Raline perlahan membuka matanya. Ia memegang keningnya, berusaha mencerna apa yang telah terjadi sebelum terlelap dalam tidur. Langit-langit ruangan ini terasa asing. "Ah... ini di villa," batin Raline setelah menyadari lokasi tubuhnya terbaring.
Ia menjambak rambutnya dengan mata terpejam. Kepalanya terasa pusing. Kesadarannya belum kembali sepenuhnya. Ia baru bangun tidur, tapi entah kenapa badannya begitu sangat lelah dan sakit. Tubuhnya terasa berbeda dengan hari-hari lainnya.
Raline menghela nafasnya, tapi dengan wajah yang masih terbenam di bantal gulingnya. Setelah beberapa menit berlalu, Raline mulai membuka matanya. Ia memicingkan matanya ketika menyadari langit-langit ruangan itu terasa asing. Detik berikutnya ia teringat bila sedang berada di villa miliknya, bukan di kamarnya.
Namun Mata Raline tiba-tiba terbelalak ketika menemukan ada tubuh lain yang sedang tidur di sebelahnya. Ia tak sendirian di ranjang itu. Raline mendapati Miko sedang tidur terlelap di sebelahnya. Hal yang lebih mengagetkan dirinya bukan karena ia tidur satu ranjang bersama kekasihnya itu. Namun ia mendapati Miko tertidur dengan tanpa mengenakan busana. Secara refleks Raline lalu langsung mengintip ke dalam selimutnya.
Mata Raline semakin terbelalak ketika ia juga mendapati tubuhnya tidak mengenakan busana. Tidak ada kain yang menempel di tubuhnya. Raline sangat syok melihat kondisinya saat ini. Sontak ia langsung menjambak rambutnya ketika menyadari kesalahan yang baru saja dibuatnya. Semua moment yang sejenak terlupakan kini kembali ke ingatannya. Bagai adegan film yang kembali tayang di dalam benaknya. Semuanya, tanpa tertinggal.
Raline mulai ingat bagaimana ia saling mencumbu dengan Miko di sofa, lalu berlanjut ke dalam kamar. Setiap ciuman, lumatan, dan sentuhan yang diberikan Miko kini muncul didalam kepalanya bagai sebuah adegan film hidup yang sedang ditayangkan. Raline ingat bagaimana mereka menghabiskan malam bersama. Bagaimana ia menikmati kebersamaan dan setiap sentuhan yang Miko lakukan. Kemudian pada akhirnya ia menyerahkan tubuhnya secara penuh untuk kekasihnya itu.
Raline memejamkan matanya sambil menjambak rambutnya. Raut wajahnya penuh dengan penyesalan. Raline menyadari kesalahan yang baru saja dilakukannya kemarin. Sebuah kebodohan yang sudah terlanjur dilakukannya dan tak bisa dihapus. Apa yang terjadi kemarin malam tak dapat ia ulang dan diperbaiki. Semua sudah terjadi. Hanya bisa tenggelam dalam rasa penyesalan.
Raline mencintai Miko. Kekasihnya itu begitu ia sayangi dengan segenap hatinya. Namun menyerahkan keperawanan pada kekasih yang belum menjadi suaminya, sungguh sebuah resiko yang begitu riskan. Tidak ada ikatan yang pasti. Hanya sebuah status pacaran yang sewaktu-waktu bisa saja putus bila salah satunya menginginkan sebuah akhir. Namun Raline hanya bisa terdiam dengan rasa penuh penyesalan. Semua sudah terjadi.
"Kamu udah bangun?"
Raline tampak kaget mendengar suara Miko yang tiba-tiba terdengar di sebelah telinganya. Rasanya aneh mendengar suara pria tepat di sebalahnya dan terbaring dalam ranjang yang sama dengannya. Raline lalu tanpa sadar menarik selimutnya lebih rapat untuk menutupi tubuhnya yang saat ini polos tanpa sehelai benang pun. Raut wajahnya seketika menjadi merah merona dan tersipu malu. Ia belum pernah tampil tanpa busana di hadapan pria mana pun.
"Kenapa? Kan aku udah liat semuanya. Kamu gak perlu malu." Miko tersenyum sambil menatap Raline dengan lekat.
"Seharusnya kita gak sejauh itu," ucap Raline dengan kepala tertunduk.
"Aku menikmatinya. Malam tadi... itu indah." Miko membelai rambut Raline, lalu mengecup kening kekasihnya itu.
Namun Raline justru menggigit bibirnya dengan raut wajah cemas. Berbagai pikiran melayang di dalam benaknya. Ia mencengkram ujung selimutnya dan keningnya mulai berkerut.
"Kamu kenapa?" tanya Miko.
Raline menatap Miko. "Aku takut... kamu akan tinggalin aku," jawab Raline dengan air mata berlinang.
"Ya ampun. Aku gak akan mungkin tinggalin kamu lah." Miko lalu mendekatkan tubuhnya ke Raline, lalu merangkul kekasihnya itu.
"Aku udah kasih semuanya ke kamu. Kalo kamu tinggalin aku... aku hanya akan berakhir kayak w************n yang dicampakin. Harusnya kita gak melakukan itu tadi malam," ucap Raline dengan raut wajah penuh penyesalan.
Miko mempererat rangkulannya dan menepuk lembut bahu Raline. "Aku gak akan tinggalin kamu, sayang, Gak akan. Pegang kata-kataku."
"Kamu janji? Kamu janji gak akan ninggalin aku?" tanya Raline.
Miko tersenyum, lalu mengecup lagi kening kekasihnya itu. "Aku janji."
Raline lalu menyenderkan kepalanya ke d**a Miko. Ia mencoba tersenyum, meski rasa cemas masih mengganggu hatinya. Raline memang menyesal telah melakukan hal yang tak seharusnya tadi malam. Ia menyerahkan sesuatu yang berharga kepada kekasihnya itu tanpa pikir panjang. Ia terlalu tenggelam dalam buaian kata cinta dan sentuhan Miko, hingga membiarkan gairahnya melumpuhkan akal sehatnya.
Jika Miko meninggalkannya, Ia hanya akan menjadi wanita yang telah disentuh dan dipakai. Raline benci memiliki jalan hidup seperti Ibunya. Ia tak ingin menjadi wanita yang menghabiskan setiap malam dengan berbagai pria, layaknya w************n. Namun tadi malam ia justru melanggar batas yang selama ini telah dibuatnya.
Tidak ada jaminan Miko akan terus berada disampingnya. Tidak ada jaminan hubungan ini akan terus berlanjut, apalagi sampai ke pernikahan. Karena itu, Raline sangat cemas akan apa yang terjadi di masa depan. Namun ia tak punya pilihan, selain mempercayai janji kekasihnya itu. Janji yang diuntai hanya dengan kata-kata. Janji yang ketika dilanggar, tidak akan memiliki dampak apapun bagi Miko.
Raline memang masih cemas, tapi ia berusaha untuk menyembunyikannya. Ia tak ingin membuat Miko kesal, lalu pada akhirnya ketakutannya itu benar-benar terjadi. Ia tak bisa membiarkan kekasihnya itu pergi meninggalkannya. Raline lalu memeluk Miko dengan erat, seolah ia tak akan pernah mau melepaskannya. Ia membenamkan wajahnya di d**a Miko dengan mata terpejam.
***
"Kamu udah sampe rumah?" tanya Raline lewat panggilan telepon ke Miko.
"Udah. Kamu lagi apa?" tanya Miko balik.
"Lagi makan buah. Kamu jangan lupa istirahat. Nyupir dari Bandung ke rumah aku kan pasti capek banget."
"Capek sih emang. Cuma capek sekaligus seneng. Makasi ya udah mau luangin waktu buat aku. Love you!"
Raline tersenyum mendengar suara kecupan dari earphone-nya. "Aku juga happy kok temenin kamu. Yaudah... met istirahat," ucap Raline.
"Met istirahat juga buat kamu, yang."
Raline lalu membaringkan tubuhnya di kasur selepas Miko menutup panggilan teleponnya. Ia berbaring melepas kelelahan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Raline kini menyadari jika selama ini ia menghabiskan hidupnya dalam rasa sepi, sebelum bertemu Miko. Pria itu membuatnya merasakan seperti apa rasanya dicintai.
Raline memejamkan matanya. Ia memanjatkan harapan kepada Penguasa semesta yang selama ini tak perna disapa olehnya. "Aku hanya ingin Miko. Aku akan melakukan apapun, jika pria itu selamanya ada di sisiku," gumam Raline dengan mata yang masih terpejam.
Air mata perlahan mulai menetes dan membasahi pipinya. Ini kali pertama Raline memanjatkan permintaan kepada Tuhan. Kali pertama ia berharap seseorang terus menemaninya sepanjang hidup.
CONTINUED
***************
Hai guys! ^^
Kalian pernah menemukan kasus kayak Raline gini gak? Takut banget kehilangan cowoknya :)
Jangan lupa love dan Komen ya! ^^ See you!