Entah kenapa sejak siang tadi firasat Raline mengatakan jika hari ini akan banyak hal buruk yang terjadi. Mungkin lebih tepatnya sejak ponselnya hilang di kantin tadi. Ini kali pertama Raline dibuat bingung oleh benda mati. Ponsel merupakan benda yang selalu berada didekatnya. Benda itu terlepas dari tangannya hanya ketika makan, tidur, dan ke toilet. Itu pun ia taruh di sebelahnya atau dimasukan ke dalam tas.
Rasanya benar-benar aneh ponsel itu hilang tanpa jejak dan saksi. Pencurinya benar-benar niat mengambil barang itu hingga tak terdeteksi oleh dirinya. Claudia dan Syeiba juga tak menemukan ponselnya, meski mereka telah menggeledah setiap sudut kantin.
Raline memang bisa dengan mudahnya membeli ponsel yang baru. Semahal-mahalnya harga ponsel, Raline tetap menganggap itu murah bagi kantongnya. Permasalahnya memang bukan soal di harga ponsel. Raline hanya kesal dengan kecerobohan yang tak biasa dilakukannya. Ia termasuk pribadi yang begitu ketat dengan barang-barang pribadinya. Tak ada yang boleh menyentuh, apalagi mengambilnya. Raline tak pernah melupakan, apalagi meninggalkan barang-barang itu. Kejadian yang tidak biasa ini tentu membuat Raline kesal dengan dirinya sendiri.
Untungnya tak ada data berarti yang tersimpan di ponsel itu. Ia tak terlalu suka berfoto atau membuat video. Ia tak terlalu khawatir jika data di ponselnya tersebar. Karna memang tak ada hal negatif yang tersimpan di ponsel itu. Raline hanya menyesalkan kontak nomor yang tersimpan di sana.
“Jalan yuk, Line.” Syeiba menghampiri Raline yang masih duduk di kursinya.
Raline tampak masih kesal dengan insiden kehilangan ponselnya itu. Mejanya pun terlihat berantakan dengan barang-barang yang baru saja dikeluarkan dari dalam tasnya. Raline masih termenung menatap mejanya.
“Raline! Mau ikut kita jalan gak?” Claudia menepuk pundak Raline. Claudia menatap heran ke arah Raline.
Tindakan Claudia yang membuat Raline kaget tentu membuat suasana hatinya berubah menjadi kesal. Raline melirik tajam ke arah Claudia. “Gue lagi gak mau jalan bareng sama kalian! Jangan ganggu gue!”
Syeiba mengerutkan keningnya melihat reaksi Raline yang menurutnya itu berlebihan. “Lo kenapa sih, Line? Kenapa langsung bete gitu? Padahal kita nanya baik-baik. Ini meja lo kenapa berantakan deh?”
Raline mendengus kesal. “HP gue ilang. Gue nyari-nyari gak ketemu.”
“Ilang? Kok bisa?!” Claudia ikut terkejut mendengarnya. Claudia tau betul betapa Raline begitu menjaga barang-barang pribadinya, apalagi bila itu ponsel.
“Kalo gue tau... itu namanya gak ilang Claudia!” balas Raline sambil geleng-geleng kepala.
“Lo inget gak terakhir kali kapan megangnya?” tanya Syeiba.
Raline terdiam dengan raut wajah berpikir. “Terakhir gue taruh di tas. Pas kita mau cabut dari kantin. Makanya gue bongkar-bongkar tas gue. Cuma tetep gak ketemu HP gue.”
“Mungkin ini akan jadi pertama kalinya lo lupa barang bawaan lo, Line,” ucap Syeiba.
Raline menatap curiga ke arah Syeiba dan Claudia. “Kalian yang ambil HP gue ya? Kalian lagi isengin gue, kan? Ngaku deh!”
Claudia yang tersinggung dengan tuduhan Raline langsung membalasnya, “Enak aja! Mana ada sih gue berani nyentuh-nyentuh barang lo, Line! Itu sama aja nyari mati.”
Syeiba mengangguk setuju. “Gak mungkinlah kita berani isengin lo, Line. Kita lebih paham dari siapapun apa akibatnya bikin lo kesel. Kita gak mungkin berani.”
Raline terdiam sejenak. Ia memikirkan ucapan ke dua temannya itu. Ia masih merasa heran kenapa ponselnya tiba-tiba hilang tanpa jejak. Hanya Claudia dan Syeiba yang ada di dekatnya. Raline tak mengijinkan orang lain berada di sekitarnya selain mereka berdua. Jika ponsel itu dicuri atau diambil oleh orang lain, maka tersangkanya hanya antara Claudia dan Syeiba.
Namun Raline sadar, ia tak mungkin menuduh ke dua orang itu tanpa bukti yang kuat. Jikalau pun benar, mereka akan mudahnya membantah dan menuduh balik dirinya. Untuk sementara, Raline harus menerima kesimpulan sementara bahwa keteledoran dirinya yang membuat ponsel itu hilang.
“Baiklah. Gue mungkin emang lupa taruh dimana. Bisa juga tuh HP jatoh entah dimana. Mungkin emang bener, gue kali ini kelupaan sama barang sendiri,” ungkap Raline.
Syeiba dan Claudia tampak kembali tenang. Emosi mereka yang semula tersulut kini mulai mereda. Mereka paham jika respon Raline merupakan peristiwa langka. Raline sangat jarang mengaku bersalah, apalagi di depan orang lain. Karena itu mereka memilih tak melanjutkan perdebatan.
“Itu hal yang wajar, Line. Semua orang pernah keluapaan juga. Yaudah, lo bener-bener gak mau jalan bareng kita nih?” tanya Claudia.
“Iya. Lo gak mau jalan bareng kita? Kita mau makan es krim rencananya,” timpal Syeiba.
“Enggak. Kalian jalan berdua aja. Gue pengen langsung pulang aja. Mood gue udah rusak soalnya. Gue cabut.” Raline memasukan semua barang-barangnya ke dalam tas. Ia memastikan tak ada satupun barangnya yang tertinggal lagi. Ia tak ingin kehilangan barang untuk kali yang ke dua.
Setelah memastikan semua telah masuk ke dalam tas, Raline langsung berjalan pergi meninggalkan Syeiba dan Claudia. Ia tak menunggu respon ke dua temannya itu. Ia terus melangkah pergi tanpa menoleh ke arah mereka yang masih teriak memanggil namanya.
Raline sering bersikap seperti ini. Ia terlalu malas berbincang basa-basi terlalu banyak. Ia ingin segera pergi. Tak peduli Syeiba atau Claudia akan mengijinkannya atau tidak. Tak peduli apakah caranya pergi itu santun ataukah tidak. Tak ada yang bisa mengatur atau menegur cara sikapnya.
Raline memang tak pernah merasa bersalah meninggalkan ke dua temannya itu begitu saja. Sikap seperti itu bukan pertama kalinya ia lakukan ke mereka. Ia cukup sering bersikap sesukanya dan pergi tanpa ucapan pamitan yang layak. Lagipula mereka tak akan pernah berani membencinya. Mungkin lebih tepatnya tak berani menampakan wujud rasa benci itu. Karena itu, Raline tak pernah merasa bersalah setiap kali melakukan hal itu.
Raline akhirnya pergi menuju lokasi parkir mobilnya. Setelah menemukan letak mobilnya, ia segera menyalakan mesin mobilnya dan memacu lajunya untuk segera meninggalkan gedung kampus. Ketika keluar dari area kampus, Raline merasa ada yang tak beres dengan laju mobilnya. Namun karena ia merasa itu tak terlalu mengganggu, Raline tetap mempertahankan laju mobilnya.
Beberapa menit kemudian ban mobil mobil Raline tiba-tiba mengempis hingga ia terpaksa banting setir ke bahu jalan dan segera menghentikan laju mobilnya. Raline mengatur nafasnya beberapa saat dan menenangkan dirinya yang cukup terkejut karena insiden ini. Ia mendengus kesal sambil membuka pintu mobil. Seperti dugaannya, ke dua ban depannya benar-benar kempes. Raline menghentakan kakinya dengan raut wajah kesal.
Ponselnya hilang dan sekarang ban mobilnya kempes. Benar-benar hari yang buruk!
Raline tak pernah merasa sesial ini selama hidupnya. Dua kejadian buruk terjadi secara bersamaan. Ponselnya hilang, lalu ban mobilnya kempes. Sungguh peristiwa yang sempurna untuk membuat mood-nya hancur.
Raline kebingungan mencari solusi. Ia tak bisa minta pertolongan lewat ponsel. Ia juga tak melihat ada taksi yang melalui jalan itu. Ia pun tak sanggup jika harus menggunakan mobil angkutan umum atau ojek untuk pulang ke rumahnya. Namun ia juga tak mungkin terus terjebak di jalanan seperti ini. Raline akhirnya memukul pelan mobilnya, menumpahkan rasa frustasi yang sedang dirasakannya.
Situasi ini dirasa Raline benar-benar buruk. Ia tak bisa meminta bantuan dan tak bisa menemukan solusi yang baik untuknya. Raline seperti diperhadapkan dengan petaka yang sulit ditemukan jalan keluarnya.
Namun tiba-tiba ada sebuah mobil sport warna merah yang berhenti di depan mobilnya. Kemudian seorang pria keluar dari mobil itu dan berjalan mendekatinya. Raline tersenyum sinis ketika melihat wajah pria itu. Wajah yang tak asing baginya, meski ia hanya baru melihatnya satu kali. Miko, pria yang pernah ikut dalam pesta di rumahnya. Tentu wajah itu masih diingat olehnya.
Syeiba dan Claudia begitu sering mendengungkan nama pria itu. Mereka menganggap Miko begitu istimewa hingga selalu disodorkan untuk disandingkan dengannya. Raline sampai merasa muak setiap kali mendengar nama itu kembali didengungkan oleh mereka. Pria itu sama sekali tidak dirasa begitu istimewa. Ia masih tak berminat untuk mengenal Miko lebih dekat.
Raline memasang wajah angkuh dan enggan menyapanya dengan ramah ketika pria itu berjalan mendekatinya. Ia tak ingin Miko menangkap kesan bahwa dirinya begitu bersyukur pria itu muncul dihadapannya kini. Raline tak ingin membuat Miko merasa bak pahlawan di tengah kesulitan yang sedang dialaminya.
"Mobil lo kempes? Wah! Mau bareng gue?" Miko Rolando mencoba menawarkan bantuan dengan ramah.
Namun Raline masih mempertahankan sikap angkuhnya, meski ia sesungguhnya sangat membutuhkan pertolongan Miko. "Gue pinjem HP lo aja. Gue mau hubungi supir di rumah buat jemput," pinta Raline dengan nada ketus.
"Enggak ah," jawab Miko singkat.
Raline mengerutkan keningnya. "Lah tadi lo nawarin bantuan. Sekarang kok lo pelit sih?!" protes Raline.
"Kenapa lo gak gue anter aja? Kenapa lo alergi banget di deket gue? Pokoknya gue gak mau kasih HP gue! Jadi lo mau bareng gue atau gak? Kalo lo tetep gak mau, ya udah gue tinggal." Miko menatap Raline sambil menyunggingkan senyumnya dan mengangkat sebelah alisnya.
Raline menghela nafas kesal. Miko memang tau bagaimana cara mempermainkannya. Ia memang tak mungkin menolak tawaran bantuan itu dan membiarkan dirinya terus berdiri di jalanan. Pria itu memang sadar jika dirinya satu-satunya jalan keluar bagi Raline.
"Oke. Lo mau apa sebagai imbalannya? Gue gak mau punya utang budi," tegas Raline. Ia benci mendapat kebaikan tanpa bisa membalasnya. Ia tak biasa menerima bantuan tanpa memberi sesuatu kembali. Raline benci perasaan hutang budi.
"Emang lo bisa kasih apa?" tanya Miko sambil tertawa pelan.
"Apapun yang masih masuk logika gue." Raline merasa lebih kaya secara finansial dari pria yang ada di hadapannya kini. Ia merasa yakin bisa memenuhi semua permintaan Miko, berapapun biayanya. Namun Raline juga tak ingin gegabah. Ia tak ingin menjanjikan sesuatu dengan nominal tanpa batas pada pria yang bahkan masih asing baginya.
"Gue kan belum kenal lo. Jagi gue gak tau logika lo itu kayak apa."
Raline kembali menghela nafas. Pria ini memang pandai bermain kata. "Apapun Miko Rolando. Asal lo gak minta gue jadi pacar atau minta kontak fisik. Lo mau apa? Uang? Berapa?"
"Gue gak miskin Raline. Uang gue juga udah lebih dari cukup. Udah buruan naik mobil gue. Mau sampe kapan kita di jalanan begini. Panas tau!" Miko segera menarik tangan Raline dan berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu dan mempersilahkan Raline masuk ke dalam mobilnya.
Raline terdiam beberapa saat. Ia meragu untuk menerima ajakan Miko itu. Ia tak mengenal pria itu. Ia tak bisa menebak apa maksud hati sebenarnya kenapa Miko ingin menolongnya. Raline masih tetap tak percaya ketulusan, apalagi pada pria bernama Miko ini.
Namun ia memang tak memiliki pilihan lain. Jika tetap bersikeras pada gengsi, ia hanya akan membuat dirinya terjebak dalam kesulitan. Ia akan berdiri di pinggir jalan seperti ini, entah sampai kapan. Jalanan itu juga jarang dilalui taksi dan tak memiliki pangkalan ojek. Walaupun hatinya merasa enggan, tapi logikanya tetap berpikir bila naik mobil Miko tetaplah pilihan solusi terbaik.
Raline akhirnya memilih mengikuti logikanya. Ia masuk dan duduk di dalam mobil tanpa mengucapkan kata terima kasih pada Miko. Ia merasa kebaikan yang diterimanya dari Miko sebagai sebuah hutang yang pasti akan ia lunasi. Walaupun Miko enggan menyebutkan imbalan yang diinginkannya karena sudah memberikan pertolongan, tapi Raline akan memastikan pria itu akan menerimanya. Entah bagaimana caranya.
"Udah pasang seat belt?" tanya Miko sambil menutup pintu.
Raline lalu menunjukan seat belt-nya tanpa mengeluarkan suara. "Oke. Kita berangkat," ucap Miko sambil menyalakan mesin mobilnya.
Selama perjalanan, Raline memilih memalingkan pandangannya ke arah jendela mobil. Ia enggan untuk bercakap dan menjalin keakraban dengan Miko. Hanya alunan musik radio-lah yang memecahkan kesunyian dan suasana canggung diantara mereka. Lagipula Miko juga terlihat fokus menyetir dan tidak berusaha mengajaknya berbincang. Raline pun juga masih tak memiliki minat untuk memulai perbincangan dengan pria itu.
Namun Raline dibuat heran ketika tiba-tiba Miko menepikan mobilnya ke arah bahu jalan. "Lo mau ngapain?" tanya Raline, heran.
"Bantuin orang itu. Kasian," jawa Miko sambil melepaskan seat belt-nya.
Raline melihat ke arah yang ditunjuk Miko. Ada seorang pria yang tergeletak di tanah dan meringis kesakitan. Kaki pria itu tertimpa sepeda motornya yang terlihat cukup berat. Namun Raline justru menahan tangan Miko dan mencegahnya untuk keluar dari mobil. "Masih banyak orang lain yang bakalan nolong dia. Gak harus lo kali," ucap Raline dengan nada ketus.
Raline tak begitu suka menciptakan kerumitan yang tak perlu. Ia tak mengenal pria itu. Lagipula bila tidak menolongnya tidak akan menyebabkan dia mati. Jalan itu begitu ramai dilalui banyak orang dan kendaraan. Raline yakin pasti ada yang akan membantu, meski ia tak turun dari mobil dan memberikan pertolongan. Pasti ada satu orang yang mau menolong pria itu di tengah ratusan orang yang berlalu-lalang di jalanan itu.
Namun Miko langsung menatap serius Raline. "Kalo semua orang mikirin apa yang lo pikirin, pada akhirnya gak akan ada yang nolong dia."
"Tapi Mik... kalo lo nolong dia, itu bakal repot banget. Bawa dia ke rumah sakit. Belum lagi mobil lo bakalan kotor karna dia dudukin. Terus kalo ini dibawa ke jalur hukum, lo bakalan jadi saksi. Mending pinjemin HP lo ke gue sekarang. Jadi gue bisa kirim orang ke sini buat tolongin dia, Gak perlu kita. Gue juga males terlibat." Raline mengulurkan tangannya, tanda ingin meminjam ponsel Miko.
"Kalo lo gak mau nolongin ya udah. Tunggu di mobil." Miko lalu keluar mobil tanpa banyak kata lagi.
Raline mendengus kesal karena merasa diabaikan oleh Miko. Pria itu benar-benar keras kepala. Padahal Raline sudah menjabarkan pemikirannya tentang situasi ini. Namun Miko tetap tak mau mendengarkan dan tetap pada keinginannya untuk menolong.
Raline terdiam selama beberapa saat di mobil. Raline merasa aneh duduk sendirian di dalam mobil dan hanya menatap Miko yang sedang kerepotan menolong orang lain. Entah kenapa situasi ini membuat dirinya terasa seperti orang yang benar-benar sangat jahat. Raline akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghampiri Miko yang terlihat sedang membantu pria itu berdiri.
Raline menatap Miko yang sedang mengangkat motor, lalu memapah pria itu untuk berdiri. Ia mengikuti langkah kaki Miko yang secara perlahan membawa pria itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Lo mau bawa dia kemana?" tanya Raline, bingung.
"Ke rumah sakit. Tolong bukain pintu mobil dong,"pinta Miko sambil memapah pria itu.
Raline mendengus sambil menghentakan kakinya dengan kesal, tapi ia akhirnya tetap menuruti permintaan Miko. Raline membukakan pintu mobil, lalu menunggu hingga Miko selesai memposisikan pria itu masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan pria itu duduk dengan nyaman, Raline dan Miko lalu masuk kembali ke dalam mobil.
"Motornya gimana?" tanya Raline.
"Gue udah nitip ke Ibu-ibu warteg yang di sana. Suruh mereka jagain," jawab Miko.
"Terus kita mau bawa dia ke rumah sakit mana? Gue harus banget ikut gitu? Duh mending lo pesenin gue taksi online deh," keluh Raline.
Raline enggan terlibat lebih jauh lagi dalam insiden ini. Ia bisa membayangkan kerumitan apa yang akan dihadapinya bila terus berada di dalam mobil itu. Lagipula ia hanya perlu sebuah panggilan telepon untuk bisa memanggil supirnya atau sebuah pemesanan taksi online untuk bisa langsung mengantarnya pulang ke rumah. Raline tak mengerti mengapa Miko begitu memperumit dirinya untuk segera pergi.
"Mas... Mbak... bawa saya ke klinik yang ada di depan aja. Itu emang klinik BPJS saya. Lagian lukanya juga cuma lecet-lecet aja. Mas dan Mbak bisa langsung pulang setelah anterin saya ke sana," ucap pria yang duduk di kursi belakang.
"Yakin? Kita gak papa kok bawa lo ke rumah sakit. Nanti gue yang bayar. Tenang aja," ujar Miko.
"Iya, Mas. Gak papa kok. Saya ke klinik aja. Nanti saya hubungi keluarga di rumah buat jemput. Mas dan Mbak bisa langsung pergi abis itu. Segini aja saya udah sangat berterima kasih ditolong kayak gini."
Raline tersenyum senang. Ia suka melihat sikap pria itu yang bisa membaca situasi. Raline bisa melihat kalau pria itu cukup tau diri dan tidak ingin merepotkan lebih banyak lagi. "Oke kalo gitu! Miko cepet anter ke klinik. Kasian itu kakinya udah berdarah-darah,” seru Raline. Terlihat jelas Raline tak ingin pria itu berubah pikiran, sehingga menyuruh Miko segera bergegas untuk pergi.
Miko hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Raline. Namun ia tak membantahnya dan segera memacu mobilnya ke klinik. Sementara Raline tersenyum puas karena ia tak perlu terlibat dalam kerumitan yang tak perlu.
***
“Kamu gak ngucapin makasi gitu ke aku?” tanya Miko.
Raline langsung membalikan badan setelah mendengarkan ucapan Miko itu. Tadinya ia hendak langsung masuk ke rumah tanpa mengucapkan kata apapun lagi ke pria itu. Namun Miko seolah tak membiarkan dirinya untuk pergi begitu saja.
“Makasi karna lo udah nganterin gue ke rumah?” tanya Raline balik dengan sebelah alis terangkat.
“Iya lah. Kalo gak ada gue, kan lo gak bisa pulang,” jawab Miko.
“Gue kan gak minta lo nganterin gue. Lo yang maksa. Jadi gue cuma nurutin permintaan lo. Di awal kan gue bilang kalo pengennya tuh lo pinjemin HP. Eh, lo gak kasih. Kalo lo pinjemin, gue baru bilang makasih.” Raline menunjukan sikap angkuhnya.
Miko tampak mulai menghela nafas. Pria itu terdiam beberapa saat, lalu melanjutkan perkataannya, “Ngucapin kata makasih itu gak seberat itu Raline. Kenapa sih lo suka memperumit hal yang bisa dibikin sederhana. Say thanks tuh gak bikin derajat lo turun kok.”
Raline tak suka diceramahi, apalagi itu tentang sikap dan pola pemikirannya. Ia merasa tak ada yang pantas untuk memberikannya nasehat, apalagi untuk menegurnya. Termasuk Miko.
“Gak usah ngajarin gue. Jadi lo maunya apa? Mau imbalan apa? Gue akan kasih apapun yang lo mau, asal masih masuk akal,” ucap Raline, angkuh.
“Gue gak mau apa-apa. Yaudah. Masuk ke dalam aja. Gak papa.” Miko tersenyum dengan tatapan sendu.
“Apaan sih. Gak jelas banget lo! Lo maunya apa deh.” Raline mulai kesal dan kehilangan kesabaran.
“Yaudah. Gue pikirin dulu mau gue apa. Nanti kalo udah ketemu, gue kasih tau. Buruan masuk gih. Kasian kalo kulit cantik lo itu digigit nyamuk.”
Raline mengerutkan keningnya mendengarkan gombalan Miko yang terasa garing itu. Ia semakin malas menanggapi ucapan pria itu. Raline menyunggingkan senyum singkatnya, lalu memilih pergi meninggalkan Miko tanpa sepatah katapun lagi.
Raline berjalan memasuki rumahnya, tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia tau Miko akan tetap berdiri di depan rumah, sampai dirinya benar-benar telah masuk ke dalam. Namun Raline enggan berbalik dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Tak ada yang memintanya untuk tetap bertahan di sana. Karena itu, Raline tak merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan perpisahan yang layak.
Raline terus berjalan. Ia melangkah masuk, lalu menutup pintu tanpa menatap ke arah Miko. Kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Memejamkan matanya selama beberapa saat. Hari ini benar-benar terasa panjang dan sangat melelahkan. Untuk bisa sampai ke kamarnya sekarang, ia telah melalui drama cerita yang panjang. Raline akhirnya jatuh tertidur, tanpa membersihkan tubuhnya ke kamar mandi. Ia terlelap tanpa sempat mengganti pakaiannya.
CONTINUED
**************
Hai guys!
Rosemary updated buat menemani hari kalian J Semoga gak Bad Day kayak Raline :’D
Jangan lupa buat love dan komen setiap bab nya. Itu bikin aku semangat nulis lho J
See you!