~ Kalo kalian suka cerita ini, jangan lupa buat love ya ^^ Thank you! ~
Raline duduk dengan raut wajah bosan dan mata yang terpejam. Ia tak menyangka jika menemani Miko pemotretan akan menjadi aktivitas yang sangat tidak menarik. Miko terlalu sibuk make up, berganti busana, dan berpose di depan kamera. Pria itu mengabaikannya dan jarang mengajaknya berbicara.
Raline lalu memutuskan unruk menghampiri lokasi pemotretan Miko, daripada terus menerus duduk di ruang tunggu. Ia bisa mati karena kebosanan jika terus seperti itu. Raline lalu berdiri di belakang fotografer. Ia memandangi Miko dari sudut pandang fotografer itu dan mengaguminya.
Di mata Raline, kekasihnya benar-benar tampan dan bersinar saat ini. Mungkin karena Miko menunjukan semua pesonanya di depan kamera, hingga Raline pun juga ikut terkagum. Namun tiba-tiba seorang model wanita cantik dan seksi masuk ke dalam set foto Miko. Wanita itu duduk di pangkuan Miko dan menampilkan gaya yang mesra.
Miko menampilkan pose mesra tepat di depan matanya. Adegan yang cukup membuat wajahnya memanas karena emosi. Raline lalu menatap tajam model wanita itu yang saat ini dengan berani mendekatkan wajahnya ke arah Miko. Rasanya ia ingin berlari menghampiri mereka dan menjambak rambut wanita itu.
Namun Raline menahan emosinya. Bukan style-nya membalas dengan kasar di depan umum, apalagi di depan kamera. Ia masih mengawasi dalam diam kegiatan kekasihnya itu. Meski Raline masih tak bisa menyembunyikan amarah dari sorot matanya.
Ketika Miko telah menyelesaikan kegiatan pemotretannya, Raline langsung menarik Miko ke ruang ganti, lalu mengunci ruangan itu. "Kamu kenapa?" tanya Miko bingung.
"Aku pengen kamu berhenti jadi model," ucap Raline dengan raut wajah serius.
"Hah? Kenapa?"
"Kalo kamu gak bisa berhenti... yaudah jadi model company keluarga aku aja. Aku akan kasih bayaran tiga kali lipat dari pendapatan kamu setahun." Raline menatap tajam Miko.
Miko lalu membelai pipi Raline dan berbisik dengan lembut, "Hey... kamu kenapa?"
"Aku gak suka kamu bermesraan sama cewek lain kayak gitu," jawab Raline.
Miko tersenyum, lalu tertawa pelan melihat wajah cemburu Raline. "Kok malah ketawa sih?! Aku serius!" tegas Raline.
"Sayang... itu cuma pekerjaan. Gak lebih. Cewek aku itu cuma kamu, gak ada yang lain." Miko menggenggam tangan Raline dengan erat, sambil tetap membelai pipi gadisnya itu dengan lembut.
"Emang kalo jadi model company keluarga aku kenapa? Bayarannya jauh lebih tinggi dan kamu gak perlu ambil job kecil kayak gini."
"Bukan soal itu, yang. Aku juga pengen diakui professional di bidang ini. Aku pengen jadi model, penyanyi, dan aktor yang diakui kualitas serta ketenarannya. Kalo aku terima tawaran kamu, hidup aku bakalan datar banget dong. Gak akan ada tantangannya," tutur Miko.
"Bilang aja kamu sebenernya pengen bermesraan sama cewek lain. Ngaku aja susah banget sih," sindir Raline.
"Kamu kalo cemburu lucu deh," goda Miko.
Raline mengalihkan pandangannya. "Aku gak cemburu."
Raline merasa kata cemburu menyinggung egonya. Ia belum pernah mengakui rasa takut akan kehilangan seseorang dengan mulutnya sendiri.
"Kamu cemburu," goda Miko lagi.
Raline yang mulai kesal langsung kembali menatap Miko. "AKU GAK CEM..." Belum selesai Raline menyelesaikan kalimatnya, Miko tiba-tiba mendaratkan bibirnya ke bibir Raline. Pria itu membungkam mulut Raline dengan ciumannya yang begitu lekat.
Raline begitu terkejut hingga matanya terbelalak. Ia kaget dengan sikap agresif Miko yang tiba-tiba menciumnya tanpa peringatan. Selama beberapa saat Raline hanya terdiam dan menerima ciuman itu. Ia membiarkan Miko membelai rambutnya dan merangkul tubuhnya.
Namun secara perlahan Raline mulai bisa menikmati lumatan ciuman kekasihnya itu, lalu memejamkan mata dan menyesap setiap sensasi rasa yang diterimanya. Kemudian secara perlahan Raline mulai membalas ciuman Miko sambil mengusap punggung kekasihnya itu.
Selama beberapa menit mereka berciuman dan menikmati bibir yang saling melumat. ini kali pertama Raline menyecap manisnya bibir seorang pria dan merasakan jantungnya berdebar karenanya. Jika waktu bisa dihentikan, Raline akan memilih detik ini sebagai penghentiannya.
Secara perlahan Miko melepaskan ciumannya, lalu menempelkan keningnya di kening Raline sambil tersenyum. Miko membelai lembut pipi Raline dengan jemarinya, menatapnya dengan lekat. "Aku cinta kamu," bisik Miko.
Pipi Raline langsung merah merona, hingga ia tak sanggup membalas tatapan mata kekasihnya itu. "Aku gak akan tergoda sama cewek lain. Karna cinta aku cuma buat kamu. Percaya sama aku," ucap Miko dengan penuh kesungguhan.
Raline mengangguk dengan wajah tersipu malu. Rasa amarah yang tadinya memuncak, seketika hilang entah kemana. Perilaku manis Miko cukup mampu untuk mengaburkan rasa cemburu dan emosi hatinya. Dirinya ternyata menyukai kata cinta yang memanjakan telinganya. Kekasihnya itu memang tau bagaimana menaklukan hatinya.
"Besok kamu makan malam bareng yuk," ajak Miko.
"Dimana?"
"Restoran yang punya suasana romantis. Aku harus search dulu sih."
"Baiklah."
Tok... tok... tok... Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
Suara ketukan itu seakan menyadarkan Raline dan Miko jika sekarang mereka sedang berada di tempat umum. Mereka tertawa bersamaan ketika mengingat apa yang telah mereka lakukan di ruangan tertutup itu. Raline tak pernah menyangka jika ia akan melakukan ciuman pertamanya di ruang ganti. Cinta memang sanggup untuk membuatnya melakukan sesuatu diluar kebiasaannya.
CONTINUED
*****************
Hai guys! ^^
Part ini gimana? Ini Bab tersulit yang pernah aku tulis. :D Saking sulitnya, aku gak tau lagi mau ngomong apa disini. wkwkwk
Sejujurnya aku gak biasa nulis adegan kissing. Cuma adegan itu penting untuk alur plot cerita ini dan pesan morilnya. Kalian harus baca Rosemary sampe habis ya, buat paham kenapa aku nulis adegan adegan seperti ini. Semuanya ada tujuannya kok ^^
See you! *Jangan lupa love dan komen! ^^