‘’Mas, bisakah kamu tidak menyamakan panggilan untukku dan panggilan untuk Amira? Aku tidak suka kalau kamu memanggilku dengan sebutan yang sama seperti kamu memanggil Amira. Memangnya tidak ada lagi kah panggilan lain yang lebih baik daripada kata sayang?’’ Saat ini, aku hanya sedang berusaha mengalihkan perhatian dari Mas Panji dari Amira. Sebab, aku yakin kalau sebenarnya saat ini pikiran Mas Panji itu sedang berada di dapur dan memikirkan bagaimana istri keduanya itu membuatkan makanan untuk istri pertama. Aku yakin, orang lain yang melihat bagaimana rumah tanggaku dan Mas panji saat ini pasti berpikir kalau kami adalah sebuah keluarga yang sangat rukun, apalagi dengan keadaan Mas Panji yang saat ini memiliki dua istri. Jika saja ada orang lain yang melihatnya, mereka pasti berpikir

