya terlepas dari mulutnya.
Semakin kencang Naya membekap, semakin keras Rey melawan. Akhirnya, Naya mencari sesuatu untuk menahan mulut Rey agar tidak bicara.
Dilihatnya sempak Rey yang tergeletak di kasur. Diambilnya sempak abu – abu itu, lalu disumpelkannya kain berbau apek itu ke mulut Rey.
Rey menggeram sekencang –kencangnya saat Naya berhasil memasukkan celana dalamnya ke dalam mulutnya. Bau anyir menyerbak di bawah hidungnya. Rasa asin dan pahit jadi satu di atas lidah. Membuat perutnya mual.
Dilihatnya Naya beranjak dari ranjang sambil cengengesan. Tak berapa lama kemudian, ia menggoyang – goyangkan kasur dengan dua tangannya agar menimbulkan suara decitan.
Ciittt.. Ciittt..
“Aahhhh.. terus sayangku.. lebih keras.. Ahhhh!!!” teriak Naya. Kedua tangannya semakin keras menggoyang – goyangkan kasur. Tak peduli dengan Rey yang melotot ke arahnya.
“Aku mau keluar, sayang...!”
“Hrrrmmhhh...!!” Rey menggeram sekeras – kerasnya sambil memelototi Naya.
“Bagus.. bagus.. biar mami percaya kita lagi bertempur..hihihi..” bisik Naya terkekeh. Bahkan ia mengacungkan jempol pada lelaki itu agar semakin menggeram.
“Aaaahhh!!! Akhirnya aku keluar..” teriak Naya melega.