Raline menyantap d**a ayam dengan orange juice sebagai makan siangnya hari ini di kantin. Ia sengaja tak menambahkan nasi dan karbohidrat lainnya ke menu. Berat badannya telah bertambah 1 kg, sehingga ia harus melakukan diet hingga beratnya kembali ke normal. Mungkin untuk orang lain itu hal yang biasa. Namun bagi Raline yang sangat mementingkan penampilan, penambahan berat badan sekecil apapun itu merupakan masalah yang besar.
Raline bukannya terobsesi tampil sempurna. Namun bila ada cela di bentuk tubuhnya, pasti akan ada banyak orang yang mencaci dirinya. Mungkin cacian itu tak akan langsung dilemparkan ke depan mukanya, tapi diam-diam diperbincangkan di belakang punggungnya. Karena itum Raline berusaha menjaga bentuk tubuhnya.
Syeiba yang duduk di sebelah Raline menatap heran menu makan siang sahabatnya itu. "Lo gak bosen apa cuma makan d**a ayam mulu?" tanya Syeiba.
"Lo udah seminggu makan itu mulu lho, Lin," timpal Claudia.
Raline tersenyum datar, lalu menatap sinis Syeiba dan Claudia yang duduk di sebelahnya. Dua orang itu hanya dianggap sekedar teman olehnya, tak pernah lebih. Karena itu, ia meragukan perkataan mereka sebagai sebuah bentuk kekhawatiran yang tulus.
Raline sering merasa curiga ke dua temannya itu sebenarnya mengeluarkan pernyataan sindirian atau ejekan. Ia memang terbiasa untuk curiga daripada mempercayai ketulusan. Bagi Raline, pada dasarnya setiap orang yang ada di dekatnya hanya menginginkan keuntungan darinya. Raline hampir tak pernah mempercayai kata ketulusan dari orang di sekitarnya.
Raline meneguk orange juice miliknya sebelum menanggapi ucapan ke dua temannya itu. Ia menyunggingkan senyum sinisnya. "Sekalipun gue bosen dan enek makan ginian, emang gue ngerugiin kalian ya?" tanya Raline balik dengan tatapan tajam.
Syeiba mendengus kesal. "Lo kebiasaan deh. Selalu ketus tanggepin omongan kita."
Claudia mengangguk setuju. “Kita tuh gak ada maksud jahat, Line. Kita cuma penasaran lo kenapa bisa makan dengan menu yang sama selama seminggu. Bukannya mau nyindir lo.”
Raline tertawa pelan, tapi terkesan mengejek. "Walaupun gue ketus, kalian tetep nempel di samping gue kan? Gak usah banyak protes deh." Raline menatap Syeiba dan Claudia dengan sebelah alis terangkat. Ia kembali tersenyum sinis.
Syeiba dan Claudia hanya terdiam. Mereka tak mampu melontarkan argumen yang tepat untuk mematahkan kesombongan Raline dan hanya bisa saling menatap satu sama lain. Mereka hanya bisa memendam kekesalan hatinya tanpa bisa melampiaskan perasaan itu.
"Kampus gak ada sesuatu yang seru gitu? Gue mulai bosan," keluh Raline sambil mengunyah sepotong daging ayam.
"Bukannya kemarin lo abis ngerjain asisten dosen yang baru itu? Emang masih kurang puas?" Claudia sebenarnya malas menanggapi ucapan Raline. Hatinya masih kesal dan tersinggung akan ucapan yang dilontarkan sebelumnya oleh Raline. Namun bila Claudia tetap diam dan enggan menanggapi, Raline pasti akan mengamuk penuh amarah.
"Ah, dia... itu bukan perkara yang sulit. Mulai besok dia gak bakalan melangkah ke kampus lagi kok. Dia dipecat." Raline mengunyah ayamnya sambil tertawa pelan. Seolah itu hal biasa, bukan perkara besar. Hal yang tak memerlukan usaha yang luar biasa untk dilakukan.
Syeiba menatap Raline dengan mata terbelalak. Walaupun ini bukan kali pertama, tapi Syeiba selalu takjub jika Raline melakukan pembalasan dendam dengan cara tak mencolok. "Gila! Gimana caranya lo ngusir dia?"
"Yah menurut kalian gimana?" Raline menyeruput jus jeruknya dengan senyum sinis. Wajahnya menunjukkan kepuasan. Bak seseorang yang sudah membalaskan dendamnya begitu hebat. Raline tak bisa menunjukan rasa senang yang dirasakannya atas perbuatan jahat yang dilakukannya secara diam-diam.
"Jangan bilang kalo lo pake koneksi ke rektor buat bales dendam?" seru Claudia dengan mata terbelalak. Claudia tentu mengenal Raline dan seberapa luas jaringannya. Namun Claudia tetap saja merasa takjub bila mengetahui apa saja yang sudah dilakukan Raline dengan jaringannya itu.
Raline tertawa sambil geleng-geleng kepala. Ia begitu geli dengan ucapan Claudia barusan. Sebuah pertanyaan yang dirasakan tak berguna. Karna Raline yakin Claudia tau pasti seberapa kuat jaringan dan koneksi yang dipunyainya. "Kalian kayak baru pertama kali kenal gue aja deh. Tua bangka itu udah ditelapak tangan gue. Rektor itu cuma jabatan keren-kerenan doang. Dia itu kacung gue!" ucap Raline dengan begitu angkuhnya.
Syeiba menatap Raline dengan mulut menganga. Meskipun Syeiba tau kalau koneksi Raline memang luas, tapi ia tak pernah menyangka jika rektor kampus mereka juga ikut tunduk. "Lo apain tuh rektor?"
Raline kembali tertawa sinis. Syeiba dirasa tak ada bedanya bagi Raline. Kembali mengajukan pertanyaan bodoh padanya. "Gak gue apa-apain. Gue cuma kasih dia duit yang banyak. Sebenernya sih gak banyak buat gue, tapi buat dompet dia itu luar biasa banyak. Jadi kalau gue suruh dia nyuci rambut lo, ya... dia bakal kerjain." Raline tertawa keras.
Syeiba dan Claudia geleng-geleng kepala. Mereka tau kalau Raline memang tajir. Namun mereka tak pernah menyangka bahwa kekayaan Raline sanggup membuat Rektor kampus ikut tunduk. Rektor yang bahkan seumur hidup mereka saja belum ditemui. Akan tetapi Raline bahkan berhasil menyuap rektor tersebut.
"Kalo gitu lo kenapa kuliah? Lo kan bisa dengan mudah lulus dengan nilai sempurna tanpa datang ke kelas," ucap Claudia dengan tatapan heran.
"Kalo kayak gitu, reputasi gue jelek dong. Kalau gue pura-pura kuliah terus dapet IPK sempurna, ya gak bakalan curiga. Mereka pikir gue bener-bener pinter. Padahal mah nilai gue emang udah diatur," ujar Raline.
"Pantesan aja lo ngerasa bosen datang ke kampus. Semua udah diatur dengan sempurna. Makanya lo jadi ngerasa gak ada tantangan," gumam Syeiba.
“Yah bukan salah gue kalo kalian gak ngerasa kemudahan yang gue rasakan, kan? Ya memang harus gue akui, terkadang emang gue ngerasa bosen. Hidup gitu-gitu doang. Semua yang gue mau bisa didapet dengan mudah.” Raline kembali meneguk minumannya sambil tersenyum sinis.
Claudia tiba-tiba menemukan sebuah ide. "Gimana kalo kita party?" usul Claudia.
Syeiba mengangguk setuju dengan raut antusias. "Bener tuh, Lin! Kita party di rumah lo aja gimana? Kita undang DJ terkenal dan asik-asikan di rumah lo. Kayaknya udah lama deh lo gak adain party."
Raline sangat tau betapa ke dua temannya itu begitu amat sangat menyukai pesta. Mereka suka akan keramaian, kebisingan musik, dan minuman. Ia pernah beberapa kali mengadakan pesta di rumahnya khusus untuk mereka. Ia bisa melihat betapa bahagianya mereka di tengah pesta.
Raline sebetulnya tak begitu menyukai pesta. Ia benci berada di tengah orang-orang yang tak dikenalnya. Ia tak suka kebisingan dan dentuman musik yang terlalu keras. Raline sebenarnya lebih suka menyendiri.
Namun ia tak masalah mengadakan pesta, apalagi diselenggarakan di rumahnya. Setidaknya ia bisa sedikit lebih nyaman karena itu adalah rumahnya. Lagipula rumahnya juga lebih sering kosong. Raline berpikir, tak apa mengadakan pesta meskipun ia membenci hal itu. Ia menganggap hal itu sebagai kompensasi yang harus dikeluarkan untuk membeli Claudia dan Syeiba sebagai temannya.
"Oke. Itu bukan perkara yang sulit. Kalian atur aja tanggalnya."
"Undangannya gimana? Apa terserah kita juga?" tanya Syeiba dengan sebelah alis terangkat.
"Ya udah. Terserah kalian. Atur aja," jawab Raline singkat. Raline tak terlalu bersemangat mengatur penyelenggaraan pesta. Karena memang ia tak terlalu menginginkannya. Lagipula yang menginginkan pesta itu Syeiba dan Claudia. Jadi ia mempercayakan saja sepenuhnya pada ke dua temannya itu.
"Yes!" sorak Claudia kegirangan.
"Gue mau undang Miko. Lo keberatan gak?" tanya Syeiba untuk memastikan.
"Miko? Siapa dia?" Raline tak terlalu banyak kenal orang di kampus. Baginya orang-orang yang harus mengenal siapa dirinya, bukan sebaliknya. Faktanya pun memang begitu. Tidak ada orang di kampus yang tidak mengenal dirinya. Sementara Raline terlalu malas untuk berakrab ria atau ramah pada orang yang sama sekali tak dikenalnya.
"Ya ampun Raline! Cowok setampan dan sepopuler dia masa lo gak tau," seru Claudia sambil menepuk keningnya.
"Jadi... dia siapa?" Raline mulai malas melihat respon ke dua temannya yang terlihat mulai berlebihan.
"Miko Rolando. Dia jurusan seni musik. Tampan, tajir, dan terkenal," jawab Claudia dengan sorot mata penuh antusias. Sangat terlihat jika Claudia begitu mengagumi sosok Miko.
Raline tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala. "Gue pikir siapa. Cuma anak musik toh." Menurut Raline, jurusan seni musik hanyalah tempat bagi orang-orang sampah. Kumpulan manusia yang bermimpi jadi bintang, tapi pasti hanya berakhir menjadi musisi jalanan yang tak punya masa depan. Tidak semua orang bisa mudah mendapatkan popularitas. Apalagi Raline tak tau seberapa berbakatnya seorang Miko Rolando hingga ia harus menghargai orang itu sebagai seorang mahasiswa seni.
Claudia akhirnya mulai terlihat kesal dengan sikap Raline yang merendahkan idolanya itu. Ia menatap tajam Raline. "Dia bukan cuma anak musik Raline! Dia Miko Rolando! Model terkenal dan juga seorang Youtuber yang suka cover musik. Dia anak sutradara dan produser terkenal Roy Surya. Ibunya itu Bella Novian, aktris papan atas! Dia lahir dengan gen yang luar biasa. Gak heran ketampanan dan bakatnya benar-benar sempurna!" seru Claudia dengan mata terbelalak penuh antusias.
"Ya... oke, baiklah. Terserah lo. Gue tetap gak kenal dia itu siapa. Gak penting juga," jawab Raline. Raline tertawa sambil geleng-geleng kepala, lalu meneguk kembali minumannya. Sikap Claudia terasa sangat berlebihan bagi Raline.
"Jadi gue boleh undang dia?" tanya Syeiba lagi.
"Oke. No problem. Budget pesta gue gak bakalan minus kok, cuma karena ngundang dia. Kalian atur aja semuanya. Gue cuma bagian ikut dan bayar. Puas?" Raline tersenyum sinis sambil meneguk sisa orange juice-nya hingga habis.
"Yeah!" teriak Claudia penuh kegirangan. Sementara Syeiba meneguk ice mango-nya sambil menatap Raline dengan lekat dan tersenyum penuh makna.
CONTINUED
***************
Hai guys!
Gimana kisah Rosemary buat kalian? Ada yang suka atau gak suka dari tokoh Raline ini? J
Menurut kalian, Syeiba dan Claudia itu temen yang kayak gimana?
Ada gak tipe-tipe begini di kehidupan nyata?
Coba-coba kalian komen. Aku pengen denger hihihi