Seperti dugaannya, Restoran itu sangat ramai. Tidak ada meja kosong di sana. Hampir sangat mustahil makan di restoran ini tanpa membuat reservasi terlebih dahulu. Bila pun dapat, pasti telah menghabiskan waktu untuk mengantri berjam-jam lamanya untuk bisa mendapat satu mejanya saja. Untungnya Miko tak membuatnya melakukan itu. Ia cukup bersyukur kekasihnya itu telah booking meja di restoran itu satu minggu sebelumnya.
"Sudah reservasi, Tuan?" tanya waiter yang berdiri di dekat pintu.
"Sudah. Atas nama Miko Rolando," jawab Miko.
Setelah memastikan identitas Miko dan daftar reservasi, pelayan itu pun akhirnya mengantarkan mereka. Miko ternyata memesan sebuah meja dengan lokasi yang paling nyaman, di sebelah air terjun buatan dan kolam yang berisi ikan koi. Ada taman bunga yang cukup indah di dekat lokasi meja itu. Hiasan lampu membuat suasana menjadi romantis dan cantik di mata Raline. Makan malam hari benar-benar terasa istimewa.
“Terima kasih,” ucap Miko ke arah Waiter yang telah mengantarkan mereka.
Raline langsung duduk setelah Miko menarikan kursi untuknya. Sebuah attitude baik yang dilakukan pria terhadap wanitanya. Setelah Miko duduk di kursi, Mereka lalu memesan beberapa menu makanan. Raline memilih menu steak, sedangkan Miko memilih pasta sebagai hidangan utama. Mereka juga memesan hidangan penutup dan sebotol red wine untuk melengkapi makan malam ini.
Setelah pelayan yang menerima pesanan mereka telah pergi, Miko lalu menatap Raline dengan senyuman. "Kamu suka?" tanya Miko.
Raline mengangguk dengan raut wajah bahagia. "Aku udah lama pengen makan di sini. Kok kamu bisa tau sih? Kayaknya aku gak pernah bilang deh."
"Mungkin karna aku terlalu cinta kamu, makanya aku bisa tau tanpa kamu bilang." Miko tertawa cekikikan ketika melontarkan gombalan recehnya.
Raline tertawa sambil geleng-geleng kepala. Lagi-lagi kekasihnya itu melemparkan kalimat gombalan yang menggelitiknya hingga tertawa. Bukan Miko namanya bila tak ada kalimat receh yang terdengar begitu garing. "Aku mungkin bakalan diabetes kalo terus-terusan di gombalin dengan kata-kata manis recehmu itu," balas Raline.
“Bagus dong. Kalo kamu diabetes karna kemanisan cinta aku, itu artinya kamu udah gak bakalan kemana-mana. Ketergantungan sama aku.” Miko mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum dengan raut wajah menahan tawa.
Raline hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedikit tajam ke arah kekasihnya itu. Namun pada akhirnya ia tetap saja akan tersenyum senang dan tertawa. Meskipun ia kegelian, tapi ia tetap bahagia mendapat gombalan receh kekasihnya itu.
Beberapa menit kemudian, tampak seorang pekerja restoran menghampiri mereka. Seragam orang itu tak tampak seperti pelayan. Raline menebak bila orang itu adalah manager restoran ini. Miko kemudian terlihat memberikan sebuah kode ke pelayan.
Raline menangkap perilaku tak biasa dari kekasihnya itu. Ia berusaha menerka apa yang akan dilakukan oleh Miko. Namun ia sama sekali tak bisa menebak. Pada akhirnya ia bertanya langsung, daripada mati penasaran. "Kamu mau ngapain?" tanya Raline dengan wajah bingung.
"Aku nyiapin kejutan buat kamu," jawab miko sambil mengedipkan matanya.
“Kejutan apa?” tanya Raline lagi.
“Kalo aku kasih tau sekarang... itu namanya bukan kejutan dong sayang. Sabar ya,” jawab Miko dengan nada lembut.
Raline terdiam dengan raut wajah penuh antusias. Rasanya ia sangat jarang menerima kejutan dari orang lain. Biasanya selalu ia yang memberi hadiah pada orang lain, bukan sebaliknya. Terlebih lagi, kejutan ini dari seorang pria yang begitu spesial baginya. Tentu saja Raline merasa tak sabar mengetahui apa yang sedang dipersiapkan Miko untuknya.
Tak beberapa lama kemudian, terlihat dua orang pelayan datang dengan masing-masing membawa buket mawar merah dan sebuah boneka Teddy Bear yang sangat besar. Miko lalu mengambil bunga itu dan memberikannya ke Raline.
Raline menerima buket hunga itu dengan wajah penuh keterkejutan. Matanya terbelalak dengan hadiah yang kini ada di tangannya. Buket itu cukup besar hingga ia harus memegangnya dengan dua tangan. Buket itu berisi begitu banyak bunga mawar merah yang disusun dengan begitu indahnya.
Ketika Miko hendak memberikan lagi hadiah boneka Teddy Bear, Raline langsung menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa megangnya, yang. Tangan aku penuh." Boneka Teddy Bear itu begitu besar. Boneka itu berukuran hampir setengah tubuh Raline. Ia tak akan bisa menerima ke dua hadiah itu sekaligus dengan tangannya.
"Taruh bunganya di meja aja sayang," ujar Miko.
Raline dengan patuh meletakan buket itu di atas meja sesuai dengan perkataan kekasihnya itu. Kemudian ia menerima boneka pemberian Miko itu dengan senyum penuh bahagia. "Ini kenapa kasih boneka besar banget deh?" Boneka teddy bear yang diberikan Miko benar-benar besar, hingga wajah Raline bahkan sulit terlihat karena tertutup tubuh boneka itu. Namun ia tetap senang menerima pemberian boneka itu. Hadiah pertama yang ia terima dari seorang pria.
Raline sebenarnya tak terlalu suka boneka. Itu benda kekanak-kanakan menurutnya. Namun ia bukan melihat benda apa yang diterimanya, tetapi siapa yang memberikannya. Karena itu ia begitu senang menerima boneka itu, meski sesungguhnya ia tak terlalu menyukainya. Ia akan dengan senang hati menaruh boneka itu di tempat terbaik dalam kamarnya.
“Makasih ya. Aku suka semua hadiah ini,” ucap Raline.
“Iya sama-sama.” Miko tertawa cekikikan melihat Raline yang kesusahan memegang boneka pemberiannya. "Kamu bisa taruh boneka itu di lantai, yang."
Raline lalu meletakan boneka itu dengan dibantu oleh Miko. Setelah boneka itu tergeletak di lantai, ia menghela nafas lega karena terbebas dari benda berukuran raksasa itu. "Kamu mau ngerjain aku ya?" tanya Raline dengan tatapan curiga.
Miko kembali tertawa. "Enggaklah hahahaha. Aku cuma pengen kasih boneka aja. Kan bagus kalo ditaruh di kasur. Pas tidur juga bisa dipeluk. Anggap aja lagi meluk aku."
Raline tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Aku bener-bener bisa diabetes denger kalimat gombalan manis kamu itu," ucap Raline sambil meneguk wine.
"Tapi kamu suka kan?" tanya Miko sambil menarik sebelah alisnya ke atas.
"Yah lumayanlah. Meskipun receh, tapi enak dikuping hahaha.”
Menit berikutnya, dua orang pelayan menghampiri sambil membawa nampan berisi hidangan sesuai pesanan mereka. Setelah semua hidangan tersaji di hadapan mereka, Miko tersenyum ke arah dua pelayan itu. “Terima kasih ya,” ucap Miko.
Raline langsung mengambil sendok dan garpunya, bersiap untuk makan. “Kamu gak perlu sedikit-sedikit ucapin makasih. Itu kan emang udah job mereka. Sesuatu yang memang harusnya dilakukan.”
Miko mulai memakan pasta yang ada di hadapannya. “Gak papa sayang. Ngucapin kata makasih juga gak berat kok buat aku. Mereka juga seneng dihargai begitu. Gak ada salahnya kan bikin orang seneng.”
Raline hanya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Namun diam-diam ia mengagumi kesopanan kekasihnya itu. Perilaku yang jarang Raline lakukan pada orang lain. Ia tak terbiasa senyum pada orang asing, apalagi mengucapkan kata terima kasih.
"Sayang... kita holiday berdua bareng yuk. Aku pengen deh," usul Miko tiba-tiba.
"Mau kemana?" tanya Raline sambil memotong steak-nya. Kemudian menyecap rasa steak itu secara perlahan.
"Kemana aja. Cuma kayaknya gak bisa jauh-jauh deh. Bentar lagi bakalan UTS kan. Udah gitu aku juga lagi banyak kerjaan. Aku lagi nyiapin album juga. Aku cuma pengen liburan. Udah mulai penat soalnya nih." Miko mengunyah makanannya dengan tatapan memohon ke arah Raline. Berusaha membujuk Raline agar mengikuti permintaannya.
Raline berpikir sejenak sambil mengunyah potongan daging steaknya yang ada di mulut. Raline biasanya liburan sendirian. Bila ingin mengajak biasanya ia mengajak Syeiba dan Claudia. Ia sangat jarang mengijinkan pria mengikuti liburannya.
Namun karena pria ini adalah kekasihnya, Raline melunakan prinsipnya itu. Membayangkan liburan bersama kekasihnya, sepertinya akan menyenangkan. "Ya udah, kita ke Lembang Bandung aja gimana? Aku punya Villa di sana. Kita bisa berenang, nikmati wisata kuliner, atau sekedar nikmatin suasana di sana."
"Boleh! Kemana aja lah. Yang penting liburan dan sama kamu." Miko tersenyum dan menatap Raline dengan lekat.
Raline membalas senyuman itu. Kemudian ia teringat sebuah hadiah yang telah dipersiapkan olehnya untuk Miko. Raline lalu mengeluarkan kotak berwarna biru dari dalam tas dan memberikannya ke Miko. "Ini buat kamu."
“Wah... ini apa?” tanya Miko dengan mata terbelalak.
“Buka dong. Biar tau isinya tuh apa. Cepetan ambil, tangan aku udah mulai pegel nih.”
Miko mengambil kotak itu dengan senyuman menghiasi bibirnya. Selama beberapa saat Miko menatap kotak itu dengan penuh kekaguman. Kemuadian pria itu mencoba membuka kotak itu, lalu menarik pita hitamnya, kemudian melihat isi yang ada di dalam kotak itu. Menit berikutnya mata Miko terbelalak ketika melihat isi didalamnya. "Ini buat aku? Ini kan mahal banget, yang."
Miko menatap tak percaya hadiah yang kini ada di depan matanya. Ia mengeluarkan benda itu dengan penuh kehati-hatian. Kemudian menelitinya dalam jarak dekat dengan penuh kekaguman.
Raline menghadiahkan sebuah jam tangan bermerek dengan taburan hiasan berlian. Hadiah yang tak bisa tergolong biasa dan murah. Begitu mewah hingga nominalnya pasti membuat takjub siapapun yang melihatnya
Namun Raline tak masalah menghabiskan uang sebanyak itu. Bahkan menurutnya itu bukanlah jumlah yang berat untuk dikeluarkan dari rekeningnya. Ia masih sangat kaya meski memberikan hadiah mewah kepada Miko. Lagipula itu tanda terima kasihnya pada pria itu. Tanda terima kasih karna Miko telah sering membuatnya bahagia dan tersenyum. Sesuatu yang tak bisa dinilai dengan nominal uang berapa pun.
"Iya. Emang mahal. Cuma gak papa. Aku pengen kasih itu buat kamu," jawab Raline dengan senyum tulus.
Miko lalu menutup kotak itu dan menyodorkan kembali ke Raline. "Aku gak bisa terima ini, yang. Ini terlalu mahal."
Namun Raline mendorong kotak itu kembali ke Miko dan enggan untuk menerimanya kembali. "Ini buat kamu. Emang hadiah ini mahal. Aku pengen kasih kamu sesuatu yang spesial, karna kamu juga spesial buat aku. Terima ya. Aku belum pernah kasih apapun buat kamu lho," ucap Raline.
Miko tampak berpikir beberapa saat. Namun ia kemudian menerimanya, lalu langsung memakainya. "Makasi ya. Aku terima ini bukan karna ini hadiah yang mahal... tapi karna ini bentuk ketulusan kamu."
Raline mengangguk penuh bahagia. Ini kali pertama ia memberikan hadiah untuk orang yang disayanginya.
"Jadi besok kita holiday?" tanya Miko.
Raline langsung mengangguk. "Tentu dong!" seru Raline.
CONTINUED
***************
Jangan lupa love dan Komen ya! See you ^^