9. Dufan, Yuk!

2525 Kata
“Kita udah sampai,” ucap Miko. “Gue juga tau kalo udah nyampe. Kan gue punya mata,” balas Raline, ketus. “Kamu kenapa sih selalu ketus sama aku. Emang aku jahat ya sama kamu? Aku bela-belain antar jemput kamu lho, walau aku gak ada jadwal kuliah.” Miko menatap sedih ke arah Raline. Raline mengerutkan keningnya. Ia mendengus kesal. Kemudian membalas tatapan Miko dengan begitu sini. “Oh jadi lo mau hitung-hitungan?! Kalo lo gak ikhlas tuh bilang. Biar kita diskusi upah lo tuh berapa! Harusnya tuh dari awal gue gak usah setuju lo nganterin gue! Lagian emang gue gak minta kan. Kenapa jadi gue yang seolah-olah punya hutang budi sama lo!” Raline tak kuasa menahan emosi hatinya. Suaranya begitu tinggi. Padahal jarak tubuhnya dengan Miko tidaklah jauh. Tentu nada tinggi Raline itu sanggup memekakan telinga pria yang ada di hadapannya. Miko bahkan tampak sedikit memundurkan tubuhnya dan membuat sedikit jarak dengan Raline. “Kamu jangan marah-marah dulu dong, Line. Bukan itu maksudku. Aku cuma pengen kamu tuh gak marah-marah sama aku. Aku gak ada niat jahat ke kamu. Aku tulus. Aku terus berusaha nunjukin itu ke kamu. Cuma kalo kamu terus bersikap ketus ke aku, padahal aku gak ngelakuin suatu kesalahan yang pantes untuk ngedapetin perlakuan itu... lama-lama aku tuh capek,” ucap Miko dengan nada selembut mungkin. Pria itu tau Raline sedang tidak dalam kondisi mood yang baik. Hanya kelembutan yang bisa menenangkan gadis itu. “Gue tuh memang begini. Lo gak bisa dong nyuruh gue berubah dalam semalam,” ujar Raline. Kali ini dengan nada yang tak lagi tinggi. Miko tersenyum, menatap mata Raline begitu lekat, lalu membisikan di telinganya dengan begitu lembut. “Kalo gitu, mulai dari sekarang dicoba ya. Aku tuh sayang sama kamu. Aku sedih tiap kali kamu marah-marah ke aku.” Raline menarik nafasnya. Ia berharap degub jantungnya tak terdengar oleh Miko. Jarak mereka terlalu dekat hingga Raline begitu takut Miko bisa menelisik ke dalaman hatinya. Detik itu Raline membisu dengan tubuh yang tak bergerak diposisi duduknya. “Jangan galak-galak lagi ya sama aku,” bisik Miko lagi. Entah setan apa yang sedang merasuki tubuhnya. Kepala Raline mengangguk secara spontan. Detik berikutnya, ia baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Raline menatap terbelalak ke arah Miko. Ia tak percaya bila baru saja menuruti perkataan pria itu. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh Raline, mematuhi permintaan dan perintah orang lain. Raline hanya bisa menggigit bibirnya ketika menyadari perilaku tak biasanya itu. Miko tentu saja langsung tertawa melihat wajah salah tingkah dirinya. Pria itu berhasil membuat wajah Raline bersemu merah. Raline hanya bisa tetap dalam posisi diamnya. Ia pun pada akhirnya mengalihkan tatapan mata ke lantai mobil. Karena Miko terus saja menggoda lewat tatapannya. “Yaudah, masuk gih. Selamat istirahat cantik,” ucap Miko sambil menahan tawanya. Raline lalu keluar mobil, tanpa membalas ucapan Miko itu. Ia memilih cepat-cepat pergi dari hadapan pria itu hingga langkah kakinya terkesan sedang setengah berlari. Ia tak peduli bagaimana Miko akan memandangnya saat ini. Ia hanya ingin segera pergi dari jangkauan mata pria itu dan masuk ke dalam rumah. Miko, pria itu telah sukses membuatnya merasakan sensasi rasa yang selama ini tak pernah dialaminya. Pria itu mampu membuat Raline diam membisu dalam salah tingkah. Membuat dirinya bertindak tidak seperti biasanya. Raline bahkan tak memahami penyebab semua hal tak biasa itu adalah Miko. *** Seperti sebuah kebiasaan, Raline menghabiskan waktu jeda makan siang bersama Claudia dan Syeiba. Hanya dua gadis itu yang memang ia ijinkan untuk berada di dekatnya, terutama ketika makan siang. Waktu dimana Raline lebih menyukai makan dalam ketenangan dan tanpa orang asing. Namun bila ia makan sendirian, tentu akan tampak aneh. Karena itu, bila diharuskan untuk makan bersama orang lain, maka Raline lebih memilih Claudia dan Syeiba yang berada di dekatnya. Meski tidak terlalu dekat dengan ke dua orang itu, Raline setidaknya sudah mulai terbiasa dengan perilaku mereka. Seperti saat ini, Raline justru menghela nafas kesal melihat Claudia dan Syeiba tampak beradu argumen tak penting di depannya, membuat makan siangnya menjadi tak nyaman. Ke dua temannya itu memang suka meributkan hal yang seharusnya tak diributkan, sementara Raline sedang ingin makan dengan tenang. Saat ini Claudia tampak penuh emosional. Nada bicaranya begitu tinggi hingga emosi Syeiba pada akhirnya tersulut. Claudia dan Syeiba saling berteriak hingga seluruh mata yang ada di kantin itu beralih ke arah mereka. Claudia dan Syeiba sukses merusak suasana makan siangnya. Ketenangan yang ia idamkan kini telah rusak dengan keributan yang diciptakan ke dua temannya itu. Raline akhirnya melempar sendoknya dengan penuh emosi. Seketika suasana menjadi hening dalam sekejap. Claudia dan Syeiba pun ikut bungkam, lalu melirik Raline dengan sedikit cemas. "Kalian bisa berhenti gak?! Kuping gue sakit dengerin kalian berantem mulu!” teriak Raline. Tatapan tajam mata Raline menyiratkan betapa besar rasa kesal yang sedang dirasakannya. Claudia mencoba membela diri. Gadis itu menunjuk ke arah Syeiba, hendak mengadukan perlakuan tak menyenangkan yang ia terima. "Ini gara-gara Syeiba, Line! Berani-beraninya dia chat sama Gray di belakang gue!" seru Claudia dengan mata melotot. Gurat kecemburuan tampak jelas di wajahnya. Syeiba yang tak terima akhirnya memukul meja dengan pelan dan menatap Claudia penuh amarah. "Dia yang chat gue duluan cumi! Lagian kalian juga gak pacaran. Baru juga deket doang. Jangan gitulah. Belum jadi pacar, tapi udah ngatur-ngatur dan posesif banget. Cowok bisa kabur dari lo." Claudia akhirnya bangkit berdiri dan mengacungkan jari telunjuknya dengan emosi yang benar-benar berada di puncaknya. “Lo tuh temen gue bukan sih?! Mulut lo tuh jahat banget! Kalo lo temen gue, harusnya tuh lo gak kegatelan sama gebetan gue! Gue harusnya gak perlu seposesif ini kalo lo tuh ngehargain perasaan dan hubungan gue sama Gray! Dasar lo aja yang gatel. Punya temen aja lo sikat.” Syeiba ikut berdiri dan menatap balik Claudia dengan sama emosinya. “Lo jangan nuduh gue sembarangan deh! Siapa yang kegatelan! Dia yang chat gue duluan! Lagian dia nanya tentang jadwal kerja kelompok.” "Halah itu modus! Harusnya lo itu gak usah ladenin dong! Kalo lo temen gue, harusnya lo cuekin dia. Eh... apa hobi lo emang nikung temen dari belakang ya?" sindir Claudia. Tatapan dan senyumnya begitu sinis. Kecemburuan dan kemarahan tampak jelas di raut wajahnya. "Apa lo bilang?!" Syeiba langsung menjambak rambut Claudia dengan penuh emosi. Syeiba benar-benar begitu emosi hingga tak bisa mengendalikan emosinya. Gadis itu menarik rambut Claudia begitu kuat hingga terdengar erangan kesakitan. "Aw! Sakit!" teriak Claudia sambil menjambak balik rambut Syeiba. Syeiba dan Claudia akhirnya saling menjambak tanpa ampun. Mereka tak peduli lagi dimana lokasi mereka sekarang. Mereka mengabaikan berapa banyak tatapan mata yang tertuju ke arah mereka saat ini. Tak peduli dengan suara bising yang sedang memperbincangkan perilaku mereka sekarang. Claudia dan Syeiba begitu tenggelam dalam emosi yang begitu memuncak hingga saling terus menyakiti sama lain. Tak peduli seberapa keras erangan yang terlontarkan, mereka tak ada yang mengalah dan melonggarkan tarikan rambut satu sama lain. Pola pertengkaran fisik khas perempuan pada umumnya. Saling menjambak dan tak akan berhenti. Raline benar-benar tak tahan lagi melihat tingkah konyol ke dua temannya itu. Adegan jambak-jambakan yang tersaji di hadapannya sungguh membuat matanya terasa sakit. Fakta ke dua orang itu satu meja makan dengannya sungguh membuat dirinya merasa sangat malu. Raline lalu mengambil gelas airnya lalu menyiramkannya dengan kasar ke arah Syeiba dan Claudia. Seketika mereka langsung terdiam dalam keterkejutan dan saling melepaskan jambakan rambutnya. Claudia menggosok matanya yang terasa pedih karna terkena siraman air. Sementara Syeiba menatapi bajunya yang saat ini basah. Kantin itu menjadi hening dalam suasana yang mencengkam. Tidak ada lagi suara bising. Kebanyakan orang bahkan mengalihkan pandangan matanya dan berpura-pura sedang berbincang. Semua orang menghindari tatapan mata dan luapan amarah Raline yang tampak mengerikan itu. "Kalo kalian gak bisa diem... pergi dari sini! Gue mau makan. Kalo mau berisik, mending di kandang kucing sana. Cakar-cakaran sama kucing sekalian. Jangan di depan gue!" seru Raline dengan tatapan tajam. Raline melemparkan garpu ke lantai dengan kasar. Syeiba dan Claudia tampak syok dengan perlakuan yang mereka terima. Mereka diam membisu dalam posisi berdirinya. Tak ada yang berani mengeluarkan suara, apalagi membantah perkataan Raline. Claudia dan Syeiba hanya bisa menuruti perkataan Raline. Mereka akhirnya kembali duduk, tanpa banyak bicara. Kemudian mengeringkan wajah dan rambut yang basah dengan tissue yang ada di atas meja. Meskipun emosi, Claudia dan Syeiba memilih tak melawan karena tau konsekuensi yang dihadapi jika membuat seorang Raline marah. "Kalian berantem cuma untuk cowok alay kayak gitu. Gak penting banget," sindir Raline. Sindiran yang terdengar sinis, menusuk, dan begitu merendahkan. Raline mengambil garpu lagi dari kotak peralatan makan yang ada di meja itu, lalu melanjutkan kembali menyantap makanannya. "Gue cuma kesel aja, Line. Gak enak ditikung sama temen sendiri," ucap Claudia sambil melirik ke arah Syeiba. Syeiba hanya geleng-geleng kepala dan enggan meladeni Claudia lagi. Ia tak seberani itu untuk memancing Raline emosi. Syeiba juga melirik ekspresi Raline dan ia memilih bungkam. Raline tampak enggan mengomentari perkataan Claudia. Raline hanya terus makan, tanpa bicara dan tanpa menatap Claudia dan Syeiba. Ia ingin segera menghabiskan sisa makanan di piringnya, lalu segera pergi dari tempat itu. Wajah Claudia dan Syeiba hanya akan membuatnya terus sakit kepala dan merusak suasana hatinya. "Hai. Kalian lagi makan?" Miko tiba-tiba muncul dan duduk di samping Raline. Pria itu begitu dengan santainya menatap Raline begitu lekat dan menyapanya dengan senyuman yang begitu manis. Semua orang yang melihat tentu tau ada suasana yang tidak biasa diantara Raline dan Miko. Syeiba dan Claudia tampak saling melirik serta menyunggingkan senyum. "Cie Raline. Disamperin sama Miko," goda Claudia. Raline menatap Miko selama beberapa saat. "Lo ngapain?" tanya Raline tanpa berbasa-basi. Wajahnya dingin, tanpa senyuman. "Mau makan bareng kamu," jawab Miko dengan senyum. "Mana makanannya?" tanya Raline lagi. Raline tak melihat ada piring di depan Miko. Pria itu duduk tanpa membawa apapun. "Belum beli." Miko tertawa geli sambil garuk-garuk kepala. Raline menangkap maksud hati pria yang duduk di sampingnya itu. Ia tau Miko hanya sekedar mencari alasan untuk bisa berada di dekatnya. Namun keberadaan pria itu justru hanya akan membuat ia semakin menjadi pusat perhatian. Sementara Raline hanya ingin makan dalam ketenangan, lalu segera pergi dari kantin itu. "Bentar lagi mau balik ke kelas. Nih makanan juga udah mau abis. Pergi gih sana,” ucap Raline. "Enggak mau. Aku mau disini aja. Nontonin kamu makan." Miko menatap Raline dengan lekat dengan tangan menumpu wajahnya. Tatapan lekat khas Miko yang biasanya selalu sanggup membuat Raline begitu gugup dan salah tingkah. "Emangnya gue badut. Gue bukan tontonan," ucap Raline dengan nada ketus. Sikap yang sengaja ia tampilkan sebagai topeng agar orang-orang tidak bisa melihat kegugupan hatinya saat ini. "Yaudah. Aku rubah bahasanya. Aku tuh lagi pengen temenin kamu makan aja kok. Cuma lagi pengen liat wajah cantik kamu. Kangen soalnya." Miko mendekatkan posisi duduknya ke Raline. Begitu dekat hingga Raline tampak menarik nafasnya. "Terserahlah." Syeiba dan Claudia langsung tertawa terbahak-bahak melihat interaksi Raline dengan Miko. Apalagi adegan Raline yang tampak gengsi menerima kehadiran Miko disebelahnya. "Syeib, kita cabut duluan yuk. Kita biarin dua makhluk ini punya waktu pacaran," usul Claudia. Syeiba langsung menganggukan kepalanya. "Bener. Mending cabut daripada jadi nyamuk. Bye, Raline..." Raline melongo tak percaya melihat tingkah Syeiba dan Claudia. Bukankah ke dua temannya itu baru saja bertengkar hebat. Namun mereka bisa langsung cepat akrab dan berbaikan hanya untuk bisa meledek serta menggodanya. Seakan mereka telah lupa alasan pertengkaran yang baru saja terjadi sebelumnya. Raline hanya bisa menatap kesal Claudia dan Syeiba yang tampak terang-terangan menggodanya dengan Miko. Ia tak bisa menahan langkah kaki ke dua temannya itu. Raline kini hanya berdua saja dengan Miko. Suasana pun seketika menjadi canggung karena Claudia dan Syeiba yang tiba-tiba pergi meninggalkannya. Raline tak terbiasa memulai percakapan, apalagi ke pria. Karena itu ia hanya diam membisu sambil menunggu Miko mengajaknya bicara. "Nonton yuk. Lagi ada film bagus nih di bioskop," ajak Miko. "Enggak ah. Gue gak bisa nonton di tempat ramai dan banyak orang asing. Mending di rumah," tolak Raline. Raline memang tak pernah menonton film dalam keadaan ramai dan ditengah orang asing. Jikalaupun ingin suasana menonton di bioskop, biasanya ia akan menyewa satu ruangan hanya untuk dirinya. Itu hal yang mudah ia lakukan. Kekayaannya sanggup untuk melakukan itu, tanpa merasa keberatan soal biaya yang dihabiskan. "Yah kan ada aku. Sekali-kali temenin aku nonton dong," pinta Miko dengan wajah setengah memelas. Berharap Raline akan luluh dan berhasil dibujuk. "Enggak mau, Miko! Mending nonton sendirian aja sana." Raline mulai menolak dengan ketus. Ia paling tak suka pria yang memaksakan kehendak. Selama ini ia sudah sering mengikuti keingan pria itu. Kali ini, Raline ingin dimengerti dan tak mau dipaksa. "Baiklah." Miko tertunduk sedih dan mulai mengeluarkan ponselnya. Ia akhirnya memainkan ponsel sambil menunggu Raline selesai makan. Namun tiba-tiba Miko terbesit sebuah ide. "Kamu pernah ke Dufan?" tanya Miko penuh antusias. "Belum," jawab Raline singkat. "Lho kenapa? Kayaknya gak pernah ada satu anakpun di Jakarta yang belum ke dufan deh. Aku aja sampe bosen pas waktu kecil," ujar Miko. Raline terdiam dengan nafas yang tertahan. Ia memang tak pernah punya kenangan masa kecil yang indah. Mamanya jarang mengajak Raline berbicara, apalagi pergi ke tempat bermain. Ia lebih banyak sendiri daripada bersama keluarganya. Mereka terlalu sibuk bekerja, tanpa mau meluangkan waktu untuk mengajaknya berwisata. Raline kecil lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan pembantu dan supir. Karena itu ucapan Miko itu seakan sedang meledek dan menyindirnya. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain, tapi tidak bagi Raline. Itu cukup menusuk hatinya. "Lo pengen pamer masa kecil lo yang indah di depan gue?" tanya Raline dengan mata yang menyipit. "Enggak kok. Aku cuma pengen lebih kenal kamu aja. Kalo kamu emang belum pernah... gimana kalo kita pergi ke sana? Aku juga udah lama gak main ke sana." Miko berusaha meluruskan persepsi Raline. Raline menghela nafas. Wajahnya tak menunjukan ketertarikan akan ajakan Miko itu. "Enggak ah. Emang gue anak kecil apa." "Yaelah. Disana juga banyak wahana buat orang dewasa kali. Makanya coba ke sana, biar tau!" ledek Miko. Pria itu masih pantang menyerah untuk mengajak Raline jalan. Ego Raline mulai tergelitik karena ledekan Miko. Ini kali pertama ia dicibir karena tak tau sebuah tempat wisata. "Oke. Kita pergi besok. Gue mau tau wahana macam apa yang lo PENGEN BANGET naikin itu,” ucap Raline dengan nada penuh penekanan. "YES!" seru Miko kegirangan dan tersenyum puas. "Besok aku jemput kamu jam berapa?" "Jam sembilan pagi." "Kamu mau aku bawain sarapan atau enggak?" "Sejak kapan sih lo berhak pake aku-kamu ke gue?!" "Sejak hari ini. Kan kita ceritanya lagi PDKT. Gimana sih, Lin. Gitu aja gak peka," canda Miko. "SEJAK KAPAN KITA SEPAKAT BUAT PENDEKATAN?!" seru Raline dengan mata melotot. "Sejak kamu suka sama aku... tanpa kamu sadari," bisik Miko. Raline hanya melongo melihat keberanian Miko yang sengaja menggodanya. Apalagi ketika pria itu mengecup pipinya sebelum mendadak pergi meninggalkannya. Miko benar-benar pria ternekat di kampusnya. Pria pertama yang berani mendekatinya dan mengecup pipinya. Raline buru-buru merubah ekspresi wajahnya. Menutupi wajahnya yang mulai bersemu merah. Ia tak ingin orang-orang di kantin mengetahui rona tersipu dari wajahnya. Raline lalu buru-buru menghabiskan makanannya. Kemudian bergegas meninggalkan kantin itu, lalu segera menuju ke kelas. CONTINUED ******************** Hai guys! Aku updated lagi nih! ^^  Siapa yang nunggu adegan Raline dan Miko pergi ke Dufan? :D Itu bakalan ada di next chapter. (ooppss spoiler :'D ) See you! ^^ Jangan lupa Love-nya :)           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN