"Sudahlah, tidak perlu mengurusi dia. Sebaiknya kita makan saja daripada kita kelaparan," ucap Mas Panji menimpali ucapan Amira, berusaha meredakan amarah yang sedang dirasakan oleh istri keduanya. Sedangkan aku hanya acuh saja meskipun mendengar perkataan mereka, berpura-pura tidak mendengar apapun yang mereka katakan. Tepat setelah mereka selesai menghabiskan makanan mereka, aku kembali turun ke bawah dengan membawa sebuah tas selempang yang tergantung di pundak ku. Tidak lupa juga dengan wajah yang sudah dilapisi dengan make up tipis yang membuatku semakin terlihat cantik. Aku tahu aku terlihat cantik karena aku menyadari tatapan mata yang diberikan oleh Mas Panji terhadapku, dia pasti sangat terpesona denganku hingga membuatnya lupa untuk berkedip. Mengabaikan Amira yang berada di

