Raline menatap Miko kala mobil yang sedang dinaikinya itu telah berhenti melaju. Ia memang sudah tiba di depan rumahnya. Namun masih enggan turun dari mobil itu. Raut wajahnya benar-benar bahagia malam ini. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Sorot matanya memancarkan apa yang sedang di rasakan hatinya saat ini.
“Makasih ya buat malam ini,” bisik Raline.
Miko membalas senyuman Raline. Pria itu menatap mata Raline dengan sama lekatnya. “Aku juga makasih sama kamu,” ucap Miko.
Nada lembut Miko itu berhasil menyentuh hati Raline. “Malam ini bener-bener bikin aku happy. Ternyata dinner sama kamu itu cukup menyenangkan.”
“Ini bukan apa-apa sayang. Aku akan bikin kamu bener-bener happy. Kamu gak akan nyesel terima aku jadi pacar kamu,” ujar Miko dengan penuh keyakinan.
Raline tersenyum dengan tatapan yang masih begitu lekat ke mata Miko. Janji yang baru saja dilontarkan kekasihnya itu begitu menyenangkan untuk di dengar. Hatinya benar-benar ingin mempercayai hal itu. Rasa bahagia di hatinya terasa begitu nyata, hingga ia berharap itu akan berlangsung selamanya. Detik ini Raline berharap semesta tak kejam padanya. Berbaik hati memberikan pria yang ada dihadapannya itu menjadi miliknya untuk waktu yang tak pernah berakhir. Dengan rasa kebahagiaan yang sama untuk hari-hari dan waktu yang akan datang.
“Aku harap begitu.” Raline menggumamkan harapannya itu dengan sorot mata penuh kesungguhan. Ia benar-benar berharap harapannya itu akan terus menjadi kenyataan.
“Pasti, sayang. Aku janji.”
Raline kembali tersenyum. “Aku sayang kamu.”
Ini kali pertama Raline mengungkapkan perasaannya. Kali pertama ia mengucapkan kata sayang pada seorang pria. Menunjukan isi hatinya secara nyata lewat kata-kata. Hal yang begitu jarang dilakukannya. Karena memang hanya baru Miko yang sanggup membuat hatinya tergerak dengan perasaan cinta. Sanggup membuat jantungnya berdebar. Mampu membuat seorang Raline tersipu malu dan salah tingkah. Bahkan sekarang, seorang Miko sanggup membuat Raline melakukan hal yang tak biasa, menyatakan perasaan.
Miko tersenyum dengan raut wajah begitu senang. Pria itu membelai wajah Raline dengan begitu lembut. “Aku juga sayang kamu.”
Raline tertawa. “Udah ah. Aku harus masuk ke rumah. Ini juga udah malem banget.”
Miko mengangguk setuju. “Oke. Selamat malam dan selamat beristirahat, sayang.”
Raline menatap kesal kekasihnya itu. “Kamu gak bantuin aku buat bawain itu?” Raline menunjuk ke arah buket bunga dan boneka Teddy Bear yang ada di kursi belakang. Dua hadiah pemberian Miko itu berukuran cukup besar. Rasanya tak mungkin ia membawa ke dua boneka itu ke rumah sendirian.
Miko tertawa cekikikan. Pria itu menyadari keluputan dirinya. “Maafin aku. Aku lupa.”
“Yaudah bantuin aku,” seru Raline.
Raline keluar dari mobil, sambil diikuti oleh Miko. Raline mengeluarkan buket bunga dan membawanya keluar dari mobil. Sementara Miko membawa boneka Teddy Bear yang memang berukuran lebih besar dan lebih berat daripada bukut bunga. Mereka kemudian berjalan memasuki rumah Raline secara bersamaan.
Ketika langkah kaki mereka sudah sampai pintu rumah, Raline langsung menyuruh Miko meletakan boneka itu di kursi ruang tamunya. “Taruh di sana aja,” ucap Raline.
Miko menuruti perkataan Raline. “Oke. Yaudah. Aku pamit ya. Gak ada lagi kan yang bisa aku bantu?”
Raline menggelengkan kepalanya. “Gak ada. Udah cukup kok. Makasi ya.”
Miko tersenyum senang. “Kamu jadi makin sering bilang makasih.”
“Yah ke kamu doang. Orang lain sih belum tentu,” ucap Raline.
“Gak papa. Itu awal yang baik. Yaudah aku pulang ya.”
Raline menganggukan kepalanya, lalu melambaikan tangannya. Ia menutup pintu setelah Miko keluar dari rumahnya. Kemudian terduduk sebentar di sofa ruang tamunya. Ia menatap ke dua hadiah pemberian Miko itu, lalu tersenyum dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
***
Seharian Raline sibuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa untuk liburan singkat bersama Miko. Raline kebingungan memilih pakaian yang akan dibawanya. Bukan karena koleksi bajunya sedikit, tapi ia kebingungan mencari pakaian yang akan tampak cantik di depan kekasihnya itu. Raline merasa semua koleksi bajunya terasa kurang menarik.
Ruang lemari pakaiannya kini tampak benar-benar berantakan. Raline mengeluarkan semua koleksi bajunya. Namun cara ia mengeluarkan pakaiannya tampak tidak sabaran. Ia menarik pakaian dari dalam lemari, melihatnya sebentar, tapi ketika modelnya tak sesuai harapannya... maka akan dibuang secara asal. Raline pada akhirnya terduduk lelah di lantai dan menyadari betapa berantakannya ruangannya itu.
Raline sebenarnya bisa saja menyuruh salah satu pembantu untuk mengemas pakaiannya di dalam koper. Namun pembantu itu tentu tak tau selera pakaiannya, terutama selera Miko. Ia ingin membuat kekasihnya itu benar-benar takluk pada pesonanya. Meskipun sebenarnya sekarang pun Raline juga yakin Miko benar-benar mencintainya. Akan tetapi ia masih ingin membuat kekasihnya itu semakin terpesona padanya.
“Ya ampun Nona. Ini berantakan banget,” seru Bi Surti yang muncul tiba-tiba.
Raline menatap pembantunya itu. Ia masih terduduk di lantai dengan wajah penuh kelelahan. “Aku bingung mau pilih baju yang mana,” jawab Raline.
“Nona itu cantik pakai apa aja. Gak usah bingung, Non.”
Raline merasa apa yang diucapkan Bi Surti ada benarnya. Ia memang pasti akan tampak cantik mengenakan baju apapun. Karena pada dasarnya ia memang cantik. “Yaudah. Coba Bibi pilihin aja. Terus kalo aku setuju, boleh masukin ke koper.”
Raline merasa terlalu lelah untuk kembali bangkit berdiri dan melanjutkan aktivitas memilih pakaian. Melihat tumpukan pakaian yang sudah menggunung tinggi saja sudah cukup membuat Raline pusing. Ia tak sanggup membongkar tumpukan itu dan memilih beberapa pakaian dari sana.
Bi Surti tampak membongkar tumpukan pakaian itu. Wanita tua itu memperhatikan setiap model pakaian itu satu per satu. “Kalo yang ini, Non?”
Raline menatap setelan baju terusan yang dipegang oleh Bi Surti. “Boleh yang itu. Masukin ke koper, Bi.”
Raline pada akhirnya membiarkan Bi Surti menyusun kopernya. Lagipula semua bajunya memang pasti bagus. Raline akhirnya memilih berbaring di kasurnya. Beristirahat sejenak. Merenggangkan tubuhnya yang sedikit kelelahan.
CONTINUED