Raline melempar ponselnya ke kasur dengan raut wajah penuh emosi. Sudah dua puluh kali ia menelepon Miko, tapi tak ada satupun panggilan darinya yang diangkat. Raline duduk di tepi ranjangnya dengan tatapan penuh amarah. Belum pernah ada orang yang berani mengabaikan panggilan teleponnya sebanyak itu. Rasanya Raline ingin membalas Miko dengan cara-cara yang biasa ia lakukan pada orang lain. Namun di satu sisi, ia juga takut kalau pria itu benar-benar meninggalkannya. Mungkin ini hukuman yang harus diterima karena kebodohannya. Pada akhirnya tak ada yang tersisa untuk melindungi harga dirinya jika kehormatan wanitanya ia berikan pada seorang pria. Hanya perasaan marah sekaligus penuh kecemasan yang kini tersisa dalam tubuhnya. Raline sangat ingin menampar wajah pria itu dengan keras, tapi

