Raline menutup buku catatannya dan memasukannya ke dalam tas ketika dosen mengatakan kuliah telah usai. Ia melirik jam tangannya dan ternyata waktu masih menunjukan Pukul 15.00. Rasanya lucu jika ia langsung pulang ke rumah, padahal matahari masih belum terbenam.
Lagipula di rumahnya sedang tidak ada sesuatu yang menarik. Rumah itu masih terasa sepi. Hanya ada para pembantu, supir, dan penjaga keamanan. Mamanya juga pasti sedang bekerja dan selepas itu pasti sibuk bermain dengan berbagai pria. Raline sedang tak ingin menghabiskan waktu dengan sendirian.
Raline memang tak menyukai keramaian dan seringkali menyukai kesunyian. Namun bila rasa bosan menyerang, ia benci kesendirian. Ia tak ingin menghabiskan waktu di rumah tanpa memiliki kegiatan dan percakapan dengan orang lain.
Raline melirik ke arah Syeiba dan Claudia. Dua manusia yang ia sebut sebagai temannya itu. Mereka tampak sedang asik berbincang berdua, tanpanya. Ia memang jarang ikut masuk percakapan mereka bila sedang di dalam kelas.
Raline lalu mengetuk pelan pulpennya, tanda bahwa ia sedang ingin berbicara dengan mereka. Syeiba dan Claudia tentu langsung menghentikan percakapan mereka, lalu menoleh ke arah Raline.
"Kalian punya rencana apa abis ini?" tanya Raline ke arah Syeiba dan Claudia yang duduk di sebelahnya.
Claudia bergumam dengan kening berkerut. "Ehmm... gak ada sih. Tadinya gue mau jalan sama Marco, tapi di cancel. Huft.” Claudia menghela nafasnya dengan kepala tertunduk. Gurat kesedihan mulai tampak di raut wajah gadis itu.
Syeiba geleng-geleng kepala melihat Claudia. Syeiba menatap heran ke arah Claudia. "Itu namanya lo baru dicampakin sama tuh cowok. Tinggalin aja. Cari yang lain," timpal Syeiba.
Claudia tampak kesal dengan komentar asal Syeiba dan melirik sinis ke arahnya. "Siapa yang dicampakin? Gue? Sorry... gue bukan lo yang dengan mudahnya dibuang Erlangga," balas Claudia.
Syeiba memukul keras mejanya dan menatap tajam ke arah Claudia. "What?! Heh jaga ya mulut lo!" Syeiba mengacungkan jari telunjuknya ke arah Claudia dengan raut wajah penuh emosi.
Emosi Claudia mulai tersulut. Claudia ikut memukul keras mejanya. Tatapan matanya tak kalah tajam dari Syeiba. “Apa?! Yang perlu jaga mulut tuh elo! Gue gak suka ya lo nuduh gue dicampakin! Gue itu gak mungkin dicampakin!” teriak Claudia.
“Lo tuh gak berubah-berubah ya! Begonya tetep gak ilang-ilang! Masih gak bisa bedain mana cowok yang serius dan mana yang cuma mau mainin doang! Buka mata lo!” balas Syeiba, nada bicaranya tak kalah tingginya.
Raline mendengus kesal melihat tingkah ke dua temannya itu. Dimatanya Syeiba dan Claudia bertengkar terlalu berlebihan, hingga semua mata yang ada di kelas itu terpusat ke arah mereka. Sumber pertengkaran itu juga tak jelas arahnya. Raline tak mengerti kenapa mereka bertengkar hanya karena tentang pria.
Raline awalnya hanya ingin bertanya tentang rencana mereka selepas dari kampus ini. Ia tak mengerti kenapa pertanyaannya itu berakhir dengan sebuah pertengkaran. Seketika ia mulai malu melihat tingkah ke dua temannya itu.
Raline mulai kesal melihat Syeiba dan Claudia yang tak henti-hentinya berdebat dan melemparkan emosi. "Gue cuma nanya kalian ada rencana apaan abis ini. Kenapa jadi berantem sih! Kayak orang kampung aja tingkah kalian!"
Suasana seketika menjadi hening. Ketika Raline sudah mengeluarkan emosinya, tak akan ada yang berani mengeluarkan suara di ruangan itu. Termasuk Syeiba dan Claudia.
Syeiba dan Claudia pun akhirnya terdiam. Mereka menghentikan pertengkaran ketika melihat sorot kesal di mata Raline. Mereka tau apa yang akan terjadi jika tak mengindahkan ucapan Raline yang mulai emosi. "Gue juga gak ada rencana apa-apa sih, Lin. Jadi lo mau aja kita kemana?" ucap Syeiba dengan nada penuh kehati-hatian.
Raline menghela nafas, lalu terdiam selama beberapa saat. Ia berusaha menenangkan emosi hatinya yang tadi sempat memuncak. Ia tak ingin melanjutkan amarahnya kepada Syeiba dan Claudia. Mereka sudah berhenti bertengkar, itu cukup untuknya saat ini. Raline ingin kembali membuat keadaan lebih jelas, seperti semula. Ia berusaha mengabaikan rasa kesalnya dan memilih kembali mengutarakan maksud awalnya kepada ke dua temannya itu.
"Jalan yuk. Kemana aja. Gue males pulang kalo masih sore begini," ajak Raline.
"Oke. Gimana kalo kita mampir ke restoran yang baru dibuka nyokap gue aja?" usul Claudia yang masih tampak penuh kehati-hatian. Claudia masih takut memancing emosi Raline. Ia tak ingin mencari perkara dengan Raline. Itu sangat berbahaya.
"Boleh tuh. Gimana, Lin?" tanya Syeiba sambil melirik ke arah Raline.
Syeiba dan Claudia sebenarnya masih enggan untuk saling berbicara. Mereka lebih ingin pergi dari ruangan itu dan saling menjauh. Namun mereka lebih memilih memendam amarah itu dan menuruti keinginan Raline.
Raline mengangguk setuju. "Boleh. Yaudah kita cabut ke sana."
Raline mengambil tasnya, lalu bangkit berdiri dari kursinya. Ia berjalan keluar kelas dengan Syeiba dan Claudia yang setia mengikuti langkah kakinya dari belakang. Namun laju jalannya terhenti ketika melihat Miko telah berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan ke arahnya.
"Hai," sapa Miko.
Raline mengerutkan keningnya dan menatap heran ke arah Miko. Pria itu begitu berani berdiri di sana, menatap wajahnya penuh percaya diri dengan gurat senyum begitu manis. Selama beberapa detik, Raline begitu takjub dengan kehadiran mendadak Miko itu.
"Ngapain lo?!" tanya Raline dengan mata terbelalak.
Suasana di kelas tentu kembali menjadi hening dan tegang. Bahkan Syeiba dan Claudia pun ikut tak berani mengeluarkan suara. Semua orang yang ada di sana berusaha menebak situasi yang sedang tersaji di pintu kelas itu. Seluruh tatapan mata kini tersaji tepat ke arah Raline dan Miko.
Miko tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala. "Kan lo punya janji kencan bareng gue," jawab Miko sambil menaikan sebelah alisnya.
Raline terdiam. Ia baru ingat percakapan mereka tadi di mobil. Ia memang telah berjanji untuk melunasi hutang budinya dengan sekali kencan. Namun ia tak menyangka bila Miko akan benar-benar menagihnya. Seketika Raline langsung menyesali ucapannya itu. Seharusnya ia lebih keras menolak dan menawaran balasan dalam bentuk lain. Namun penyesalan tetaplah penyesalan. Ucapan yang sudah dilontarkan tak akan mungkin ditarik kembali.
"Lupa? Lo tadi kan udah janji sama gue pas di mobil," ucap Miko.
Claudia dan Syeiba terlihat kaget mendengar ucapan Miko. Raline bukan tipe orang yang sering dekat dengan pria. Bahkan Raline pernah menyanggah tawaran untuk mencoba dengan Miko. Karena itu, Claudia dan Syeiba menatap tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar oleh mereka.
"Lo berangkat ke kampus bareng Miko?!" tanya Syeiba dengan ekspresi takjub.
"Lo janji kencan sama dia?!" timpal Claudia.
Raline menatap kesal Miko yang secara terang-terangan mengumbar percakapan pribadi mereka. Siapapun yang mendengarnya akan mengira telah terjadi sesuatu yang tak biasa diantara mereka. Raline mendekati Miko dengan tatapan tajam. "Lo pengen menggiring opini orang-orang kalo kita deket?! Cih! Lo emang gak ada bedanya sama cowok-cowok lain," ucap Raline dengan penuh kegeraman.
"Lho salah gue apa? Gue cuma mau lo tepati janji buat bayar utang. Lo yang ngutang, tapi lo lebih galak dari gue. Orang-orang emang biasanya begitu ya. Heran," balas Miko sambil geleng-geleng kepala.
"Lo ngutang, Lin? Gila! Duit lo udah abis?!" seru Claudia. Mata Claudia begitu terbelalak dengan raut wajah tak percaya.
Syeiba menyikut pelan lengan Claudia, ketika melihat wajah Raline mulai berubah tak suka. "Gak mumgkin lah Raline utang duit. Ini pasti utang yang lain," bisik Syeiba, yakin.
Raline semakin menatap Miko dengan penuh amarah. Pria ini sukses memancing emosi Raline hingga ke puncaknya. Situasi semakin dibuat rumit olehnya. Miko memang sengaja menarik perhatian dan memancing amarahnya. Raline tau pria ini hanya ingin dituruti keinginannya untuk memiliki kesempatan lebih dekat dengan dirinya. Namun cara nekat Miko cukup membuat Raline benar-benar geram.
"Lo cuma butuh satu kali kencan, kan? Oke... tapi kalo lo ganggu gue lagi, lo bakal terima akibatnya," ancam Raline, serius. Raline menatap Miko setajam mungkin agar pria itu bisa melihat keseriusan ancamannya itu.
Miko tersenyum, lalu menarik tangan Raline dan menggenggamnya. "Ayo pergi," bisik Miko.
Namun Raline langsung mengibaskan tangan Miko dengan kasar. "Jangan sentuh gue!" tegas Raline. Ia menatap Miko dengan penuh amarah. Baginya, Miko bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk menyentuhnya.
“Baiklah. Oke. Gue gak nyentuh,” ucap Miko sambil mengangkat tangannya ke atas. Kemudian tertawa geli melihat wajah Raline yang masih terlihat penuh amarah.
Raline bertambah kesal mendengar tawa Miko itu. Namun ia memilih diam, tak meluapkan ketidak sukaannya itu. Terlalu banyak mata yang kini sedang menatap dirinya dan Raline mulai merasa tidak nyaman dengan sorot perhatian yang begitu intens ke arahnya. Sudah cukup keributan yang ia buat hari ini. Raline menghela nafasnya, berusaha menenangkan emosi hatinya selama beberapa saat. Kemudian akhirnya memilih untuk berjalan tanpa mengajak Miko. Ia membiarkan pria itu untuk melangkah di belakangnya, bukan di samping dirinya.
Raline melangkah dengan angkuh menuju tempat parkiran mobil sambil berusaha memendam rasa amarahnya pada Miko. Namun setelah keluar dari gedung fakultasnya, Raline baru tersadar bahwa ia tak tau dimana posisi tepatnya mobil Miko terparkir. Jika saja tadi pagi Raline berangkat dengan mobil miliknya, maka ia tidak harus pergi menggunakan mobil pria menyebalkan itu.
Raline lalu menoleh ke arah belakang dan menatap kesal ke arah Miko. Sesungguhnya ia gengsi untuk menanyakan pertanyaan itu. Seolah dirinya sangat butuh untuk menumpang di mobil pria itu. Namun bila ia diam saja, maka ia juga akan semakin lama bersama pria itu dan terjebak disampingnya tanpa kejelasan. Raline mendengus kesal, lalu bertanya, "Mobil lo parkir dimana?"
Miko tertawa nyengir sambil geleng-geleng kepala. "Gue pikir lo tau, makanya pede banget jalan duluan. Gue parkir di sana." Miko menunjuk area parkir di depan gedung fakultasnya. Miko akhirnya berjalan di depan Raline sambil tertawa. Pria itu tampak puas membuat Raline kebingungan dan emosi sendirian.
Raline memang berdecak kesal, tapi tetap mengikuti langkah kaki Miko dari belakang. Ia bertekad menuntaskan semua urusan dengan pria itu lalu mencampakannya. Setelah Miko membukakan pintu untuknya, Raline segera masuk tanpa mengucapkan terima kasih. Ia sedang merasa amat sangat kesal, hingga tak ingin mengucapkan kata itu pada pria menyebalkan ini.
"Kita berangkat ya," ucap Miko sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Kemana? Lo belum kasih tau gue kita mau kemana Miko!" tanya Raline dengan nada ketus dan penuh penekanan.
"Rahasia." Miko tersenyum penuh makna sambil perlahan memacu laju mobilnya.
"Kalo lo sampe bawa gue ke tempat gak bener... lo selamanya gak akan pernah ngeliat kampus lagi," ancam Raline. Ini kali pertama Raline membiarkan seorang pria membawanya pergi tanpa tau kemana arah tujuannya. Karena itu, ia sedikit khawatir. Apalagi tidak ada pengawal di sampingnya saat ini. Bila Miko berniat jahat padanya, tak ada yang bisa ia andalkan untuk bisa melindungi dirinya.
"Tenang aja. Ini tempat yang spesial kok. Bener-bener spesial," jawab Miko sambil mengedipkan matanya.
Namun kata tenang yang dilontarkan oleh mulut Miko tak sedikitpun membuat Raline benar-benar tenang. Ia tetap cemas, tapi memilih tak mengungkapkannya. Raline akhirnya menatap ke arah jendela mobil. Ia enggan melihat wajah Miko yang saat ini tampak fokus mengendarai mobil. Hanya dengan menatap wajah pria itu, emosi Raline pasti kembali naik ke titik puncak. Ia memilih memasang earphone, menatap pemandangan lewat kaca jendela mobil sambil mendengarkan lagu.
***
Raline tampak sangat bingung ketika Miko memarkirkan mobilnya. Ia menatap bangunan yang kini tersaji di depan matanya. Papan nama bangunan itu tertera tulisan “Panti Asuhan Kasih”. Ia tak percaya laju mobil itu akan berhenti didepan panti asuhan. Tempat ini diluar dari perkiraannya. Benar-benar tak terpikirkan olehnya.
Rasanya ini bukan tempat yang biasa dikunjungi sepasang kekasih untuk berkencan. Tidak ada pria waras yang mengajak wanita ke panti asuhan untuk berkencan. Miko benar-benar pria yang aneh. Raline tak mengerti kenapa pria itu mengajak berkencan di panti asuhan.
"Lo udah hilang akal ya?" Raline menatap heran Miko.
Namun Miko hanya tersenyum dan fokus membenarkan posisi parkir mobilnya. Pria itu masih diam membisu, tak menjawab pertanyaan Raline.
"Kita mau ngapain sih di sini?!" tanya Raline lagi dengan suara yang semakin meninggi. Ia semakin kesal karna Miko terus mengabaikan pertanyaannya.
"Turun yuk," ajak Miko.
"Lo jelasin dulu. Kita ngapain," tegas Raline dengan nada semakin meninggi. Ia enggan melangkahkan kakinya untuk keluar dari mobil sebelum pertanyaannya dijawab.
"Temenin gue berkunjung ke panti. Anggap aja ini kencan. Emang lo ngarepin kencan yang romantic?" Miko menatap curiga Raline dengan sebelah alis yang terangkat.
Raline melongo mendengar ucapan Miko. Tuduhan itu begitu menggelikan baginya. Bagaimana mungkin ia mengharapkan kencan romantis dengan pria yang ada di sampingnya itu. Miko bukan pria tipenya! Tuduhan itu benar-benar terasa begitu menjijikan.
"Aish! Ya udah ayo turun!" bentak Raline dengan tatapan kesal, lalu membuka pintu mobil. Ia keluar dari mobil itu dengan emosi yang masih memuncak. Berhadapan dengan Miko memang selalu sukses membuat suasana hatinya begitu buruk.
Raline berjalan mengikuti langkah kaki Miko dengan raut wajah tak bersemangat, bahkan bersungut-sungut. Ia masih tak mengerti jalan pikiran Miko, apalagi melihat pria itu bersusah payah membawa dua plastik snack dan cokelat. Raline bingung sejak kapan Miko menyiapkannya. Namun ia enggan untuk menanyakannya dan memilih berjalan dengan tanpa bersuara.
Raline menatap bangunan panti asuhan yang kini ada di depan matanya. Bangunan itu cukup tua, tapi tampak terawat. Bagi Raline bangunan itu terlihat seperti sebuah musium antik. Lantainya hanya dilapisi semen, tanpa keramik. Atapnya menggunakan genteng biasa. Dinding bangunan itu setengahnya menggunakan bata dan setengah lagi menggunakan kayu yang terlihat masih kokoh. Design bangunan itu mengingatkannya pada bangunan lama khas sebuah kota tua.
Raline berjalan kepayahan menggunakan sepatu hak tingginya. Halaman panti asuhan ini masih berupa tanah berumput. Hujan yang baru saja selesai membuat tanah itu begitu basah, sehingga membuat hak sepatu Raline sering kali tersangkut. Ia begitu kesal setiap kali harus menarik kakinya dari tanah basah itu. “Kalo gue tau bakalan ke sini, gak bakalan gue pake sepatu hak! Lo tuh bener-bener ya! Nyusahin gue aja!” gerutu Raline.
Miko tertawa sambil geleng-geleng kepala. Pria itu tampak puas membuat Raline kesusahan. “Jangan banyak ngeluh. Ini tempat yang akan ngajarin lo kalo kesulitan yang lo hadapi sekarang tuh gak ada apa-apanya.”
Raline mendengus kesal. Khotbah Miko terasa seperti omong kosong. Buat apa belajar di panti asuhan. Bagi Raline ini bukan tempat belajar, tapi tempat sumbangan. Di matanya, Panti asuhan hanya sebuah tempat menjual belas kasihan untuk mendapatkan uang. Ia tak tertarik untuk berkunjung ke sana hanya untuk memberikan sumbangan. Metode transfer terasa lebih mudah. Hadiah dan sembako bisa dikirim saja. Berkunjung ke panti asuhan terasa seperti membuang waktu dan tenaga saja baginya.
Raline masih meneruskan langkah kakinya dan mengikuti Miko dari belakang, meski hatinya masih terus bersungut-sungut. Ia lebih kesal lagi ketika melihat pria itu begitu acuh dan mengabaikan keluhannya. Namun Raline memang tak memiliki pilihan lain selain menuruti Miko. Ia sudah terlanjur ada di sana.
Raline mengerutkan kening ketika melihat Miko menyapa ramah seorang pria tua yang sedang berdiri di depan pintu. Pria tua itu menyapa hangat Miko dan juga dirinya. Raline tak membalas senyuman pria tua itu. Ia tetap memasang wajah angkuh dan acuh. Berusaha berjalan anggun, meski sepatu hak tingginya terus tersangkut ke dalam tanah.
"Hai, Mas. Anak-anak udah nunggu tuh di dalam.”
Miko membalas sapaan itu dengan senyuman. “Hai, Pak. Udah lama ya aku gak ke sini.”
“Wah. Udah lama. Kemana aja, Mas?”
“Aku sibuk kuliah dan kerja, Pak. Makanya baru sempet ke sini,” jawab Miko.
“Neng ini siapa?" Pria paruh baya berpakaian security itu mulai menatap Raline dari ujung kaki sampai kepala dengan senyum ramah. "Pacarnya ya? Cantik juga, Mas." Pria itu menyenggol lengan Miko sambil tertawa cekikikan.
Raline menatap sinis pria paruh baya itu. Kalimat itu tak terasa seperti pujian di telinganya. Bagaimana mungkin ia bisa dikira sebagai kekasih Miko!
"Hahaha. Ibu ada di dalam, Pak?" tanya balik Miko.
"Ada kok. Lagi di ruang bermain sama anak-anak."
"Oke. Saya ke dalam dulu ya," pamit Miko.
Raline kembali melangkah setelah Miko memberi kode untuk mengikutinya. Sekilas ia melirik sinis ke arah security, sebelum melewati pintu gerbang. Kemudian ia berjalan angkuh di belakang Miko. Ia tak tau akan berujung kemana. Namun ia tak memiliki pilihan untuk membantah.
"Lo gak mau bantuin megang plastik ini?" Miko menyodorkan plastik yang dipegangnya ke Raline, berharap gadis itu akan membantunya.
"Ogah. Gue bukan pembantu!" tolak Raline dengan kasar. Ia tak pernah disuruh seumur hidupnya, apalagi oleh seorang pria. Ia terbiasa untuk menyuruh, bukan disuruh. Karena itu, Raline cukup kesal melihat Miko berani menyuruh dirinya. Meskipun itu hanya untuk perkara memegang kantong plastik. Bagi Raline itu tak ada bedanya dengan memerintahnya.
Miko menghela nafas melihat tingkah Raline. Pria itu mencoba bersabar meski terus mendapat perlakuan dan perkataan kasar. Jika orang lain, pasti sudah amat sangat tersinggung dan penuh emosi menghadapi Raline. Namun Miko terus mencoba untuk terus bersabar. "Baiklah. Kita ke ruangan sana. Anak-anak lagi main sama Ibu panti," ucap Miko sambil menunjuk ke arah ruangan yang terletak di sudut.
"Terserah lah. Gue mau cepet pulang. Di sini panas tau gak!" keluh Raline. Tangan Raline mulai mengelap keringat yang mulai membasahi keningnya. Ia lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya. Kemudian berusaha menghilangkan panas yang dirasakannya dengan menggunakan kertas itu sebagai kipas.
"Sabar ya, Raline. Yuk ketemu anak-anak dulu." Miko menyunggingkan senyum manisnya.
Raline hanya membalasnya dengan tatapan sinis, lalu melanjutkan langkah kakinya mengikuti Miko. Ketika mereka telah tiba di pintu ruang bermain, Raline sekilas melirik ke dalam ruangan itu. Ada sekitar lima puluh anak sedang menggambar, bermain lego, atau sekedar berlarian. Raline hanya menghela nafas kesal ketika menyadari ruangan itu hanya memiliki beberapa kipas angin sebagai pendingin ruangan.
Ruangan itu terasa panas bagi Raline. Selama ini ia tak pernah hidup tanpa pendingin ruangan. Di rumahnya bahkan tak ada benda bernama kipas angin. Ini kali pertama Raline membiarkan tubuhnya dibasahi keringat karna suhu ruangan yang terasa panas.
Helaan nafas Raline bertambah berat ketika melihat kerumunan anak-anak yang ada dihadapannya. Ia benci anak kecil. Baginya mereka hanya sekumpulan bocah yang akan membuat kepalanya sakit. Raline terbiasa hidup sendiri. Ia tak pernah hidup atau bergaul dengan anak-anak. Ia menolak untuk bersikap sok ramah dan riang hanya untuk membuat dirinya disukai mereka.
"Anak-anak! Bang Miko datang nih. Liat Abang bawa apa?" teriak Miko sambil mengangkat dua kantong plastik yang dibawanya.
Raline langsung melongo ketika melihat lima puluh anak berteriak kegirangan dan berlarian ke arah Miko secara bersamaan. Ia cukup kaget melihat Miko dikerubungi anak-anak yang saling berebutan untuk memeluknya. Raline merasa heran kenapa pria aneh itu bisa disukai oleh anak-anak.
"Sabar... sabar... kalian harus antri kalo mau dapet snack dan cokelat dari Abang." Miko berusaha menenangkan anak-anak itu. Pria itu mengangkat kantong plastik yang ada di tangannya begitu tinggi, agar tak bisa digapai oleh mereka.
Seketika anak-anak langsung menurut dan berbaris rapi ruangan. Suasana yang semula begitu riuh, kini berubah menjadi hening. Miko memberi isyarat agar anak-anak bisa mengantri dengan tertib. Setelah suasana telah dirasa kondusif, Miko lalu membagikan cokelat dan snack itu satu per satu sambil mengelus lembut kepala setiap anak.
Raline hanya bersandar di tembok sambil memperhatikan aktivitas Miko. Tatapannya tak lepas ke arah kerumunan anak yang tersenyum bahagia hanya karena kehadiran Miko dan sedikit hadiah cemilan. Raline tak pernah menghadapi anak kecil, apalagi dalam jumlah yang banyak. Ia cukup penasaran bagaimana Miko bisa mengontrol perilaku mereka hingga bisa menurut seperti itu.
Raline menatap Miko selama beberapa saat. Diam-diam hatinya mulai merasa kagum sekaligus tersentuh akan bagaimana pria itu memperlakukan anak kecil. Sesuatu yang tak mungkin bisa ia lakukan.
"Mbak temennya Miko atau pacarnya?"
Raline begitu terkejut mendengar suara tiba-tiba itu. Ia langsung menoleh ke arah belakang, memeriksa siapa yang mengajukan pertanyaan itu. Seorang Ibu paruh baya kini berjalan ke sampingnya dan menyapa Raline dengan senyum ramah. Ibu itu memakai sanggul sederhana dengan setelan busana yang tampak usang di mata Raline. Tampilannya begitu kuno. "Ibu sendiri siapa?" tanya Raline dengan tatapan heran.
"Oh iya. Saya belum perkenalan diri ya. Saya Ibu Dita, pemilik yayasan panti asuhan ini. Kamu?"
"Raline," jawab Raline singkat. Ia masih merasa aneh bersikap ramah pada orang asing. Lagipula tak ada keuntungan baginya untuk akrab dengan seseorang yang hanya dari pemilik yayasan panti asuhan.
"Siapanya Miko?" tanya Bu Dita, penasaran.
"Emang kenapa?" tanya Raline sambil menaikan sebelah alisnya.
Bu Dita membalasnya dengan senyuman, meskipun sikap Raline sebenarnya tergolong kasar dan bisa menyinggung hati. "Karna kamu wanita pertama yang dibawa Miko ke sini. Makanya saya ngerasa kamu pasti spesial buat Miko."
"Emang tempat ini wow banget ya? Kenapa ngira aku ada hubungan spesial sama dia hanya karna aku ada di tempat ini?" tanya Raline lagi dengan senyum sinis.
"Tempat ini wow bagi Miko. Anak-anak di sini udah anggap Miko kayak Abang mereka sendiri. Miko udah berdonasi dan bermain dengan anak-anak di sini selama sepuluh tahun. Mungkin karna dia anak tunggal, makanya dia betah main di sini. Miko gak pernah bawa cewek ke sini. Berarti kamu spesial buat dia," jawab Bu Dita.
"Oh..."
Raline tampak seolah tak acuh dengan penjelasan Bu Dita. Namun sebenarnya ia mendengarkan dengan seksama sambil menatap Miko yang tampak asik bersenda gurau dengan anak-anak panti asuhan di ruangan itu. Pikirannya langsung melayang dengan sebuah kalimat yang terus berputar di kepalanya.
"Mungkinkah Miko memang berbeda dari pria pada umumnya?"
Namun Raline langsung menyingkirkan pikiran gila itu dari kepalanya. Ia tak ingin menaruh harapan pada pria yang masih asing baginya. Ia baru mengenal Miko. Rasanya terlalu cepat untuk menyimpulkan pria itu berbeda dengan pria-pria lainnya. Itu terlalu beresiko. Raline tak ingin terlalu cepat membuka hati, lalu jatuh sendiri karna ekspektasinya yang keliru.
Raline langsung memalingkan wajahnya. Ia enggan menatap berlama-lama Miko. Raline takut hatinya jatuh pada pria itu.
“Ibu ke dapur dulu ya. Ini udah waktunya nyiapin makanan buat anak-anak. Ibu tinggalin kamu sendiri ya di sini,” ucap Bu Dita sambil menepuk pundak Raline.
Raline menoleh sebentar ke arah wanita paruh baya yang masih berdiri di sampingnya itu. Kemudian mengeluarkan ponsel, lalu sibuk memperhatikan layar ponselnya. Ia memang tak tertarik untuk bercakap dengan wanita itu terlalu lama sedari awal.
“Ramah sedikit. Miko gak terlalu suka dengan wanita yang tak menunjukan keramahan sama sekali.” Bu Dita tersenyum, menatap penuh makna, lalu menepuk pundak Raline dengan pelan. Kemudian meninggalkan Raline seorang diri.
Raline hanya mendengus kesal. Ia tak peduli dengan dengan tipe wantia kesukaan Miko. Ia hanya melirik sekilas ke arah punggung wanita paruh baya itu, lalu kembali menatap layar ponselnya. Ia lebih nyaman sendirian daripada harus bersama orang asing.
“Lo bosen ya di sini?”
Raline menatap Miko yang kini telah berdiri di depannya. Raut wajahnya berubah menjadi kesal ketika mendapati kehadiran pria itu yang baru muncul sekarang. “Menurut lo aja! Ini tempat yang menyenangkan atau enggak. Menurut lo gue bakalan gak bosen gitu berdiri di11 sini lama-lama?!”
“Weits... sabar, Mbak. Udah ngegas aja. Kan saya nanya,” balas Miko sambil menepuk pundak Raline, berusaha menenangkan gadis yang ada dihadapannya itu.
Namun Raline langsung menepis tangan Miko. Ia tak suka disentuh oleh pria itu. “Pertanyaan lo itu gak bermutu! Lo pikir aja sendiri jawabannya. Muka gue happy atau enggak ada di sini!” Raline menatap terbelalak Miko. Nada tinggi dan ketusnya menampilkan kekesalan hatinya.
Miko menghela nafas. “Baiklah. Ayo kita pergi sekarang.”
“Sekarang! Kaki gue udah pegel setengah mati berdiri di sini kelamaan!” keluh Raline. Ia menghentakan kakinya. Berdiri terlalu lama menggunakan sepatu berhak tentu tak nyaman. Betis kakinya mulai terasa kebas. Lutut kakinya mulai merasakan sakit.
“Siapa juga yang nyuruh lo berdiri terus. Di sana kan ada kursi. Lo bisa duduk di sana. Ngapain harus berdiri. Raline... Raline... ada-ada aja.” Miko geleng-geleng kepala sambil menatap0 heran ke arah Raline.
“Gue gak suka duduk di sana! Kotor! Debu! Kalo tau gue bakalan berakhir kayak begini, gak bakalan gue setuju turutin kemauan lo!”
Miko tertawa. “Jangan marah-marah terus ah. Nanti kecantikannya luntur. Cepet keriput.”
“Yang mancing kemarahan gue tuh siapa?!” Raline semakin meninggikan suaranya.
Miko langsung menaruh jari telunjuknya ke depan mulut, isyarat untuk menyuruh Raline mengecilkan volume suaranya. “Jangan teriak-teriak. Di sini banyak anak-anak. Gak enak. Dikira kita lagi berantem. Contoh yang gak bagus itu.”
Raline mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya. “Cepetan kita cabut dari tempat ini!” ucap Raline dengan pelan, tapi penuh dengan penekanan.
“Baiklah. Gue pamit dulu sama anak-anak dan Bu Dita ya. Gak lama kok. Paling 15 menit,” ucap Miko.
“Oke. Gue tunggu di depan aja.”
Raline lalu berjalan ke depan rumah panti asuhan itu. Ia memilih menunggu di sana daripada harus menonton lagi pemandangan Miko bersama anak-anak panti asuhan itu. Ia kembali memainkan ponselnya sambil menunggu kehadiran Miko.
Lima belas menit kemudian, pundak Raline ditepuk dari belakang. Raline menoleh ke belakang dan mendapati Miko telah ada di sana. “Ayo, cabut!” ucap Raline selepas menatap Miko.
Miko tertawa. “Baiklah. Ayo kita pergi.”
Raline langsung mengikuti langkah Miko dari belakang. Dengan kepayahan Raline kembali harus melewati tanah berumput untuk menuju tempat mobil Miko diparkir. Ia hanya bisa menahan keluhan dan kekesalannya dalam hati. Hari ini ia sudah terlalu banyak mengeluarkan amarah hatinya. Ia sudah terlalu lelah untuk melanjutkan komplain dan keluhan yang tak akan pernah dianggap juga Miko.
Setelah sampai di parkiran mobil Miko, Raline langsung membersihkan tanah yang banyak menempel di alas sepatunya. Kemudian bergegas masuk ke dalam mobil. Ia langsung menghela nafas lega setelah duduk dan merasakan sejuknya udara AC mobil itu.
Namun ketika Miko hendak menyalakan mesin mobilnya, Raline langsung menahan tangan pria itu, dan menatapnya tajam. “Kita pulang, kan? Lo gak akan bawa gue ke tempat aneh lagi kan?!” Raline memicingkan matanya. Ia menatap curiga Miko. Langkah tempat tujuan berikutnya harus ia pastikan, tak seperti awal perjalanan tadi. Sudah cukup ia berkunjung ke satu panti asuhan.
Miko tertawa melihat raut wajah Raline. “Lo gak laper? Kita makan dulu yuk. Perut gue udah kelaperan.”
“Makan di rumah masing-masing! Gue udah capek! Sekarang waktunya kita pulang!” tegas Raline.
Miko mendekatkan wajahnya ke arah Raline. Ia menatap lekat gadis yang ada dihadapannya itu. “Gak mau. Kita bakalan makan bareng. Lo gak bisa nolak. Cuma bisa nurut. Karna ini mobil gue dan yang nyetir itu gue, bukan lo,” bisik Miko.
Raline menahan nafasnya. Wajahnya begitu dekat dengan Miko, hingga deru nafas pria itu terasa olehnya. Seketika jantungnya berdegup cepat hingga ia menarik nafas. Berharap pria itu tak melihat betapa gugup dirinya saat ini.
Miko tersenyum dengan tatapan mata yang masih begitu lekat. Namun menit berikutnya, pria itu menyalakan mesin mobilnya. Kemudian memacu mobilnya tanpa mengutarakan restoran mana yang akan mereka tuju.
Sementara Raline hanya duduk terpaku dengan tatapan kosong. Selama beberapa saat ia membisu dalam posisi duduknya. Tenggelam dalam pikirannya. Ia masih bingung, kenapa jantungnya masih saja terasa berdebar begitu keras.
CONTINUED
*****************
Hai guys!^^
Siapa yang mikir Miko itu emang good boy? Coba-coba komen. Siapa yang restuin Miko sama Raline? hihihi :D
Jangan lupa Love-nya yak! Maaciw :)