15. Persiapan Makan Malam

1046 Kata
Miko mengajaknya makan malam di sebuah restoran, sehingga ia ingin tampil spesial malam ini. Namun sudah setengah jam Raline menatap isi lemari pakaiannya, tapi masih belum juga ia menemukan busana yang tepat untuk dikenakan. Mungkin karena ia menganggap acara malam ini terlalu spesial, hingga semua koleksi gaunnya terasa biasa. Raline sering pergi ke pesta. Koleksi gaun miliknya ada banyak. Mulai dari gaun merek dalam negeri yang terkenal, hingga keluaran luar negeri yang termahal. Tak ada yang terlewat untuk menjadi koleksi miliknya. Semua terpajang lengkap di ruang wardrobe yang ada di kamarnya. Termasuk koleksi sepatunya, aksesoris perhiasan, hingga peralatan riasan wajah. Tak ada yang tak dimilikinya. Kebingungan Raline memang bukan perkara tentang tidak memiliki busana yang baik. Namun ia bingung memilih gaun dan sepatu tercantik yang pas untuk dipakainya. Ia ingin tampil mempesona di hadapan Miko, kekasihnya itu. Ini kali pertama dirinya makan malam dengan orang yang tak biasa. Orang yang mampu membuat jantungnya berdebar. Ia benar-benar ingin tampil cantik di hadapan prianya itu. Namun Raline tak bisa terus berkutat dengan kegalauannya karena waktu terus berjalan. Dua jam lagi Miko akan datang untuk menjemputnya. Bila kebimbangannya terus dituruti, Raline pasti akan membuat Miko menunggunya terlalu lama dan agenda makan malamnya itu pasti akan kacau. Ia tak ingin merusak malam spesial ini karena kesalahannya sendiri. Raline akhirnya memutuskan mengambil gaun biru muda yang baru dibelinya minggu lalu. Designnya memang sederhana, tapi ia yakin akan terlihat anggun jika gaun itu menempel ditubuhnya. Gaun itu memiliki panjang 5 cm di atas lutut dengan design atasan yang memamerkan bahu indahnya. Ada hiasan renda dipinggiran rok gaun itu. Taburan mutiara dan  manik-manik menghiasi area atasan  gaun itu. Raline yakin akan tampil cantik dengan gaun design itu. Lekuk tubuhnya juga akan terlihat indah sekaligus elegan. Raline menatap gaun itu dengan penuh kekaguman. Raut wajahnya tak menunjukan ketidak sabaran untuk mencoba. Ia akhirnya segera melepas baju handuk yang sedang dikenakannya, lalu mengenakan gaun itu.   Setelah mengenakan gaun, Raline segera memoles wajahnya dengan make up. Ia memilih warna riasan yang sesuai dengan warna gaunnya. Lipstik berwarna merah muda ia poles ke bibirnya, menambah kesan cantik dan feminim. Raline menatap hasil akhir riasan wajahnya pada cermin riasnya.  Setelah puas, ia segera memanggil penata rambutnya. Selama lima belas menit rambutnya ditata. Rambut panjangnya tetap digerai, tapi dibuat bergelombang. Raline tampak seperti barbie yang hidup malam ini. Setelah puas menata rambutnya, Raline memilih tas dan mengenakan sepatu high heels dengan warna hitam. Kemudian ia menatap pantulan dirinya di cermin untuk terakhir kalinya. Ia ingin memastikan bila penampilannya telah benar-benar sempurna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Raline akhirnya tersenyum menatap pantulan penampilannya di cermin. Semuanya dirasa telah sempurna dan cantik. Sebelum pergi, Raline mengambil sebuah kotak kecil bewarna biru tua dengan pita hitam dari dalam lacinya.   Kotak itu merupakan hadiah yang Raline persiapkan untuk Miko. Ia merasa selama ini belum pernah memberikan sesuatu yang istimewa untuk lelaki yang telah mengubah hari-harinya menjadi lebih spesial itu. Setelah memasukan kotak itu ke dalam tas, Raline segera bergegas keluar rumah. Ia yakin Miko telah menunggunya di sana. Seperti dugaannya, Mobil sport merah telah terparkir di depan rumahnya. Raline lalu mengetuk kaca jendela, meminta Miko agar pintu segera dibukakan. Raline lalu masuk ke dalam mobil dengan senyum manis menghiasi wajahnya. "Udah lama nunggu?" tanya Raline sambil memasang seat belt-nya. "Enggak kok. Cuma sepuluh menit aja," jawab Miko sambil menyetel musik. Kali ini pria itu memasang musik piano klasik untuk menemani perjalanan mereka menuju restoran. "Kok gak nyuruh aku buat buruan keluar? Kan kamu bisa chat atau telepon aku buat cepet-cepet keluar. Jadi kamu gak perlu nunggu lama, kan." Raline menatap heran kekasihnya itu. "Yah gak papa. Lagian kamu lama juga buat tampil cantik untuk aku, kan?" goda Miko. Raline tersipu malu. Miko menatap Raline begitu lekat dengan sorot penuh kekaguman. Tatapan mata kekasihnya itu seakan sedang meneliti kecantikan wajahnya itu. Tentu saja tatapan itu membuat Raline menjadi gugup dan berdebar.  "Aku emang selalu cantik kok. Bukan cuma buat kamu doang." Raline berusaha menutupi kegugupan hatinya. Ia mengalihkan pandangannya dari mata Miko. Miko tersenyum penuh makna. "Iya. Kamu emang selalu cantik kok." Raline yang masih tersipu malu akhirnya hanya bisa tetap mengalihkan pandangannya ke arah kaca. Miko memang selalu bisa membuat jantungnya berdebar hanya dengan kalimat pujian sederhana. Sensasi rasa yang memang hanya baru ia rasakan dari lelaki itu. Raline melirik sekilas Miko yang tampak fokus menyetir di sebelahnya. Pria itu terlihat tampan dengan setelan kemeja lengan panjangnya bewarna biru tua. Meski tidak janjian, busana mereka tampak sangat serasi. "Kenapa? Aku tampan ya?" tanya Miko sambil tertawa.   "Kalo kamu jelek, mana bisa jadi pacar aku," jawab Raline dengan wajah angkuh khasnya. Itu pujian terbaik yang bisa ia lontarkan dari mulutnya. Raline tak bisa memuji dengan kalimat manis seperti yang dilakukan oleh Miko. Ia tak pernah mengatakannya dengan gaya seperti itu. Raline punya caranya sendiri untuk memuji kekasihnya itu. Miko tersenyum. Pria itu tampak memutar kemudi setirnya untuk berbelok dan mengarahkan mobil ke Restoran De Claune. Sebuah restoran yang sudah pria itu siapkan satu minggu sebelumnya. Betapa sulitnya Miko untuk bisa booking satu meja di sana. Restoran itu memang terkenal begitu ramai pengunjung. Bila tidak ingin mengantri, maka harus di booking dari jauh-jauh hari. "Kita makan di sana?" tanya Raline dengan tatapan takjub. "Iya. Aku usah reservasi dari satu minggu yang lalu," jawab Miko sambil memarkirkan mobilnya. Raline terlihat takjub. Ia sangat tau restoran itu begitu sulit di reservasi, karena popularitasnya begitu tinggi. Daftar tunggunya pun sangat panjang, hingga Raline menyerah untuk menyicipi makanan di sana. Ia sedikit terharu melihat Miko berhasil memesan tempat di sana. Itu artinya kekasihnya itu rela mengantri hanya untuk membubuhkan nama kami di daftar reservasi. Raline lalu turun dari mobil setelah Miko membukakan pintu untuknya. Ia merangkul lengan Miko, lalu berjalan memasuki restoran. Rangkulan yang mesra layaknya sepasang kekasih. Rasanya cukup menyenangkan berjalan bersama dengan pacar, apalagi agenda acara hari ini adalah makan malam romantis. Raline tak sabar melihat apa yang telah disiapkan kekasihnya itu untuk dirinya. Namun bila tampak sederhana pun, ia tetap bahagia. Fakta bahwa Miko booking meja di restoran ini satu minggu sebelumnya telah membuatnya cukup terharu. Ia sudah bahagia mengetahui niat kekasihnya itu untuk menyiapkan acara makan malam ini terasa spesial.   CONTINUED   *********************** Siapa yang penasaran dengan agenda makan malam Raline dan Miko hayoooo? ^^ Sabar ya. Besok bakalan updated kok. ^^ Salam, Alvera
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN