"Tumben gak protes. Ini cuma restoran fast food biasa loh. Makan fried chicken pula," ledek Miko. Pria itu berusaha menahan tawanya. Pemandangan Raline di restoran ini memang terasa menggelikan bagi Miko. Ia berusaha keras agar tak tampak seperti sedang menggoda Raline. Namun pada akhirnya seutas senyum usil memang terukir di bibir Miko.
Raline memang tak banyak berkomentar. Ia memilih mengunyah ayam goreng dihadapannya, meski tak berselera. Seumur hidupnya ia tak pernah makan di restoran cepat saji yang ramai seperti ini. Jika menginginkannya, Raline lebih memilih delivery ke rumahnya daripada harus makan ditengah-tengah orang asing.
"Yaudah buruan makannya. Biar cepet pulang," ucap Raline. Ia enggan banyak berucap pada pria yang kini duduk di hadapannya. Semakin lama berbincang, maka semakin lama waktu yang harus dihabiskannya di sini. Raline benar-benar ingin bergegas pulang dan mengakhiri hari yang melelahkannya ini.
"Makasi ya udah temenin ke panti hari ini." Miko menatap Raline dengan senyum yang tulus.
Namun Raline hanya membalas tatapan Miko itu sekilas, lalu mengalihkan pandangannya. Ia berusaha menutupi jantungnya yang sempat berdebar kencang karena tatapan itu. "Kan dipaksa sama lo," jawab Raline singkat. Raline mengunyah kembali makanannya dengan wajah yang sok acuh.
"Yah tetep aja makasih. Besok gimana?" tanya Miko.
"Apanya yang gimana?" Raline menatap heran ke arah Miko. Ia tak merasa mengucapkan janji untuk keesokan harinya. Perjanjian mereka telah usai untuk hari ini saja. Tak ada pembahasan tentang hari esok.
"Mau berangkat bareng gak?" ajak Miko.
Pria itu menatap Raline dengan raut serius, tak ada gurat bercanda di sana. Tatapan mata Miko membuat Raline menjadi gugup hingga tak sanggup untuk bersikap ketus. Entah lenyap kemana keangkuhan dan kepercayaan dirinya itu.
"Kemana?" tanya Raline singkat, tanpa menatap mata Miko.
"Kampus." Miko tak melepaskan tatapan matanya.
Pria itu seolah tau bila detik ini Raline begitu gugup. Matanya seakan menelisik kedalaman hatinya. Berusaha membaca emosi dibalik sikap sok acuh yang sengaja Raline tampilkan. Namun Raline masih enggan untuk tampak membuka diri pada pria itu. Ia tak ingin Miko menangkap wajah gugup atau mendengar suara debaran jantungnya.
"Gue bisa nyetir mobil sendiri,” tolak Raline. Ia meneguk minuman soda. Berusaha menghindar dari tatapan mata Miko yang masih saja tak berpaling dari wajahnya itu.
Miko tak menyerah. Sekali lagi pria itu mencoba membujuk Raline untuk mengikuti keinginannya. Berusaha untuk dekat dengan Raline lebih lagi.
"Kan capek. Naik mobil gue aja. Berangkat bareng kita," bujuk Miko lagi.
"Kalo capek, gue bisa nyewa supir kok," balas Raline.
"Yaudah jadiin gue supir lo aja." Miko tertawa nyengir. Pria itu bahkan mengedipkan matanya ke arah Raline.
Raline tersenyum sinis dengan sebelah alis terangkat. "Bayar berapa?"
"Pake cinta lo juga cukup kok," canda Miko. Pria itu tertawa melihat wajah Raline yang meringis geli.
"Dih alay,” balas Raline.
Miko tertawa cekikikan. "Besok mulai kuliah jam berapa?"
"Jam sembilan," jawab Raline sambil menggigit kembali ayamnya.
"Berarti gue jemput jam delapan."
"Emang gue udah mau?" Raline mengangkat sebelah alisnya dan menatap Miko dengan heran. Pria ini benar-benar tak kenal kata menyerah. Terus mencoba meski ia telah sering kali menolaknya.
"Gue gak mendapat penolakan yang keras sih. Jadi gue anggap lo mau," jawab Miko dengan penuh percaya diri.
"Terserah lah," jawab Raline asal. Ia sudah lelah beradu argumen dengan pria yang ada di hadapannya itu. Kepalanya sudah hilang akal harus mengeluarkan kalimat apalagi.
"Yes!" seru Miko kegirangan. Raut wajahnya bak seorang pemain bola yang baru saja memenangkan kejuaran turnamen. Begitu senang dan puas. Seolah perjuangannya sedari telah terbayar dengan kesediaan Raline barusan.
"Gak usah bikin malu. Biasa aja. Ini terakhir kalinya gue makan di tempat kayak gini." Raline geleng-geleng kepala menatap sekeliling area restoran itu. Begitu ramai dan bising. Terlalu banyak orang di sini. Raline bahkan yakin obrolannya pasti terdengar ke meja sebelahnya. Jarak antar meja memang terasa dekat menurutnya.
Raline tak mengerti alasan Miko membawanya ke restoran itu. Uang miliknya sangat cukup untuk bisa membayar restoran yang jauh lebih baik dari ini. Bahkan Raline merasa Miko punya uang yang cukup untuk membawanya sekedar ke restoran kelas menengah. Tidak ke tempat makan yang terasa seperti pasar umum ini.
"Iya. Nanti gue ajak ke restoran bintang lima."
"Dih! Siapa juga yang minta." Raline mengerutkan keningnya. Ia menatap heran ke arah Miko.
"Gue cowok peka. Jadi gak perlu lo minta, gue udah tau maksud sindiran lo." Miko mengedipkan matanya, menggoda Raline.
"Terserahlah," balas Raline sambil geleng-geleng kepala. Sementara Miko hanya tersenyum kegirangan dan kembali melanjutkan makan.
“Yaudah cepet habisin makanannya. Biar pulang,” ucap Miko.
Raline menghela nafas dengan raut wajah kesal. “Daritadi gue juga minta pulang! Lo aja yang gak nurutin gue! Gak usah kelarin makanannya juga gak papa. Ayo pulang!”
Raline hendak berdiri, tapi tangannya langsung ditarik oleh Miko hingga ia kembali terduduk di kursi. “Habisin makanannya. Gak baik buang-buang makanan. Masih banyak orang di luar sana tuh gak bisa makan apa yang kita makan sekarang.”
Raline kembali menghela nafasnya. Ia berusaha menahan rasa kesalnya. “Baiklah Bapak Pendeta. Mari kita habiskan makanan ini, lalu kita pulang!” ucap Raline dengan nada penuh penekanan. Tatapan mata Raline begitu tajam. Ia mengunyah makanan dengan raut wajah kesal.
Sementara Miko hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala menatap Raline. Pria itu melanjutkan makannya tanpa mengeluarkan tanggapan. Selama beberapa menit mereka sibuk menghabiskan makanan. Tanpa mengeluarkan suara dan perdebatan. Mulut mereka masing-masing sibuk mengunyah makanannya.
Setelah tak ada sebutir nasi pun tersisa di piring, Miko akhirnya bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Pria itu menatap Raline sambil memberi isyarat untuk pulang.
Raline tentu saja langsung menuruti Miko. Ia langsung mengambil tas, lalu mengikuti langkah pria itu menuju parkiran mobil. Raline duduk dengan tenang tanpa mengeluarkan keluhan atau kalimat lainnya yang akan memancing keributan.
Miko pun juga tampak sudah lelah. Pria itu memacu laju mobilnya tanpa banyak ucapan. Suasana mobil itu hening selama perjalanan. Hanya terdengar lantunan musik piano klasik di sana. Nada-nada itu terasa begitu romantis tapi sekaligus menenangkan. Karena itu mereka tampak menikmati suasana ini meski tak banyak percakapan yang terjadi selama di perjalanan.
Raline langsung melepaskan seat belt-nya ketika roda mobil itu berhenti berputar. Ia akhirnya telah sampai ke depan rumahnya. Hari ini benar-benar terasa begitu panjang dan melelahkan. Rasanya ia ingin segera berbaring di tempat tidur dan melepaskan rasa letih tubuhnya.
Namun ketika Raline hendak keluar dari mobil, tiba-tiba Miko menarik tangannya. Langkah kakinya tertahan dan kembali terduduk. “Kenapa?” tanya Raline.
“Cuma mau bilang... makasih ya. Makasih udah mau temenin gue hari ini. Gue tau lo gak nyaman seharian. Lo gak suka ke setiap tempat yang gue aja. Cuma fakta bahwa lo tetep bertahan, meski gak nyaman... cukup bikin gue terharu sih. Yah meski emang ada paksaan juga dari gue sih hahaha. Cuma gue tetep makasih kok. Makasih ya.” Miko menatap lekat ke arah Raline dengan seutas senyum tulus yang terukir di bibirnya.
“Gue udah bisa pulang sekarang? Gue capek,” ucap Raline lirih. Tatapan matanya seolah sedang memohon agar Miko melepaskannya detik ini juga.
“Baiklah.”
Raline langsung keluar dari mobil ketika Miko melepaskan genggaman tangannya. Ia terus berjalan tanpa menoleh ke arah belakang. Langkahnya sengaja dipercepat agar terlepas dari jangkauan pandangan mata Miko.
Setelah masuk ke dalam rumah, Raline cepat-cepat menutup pintu. Ia berdiri terpaku di belakang pintu. Raline langsung menarik nafas sambil meraba dadanya. Jantungnya masih saja berdebar. Ia tak percaya dengan apa yang baru terjadi pada dirinya. Rasa yang baru kali pertama ia rasakan. Sensasi gugup dan debaran yang masih terasa asing baginya.
***
Raline memilih celana jeans biru tua dengan baju lengan panjang merah sebagai busananya ke kampus. Celana jins itu membuat kaki jenjangnya tampak mencolok. Baju yang ia kenakan meskipun lengan panjang, tetap menampilkan lekuk indah tubuhnya. Hari ini Raline memang ingin tampil cantik, elegan, tapi sekaligus seksi.
Raline mengenakan riasan dengan warna yang tak terlalu banyak. Ia hanya memakai blush on bewarna pink lembut. Raline memilih tak mengenakan eyeshadow, tapi tetap memakai eyeliner hitam dengan garis yang terbilang cukup tebal. Kemudian memoleskan lipstik bewarna merah pada bibirnya. Raline tersenyum puas sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. Tampak sederhana, elegan, tapi sekaligus seksi.
Setelah memastikan riasan dan tatanan rambutnya sempurna, Raline segera mengambil tas hitamnya dan segera bersiap ke kampus. Ia langsung keluar gerbang rumahnya dan sengaja meninggalkan kunci mobilnya di rumah.
Raline menyunggingkan senyum sinis ketika Miko terlihat berdiri di samping mobil sport merahnya. Pria itu kembali menampakan wajahnya di depan rumahnya. Padahal ia sama sekali tak meminta kehadiran pria itu untuk mengantarkannya ke kampus. Ia bisa saja menyuruh supir atau bahkan menyetir sendiri mobilnya.
Namun kali ini entah kenapa Raline membiarkan Miko untuk mengantarnya ke kampus. Hal yang sangat jarang terjadi di dalam hidupnya. Mengijinkan seseorang masuk ke dalam keseharian dan zona pribadinya.
Raline mulai menghampiri Miko. Ia mengabaikan lambaian tangan serta sapaan ramah Miko, dan memilih segera masuk ke dalam mobilnya, tanpa berbicara. Raline memasang wajah angkuh sambil menunggu Miko masuk ke dalam mobil.
"Kamu udah sarapan?" tanya Miko sambil duduk dan memasang seat belt-nya.
Raline mengerutkan kening dan menatap heran ke arah Miko. "Sejak kapan kita aku-kamu?" tanya Raline.
Masalahnya bukan di kata sapaan itu. Namun suasana berbeda yang sengaja diciptakan Miko diantara mereka. Raline merasa janggal. Ia mendapat kesan bila pria itu ingin menciptakan suasana yang berbeda diantara mereka.
Miko tersenyum, lalu mengambil kotak makanan dari kursi belakang. "Aku bawa buah anggur buat kamu. Lumayan buat cemilan sehat." Miko menaruh kotak itu diatas pangkuan Raline, lalu menyalakan mesin mobilnya. Pria itu tak mengeluarkan perkataan apapun lagi. Ia mulai fokus menyetir. Namun seutas senyum masih tetap tersungging di wajahnya.
Raline menatap kotak anggur itu selama beberapa saat, lalu memalingkan pandangannya ke arah jendela. Ia tidak menunjukan penolakan, tapi juga enggan untuk berterima kasih. Ego dan gengsinya begitu tinggi hingga bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan kata terima kasih. Walau sesungguhnya ia cukup senang menerima pemberian sederhana dari Miko.
"Kamu suka musik apa?" tanya Miko sambil mengutak atik channel radio.
"Apa aja," jawab Raline tanpa menoleh ke arah Miko. Ia sebenarnya tak terlalu suka mendengarkan lantunan musik. Ia lebih menyukai suasana hening. Namun Raline membiarkan Miko memutar radio. Entah kenapa keheningan justru menjadi hal yang tak nyaman bila sedang bersama pria itu.
Setelah menyetel musik , Miko lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera memacu lajunya menuju ke kampus. Sepanjang perjalanan tak banyak percakapan yang terjadi diantara mereka. Raline hanya menjawab seperlunya setiap kali Miko bertanya. Raline memang tak pernah terbiasa berbincang ramah dengan orang lain. Ia merasa canggung setiap kali Miko mengajaknya berbicang santai.
“Habis kuliah rencananya mau kemana?” tanya Miko, tanpa menatap Raline. Mata pria itu tampak fokus menatap jalanan. Sepertinya ada kecelakaan ringan di depan, sehingga terjadi kemacetan sekarang.
“Entahlah. Masih belum tau. Paling langsung pulang,” jawab Raline.
Setelah laju mobil terhenti karna saat ini jalanan sedang macet, Miko mulai menoleh ke arah Raline. “Jalan yuk!” ajak Miko.
Namun dengan cepat Raline menolak. “Gue capek. Kayaknya pengen pulang aja deh.”
“Kok gitu sih. Kamu gak seneng jalan sama aku ya?” tanya Miko, sedih.
Raline menatap heran ke arah Miko. Rasanya masih terasa aneh memakai sapaan ‘aku-kamu’ dengan pria itu. “Gue capek, Mik. Gak inget lo ngajak gue jalan sampe malem kemarin. Capeknya tuh masih berasa sampe sekarang. Terus kalo gue jalan lagi, kecapekan lagi... kalo gue sakit gimana?!”
“Yah aku tanggung jawab lah. Aku bakalan rawat kamu dengan penuh cinta.” Miko tertawa geli.
Raline meringis melihat sikap Miko yang berlebihan dan terkesan alay itu. “Gue bisa bayar dokter dan suster buat ngerawat. Gak usah repot-repot.”
“Tapi mereka gak bisa ngerawat kamu pake cinta. Biar aku aja. Cintaku cukup buat bikin kamu sembuh.”
Raline tertawa sinis sambil geleng-geleng kepala. “Udah deh gombalnya. Lama-lama enek!”
Miko semakin tertawa keras melihat wajah risih Raline. Seakan menganggu Raline memang kegiatan kesukaan pria itu. “Yaudah kalo kamu gak mau jalan hari ini. Istirahat di rumah aja. Yang penting jangan bawa cowok lain aja ke rumah.”
“Dih. Siapa lo ngatur-ngatur gue!” protes Raline.
“Calon pacar kamu. Aku gak suka kamu deket-deket pria lain!” Miko sedikit memicingkan matanya. Seakan sedang memberikan peringatan pada wanitanya agar tidak berselingkuh.
Raline hanya geleng-geleng kepala dengan tatapan heran. Pria di sampingnya itu bertingkah sebagai pemilik dirinya. Namun Raline tak menyanggah permintaan Miko itu. Ia hanya memalingkan wajahnya dan mengalihkan tatapan matanya ke jendela mobil.
Tanpa Miko minta, Raline memang tak pernah dekat dengan pria manapun. Ia hanya mengijinkan Syeiba dan Claudia yang boleh masuk zona pribadinya. Tak ada pria yang ia ijinkan untuk berada di sekitarnya, apalagi sampai datang ke rumahnya secara pribadi. Miko satu-satunya pria yang ia ijinkan berada disampingnya, bahkan sampai mengantarnya ke kampus. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Kok jadi diem sih. Aku anggep kamu setuju ya! Cuma aku yang boleh deket-deket sama kamu!” ucap Miko.
“Terserah,” kata Raline tanpa menatap wajah Miko.
“Yes!” Miko tampak begitu senang hingga berteriak. Raut wajahnya menunjukan kepuasan meski respon Raline sebenarnya tampak acuh. Namun tak ada sanggahan yang keluar dari mulut Raline cukup membuat Miko begitu senang. Pria itu mengartikan bila Raline telah menerimanya.
“Itu mobil depan udah mulai jalan. Cepetan. Nanti diklakson mobil belakang pula,” ucap Raline sambil geleng-geleng kepala.
Miko tersenyum nyengir. Pria itu mulai memacu laju mobilnya. Sepertinya kecelakaan itu telah teratasi. Jalanan mulai kembali normal. Miko kembali fokus menyetir mobilnya. Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara senandung Miko yang sedang mengikuti lantunan lagu yang diputar radio mobilnya. Sementara Raline sibuk bermain dengan ponselnya. Ia tampak sedang memperhatikan berita yang sedang heboh di media sosial.
Setelah setengah jam berlalu, laju mobilnya terhenti di halaman kampus. Miko mencolek lengan Raline. "Udah sampai. Nanti chat aku ya kalo udah kelar kuliah," ucap Miko.
“Bukannya lo gak ada jadwal kuliah hari ini? Gue bisa telpon supir kok. Santai aja,” ujar Raline.
“Yah gak papa. Aku pengen aja anterin kamu. Thats ok?” tanya Miko sambil menatap Raline lekat. Begitu lekat hingga Raline mengalihkan pandangannya.
"Yaudah. Terserah," jawab Raline singkat.
“Yes! Belajar yang bener ya. Nanti pulangnya aku jemput.”
Raline hanya tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian keluar dari mobil tanpa mengucapkan kata perpisahan, apalagi ucapan terima kasih. Raline terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Padahal ia tau, Miko pasti baru pergi setelah dirinya menghilang dari pandangan pria itu.
Sepanjang perjalanan menuju ke kelas, Raline menatap kotak anggur pemberian Miko yang ia pegang di tangannya. Ini kali pertama ia bersedia menerima hadiah dari orang lain, apalagi seorang pria. Biasanya ia akan langsung membuang ke tempat sampah tanpa pikir panjang. Namun saat ini Raline justru membiarkan kotak ini dipegangnya dalam waktu yang lama. Diam-diam Raline tersenyum senang menatap kotak itu. Pemberian Miko sebenarnya sederhana, tapi ternyata bisa cukup membuat hatinya senang.
Namun Raline buru-buru mengubah raut wajah senangnya. Ia tak ingin ada orang lain melihat wajahnya yang saat ini sedang bersemu merah. Apalagi langkah kakinya hampir sampai di pintu kelasnya. Ia tak mau teman-temannya, terutama Syeiba dan Claudia melihat ekspresi tak biasa dari wajahnya itu.
Setelah tiba di kelas, Raline melihat Claudia dan Syeiba tampak sedang asik bersenda gurau sambil melihat ponsel. Raline bisa menebak kalau mereka pasti sedang menggosipkan seseorang. Ia lalu berjalan menghampiri mereka, lalu meletakan kotak anggur yang ada di tangannya itu di meja Claudia.
"Ini buat kita?" tanya Claudia dengan mata terbelalak.
"Iya. Buat kalian aja," jawab Raline sambil duduk dan menaruh tasnya.
"Tumben. Lo jangan-jangan lagi sakit ya?" Syeiba menatap curiga. Raline memang jarang memberi barang, apalagi di pagi hari. Syeiba sulit dipercaya seorang Raline menyiapkan kotak buah khusus untuknya dan Claudia.
Raline melirik kesal ke arah Syeiba dan menatapnya dengan tajam. Syeiba pun akhirnya terdiam dan tak berani lagi berceloteh asal. "Kalo gue kasih, kalian makan aja. Gak usah banyak protes," ucap Raline dengan penuh penekanan.
"Emang ini dari siapa? Lo bawa sendiri, Lin?" tanya Claudia sambil mengunyah anggur.
Syeiba lalu menyenggol lengan Claudia, kode supaya gadis itu diam. Claudia memang sering tak bisa membaca situasi. Claudia sering kali berbicara padahal suasana sedang tidak tepat untuk wanita itu berbicara.
"Lho kenapa gue gak boleh nanya? Emang salah kalo gue nanya, Lin?" tanya Claudia dengan wajah polosnya. Ia menatap Syeiba dan Raline dengan raut wajah kebingungan.
"Itu dari Miko. Gue gak suka anggur. Jadi gue kasih ke kalian. Udah jelas?" jawab Raline. Raline geleng-geleng kepala melihat sikap ke dua temannya itu. Mereka sering sekali mempertanyakan dan memperdebatkan hal yang menurutnya sama sekali tak penting untuk dibahas.
Mendengar itu, Syeiba dan Claudia justru bertambah terkejut. Jawaban yang keluar dari mulut Raline tak pernah disangka oleh mereka. Mata mereka terbelalak karna tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Raline. "Lo terima pemberian Miko? Daebak!" seru Claudia.
"Jangan bilang kalo lo ke kampus juga bareng dia?!" tanya Syeiba dengan nada histeris.
Raline hanya diam dan enggan menjawab pertanyaan ke dua temannya itu. Ia bisa memperkirakan apa reaksi dua makhluk itu jika menjawabnya dengan jujur.
Namun Syeiba dan Claudia tentu semakin curiga dengan respon diamnya Raline. Mereka langsung mengartikan bila diamnya Raline sama dengan jawaban iya. Secara refleks, Syeiba dan Claudia langsung berteriak histeris. Teriakan yang cukup membuat orang-orang diruangan itu terkejut dan langsung menatap ke arah mereka.
"Kyaaa! OMG! Gue gak percaya hari ini bakalan tiba!" teriak Claudia.
"Raline sama Miko?! Wow!" timpal Syeiba.
"Biasa aja. Gak usah bikin gue malu," ujar Raline dengan wajah kesal. Raline benar-benar tak suka dengan sikap ke dua temannya itu yang seringkali terkesan norak dan alay. Ia sering malu dengan respon berlebihan ke dua temannya itu.
"Kalo kalian jadian... jangan lupa ya traktir kita," ledek Claudia sambil mengedipkan mata. Claudia dan Syeiba tertawa geli sambil saling memukul. Mereka terlihat senang sekaligus terkejut dengan kedekatan Raline dan Miko yang terasa tiba-tiba itu.
"Kalo sampe nikah, jangan lupa undang kita," timpal Syeiba.
Raline lalu menghela nafas dan kembali menatap tajam ke dua temannya itu. Ia memberi perintah untuk diam dengan ekspresi wajahnya. Setelah melihat Syeiba dan Claudia terdiam, Raline mengeluarkan buku catatan kecilnya dari dalam tas. Ia berpura-pura sedang menulis, padahal pikirannya sedang melayang keluar kelas.
Raline memang merasa tubuh dan otaknya tidak bereaksi seperti biasanya. Ia berperilaku diluar kebiasaannya. Ia membiarkan Miko mengantarnya ke kampus dan menerima kotak bekal buah dari pria itu. Ini kali pertamanya membiarkan seorang pria masuk ke dalam zona pribadinya. "Gue suka Miko?" batin Raline.
CONTINUED
**************
Hai guys! Updated lagi nih.
Siapa yang setuju Raline sama Miko? Hayo... hayo... ^^
Follow i********: aku dong -> @alvera_berliana
Aku lebih banyak kasih spoiler di IG. Kadang suka snapgram komentar kalian yang berkesan. So... Follow ya! ^^