18. Malam Itu...

1300 Kata
"Ini Villa kamu? Wow!" seru Miko penuh kekaguman dari dalam mobil. Villa milik keluarga Raline tampak mewah meski dilihat dari luar gerbang. Kolam renang yang luas juga ikut menghiasi bangunan dua lantai itu. Pohon cemara yang tinggi juga membuat taman villa itu menjadi indah. Kakek Raline memang sengaja membuat villa itu menjadi nyaman dan mewah untuk dijadikan tempat peristirahatan.  "Yah masa aku bawa kamu ke villa punya orang," jawab Raline sambil geleng-geleng kepala. Ini hanya salah satu villa pribadi milik keluarga Raline dari puluhan villa mewah yang ada. Raline bahkan tak hafal setiap lokasi villa itu. Ia hanya mengingat villa yang sering di kunjunginya. Salah satunya adalah villa yang saat ini sedang ia singgahi bersama Miko. Villa ini sangat luas dengan fasilitas yang lengkap. Bila ia sedang tidak ingin keluar, maka cukup dengan berdiam diri saja di dalam Villa, Raline tetap akan merasakan suasana liburan. Udara di sini juga cukup sejuk. Pemandangan hijau pepohonan menghiasi sekeliling villa itu. Bukan hanya membuat pernafasan menjadi segar, tapi menyejukan penglihatan mata.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Miko lalu memarkirkan mobil tepat di halaman villa. Setelah memastikan mobil terparkir dengan aman, Miko segera keluar dari mobil dan menghirup udara segar dengan mata terpejam. "Aku suka udara ini," seru Miko. Raline tersenyum menatap kekasihnya yang kini berdiri di sampingnya. Melihat wajah Miko yang tampak senang dengan lingkungan villa-nya membuat hatinya juga ikut terasa senang. "Ini bukan pertama kali kamu ke Lembang kan?" Miko membuka matanya setelah mendengar pertanyaan Raline itu. Kemudian membalas tatapan Raline. "Enggaklah. Cuma aku selalu suka udara dingin dan seger kayak gini. Ini tuh kayak lagi mengistirahatkan hidung kita dari polusi udara. Enaknya!" ucap Miko yang masih menghirup udara dengan mata terpejam. Raline tertawa sambil geleng-geleng kepala. Ia merasa Miko terlalu mudah untuk bahagia. Bagaimana mungkin dengan hanya menghirup udara segar, bisa membuat pria itu begitu senangnya. “Masuk ke dalem yuk,” ajak Raline. “Oke. Aku ambil koper kita dulu ya.” Namun Raline menahan langkah kaki kekasihnya itu dengan menarik tangannya. “Gak usah. Kan ada orang villa yang bisa angkat koper kita.” “Gak harus orang lain yang angkat koper kita kan sayang. Kalo kita bisa, kenapa gak kita aja yang angkut,” ucap Miko. Raline menunjukan raut wajah tak setuju. “Mereka di gaji untuk ngelakuin hal-hal itu sayang. Kalo mereka gak ngapa-ngapain dan semuanya kita lakuin sendiri, buat apa aku pekerjain mereka? Terus aku pecat mereka, lalu pada jadi pengangguran deh. Jahatan mana? Biarkan mereka melakukan pekerjaannya sayang.” Miko menghela nafas, lalu tersenyum. Pria itu seakan memahami bahwa ia tidak akan pernah bisa menang dalam perdebatan ini. “Baiklah. Kita biarin kopernya. Biar mereka aja yang angkut.” Raline tersenyum puas. “Gitu dong. Ayo masuk.” Raline merangkulkan lengannya ke lengan Miko dengan manja. Kemudian berjalan masuk ke dalam villa. Setelah langkah kaki mereka sampai ke ruang tamu villa-nya. "Kamu gak laper? Aku suruh Bibi buat nyiapin makanan kita ya?" Miko lalu geleng-geleng kepala. "Aku justru pengen minta kamu buat suruh semua orang di sini pulang." Raline mengerutkan keningnya. Ia bingung mendengar permintaan aneh Miko. "Lho kenapa?" "Kan aku udah bilang... aku pengen berduaan sama kamu," ucap Miko sambil merangkul Raline. "Yah iya. Cuma yang masak makanan kita siapa? Kamu mau makan diluar? Wisata kuliner?" tanya Raline. Miko kembali menggelengkan kepalanya. "Kalo aku aja yang masak gimana?" usul Miko. "Kan kita mau liburan. Kok malah main masak-masakan sih." Raline masih tak mengerti jalan pikiran kekasihnya itu. "Buat aku... berdua sama kamu itu udah kayak istirahat terenak." Miko mempererat pelukannya dan mencium bahu Raline. Permintaan Miko bukan hal yang sulit untuk Raline kabulkan. Mungkin kekasihnya itu memang hanya ingin menikmati moment kebersamaan berdua dengannya. Ia pikir tak ada salahnya mengabulkan permintaan sederhana kekasihnya itu. "Yaudah. Aku suruh semua pembantu di villa ini pulang ya," ucap Raline. "Yeay! Kita berenang dulu yuk sebelum makan. Kayaknya enak berenang sore-sore," ajak Miko. Raline mengangguk. Mereka lalu mengeluarkan tas dari dalam mobil, lalu berjalan masuk ke villa. *** Raline menopangkan wajahnya di tangan sambil menatap kagum kekasihnya yang sedang sibuk di dapur. Raline yang duduk di meja makan, terlihat masih asik memperhatikan Miko yang sedang memotong berbagai bahan makanan untuk dibuat sup ayam. Bagi Raline, pemandangan ini begitu indah. Ia memiliki kekasih tampan, baik, penyayang, perhatian, dan ternyata jago masak. Ini kali pertama bagi Raline meluangkan waktu dengan senang hati untuk menyaksikan seseorang memasak untuknya. Bagi Raline, Miko memang spesial. Pria itu dengan tulus memberikan perhatian dan memiliki keinginan untuk membuatnya bahagia, meski dengan hal-hal yang sederhana. Raline tak peduli apakah masakan Miko nantinya enak atau tidak. Ia sudah cukup bahagia melihat kesibukan pria itu memasak untuknya. Setengah jam kemudian, Miko terlihat telah menyelesaikan masakannya. Raline bangkit berdiri untuk membantu kekasihnya itu menata makanan. Namun Miko langsung melarangnya. "Biar aku aja. Kamu cukup duduk cantik di sana," ucap Miko sambil membawa mangkuk sop. Raline terpesona dengan hidangan yang ada dihadapannya sekarang. Ia tersenyum lebar sambil menghirup aroma sup ayam yang ada dihadapannya. "Kayaknya enak," ucap Raline. "Enak dong. Kan masaknya pake cinta. Ya udah, langsung makan yuk. Aku laper." Miko langsung menuangkan nasi ke atas piringnya dan Raline. Raline lalu menuangkan sup ayam ke mangkuk kecil, lalu menaruhnya ke dekat Miko. Kemudian ia juga mengambil semangkuk sup untuk dirinya sendiri. "Selamat makan!" seru Raline dengan wajah bahagia. Miko tertawa melihat Raline yang begitu lahap menyantap masakan buatannya. "Makannya pelan-pelan. Nanti kamu tersedak." "Ini sup ayam terenak yang pernah aku makan." Raline masih terus mengunyah nasinya. Ketika nasi dan sup ayamnya telah habis, Raline lalu meneguk segelas air putih. Ia tersenyum menatap kekasihnya yang saat ini sedang menatapnya lekat. "Makasih ya. Ini enak," puji Raline. "Sama-sama Sayang. Kita duduk di sofa sambil minum wine aja gimana?" usul Miko. "Boleh." Miko lalu mengajaknya untuk duduk di sofa dekat ruang santai. Dari jendela, mereka bisa melihat kolam renang dan hiasan lampu-lampu indah yang sengaja dinyalakan. Raline mengambil gelas wine yang disodorkan Miko. Kemudian membiarkan kekasihnya itu menuangkan wine ke gelasnya. "Cheers," ucap Raline dan Miko sebelum meneguk wine-nya. Raline bersandar di bahu Miko sambil menyecap nikmatnya segelas wine. Kemudian Miko juga ikut melingkarkan tangannya di bahu Raline dengan mesra. Selama beberapa saat mereka menikmati kebersamaan dengan saling merangkul dan menikmati wine. Iringan musik klasik yang sengaja dipasang Miko juga ikut menambah suasana menjadi lebih romantis. Raline benar-benar menikmati suasana ini. "Aku cinta kamu," bisik Miko lembut. "Aku juga," jawab Raline sambil menatap Miko dengan lekat. Beberapa detik kemudian Miko tampak mendekatkan wajahnya dengan mata yang menatap bibir Raline. Raline tau adegan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia lalu memejamkan mata, menerima ciuman kekasihnya itu, lalu membalanyas dengan ciuman juga. Selama beberapa mereka saling mencium dan tenggelam dalam sensasi rasanya. Namun tiba-tiba lumatan ciuman Miko dirasa semakin panas. Miko melumat bibir Raline begitu kuat hingga tubuhnya terbaring di sofa. Kini Miko menciumnya dengan posisi terbaring diatas tubuhnya. Raline merasa ciuman ini mulai tak biasa ketika bibir Miko mulai merambah ke leher dan dagunya. Raline lalu mendorong bahu Miko agar sedikit menjauh dari tubuhnya. Ia menatap mata Miko selama beberapa detik. "Jangan terlalu jauh," bisik Raline. Miko tersenyum, lalu membelai pipi Raline dengan lembut. "Aku cinta kamu. Aku mau kamu milikku sepenuhnya," bisik Miko di telinga Raline. Miko lalu mulai mengecup kening, setelah itu secara perlahan pindah ke hidung, dan berakhir dengan kembali melumat bibir Raline. Raline yang awalnya risih dengan tindakan agresif kekasihnya itu, secara perlahan mulai bisa menikmati setiap sentuhan dan lumatan yang diterimanya. Tanpa disadari, suara desahan dari bibirnya ketika Miko melumat lehernya dengan ciuman. Raline seakan membeku dalam kenikmatan sentuhan yang diberikan oleh Miko. Ia membiarkan kekasihnya itu menyentuh dan menyesap tubuhnya semakin dalam. CONTINUED ***************** Hai guys ^^ Updated lagi nih :) Aku cuma mau bilang, semua adegan ini ada maksud dan tujuannya :"D Jadi baca sampai tamat ya, biar paham pesan cerita ini apa. Jangan lupa love dan komen ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN