Raline menikmati segelas wine sambil memandangi teman-teman kampusnya yang sedang asik menari ditengah musik DJ yang mengalun keras. Ia memilih duduk menyendiri di sudut kolam renangnya sambil bersandar di kursi dan menatap mereka yang begitu menikmati pesta yang diselenggarakan di rumahnya itu. Raline meneguk minuman wine-nya dan menyecap rasanya dengan begitu nikmat. Ia enggan untuk bergabung dengan kerumunan orang asing dan memasang raut wajah yang seolah begitu menikmati dentuman musik keras yang sebenarnya terasa menyakitkan ditelinganya.
Raline benci pesta. Ia justru tertawa geli dalam hati ketika melihat betapa mudahnya mengumpulkan begitu banyak orang yang ingin diakuinya sebagai teman. Ia hanya perlu mengeluarkan sedikit uang dan membiarkan rumahnya menjadi lokasi tempat berpesta. Ia tak memerlukan banyak usaha untuk diakui sebagai teman oleh banyak orang.
Raline pun juga merasa tak ada salahnya menjadikan rumahnya menjadi lokasi berpesta. Setidaknya kini rumah terasa lebih hidup dengan kehadiran banyak orang. Tidak sunyi dan sendirian. Jika tidak ada party, rumah ini terasa seperti bangunan kosong yang tak berpenghuni. Sejak kakek meninggal, Ibunya lebih suka bermalam di hotel sambil menghabiskan waktu dengan berbagai pria daripada menemaninya makan malam di rumah. Raline tidak menyukai kebisingan, tapi ini jauh lebih baik daripada sendirian di bangunan megah ini.
Rumah ini memang sangat besar untuk menjadi tempat tinggalnya. Ia lebih banyak bersama pekerja di rumahnya, dibanding keluarganya sendiri. Kamar yang tersedia bahkan jauh lebih banyak daripada jumlah manusia yang ada di dalamnya. Karena itu, Raline merasa rumah ini jauh lebih baik ramai karena banyak orang asing daripada sepi bak tak berpenghuni.
Raline lalu kembali menyecap segelas wine yang dipegangnya. Ia menatap Syeiba dan Claudia yang sedang asik menari bersama beberapa pria. Senyum sinis tersungging dibibirnya. Ke dua orang itu memang pecinta party dan lelaki, sedangkan Raline pribadi yang sebaliknya. Ia benci party dan tak terlalu tertarik dengan hubungan asmara. Meskipun orang-orang yang hadir di party-nya adalah mahasiswa kampusnya, tapi tak ada satupun yang ia kenal dekat. Bahkan sebagian besar baru ia jumpai sekarang.
"Hai..." Tiba-tiba ada seorang pria mendekati Raline dan duduk disebelahnya. Pria itu menatap Raline dengan lekat.
Raline tersenyum sinis dan hanya menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia bisa menerka maksud kedatangan pria itu. Tergambar jelas maksud terselubungnya dari bahasa tubuhnya. Alasan apalagi yang paling masuk akal selain kalau bukan ingin mendekatinya.
"Aku Miko Rolando." Pria itu memperkenalkan dirinya.
Raline tertawa sinis. Ia tak peduli siapa nama pria itu. Ia juga tak menunjukan ketertarikan untuk mengenal pria itu lebih dalam. Raline tampak enggan untuk berbicara lebih banyak. "Oh oke," jawab Raline dengan nada ketus dan raut wajah tak peduli.
"Biasanya orang bakalan balas dengan nyebutin namanya juga." Miko tampak pantang menyerah untuk mengajak Raline berbincang. Miko sengaja melemparkan kode untuk mengajak berkenalan.
Namun Raline tak terpengaruh. Ia tetap tak acuh. "Lo gak mungkin gak tau nama gue," jawab Raline singkat.
Miko tertawa. "Yah iya sih. Gue dateng ke party lo, gak mungkin gue gak tau lo itu siapa. Jadi lo gak mau kenalan sama gue?" tanya Miko tanpa berbasa-basi lagi.
Raline kembali tersenyum sinis. Akhirnya pria yang ada di hadapannya ini tak lagi mengeluarkan kalimat basi. Pria itu mulai menunjukan secara nyata maksud hatinya. "Kenalan yang lo maksud itu kayak apa? Gue udah tau nama lo, begitu juga sebaliknya. Gue rasa perkenalan kayak gitu udah lebih dari cukup."
"Lo kenapa sih begitu dingin dan sulit untuk didekati? Atau lo gak butuh orang lain?" tanya Miko.
"Kenapa gue harus gampangan? Lagipula lo butuh apa dari gue? Kalo gue sih, gak ngerasa butuh lo," jawab Raline dengan nada pelan tapi menusuk.
Raline selalu mencurigai setiap orang yang mendekati dirinya. Baginya tak ada satu orang pun manusia yang memiliki ketulusan untuk mendekatinya. Pasti ada tujuan dan maksud terselubung. Entah karena kekayaan, popularitas, atau kekuasaan yang dimilikinya. Termasuk pria yang ada di hadapannya kini. Raline tak akan percaya meski dia mengucapkan kata ketulusan sebanyak ratusan kali.
"Ehm..." gumam Miko sambil menganggukan kepalanya. Miko lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Raline, lalu menatapnya lebih dekat dengan senyum manis. "Gimana kalo kita coba dulu? Biar lo tau butuh gue atau enggak," bisik Miko dengan senyum manisnya.
Raline akhirnya membalas tatapan mata Miko dan menyunggingkan kembali senyum sinisnya. Selama beberapa detik ia merinding mendengar bisikan pria itu yang tepat di depan telinganya. Bisikan yang terdengar seperti sedang menggoda dan membujuknya. Raline cukup salut akan keberanian dan kegigihan pria itu untuk mengajaknya berbicara.
"Gak perlu. Gue pengen sendiri. Jadi seharusnya lo tau kan harus ngapain?" pungkas Raline yang mulai gerah untuk meladeni Miko.
Miko mengangguk, tanda mengerti. Pria itu mulai paham jika Raline benar-benar tak ingin diajak berbicara. Kehadiran Miko hanya dianggap sebuah gangguan. "Baiklah... kali ini gue bakalan pergi. Cuma suatu hari nanti i'll be back." Miko tersenyum sambil mengedipkan matanya, lalu berlalu pergi meninggalkan Raline.
Raline hanya mendengus kesal dan kembali bersikap tak acuh. Di matanya Miko seperti pria lainnya. Hanya seorang pengganggu yang punya niat buruk padanya. Tidak ada pria yang mendekatinya tanpa melihat fisik atau stasus sosial ekonomi dirinya. Semua hanya ingin mengeruk keuntungan darinya. Pandangannya tentang hal itu masih sama sampai sekarang. Mungkin memang tak akan pernah berubah.
Sampai dengan detik ini, Raline belum merasa membutuhkan pria. Sekalipun ia ingin terlihat memiliki pasangan, ia bisa dengan mudahnya membayar seorang model atau aktor untuk digandeng ke kampus. Namun untuk apa? Agar terlihat keren di mata orang lain? Raline sudah merasa keren dan berkelas tanpa harus menggandeng seorang pria. Ia juga tak butuh pacar yang mengantar dan menemaninya kemana pun. Tugas itu bisa dilakukan supir atau asisten pribadinya, bukan pacar.
Jika kesepian, Raline bisa dengan mudahnya mengadakan party seperti saat ini. Raline enggan menambah kerumitan hidupnya dengan asmara, apalagi pria. Karena itu ia akan selalu menolak pria yang mendekatinya, apalagi yang menyatakan cinta padanya.
"Oi. Tadi gue liat Miko ngedeketin lo. Ngapain dia?" tanya Syeiba yang muncul tiba-tiba dan telah duduk di sampingnya.
Raline kembali menyunggingkan senyum sinisnya sambil meneguk wine. Ia bisa menebak jika temannya itu begitu diliputi rasa penasaran. "Menurut lo aja dia ngapain?" tanya balik Raline, tanpa membalas tatapan mata Syeiba.
"Die ngedeketin lo? DAEBAK!" seru Syeiba.
Raline tertawa mengejek. Reaksi Syeiba terlalu berlebihan menurutnya. "Lebai lo! Dia gak terlalu luar biasa sampe lo harus pasang muka kaget kayak gitu." Pria seperti Miko itu ada banyak dan bukan hal yang sulit baginya untuk di dapatkan. Raline tak mengerti kenapa Syeiba begitu memandang Miko begitu istimewa. Pria itu tak lebih kaya darinya. Latar ekonominya juga pasti tak semengesankan dirinya. Miko hanya pria biasa di mata Raline.
"Raline! Dia itu famous parah!" ujar Syeiba. Syeiba tak percaya dengan reaksi Raline yang dianggapnya terlalu biasa. Syeiba saja tak akan mungkin bisa mendapatkan Miko meski ia begitu menginginkan pria itu. Bertemu saja sangat sulit, apalagi memiliki pria itu.
"Terus kenapa? Gue juga famous kali." Raline geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan.
"Yah iya sih. Cuma Miko gak pernah ngedeketin cewek di kampus. Dia gak pernah bawa cewek juga. So... lo yang pertama dideketin sama dia." Syeiba masih berusaha mengubah pola pikir Raline akan Miko. Syeiba menganggap Raline dianggap spesial hingga bisa didekati oleh Miko, pria yang begitu pemilih akan wanita.
Raline mulai tampak kesal dengan sikap Syeiba. Emosinya mulai tersulut. Berulang kali Raline sudah mengulangi ucapannya, tapi temannya itu masih tampak tak mengerti dengan sudut pandangnya. "Syeiba... sekali lagi gue bilang... Dia biasa aja. Dia masih standar. Jadi lo gak usah mikir gue bakalan tertarik sama cowok kayak gitu. Paham? Mending lo balik joget-joget ke sana, daripada gangguin gue di sini. DJ itu gue bayar mahal-mahal buat lo. Jadi mending lo puas-puasin nikmatin party ini," pungkas Raline dengan tatapan tajam.
"Baiklah." Syeiba akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa membalas perkataan Raline, meski sesungguhnya ia sangat amat kesal mendengarnya.
Setelah Syeiba pergi, Raline kembali menikmati kesendiriannya sambil meneguk segelas wine. Ia kembali bersandar pada kursinya, lalu menutup matanya sejenak.
***
“Lo mau deketin Raline, Mik?” tanya Erfan.
Miko tersenyum, lalu tertawa penuh makna. Ia masih membisu tak menjawab rasa penasaran Erfan dan tatapan penuh selidik dari Rio. Miko justru meneguk segelas kopi sambil menatap sekeliling area kantin. Ia memilih menelisik orang-orang yang kini sedang ada sekitar mereka.
Mata Miko tiba-tiba tertuju pada sekumpulan gadis-gadis. Ia bisa menebak mereka juniornya, entah dari jurusan mana. Namun Miko tak tertarik menargetkan salah satu dari gadis-gadis itu. Ia hanya tertarik melihat keributan celotehan dan suara tawa mereka. Tampak bahagia.
“Woy! Kok lo malah bengong sih, Mik! Kita lagi nanya juga,” protes Rio.
Miko kembali tertawa. Sejenak ia memang lupa situasi yang ada dihadapannya. Ia kembali menatap ke dua teman yang kini ada di hadapannya. “Sorry, Bro! Hahahaha. Lo tanya apa tadi? Ah... Raline. Yah gue cuma coba aja. Belum tentu juga berhasil deketin dia, kan.”
“Jadi lo serius?” Erfan menaikan sebelah alisnya.
“Emang lo pernah liat gue bercanda?” Miko menyunggingkan senyumnya yang penuh makna sambil kembali meneguk kopinya.
Erfan dan Rio terdiam dengan kening berkerut. Mereka tampak berpikir sejenak. “Iya sih. Lo jarang bercanda. Sekalinya lo targetin cewek, pasti dapet. Cuma lo gak pernah main sama cewek kampus, Mik.” Erfan masih heran dengan tingkah tak biasa seorang Miko.
“Bener juga. Lo kan biasanya sama model dan artis. Yah pokoknya di luar kampus lah. Bukannya lo pernah bilang males main sama cewek di sini. Karena walau udah putus, tetep bisa berpontensi ketemu tiap hari. Lo bilang males kayak gitu,” timpal Rio.
Miko tertawa. Ke dua temannya itu memang paham betul kebiasaannya. Ia memang tak berminat mengencani wanita-wanita di kampusnya. Ia tak ingin memiliki konflik percintaan di tempat yang di datanginya hampir setiap harinya. Miko memang selama ini berusaha menjaga citra dirinya di kampus semaksimal yang ia bisa.
“Itu bener. Cuma Raline berbeda.” Miko tersenyum penuh makna, lalu meminum kembali kopinya.
“Bedanya apa?” tanya Erfan.
Rio langsung menyikut lengan Erfan. “Hati-hati lo kalo ngomong. Ntar kalo si Raline tiba-tiba muncul. Terus ngedengerin omongan lo, bisa habis lo!”
“Lho emang ada yang salah sama ucapan gue ya?” Erfan masih tak mengerti dimana letak kesalahan dari pertanyaannya itu. Raut wajahnya justru menunjukan kebingungan. Erfan hanya mengajukan pertanyaan, bukan penghinaan.
Rio menghela nafas. “Raline tentu beda, Erfan! Astaga. Di kampus ini tuh gak ada yang gak tau dia. Raline itu populer, sangat kaya, dan sangat cantik. Itu cewek kayak lambang kesempurnaan. Kalo Miko gak suka dia, itu baru keanehan. Cuma gue tetep gak nyangka aja Miko ngelanggar prinsip yang selalu dia banggain ke kita.” Rio geleng-geleng kepala sambil tertawa. “Hebat memang si Raline. Bisa ngebuat Miko kepincut akhirnya,” timpal Rio lagi.
Erfan mengangguk. “Ah... gue baru ngerti. Jadi lo serius beneran sama Raline, Mik?”
Miko tertawa sambil geleng-geleng kepala. “Gue harus ngulang berapa kali sih biar kalian percaya. Gue gak mungkin main-main lah sama dia. Lo tau kan imej Raline tuh kayak apa. Bisa habis gue kalo mainin cewek kayak dia.”
Rio dan Erfan mengangguk secara bersamaan. Mereka pernah mendengar betapa kejamnya seorang Raline bila sedang membalas dendam. Raline memang terkenal cantik, tapi juga kejam. Mereka tau tak ada yang berani membuat wanita itu kesal, apalagi sakit hati. Bila Miko berani mempermainkan Raline itu memang sama saja dengan mencari neraka dunia.
“Terus gimana cara lo ngedeketin Raline? Dia bukannya susah banget dideketin ya. Setau gue sih dia belum punya sejarah deket sama cowok di kampus. Dia gak pernah pacaran deh kayaknya. Semua cowok yang deketin dan nembak dia rata-rata pada ditolak deh,” ucap Rio.
Miko tersenyum dengan raut wajah penuh percaya diri. “Entah bagaimana caranya. Gue pasti bisa deketin, bahkan dapetin dia.”
Erfan mengerutkan keningnya, menatap Miko dengan penuh keheranan. “Dari mana keyakinan itu lo dapet?”
Miko tertawa. “Yah karna gue Miko. Gue percaya aja sama diri gue. Percaya sama pesona yang gue punya. Dia juga pasti bisa ngerasain ketulusan gue kok.”
Rio secara refleks langsung bertepuk tangan. “Bukan Miko namanya kalo gak penuh percaya diri.”
Namun raut wajah Erfan berbeda dengan Rio. Erfan masih belum puas dengan jawaban yang diterimanya. “Lo gak punya langkah nyata gitu gimana deketin dia? Setau gue... Raline itu bahkan pemilih buat diajak ngobrol sama orang. Apalagi buat milih jadi pacar. Lo pasti pernah ngajak ngobrol dia kan? Lo pasti udah dapet gambaran sesusah apa itu cewek buat dideketin.”
Miko mengangguk, tanda setuju. “Dia memang susah. Sangat susah. Cuma karena itu, dia jadi jauh lebih menarik. Gue ngerasa lebih tertantang aja gitu. Tertantang buat beneran dapetin dia.”
“Cuma lo beneran suka sama dia? Apa cuma buat muasin rasa tertantang lo doang?” tanya Rio. Sebelah alisnya terangkat sambil memicingkan matanya. Rio berusaha menyelediki kesungguhan hati temannya itu.
Namun Miko mengangkat bahunya. Ia sengaja membuat ke dua temannya itu penasaran. Ia tak mengeluarkan sepatah kata apapun lagi dan memilih menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.
“Gue cabut dulu ya. Abis ini mau ada pemotretan.” Miko bangkit berdiri, menepuk pundak ke dua temannya itu sebagai tanda perpisahan.
“Kok lo cabut sih! Kan percakapan kita belum kelar,” protes Rio.
“Parah sih ini!” timpal Erfan.
Miko hanya tertawa, tanpa menanggapi protes ke dua temannya itu. Miko melambaikan tangannya singkat, kemudian berlalu pergi.
CONTINUED
***************
Hai guys!
Ada yang penasaran dengan sosok Miko?
Menurut kalian tuh, dia serius gak sih sama Raline?
Hayo coba tebak hihihihi :D
Kalo komen dan Love-nya ya, aku bakalan updated besok. :)