6. Kecurigaan

2759 Kata
Raline menatap menu sarapannya dengan ekspresi tak berselera. Pagi ini terasa lebih suram daripada hari-hari biasanya. Barisan makanan yang dimasak oleh juru masak rumahnya seakan tampak tak bisa memancing nafsu makannya. Padahal makanan-makanan itu dimasak dengan penuh kesungguhan dan tidak perlu diragukan lagi soal rasanya. Para pekerja juru masak di rumahnya memiliki kemampuan memasak yang sama handalnya dengan cheff di hotel bintang lima. Namun hari ini memang berbeda. Gisela, Mamanya Raline kini ada di rumahnya. Perempuan itu duduk satu meja makan dengan dirinya. Kehadiran Mamanya itu memang benar-benar dirasa tak terduga. Biasanya Mamanya itu akan mengabari kedatangannya satu hari sebelumnya. Raline memang jarang melihat wujud Mamanya itu di rumah. Wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan bermalam di hotel. Raline bahkan bisa menghitung memakai jari kapan wanita itu menghabiskan waktu di rumahnya. Karena itu, ia cukup heran melihat wanita itu menghabiskan pagi ini dengannya. Rasanya memang selalu aneh jika berada satu meja makan dengan Mamanya. Ia tak pernah merasa terbiasa makan bersama dan hanya berdua saja. "Gimana kuliahmu?" tanya Gisela sambil mengunyah nasi goreng yang ada di hadapannya. "Tumben nanya," jawab Raline dengan ketus. Biasanya mereka hanya menghabiskan makanan tanpa mengeluarkan suara. Raline juga biasanya tak tertarik memulai pembicaraan. Tak ada topik yang ingin ia bahas dengan Mamanya itu. Karena itu, Raline lebih menyukai menghabiskan waktu dengan Mamanya dalam kesunyian. "Cuma nanya doang. Emang gak boleh?" Gisela menyantap sesendok nasi gorengnya dengan wajah penuh keangkuhan. Wajah angkuh yang sebenarnya begitu mirip dengan raut angkuh milik Raline. Raline tertawa sinis. Ucapan Gisela begitu menggelikan baginya. "Apa Mama sedang berakting jadi orang tua yang baik? Pengen merambah bisnis ke ranah entertainment gitu? Tumben banget nanya dan ajak aku ngomong," sindir Raline. Raline tak pernah merasa Gisela peduli akan hidupnya. Wanita itu memang tak pernah tertarik dengan apa yang sedang terjadi di hidupnya. Tak pernah ada pertanyaan tentang bagaimana ia menjalani hidupnya sehari-hari. Bahkan Raline merasa Mamanya itu mungkin seringkali lupa jika ia memiliki anak. Raline memandang Gisela hanya suka bersenang-senang, berpesta, dan bekerja. Raline bahkan merasa bila Gisela mungkin lupa jika ia memiliki rumah dan anak yang seharusnya perlu diurus. Ia memang sudah tak begitu mengharapkan perubahan dan perhatian dari Mamanya itu. Raline sudah terbiasa untuk tidak diperhatikan. Ia tumbuh sendiri tanpa kepedulian dari Mamanya itu. Ia sudah cukup kuat untuk hidup sendiri tanpa kehadirannya. Namun mendapat pertanyaan secara mendadak tentang bagaimana kehidupan perkuliahan dari Mamanya itu tentu terasa aneh. Raline tak terbiasa bercerita tentang bagaimana hari-harinya, apalagi bercerita pada Mamanya itu. Gisela tertawa pelan sambil mengunyah makanannya. Kesinisan sangat kental terasa dalam suara tawa dan sorot matanya. "Caramu berbicara memang mirip aku. Aku cuma pengen kamu kuliah yang baik, lalu setelah lulus segera belajar dan terjun ke bisnis perusahaan kita. Mama mulai lelah." "Lelah?" Raline tertawa sinis. "Bilang aja kalo Mama pengen punya lebih banyak waktu dengan pria-pria l***e diluar sana," sindir Raline dengan nada tajam. Raline sudah menduganya. Pasti ada maksud terselubung dari perkataan Gisela yang tak biasa itu. Tak mungkin Mamanya itu tulus mempedulikan kehidupannya. Karena itu, Raline tak merasa berdosa untuk bersikap kasar pada Mamanya itu. Ucapannya adalah sebuah fakta yang tak bisa disanggah, meski memang terdengar kurang aja. Raline sangat tau betapa Mamanya itu sering bermalam di hotel dan menghabiskan waktu dengan berbagai pria. Ia bahkan tak hafal dan tak menghitung sudah berapa banyak pria yang ditudiri oleh Mamanya itu. Gisela langsung meletakan peralatan makannya. Gisela menatap terbelalak ke arah Raline yang saat ini ada di hadapannya. "Rosemary! Jaga ucapanmu! Jangan kurang ajar kamu ke Mama!" teriak Gisela dengan penuh emosi. Namun Raline hanya terdiam beberapa detik dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Mamanya. "Jangan panggil aku dengan nama itu." Raline benci dipanggil dengan nama aslinya. Gisela tentu saja tau fakta itu. Wanita itu memang penuh dengan kesadaran mengucapkan nama itu. Raline tau Gisela sedang sengaja membuatnya kesal. Itu sebagai pembalasan atas ucapan kasar yang baru ia lontarkan pada Mamanya itu. "Rosemary... nama kamu itu Rosemary! Bukan Raline! Kamu bener-bener anak yang aneh. Suka berhalu! Ganti nama sendiri. Cuma Mama yang berhak kasih kamu nama! ," ucap Gisela sambil geleng-geleng kepala. Raline menyunggingkan senyum sinisnya. "Mama juga orang tua yang aneh. Tumben-tumbenan perhatian sama kuliahku dan memarahi sikap kurang ajarku. Selama ini kemana? Aku gak tau gimana caranya jadi anak yang baik... karena Mama gak pernah ngajarin caranya." "Kamu..." Gisela tampak tak sanggup lagi berkata-kata. Emosinya benar-benar memuncak. Sorot matanya menampakan kemarahan yang begitu menyala. Namun Raline tak peduli dengan emosi wanita itu. Ia bahkan berani memotong pembicaraan Gisela. "Udahlah, Ma. Aku gak nafsu makan lagi. Aku cabut ke kampus." Raline langsung bangkit dari kursinya dan enggan mendengarkan lagi ucapan Mamanya. Ia mengabaikan teriakan penuh emosi dari Mamanya dan tetap berjalan keluar rumah. Raline tak tertarik terus berlama-lama menghabiskan waktu dengan Mamanya itu. Perbincangan diantara mereka hanyalah sebuah omong kosong tanpa kelekatan. Ia tak tertarik untuk bermain drama Ibu dan Anak dengan wanita itu. Raline memilih pergi meninggalkan Mamanya yang masih tampak emosi di ruangan itu. Ia terus melangkah tanpa menunjukan kepedulian dan ketakutan pada Gisela yang masih terus berteriak memanggil namanya dengan penuh amarah. Raline terus berjalan menuju garasi mobilnya dan hendak segera meninggalkan rumahnya yang kini terasa seperti di neraka. Mamanya memang jarang tampak di rumah, apalagi mengajaknya berbicara. Jika Mamanya memaksa berbincang dengannya, pasti akan berakhir seperti ini. Bertengkar dan Raline akan meninggalkan ruangan. Sebuah alur cerita yang akan selalu berulang seperti itu bila interaksi diantara mereka terus dipaksakan. Langkah kaki Raline sudah tiba di depan pintu rumahnya. Namun saat Raline hendak membuka pintu, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Selama bebera saat ia meragu untuk mengangkat panggilan telepon itu. Ia memang tak terbiasa untuk menjawab panggilan dari nomor yang tak dikenal. Namun kali ini berbeda. Entah kenapa Raline ingin menjawab panggilan itu. Mungkin karna kondisi hatinya sedang tidak dalam keadaan baik, ia ingin melampiaskannya pada orang dibalik nomor tak dikenal itu. Raline lalu mengangkat panggilan itu dan menjawabnya dengan ketus. "Ini siapa? Tau nomor gue dari mana?" tanya Raline tanpa berbasa basi. Ia sedang tak ingin menunjukan keramahan pada orang asing yang sama sekali tak dikenalnya. Raline tak pernah memberikan nomornya ke sembarang orang. Di kampus, hanya Syeiba dan Claudia yang ia ijinkan memiliki nomornya. Raline menyuruh ke dua orang itu untuk menyampaikan pesan kepadanya bila ada orang kampus yang ingin menghubunginya. Ia menjadikan Syeiba dan Claudia sebagai perantara dirinya dengan orang-orang kampus. Ia tak menyukai nomor ponselnya dimiliki oleh banyak orang. Karena itu, Raline merasa aneh darimana orang yang meneleponnya ini bisa memiliki nomor ponselnya. "Ini Miko. Gue udah di depan rumah lo. Buruan ke sini." jawab Miko sambil tertawa cekikikan. Raline mendengus kesal mendengar nama itu di pagi hari. Suara Miko tak menjadikan suasana hatinya bertambah baik. Justru sebaliknya, mood-nya justru bertambah buruk. Namun ia mencoba menahan emosi hatinya itu. Ia masih mengingat tindakan pertolongan yang diberikan pria itu kemarin padanya. Ia masih ingat bila Miko mengantarkannya sampai ke rumah, meski dirinya tak meminta tindakan itu. Namun menyangkalnya, tak akan menghapuskan fakta bahwa pria itu memang menolongnya. Ia juga belum memberikan imbalan pada pria itu. Namun mengetahui Miko sudah berada di depan rumahnya, membuat Raline mengerutkan keningnya. Ini kali pertama ada pria yang berani berdiri di depan pintu gerbang rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. "Kenapa gue harus nyamperin lo? Lagian gue gak ngundang lo. Mending lo pulang sebelum gue suruh security buat ngusir lo," kata Raline dengan nada mengancam. "Galak amat, Neng. Berangkat ke kampus bareng yuk," ajak Miko. Pria itu tersenyum menggoda ke arah Raline. Miko berusaha membujuk sambil tak lupa menunjukan pesonanya untuk memukau Raline. Namun Raline masih pada sikapnya yang angkuh dan acuh pada Miko. "Ogah!" tegas Raline singkat. "Lo kan punya utang sama gue. Jadi lo gak berhak nolak." Miko tersenyum penuh makna. Pria itu menatap Raline dengan sebelah alis terangkat. Senyum seringainya seakan menyimpan makna yang tersembunyi. Raline mengerutkan keningnya. "Utang? Gue gak punya utang! Halusinasi lo!" "Kemarin gue anterin lo pulang pake mobil. Lupa? Sekarang gue nagih imbalannya." Miko menyodorkan tangannya, sebagai tanda sedang meminta upah pada Raline. Tentu saja upah dalam bentuk kesempatan agar bisa lebih dekat lagi dengan Raline. Raline akhirnya memahami maksud terselubung Miko itu. Ia paham arah pembicaraan ini kemana. Namun ia memilih untuk berpura-pura tak mengerti. "Oh itu... ya udah berapa? Kasih nomor rekening lo, biar gue bayar,” balas Raline dengan senyum sinis. Miko tertawa sambil geleng-geleng kepala. Balasan Raline terasa lucu bagi Miko. Ia tak pernah menemukan seseorang yang membalas perbuatan baik dengan menyodorkan uang. "Gue gak butuh uang lo, Raline. Uang gue emang gak sebanyak lo, cuma itu cukup. Enggak kurang. Gue cuma mau anterin lo ke kampus. Itu aja. Kalo lo nolak, ya gue anggap lo manusia yang gak tau berterima kasih." Miko menatap usil Raline sambil menjulurkan lidah. Raline terkejut mendengar istilah yang dilontarkan oleh Miko. Belum pernah ada orang yang berani bilang ia 'manusia tak tau diri' selama ini. Raline selama ini tak pernah menerima pertolongan orang lain, baru kemarin dirinya menerima bantuan, dan hari ia mendapat istilah ‘manusia tak tau berterima kasih’ bila menolak permintaan seseorang. Raline kini mulai kesal. Perkataan Miko tentu saja mengusik telinga dan pikirannya. Ia tak akan terima mendapat julukan seperti itu. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menuruti keinginan Miko, lalu berencana untuk tidak berurusan lagi dengan pria aneh itu. "Oke. Gue ke depan sekarang," ucap Raline, lalu mematikan panggilan telepon itu. Kemudian Raline mulai berjalan keluar rumahnya. Ia mendengus kesal ketika mendapati Miko sedang bersandar di mobil dan melambaikan tangan ke arahnya dengan wajah penuh kepuasan. Ia bisa menangkap raut kesenangan dari pria itu karna keinginannya telah dituruti. "Gue turutin kemauan lo. Setelah ini, kalo lo masih ganggu gue lagi... rasain akibatnya,” ancam Raline dengan tatapan tajam. Ia menunjukan bahwa dirinya serius dengan apa yang baru saja diucapkannya itu. "Lo harus temenin gue seharian, Raline. Masa utang lo lunas cuma dengan anterin lo ke kampus doang. Gak masuk akal lah. Lo harus temenin gue pokoknya!" balas Miko, tak kalah seriusnya. Raline menatap terbelalak ke arah Miko. Raut wajahnya penuh keterkejutan. "What?! Lo tadi gak ngomong itu di telpon. Lo jangan permainin gue deh! Lo gak tau siapa gue?!" kata Raline dengan penuh emosi. "Lo sekarang mikir deh... lo punya utang karna kemarin gue anterin. Masa cara lunasinnya dengan gue nganterin lo ke kampus? Gak masuk akal lah. Itu mah nambah utang." Miko tertawa. Raline pun terdiam selama beberapa saat. Ucapan Miko itu masuk logikanya. Transaksi ini memang terasa tak masuk akal. Namun apa yang dilakukan Miko pun juga memang tak masuk akal juga. Ia sudah menawarkan uang sebagai imbalan, tapi pria itu menolaknya. Bila ia ingin mengambil keuntungan darinya, seharusnya ia menerima tawaran itu atau mengajukan permintaan lain yang nominalnya jauh lebih besar. "Jadi lo maunya apa?" tanya Raline tak mengerti. Raut wajahnya menunjukan kebingungan. Raline menatap Miko dengan penuh selidik. Ia berusaha menerka apa niat sesungguhnya pria itu. Raline merasa tingkah Miko begitu ambigu. Pria ini berusaha menunjukan ketulusan akan perbuatan baiknya, tapi juga menginginkan imbalan. Imbalan yang bagi Raline terasa tak masuk akal. Tidak meminta uang, tapi tak cukup puas dengan hanya kesediaannya menerima ajakan untuk diantarkan ke kampus. "Temenin gue seharian," jawab Miko singkat. "Kemana?" tanya Raline dengan tatapan tajam. "Kemana pun yang gue mau.” Miko mengedipkan sebelah matanya dengan senyum penuh makna. Namun Raline dengan cepat langsung menolak dan menggelengkan kepalanya. "Gak bisa gitu dong. Kalo lo bawa gue ke hotel gimana?! Gila aja." Raline bergidik ngeri membayangkan hal itu. Ia masih belum bisa percaya Miko begitu saja. Ada kemungkinan pria itu memiliki niat jahat padanya, terutama tubuhnya. Raline menganggap semua pria itu lemah pada nafsu birahinya. Bila dikasih celah, maka dengan mudahnya ia akan dilahap mereka. Karena itu Raline enggan dibawa ke tempat aneh, gelap, sepi, apalagi bila itu hotel. Ia tak sepercaya itu pada Miko. Ia tak yakin pria itu akan melindungi dan tak akan menyentuh tubuhnya. "Enggak lah. Gue janji bakalan bawa lo ke tempat umum kok. Bukan tempat private kayak gitu. Tenang aja." Miko berusaha menenangkan Raline. Pria itu berusaha menghapus keraguan dan ketakutan Raline. "Sampai jam berapa?" tanya Raline, masih dengan sikap penuh curiga. Raline berusaha membuat semuanya sejelas mungkin. Ia tak mau masuk perangkap pria yang ada di hadapannya ini. "Jam 10 malam gue balikin lo ke rumah,” jawab Miko dengan nada penuh keyakinan. "Oke! Abis ini kita gak ada urusan lagi ya! Inget itu." Raline mengacungkan jari telunjuknya ke arah Miko. Tatapan matanya tajam. Miko tak menjawab dan hanya tersenyum sambil membukakan pintu untuk Raline. "Yuk berangkat," ajak Miko. Meski Raline mendengus kesal, tapi ia tetap masuk ke dalam mobil Miko. Raline sebenarnya merasa tak nyaman berada di mobil orang lain. Namun untuk kali ini ia mencoba untuk menahannya dan menuntaskan urusan dengan Miko agar tak berhubungan lagi dengan pria aneh ini. Ia benar-benar ingin menghapuskan urusan Setelah Miko masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari kursi belakang. "Ini buat lo," ucap Miko sambil menaruh sebuket bunga dan kotak makan siang ke pangkuan Raline. "Ini apa?" tanya Raline sambil menyipitkan matanya. "Bunga dan bekal makan siang lo," jawab Miko. "Gue juga tau! Gue kaga b**o Miko! Maksud gue... ini maksudnya apa?" tanya Raline dengan wajah kesal. Ia tak sebodoh itu untuk tidak tau dua benda yang kini ada dipangkuannya. "Itu hadiah buat lo. Dulu lo pernah bilang kan kalo gue pengen ngedeketin lo karna ada maunya. Nah sekarang gue akan buktiin, kalo gue bakalan lebih banyak memberi dari pada menerima." Miko tersenyum dan menatap Raline dengan lekat. Raline tersenyum sinis. Ia merasa Miko pandai sekali bermain kata dan trik untuk meyakinkannya. "Oke... kita liat nanti." Raline membiarkan bunga dan kotak makanan itu tetap berada di dalam pangkuannya. Namun ia mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil. Ia tidak mau Miko mendapat kesan bila ia senang menerima ke dua benda itu darinya. Ia tetap ingin tampil angkuh. Ia tak ingin Miko melihat perasaannya yang sesungguhnya. Ini kali pertama Raline menerima hadiah dari seorang pria. Kali pertama juga ia mau menerima pemberian seseorang. Sesungguhnya buket bunga itu begitu indah. Mawar merah itu disusun begitu cantik dengan hiasan kertas putih dan pita merah di tengahnya. Kotak bekal makan siang itu juga tampak enak. Raline bisa mengintip isinya karena tutup kotak itu berwarna bening. Miko ternyata memberinya sushi yang tampak begitu menggiurkan. Raline masih tampak enggan mengakuinya. Ia masih membisu dengan tatapan mata yang masih terus menatap jendela. Suasana di dalam mobil itu sebenarnya tak hening. Miko menyalakan musik akustik yang menyejukan suasana. Namun lantunan musik itu tak lantas membuat interaksi Raline dengan Miko menjadi hangat. Mereka masih sama-sama membisu selama beberapa saat. “Lo emang biasa diem begini yah? Ngomong gitu,” ucap Miko tiba-tiba. Perkataan Miko terdengar seperti keluhan di telinga Raline. Ia membalasnya dengan tatapan sinis. “Kenapa harus gue yang mulai ngomong duluan?” tanya Raline dengan sebelah alis terangkat. Miko tertawa pelan. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi heran. “Kenapa lo tuh gengsi banget sih jadi orang. Kenapa harus memperdebatkan siapa yang harus mulai duluan.” Raline mulai kesal. Ucapan Miko seperti sedang mengkritik sifatnya. Belum pernah ada orang yang berani membalas perkataannya begitu tajam. “Kenapa lo gak mulai duluan buat ngomong? Kenapa lo harus ngebahas tentang itu? Jikalaupun gue bener gengsi, lo berarti sama aja kayak gue,” balas Raline. Miko tersenyum lebar. “Ternyata berantem sama lo menyenangkan juga ya. Yah lebih baik daripada diem-dieman kayak tadi.” Raline menatap heran ke arah Miko. Pria itu benar-benar aneh. Cara pria itu mengajaknya berbicara memang terasa tak biasa. “Lo aneh,” sindir Raline. “Sama. Lo juga aneh. Kita cocok berarti. Kita jadian aja gimana?” canda Miko. Raline tertawa sinis sambil geleng-geleng kepala. Tingkah Miko semakin lama semakin tampak konyol di matanya. “Gak usah mimpi deh.” “Kalo sampe mimpi itu jadi kenyataan gimana?” tanya Miko. “Lo gila ya?!” Raline menatap kesal ke arah Miko. “Pemimpi selalu disebut gila sebelum mimpinya jadi kenyataan.” Miko mengedipkan matanya ke arah Raline dengan senyum penuh makna. Raline menghela nafas kesal. Miko memang pria yang pandai berkata-kata. Terlalu pandai hingga Raline kesulitan membalas ucapan pria itu. Pada akhirnya ia hanya bisa mengalihkan pandangannya kembali ke kaca mobil. Berusaha memperhatikan pemandangan jalanan dan mengabaikan suara tawa Miko yang terdengar puas karna telah meledeknya. Raline enggan menatap wajah pria itu hingga laju mobil sampai ke parkiran kampusnya. Ia benar-benar berharap ini kali terakhir dirinya berada satu mobil dengan pria aneh itu. CONTINUED ***************** Hai guys! Aku pikir... alur cerita Rosemary gak akan bisa kalian tebak endingnya :D *ketawa nakal. Jangan lupa vote dan kasih love-nya buat story ini ya! Luv! :)           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN