~ Jangan lupa love dulu ya guys ^^ ~
Pagi ini terasa tak biasa seperti hari lainnya bagi Raline. Mamanya tiba-tiba datang ke rumah hanya untuk menghabiskan sarapan bersamanya. Suatu peristiwa langka yang hanya terjadi beberapa kali dalam setahun. Dengan raut wajah malas Raline berjalan menuju ruang makan. Ia tak menyapa wanita yang melahirkannya itu dan hanya langsung duduk.
Raline langsung menyantap nasi goreng seafood yang ada di hadapannya, tanpa menunggu ajakan makan dari Mamanya. Wajah tak acuhnya mengisyaratkan jika ia ingin menyelesaikan sarapan tanpa mengeluarkan banyak kata dari bibirnya. Ia tak tertarik membuat adegan ramah tamah dengan Mamanya itu.
"Kamu inget Rafael Zaro?" tanya Gisela tiba-tiba.
"Enggak," jawab Raline tanpa membalas tatapan mata Mamanya itu.
"Dia anak Kevin Zaro. Sahabat Kakekmu dulu. Dia akan nginep di rumah ini selama enam bulan."
Raline seketika langsung meletakan garpu dan sendoknya, lalu menatap Mamanya dengan kening berkerut. "Nginep di sini? Mau ngapain?"
"Dia cuti kuliah. Dia mau refreshing di Indonesia sebelum ngerjain skripsinya." Gisela mengunyah makanannya dengan santai, seolah reaksi keterkejutan anaknya itu bukan hal yang besar.
"Yah kan bisa nginep di hotel. Ngapain di rumah ini coba!" Raline mulai menunjukan raut wajah tak senang. Rasanya pasti risih berada satu rumah dengan orang asing.
"Gak mungkin dong Mama biarin dia nginep di hotel. Padahal dia bisa nginep di sini. Lagian rumah kita sangat besar. Kita masih bisa kasih dia satu kamar."
Raline langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku gak mau ada orang asing di rumah ini! Gak mau!" teriak Raline.
"Sekali lagi mama bilang... dia anak Kevin Zaro. Sahabat kakek kamu. Orang yang pernah berjasa saat perusahaan kita kena krisis. Kita harus balas budi Rosemary..."
Raline memejamkan matanya. Ia berusaha memendam emosinya yang kini mulai memuncak. Rosemary, nama aslinya itu kembali bergema dalam telinganya. Nama yang benar-benar sangat dibencinya.
"Dia bakalan datang bulan depan. Mama harap kamu memperlakukannya dengan baik," tutur Gisela.
"Emang si Kevin Zaro pernah ngelakuin apa sih buat perusahaan kita?! Kakek bukan tipe orang yang akan berhutang budi dengan orang lain. Ini karang-karangan Mama aja kan?" Raline menarik sebelah alisnya. Ia menatap curiga ke arah Mamanya.
"Mama bukan tipe pembuat cerita, Rosemary. Kevin Zaro dulu menanamkan investasinya ke perusahaan saat harga saham kita jatuh. Kevin adalah pengusaha handal di Inggris. Dia juga membantu Kakekmu untuk membangkitkan perusahaan. Kita benar-benar berhutang budi dengan keluarga itu. Seharusnya sih dulu Mama menikahinya, tapi dulu mama udah punya banyak pacar yang jauh lebih menarik. Jadi gagal deh rencana Kakekmu hahaha."
Raline mendengus kesal. "Jadi sekarang aku yang harus menikahi anaknya?!"
"Gak juga.... tapi kalo kamu mau menikahinya, itu lebih baik hahaha." Gisela tertawa penuh makna.
"Aku pikir ini bukan waktunya buat bercanda. Pokoknya aku gak mau dia ada di rumah ini! Aku gak pernah berhutang budi dengan dia! Jadi aku gak punya alasan buat hidup bareng dengan orang itu!" tegas Raline.
"Ya udah. Kalo gitu kamu yang keluar dari rumah ini. Oh ya, kamu juga harus tinggalin semua kartu kredit dan debit, serta kunci mobil. Keluar dari rumah ini tanpa bawa sehelai benang pun!" balas Gisela.
Raline menggigit bibirnya dengan tatapan penuh amarah. Namun ia tak bisa melemparkan kata balasan atas ancaman yang diterimanya itu. Ia sadar betul kalau masih belum bisa hidup mandiri tanpa bantuan finansial keluarganya.
"Gak bisa kan? Ya udah lanjut makan. Mama harus ke kantor. Ada rapat penting pagi ini." Gisela kembali mengunyah sarapannya.
Raline mengepalkan tangannya dengan wajah geram. Ia memukul meja dengan tatapan penuh amarah. Kemudian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Mamanya seorang diri di ruang makan. Hanya ini cara yang bisa Raline lakukan untuk menunjukan ketidak sukaannya pada perintah gila Mamanya itu.
***
Raline mengaduk lemon juicei-nya dengan mata tak lepas dari layar ponselnya. Sejak pagi Raline menunggu chat dari Miko. Biasanya kekasihnya itu tak pernah luput mengirimkan chat selamat pagi atau sekedar menanyakan kegiatannya. Namun hari ini tak ada satupun notifikasi yang masuk dari kekasihnya itu. Ia lalu mendengus kesal dan membalikan ponselnya dengan kasar.
"Lo kenapa sih?" Syeiba yang duduk dihadapan Raline menatap heran kelakukan tak biasa temannya itu.
"Lagi haid kali," timpal Claudia asal.
Raline melirik sinis ke arah Claudia. Lirikan itu sukses membuat Claudia terdiam dengan tatapan takut. "Hari ini Miko gak chat gue. Telpon gue juga gak diangkat. Tuh cowok kemana sih!" gerutu Raline.
"Sibuk kali," ucap Syeiba.
"Yah sesibuk-sibuknya dia, seharusnya bisa kirim chat satu kali sih. Minimal buat ngabarin kalo lagi sibuk. Mungkin ini tanda-tanda dia mau mutusin lo kali, Lin," kata Claudia sambil menyeruput mango juice-nya.
Raline kembali melirik sinis Claudia. "Gue Raline! Gak mungkin diputusin cowok! Kalo ngomong pake otak deh lo!"
Claudia menggigit bibirnya dengan tatapan takut. "Yah... maap. Gue gak maksud bikin lo marah, Lin."
"Mending lo telpon Miko lagi deh. Siapa tau diangkat," usul Syeiba.
Raline memikirkan usul Syeiba selama beberapa detik. Ia sebenarnya ingin mencoba menghubungi kekasihnya itu lagi. Namun karena rasa gengsi, ia sungkan untuk kembali mengirimkan chat atau menelepon Miko. Raline lalu membalikan ponselnya, membuka kontak nomor Miko, dan akhirnya menekan tombol call. Raline tanpa sadar mengigit bibirnya. Raut wajahnya semakin cemas ketika panggilan teleponnya tak kunjung diangkat oleh kekasihnya itu.
Beberapa detik kemudian terdengar suara operator seluler mengakhiri panggilan teleponnya. Raline lalu meletakan ponselnya dengan kasar. Tatapan matanya mulai terlihat penuh amarah. Miko merupakan pria pertama yang berani mengabaikannya.
"Kenapa? Dia gak angkat?" tanya Claudia.
Tiba-tiba ponsel Raline bergetar. Sepertinya ada chat yang baru masuk ke handphone-nya. Raline lalu mengangkat kembali ponselnya dan buru-buru melihat siapa pengirim chat itu. Ia menghela nafas lega ketika melihat nama Miko di notifikasi ponselnya. Ia segera membuka chat itu dan membaca isi pesannya.
Miko Rolando
Maaf , yang. Aku gak sempet pegang HP dari tadi. Seharian sibuk pemotretan. HP dipegang sama manager aku. Ini baru aja kelar. Sekarang mau lanjut syuting music video. Nanti aku bakalan telepon kamu kalo udah break. Sabar ya. Love you!
Raline menghela nafas dengan tatapan sedih. Ia memang sedikit lega setelah mengetahui kesibukan kekasihnya itu, tapi ada rasa hampa ketika menyadari akan ketiadaan Miko di hari ini. Tanpa di sadari Raline ternyata memang telah terbiasa dengan kehadiran kekasihnya itu.
"Kenapa lo?" tanya Syeiba dengan tatapan curiga.
"Miko baru chat tadi. Dia bilang lagi sibuk pemotretan dan syuting music video," jawab Raline sambil mengaduk minumannya.
"Yaudah. Mungkin emang beneran sibuk kali, Lin. Lo santai aja," timpal Claudia.
Raline memicingkan matanya ke arah Claudia. "Maksud lo apa? Lo pikir gue curiga Miko bohong ke gue gitu?!"
"Yah abis muka lo sedih gitu, Lin. Gue pikir lo gitu," jawab Claudia.
"Gue sedih karna Miko sibuk! Bukan karna gue curiga sama dia. Ah udah lah! Kalian gak asik hari ini." Raline menghentakan kakinya dengan raut wajah kesal. Ia bangkit berdiri dan pergi meninggalkan ke dua temannya itu di kantin.
Sementara Claudia dan Syeiba hanya saling menatap dengan wajah bingung. "Dia kenapa sih? Sejak pacaran jadi baper banget," ujar Claudia.
Syeiba menaikan ke dua bahunya. "Entah lah. Dia emang lagi sensitif kayak test pack."
CONTINUED
***************
Hai guys! ^^
I'm back. Aku emang rehat dua minggu buat refreshing. Semoga abis ini bisa rutin updated ya ^^
Jangan lupa love dan komen!
Follow juga akun w*****d dan instagramku ^^
See you!