10. Jatuh Dalam Rasa

2293 Kata
Penyesalan selalu datang belakangan. Kalimat itu memang terdengar klasik, tapi terasa nyata oleh Raline. Dufan benar-benar ramai di hari sabtu dan Raline benci itu. Ia memang tak terlalu suka aktivitas outdoor seperti ini, apalagi penuh penuh keramaian. Seketika ia menyesal karena menyanggupi ajakan Miko. "Yuk turun," ajak Miko. "Harus banget ya kita masuk?" Raline terlihat cemas dan tak nyaman melihat suasana Dufan. Ia memicingkan mata dengan raut risih tergurat jelas di wajahnya. Tempat itu benar-benar sangat ramai. Tempat parkiran di sana terlihat hampir penuh. Sekilas Raline melihat antrian di tempat pembelian tiket. Antrian itu sangat panjang. Entah sudah berapa banyak orang yang ada di dalam tempat wisata itu, Namun hal yang pasti, Raline tak akan nyaman. "Harus. Yuk," ucap Miko sambil keluar dari mobil. Pria itu tak menunggu respon Raline. Miko segera meninggalkan Raline sendirian di dalam mobil, sehingga tak perlu mendengarkan keluhan atau penolakan. Meski dengan wajah terpaksa, Raline pada akhirnya harus turun dan mengikuti Miko. Ia tak mungkin bertahan pada sikap keras kepalanya. Tak mungkin ia bersikeras untuk berdiam di dalam mobil terus menerus. Pada akhirnya Raline melangkahkan kaki keluar dan bergegas menyusul pria itu. Dengan langkah gontai Raline melangkah di samping Miko. Wajahnya tak menunjukan antusias. Ia justru tak nyaman dengan terik matahari yang menyakitkan kulitnya itu. Perawatan kulit yang selama ini dilakukannya secara rutin, kini seakan terasa sia-sia. Bila tau sinar matahari akan seterik ini, Raline pasti akan memakai sunblock atau mengenakan payung untuk menghalau panas matahari. "Kita beli tiket dulu sebelum masuk." Miko menggenggam tangan Raline dan menariknya untuk berjalan lebih dekat. "Ini apa?" Raline melirik sinis ke arah tangan Miko yang menggenggam tangannya. Sebenarnya Raline berpura-pura sinis. Jauh di dalam hatinya, Raline cukup senang tangannya digenggam Miko. Namun ia tak ingin tampak murahan atau gampangan. Baru disentuh sedikit, langsung luluh. Karena itu ia membentengi diri dengan sikap sinisnya.  Namun Miko justru tertawa geli melihat sikap Raline. Pria itu seakan bisa menelisik perasaan Raline sesungguhnya. Miko tampak enggan melepaskan tangannya dari tangan gadis itu. "Biar kamu gak ilang," jawab Miko sambil mengedipkan sebelah matanya. "Emang bocah apa." Raline hendak melepaskan tangannya. Namun Miko justru menahannya dan menggenggamnya lebih erat lagi. "Miko..." Raline hendak protes akan kelakuan Miko, tapi ucapannya langsung dipotong oleh pria itu. "Udah nurut aja kenapa sih. Antriannya lumayan panjang nih. Moga aja wahananya gak terlalu rame." Miko tetap memegang erat tangan Raline. Ia mengabaikan protes Raline dan terus menarik gadis itu untuk tidak jauh berada di sampingnya. Raline akhirnya tak lagi membantah. Ia membiarkan tangan Miko menggenggam lembut tangannya. Rasanya ternyata cukup menyenangkan. Ada kehangatan yang dirasakan hatinya kala kulit tangan mereka bersentuhan. Sensasi rasa yang selama ini belum pernah ia rasakan. Raline lalu berjalan di samping Miko sambil menyembunyikan wajah tersipu malunya. “Kamu tunggu di sini aja. Aku beli tiket dulu. Antriannya panjang. Kasian kalo kamu berdiri bareng aku,” ucap Miko. Raline mengangguk setuju. Ia duduk di bangku yang ditunjuk Miko. Bangku itu terletak di bawah pohon, sehingga ia bisa berlindung dari panasnya terik matahari. Dengan patuh Raline menunggu Miko dan duduk di sana. Ia memandangi Miko yang saat ini sedang mengantri untuk membeli tiket dari posisi duduknya. Diam-diam Raline menatap Miko. Tentu dengan sorot yang tak biasa. Tatapan yang penuh kekaguman. Tanpa sadar Raline menyunggingkan senyuman manisnya ketika ia terus menatap sosok pria itu dengan lekat. Raline berharap Miko tak akan berbalik dan memergokinya yang saat ini sedang mengagumi pria itu. Raline akhirnya mengalihkan pandangan ke layar ponselnya. Ia berpura-pura sibuk bermain dengan ponselnya itu ketika mendapati Miko sedang berjalan ke arahnya. Ia tak ingin Miko menangkap raut wajahnya yang sedang terpesona pada pria itu. “Hai. Nunggu lama ya? Sorry... sorry... antriannya panjang banget soalnya. Aku juga gak nyangka bakalan sepanjang ini. Maaf ya,” ucap Miko. Raline menatap wajah pria yang kini ada di hadapannya. Ia bisa melihat gurat penyesalan pada wajah Miko. “Iya. Gak papa. Mau diapain lagi. Gue gak ada pilihan selain nungguin lo di sini.” “Aku minta maaf ya. Kamu pasti bete nungguin aku kelamaan,” ucap Miko. “Iya gak papa. Yaudah ayo jalan. Mau sampai kapan lagi lo buat gue duduk di bawah pohon.” Raline menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Miko tertawa cekikikan. Pria itu kembali menggenggam tangan Raline. Mereka berjalan memasuki arena dufan dengan langkah saling berdampingan. Raline benar-benar mulai terbiasa dengan genggaman tangan Miko. Keluhan dan protes tak lagi keluar dari bibir gadis itu. "Emang kita mau naik wahana apa sih?" Raline tak pernah ke taman bermain seperti Dufan. Ia hanya pernah menonton tempat itu di film. Tak ada yang mengajaknya. Ia juga terlalu gengsi untuk meminta orang sekitarnya untuk membawa dirinya ke sini. "Kamu takut ketinggian gak?" tanya Miko. "Enggak," jawab Raline penuh percaya diri. Raline merasa begitu percaya diri. Tak ada yang ia takuti di dunia ini, termasuk tentang ketinggian. Sebetulnya, Raline tak pernah menantang dirinya dalam ketinggian. Ia sebenarnya tak tau apakah tubuhnya itu takut akan ketinggian atau tidak. Namun bukan Raline namanya bila ia menyebutkan kelemahan dirinya. Raline lebih memilih menjawab pertanyaan Miko itu dengan penuh rasa percaya diri. "Jantung lemah?" "Yah enggak lah." "Pantesan aja jantung kamu susah banget berdebar buat aku," canda Miko. Raline melongo mendengar gombalan alay Miko. Ia benar-benar tertegun dengan sikap Miko yang bisa-bisanya ngegombal di tengah situasi penuh keramaian ini. "Gue kira arahnya buat ngejawab pertanyaan gue. Ternyata cuma buat ngegombal." "Bercanda, Line. Nanti kita coba wahana yang seru dan menegangkan ya. Apa kamu mau naik komedi puter aja?" goda Miko. "Emang gue anak kecil apa!" Raline merasa Miko sedang meledek dirinya. Miko justru tersenyum melihat wajah kesal Raline. "Kamu kalo lagi marah gini. Kok lucu ya." "Hoeks! Gombalan yang bener-bener alay!" ucap Raline sambil geleng-geleng kepala. Ketika langkah kaki Raline mulai memasuki arena Dufan, ia sedikit takjub melihat tempat itu. Ada banyak wahana yang menarik di matanya. Mungkin karna ini kali pertama ia melihat arena permainan seperti itu. Raline menatap bianglala yang begitu besar dan tinggi. Ia sedikit penasaran seperti apa rasanya menaiki itu. Menatap pemandangan kota jakarta dari atas sana. Raline juga melihat rel roller coaster yang begitu panjang, tinggi, dan alur rel yang begitu menakutkan. Ia bergidik ngeri ketika membayangkan menaiki wahana itu. Apalagi setelah mendengar teriakan orang-orang yang ada di dalam kereta roller coaster itu. Suara histeris mereka cukup menggambarkan betapa wahana itu mampu menguji andrenalin siapapun yang akan menaikinya. Namun Raline buru-buru menyembunyikan wajah takutnya. Ia tak ingin Miko menangkap kegentaran hatinya itu. Ia sudah terlanjur tampil begitu berani di hadapan pria itu. Raline begitu kaget ketika Miko tiba-tiba menarik tangannya. Pria itu membawa langkah kakinya ke arah tempat yang menjual pernak-pernik lucu. Ada balon, beberapa cemilan, dan hiasan kepala yang dijual tempat itu. Raline tak mengerti kenapa Miko membawanya ke sana. Tak ada benda yang menarik di matanya. "Kamu mau yang mana?" Miko mengambil beberapa bando dari tangan pedagangnya dan tampak memilih design yang paling bagus. "Kayak bocah tau gak," ujar Raline. Tak ada satu pun design yang ia suka. Lagipula Raline tak pernah memakai bando. Benda itu hanya akan membuatnya tampil kekanak-kanakan dan terlalu feminim ketika dikenakan. Raline tak terlalu menyukai citra diri seperti itu "Ini kayaknya lucu." Miko mengambil bando yang memiliki hiasan telinga kucing, lalu langsung memasangkannya di rambut Raline. "Cantik," puji Miko dengan sorot mata penuh kekaguman. “Cantik apaan?! Ini gak ada cantik-cantiknya. Kayak bocah tau gak! Aku gak suka.” Raline hendak melepaskan bando itu dari kepalanya. Namun tangan Miko dengan cepat menahan tangannya. “Jangan dilepas. Pake ya. Kali ini aja. Buat aku,” pinta Miko dengan nada lembut. Tatapan mata Miko lagi-lagi melumpuhkan Raline. Bibirnya terasa kelu untuk mengeluarkan kalimat bantahan. Seketika tangannya melemah dan ikut turun dari kepalanya sesuai arahan tangan Miko. Ia tak jadi menanggalkan bando itu. Benda itu tetap berada di atas kepalanya. “Kamu cantik. Terlihat menggemaskan dengan bando itu. Jangan dilepas ya,” bisik Miko. Seketika pipi Raline langsung panas dan merona. Kata klise yang digunakan oleh Miko untuk memujinya sanggup membuat wajahnya tersipu malu. Raline hanya mengalihkan pandangannya tanpa mengucapkan kata apapun. Ini kali pertama ia bertingkah bodoh di hadapan seorang pria. “Kita mulai main yuk,” ajak Miko dengan senyum manisnya. “Mau main wahana apa?” tanya Raline. “Main itu,” jawab Miko sambil menunjuk ke arah belakang tubuh Raline. Secara refleks Raline menoleh ke arah belakang. Ia menatap wahana yang baru saja ditunjuk Miko. Seketika matanya terbelalak. Pupil matanya membesar ketika melihat wahana itu. Suara histeris dan wajah ketakutan orang-orang yang menaiki wahana itu sontak membuatnya bergidik ngeri. “Kita naik kora-kora yuk. Kamu gak takut kan?” tanya Miko. Raline menarik nafasnya selama beberapa saat. Wahana berbentuk kapal yang berayun ke depan dan ke belakang dengan kecepatan yang sangat ekstrim itu begitu mengerikan di matanya. Sesungguhnya Raline benar-benar merasa takut. Namun ia berusaha menutupi kecemasan dan ketakutan yang sedang ia rasakan saat ini. “Aku gak takut kok,” jawab Raline. Ia mencoba tersenyum di hadapan Miko. Namun ia yakin dengan pasti bila senyumnya benar-benar tampak aneh. Raline segera memalingkan wajahnya agar Miko tak melihat kegetiran senyumnya itu. “Yaudah ayo ke sana.” Miko kembali menggenggam tangan Raline. Sentuhan tangan Miko itu sedikit membuat kecemasan hatinya itu sirna. Setidaknya untuk saat ini kepala Raline tidak membayangkan betapa menakutkannya wahana itu. Ia mengesampingkan perasaan cemasnya dan sibuk menyelami debaran jantungnya. Sensasi rasa yang sanggup membuat pipinya merona merah. *** Raline memegang keningnya setelah keluar dari Dufan. Kepalanya terasa pusing setiap kali selesai menaiki wahana permainan. Miko selalu membawanya ke wahana yang memacu andrenalin jantungnya. Ia baru tau jika tubuhnya ternyata tak kuat menaiki permainan seperti itu. Wahana kora-kora, ontang-anting,  kicir-kicir, dan halilintar sanggup mengocok perutnya hingga terasa mual.  Namun Raline berusaha menutupi kondisinya dan bersikap seolah baik-baik saja. Ia terlalu malas menerima ledekan dan ditertawakan oleh Miko. Raline berusaha berjalan tegak, meski lututnya masih terasa begitu lemas.  "Are you ok?" tanya Miko dengan wajah cemas. Miko sepertinya bisa menangkap raut tak biasa dari wajahku ini. Pria itu sepertinya tau bila kini ia tidak dalam kondisi sehat. Namun Raline enggan menampilkan kelemahannya. Ia berusaha mengubah raut wajahnya. Berusaha tampil baik-baik saja, meski perutnya masih terasa sangat mual. Raline berusaha menahan sebisa mungkin agar ia tidak muntah detik ini. "I'm ok. Kita abis ini kemana? Mau makan? Makan di mana?" tanya Raline balik. Ia sengaja mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada Miko. Berusaha mengalihkan perhatian pria itu dari raut wajahnya. Raline masih merasakan Miko masih begitu khawatir. "Yakin oke? Muka kamu pucet tuh." Miko mendekatkan wajahnya ke arah Raline. Tatapan mata Miko penuh selidik ke arah Raline. Pria itu meneliti wajah Raline dengan seksama. "Aku bilang kan oke. Jadi sekarang kita kemana? Nih kaki udah pegel jalan mulu!" "Cie... sekarang udah aku-kamu sama aku. Gitu dong." Miko tertawa pelan dengan wajah kegirangan. Raline menggigit bibirnya. Ia tanpa sadar telah menipiskan jarak hubungannya dengan Miko. Itu memang hanya kata sapaan. Namun memiliki makna yang berbeda. Raline secara tidak langsung menyatakan ia memiliki hubungan yang spesial dengan pria itu. "Ya udah sih!  Ah udah lah! Mending pulang sendiri aja!" Raline berbalik dengan wajah kesal sekaligus tersipu malu. Rasanya menyebalkan tak bisa menutupi rona merah wajahnya. Miko pasti menganggap lucu tingkahnya yang sedang gugup saat ini. "Jangan pergi dong, Line. Aku kan cuma bercanda," ucap Miko sambil menahan tangan Raline. Pria itu berusaha menahan tawanya agar tak membuat  Raline marah. "Terus maunya apa?" tanya Raline dengan nada ketus. "Ke pantai yuk," usul Miko tiba-tiba. Pria itu mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya. "Pantai mana? Pantai Ancol?" Raline menatap Miko dengan tatapan tak percaya. Miko menganggukan wajahnya dan tersenyum. Pria itu tampak begitu antusias. Namun Raline langsung menggelengkan kepalanya. Ia menolak usulan tak menarik itu. "Ogah! Apa bagusnya sih tuh pantai. Kalo ke pantai Bali sih masih mending. Lah ini pantai Ancol! Buang-buang waktu aja deh!" Raline tak mengerti alasan Miko mengajaknya ke pantai itu. Banyak pantai yang jauh lebih bagus daripada itu. Banyak pantai lain yang memiliki pasir putih dan laut bewarna biru yang begitu indah. Bila ingin ke pantai, Raline lebih memilih pergi di hari lain. Ia bisa menyiapkan tiket pesawat dan destinasi wisata pantai lain yang lebih menarik. "Aku suka suara ombak. Bikin suasana hati lebih tenang. Emang sih pantainya gak terlalu bagus. Cuma suara ombaknya tetap sama kan? Aku pengen dengerin suara ombak sama kamu," ucap Miko dengan nada merengek. "Mending dengerin suara ombak di youtube aja. Pake earphone lebih jelas malah. Nanti aku naikin volume suaranya ke level maksimum." Raline geleng-geleng kepala melihat tingkah Miko. "Enggak ah! Apa romantisnya kalo gitu doang," tolak Miko. "Yah terus apa romantisnya ngedengerin ombak di Pantai Ancol?" Raline mulai geram dengan tingkah Miko. "Yah kan ngedengerin dan ngeliat ombaknya secara langsung. Gak pake HP. Udah gitu sama kamu pula. Romantis parah!" Raline menghela nafas kesal. Rasanya percuma beradu argumen dengan Miko. Pria itu tampak bersikeras dengan keinginannya. Entah kenapa ia selalu menuruti permintaan lelaki yang ada di sampingnya itu. "Baiklah. Buat kali ini aku ikutin. Cuma lain kali aku gak mau." Raline mentertawakan dirinya di dalam hati. Rasanya ia sudah mengucapkan kalimat itu berulang kali. Namun ia selalu berakhir dengan hal yang sama. Mengucapkan kalimat itu lagi. Pada akhirnya ia selalu mendapati dirinya menuruti permintaan pria itu. Entah karena ia dijebak karena ancaman Miko atau dirinya mulai luluh karna bujukan pria itu. Miko langsung tersenyum senang dan memeluk Raline. "Terima kasih sayang." Raline hanya terdiam dan berdiri kaku didalam pelukan Miko. Diam-diam Raline menyunggingkan senyumannya, meskipun hanya dalam waktu singkat. Ia menyembunyikan senyuman itu ketika Miko melepaskan rangkulannya. "Ayo pergi ke pantai!" teriak Miko sambil menggenggam tangan Raline. “Satu jam aja ya! Aku udah capek! Abis itu pulang!” tegas Raline. Namun Miko tak menjawab perkataan Raline. Pria itu menggenggam mesra tangan Raline sambil berjalan berdampingan. CONTINUED **************** Hai guys! Part ini romantis? Kocak? atau bikin gemes? wkwkwk See you!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN