Cinta Diam-diam

2147 Kata
Kehidupan ini memang silih berganti berjalan, Annisa dan ibunya berhenti di sebuah rumah kontrakan bagus yang terlihat seperti dihuni para pekerja kantoran yang memiliki gaji 7 juta lebih perbulan, lalu apa kabar ia yang gajinya sangat pas dengan UMR yang mana seimbang dengan pengeluaran ibukota yang serba mahal dan serba beli itu. “Nak, kamu yakin ini tempatnya?” tanya Eni—ibu Annisa. Annisa mengangguk, “Sesuai alamat, katanya memang tempatnya bagus, biayanya sampe 1,5jt. Nah karena Mas Kris ini kenal sama aku jadi dipotong 500.000 ribu.” “Emang bisa gitu?” tanya Eni tak yakin. Ia menggandeng tangan putrinya dan berjalan mendekati pintu utama, di sana tak terlihat ada orang tetapi selanjutnya setelah mereka mengucap salam dan menekan bell rumah, langsung saja seorang perempuan paruh baya dengan pakaian bagus keluar dari rumah itu. “Assalamu’alaikum, permisi!” “Wa’alaikumsalam, siapa?” balas orang dari dalam. Maka keluarlah sosok wanita itu yang menemuinya dengan sederhana, awalnya ia cukup menatap mereka dengan pandangan merendahkan, tetapi ketika keduanya memperkenalkan diri sebagai orang yang disebutkan sebelumnya, mereka langsung disambut hangat. “Kalian untuk apa ke sini?” tanyanya dengan nada sarkas. Eni dan Annisa tersenyum, sementara wanita itu tetap menatap mereke dengan sombong. Ia malas sebenarnya menanggapi orang yang tidak penting, tetapi tuannya bilang akan ada orang yang harus ia terima dengan baik di rumah itu karena dia adalah tamu dari tuannya. “Kami ingin bertanya bahwa kemarin kami ada Tuan Kris yang katanya anak pemilik kontrakan ini, dia juga yang mengarahkan kami agar ke sini dan mendapat potongan harga, benar begitu?” tanya Eni. “Oh em, siapa Kris dan siapa kalian?” tanya wanita itu bingung. “Saya Eni, ini anak saya Annisa,” jawab Eni. ‘Annisa Rahma, gadis buta yang manis akan datang dan perlakukan mereka layaknya Ratu, karena mereka adalah alasan Tuan kami membeli kontrakan ini,’ ucap pria yang mewakili seseorang untuk membeli kontrakan itu. Kata-kata pris itu terngiang dan membuatnya sadar akan kedatangan tamu istimewa tersebut, ‘gadis buta ini to’, pikirnya menaap Annisa dari atas sampai bawah. “Em, oke masuk,” ujar wanita itu canggung. Annisa dan Eni dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu dan wanita itu yang memperkenalkan diri sebagai Suhartati atau Bu Tati, ia ke dapur dan membuatkan minum untuk kedua perempuan di ruang tamu. Saat itulah mereka mendengar ada beberapa orang yang datang dan itu para laki-laki yang membawa barang banyak, seperti koper dan tas besar ada juga yang mengangkat kardus-kardus. Eni terheran dan hanya bisa senyum-senyum ke arah mereka yang juga mengangguk sopan ke arahnya. Beberapa dari mereka ada yang menyapanya sehingga Eni tak menyiakan kesempatan untuk bertanya. “Mohon maaf, Mas, kok ini pada pergi?” tanya Eni. “Oh, jadi kami dipindahkan ke tempat lain karena awalnya ini kontrakan campuran cowok dan cewek, sekarang akan menjadi kontrakan khusus cewek Bu,” ujar pria tersebut. “Oooh begitu, bagus-bagus. Ini mau pada pindah ke mana?” “Gak jauh kok Bu, cuma sekilo dari sini, fasilitasnya sama saja dan ada kompensasi bagi kami yang tidak bersedia,” ujar pria itu terlihat senang. “Loh memang ada yang gak mau, Mas?” tanya Eni lagi. “Ada Bu, kemarin kan ada yang tinggal sama pacar, jadi gak mau pisah gitu ….” Jawab pria itu terlalu jujur. “Owh, Jakarta,” gumam Annisa dengan senyum manisnya. Setelah pria itu pergi, Annisa membahas hal itu dengan ibunya, ia lega karena datang ketika merreka sudah dipisah tidak campur baur. Lalu Eni juga melihat ada tulisan besar di dinding dan dicetak dengan kertas besar bahwa tidak boleh mereka siapapun itu membawa laki-laki masuk ke dalam rumah, mereka menyediakan kursi di depan untuk merekajika ada keluarga laki-laki yang berkujung, itupun tidak boleh menginap karena meresahkan pihak lain. Jika aturan itu dilanggar, mereka boleh langsung angkat kaki atau diusir dengan tidak hormat. Itu bukannya kejam, tetapi menjaga hak asasi pribadi masing-masing, dan menciptakan ekosistem yang sehat. Pun itu bukan hotel yang penghuninya gonnta-ganti dan hanya sementara, tetapi siapapu itu mereka semua adalah keluarga yang harus salingmengerti, tidak boleh seenaknya sendiri. Maka di sana dipasang CCTV dan mereka akan mendapat notice jika tidak memenuhi ketentuan yang ada. Akan tetapi entah monitor itu sampai dimana, intinya sudut setiap rumah diberi kamera, kecuali dapur dan kamar mandi. Akan tetapi di luar pintu darurat dapur terdapat TV, jadi siapapun yang masuk atau menyusup dari pintu darurat bahkan lewat jendela pun akan terlihat. Mungkin sangat jelinya CCTV tersebut, itu akan mengertahui sekecil apapun lubang tikus yang ada. Ada hal yang membuat Annisa lega adalah fakta bahwa siapapun yang emmiliki kontrakan itu, mereka benar-benar menjaga adab dengan baik di tengah zaman penuh kebebasan ini. Mungkin jika kontrakan itu viral, pemiliknya akan mendapat banyak cacian yang mengatakan mengekang kebebasan penghuni. Akan tetapi sepertinya si pemilik bukanlah orang biasa, ia sangat berani mengatur semuanya dengan baik. Untuk ukuran kontrakan di Jakarta, bukankan CCTV yang sebegitu banyaknya sangat berlebihan dan terlalu mewah. Bu Tati mengarahkan mereka pada dua di antara sebuah ruangan besar yang kosong. Di dalamnya terdapat flat yang memungkinkan terdapat dapur pribadi, kamar mandi pribadi, dua kamar dan satu ruag tengah yang tiada pembatas dari dapur yang ada. Eni langsung berkata bahwa mereka tak mungkin mampu menyewa flat sebaik itu. Akan tetapi Bu Tati berkata bahwa hanya kamar seperti itulah yang kosong. Maka Annisa berkata, berapakah harganya untuk sebulan. Rupanya nominal itu tak sebanyak yang mereka kira dan terlalu sedikit untuk ukuran fasilitas di dalamnya. “1.000.000,- perbulan, seperti yang kalian sebutkan bahwa kaian mengenal Kris dan Kris merekomendasikan tempat ini, memang benar adanya. Jadi, bagaimana kalau kalian membooking agar saya tidak menawarkan pada yang lain dengan harga yang lebih tinggi, tentu saja,” ujar Bu Tati. Awalnya Eni akan menjawab kalau mereka akan memikirkannya terlebih dahulu, tetapi Annisa langsung menyatakan perjanjian. “Saya akan ambil,” ujarnya tersenyum gembira. Eni mendelik menatap putrinya tetapi ia pun tak bisa mengabaikan peluang itu di depan mata, apalagi teringat cerita puttrinya yang hamper celaka tadi malam, ia juga tak ingin hal itu terjadi pada putri yang tersisa dalam hidupnya itu. Ia mempertahankan Annisa yang buta waktu itu, tetapi kedua kakak perempuan Annisa menolak untuk membiarkan Annisa tiggal sebab malu katanya hingga akhirnya Annisa dikucilkan masyarakat, Eni tetap menjaganya. Ia tak pernah membanding-bandingkan anak atau mengistimewakan yang lain. Akan tetapi ia tidak menolerir sikap jahat kedua kakakk Annisa dan membiarkan mereka yang sudah dewasa itu pergi dari rumah. Toh keduanya bukan anak-anak rajin yang selalu berbakti padanya, mereka cenderung lebih sering malas-malasan dan suka membantah membuatnya sakit hati. Kehilangan mereka tak masalah bagi Eni, Annisa saja cukup dalam hidupnya. Maka setelah mereka pergi Bu Tati bingung, sebenarnya orang seperti apa ia sehingga ada seorang yang kaya rela melakukan hal yang di luar nalar dan sekarang malah terjadi hal yang sangat tidak logis bahwa ruangan dengan fasilitas mirip apartemen itu sudah disiapkan kemarin dalam waktu sehari hanya untuk menyambut mereka berdua. Terlebih pemilik tidak perduli jika ada dua orang yang pergi gara-gara tak setuju dengan aturan terbaru yang super ketat. Akan tetapi kemarin Bu Tati melihat sendiri bagaimana seorang pria bernama Kevin tak sebijak atau tak sebermoral itu untuk memperhatikan norma sosial, sehingga mereka harus repot-repot memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Sudah begitu ada tiga dari 14 penghuni tersisa juga menyatakan keberatan dan akan pindah. Bu Tati yang merupakan pemilik lama pun tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa mempersilahkan mereka memutuskan, sementara ia tak bisa tidak taat pada bos utamanya yang menggajinya dengan cukup mahal. Namun apa pedulinya, yang penting ia digaji dengan nilai besar tanpa harus kerja keras bagai kuda. Hanya tinggal leha-leha, duduk-duduk dan mengawasi seluruh rumah kontrakan itu, kemudian uang dikirim tiap bulannya. Bukankah itu menyenangkan di zaman serba tidak adil ini. +++ Kevin melangkah masuk ke ruangan CEO muda yang gila kerja itu, kecuali jika menyangkut sang pujaan hati ia akan berubah menjadi seorang yang menomor duakan pekerjaan. Sebenarnya Adrew sangat loyal pada pelerkaannya, hanya saja sedikit demi sedikit ia bisa menguranginya semenjak mengalami ritme kerja orang Indonesia yang tak sebanyak orang Amerika. Mungkin itu yang membuat Indonesia sulit maju, circle yang tak membangkitkan semangat kerja dan hasil yang tak bisa membayar kerja keras mereka menjadi faktor lain. Adrew tau langkah kaki itu milik Kevin bahkan sebelum ia menyapanya. Adrew memang tidak terlalu mementingkan aturan atasan dan bawahan sehigga ketika Kevin tak mengetuk sebelum masuk bukan masalah baginya. “Laporan untuk kontrakan Nona Annisa, sudah beres dan mereka sudah sutuju untuk tinggal di sana.” Mendengar itu Adrew langsung menatap Kevin dan tersenyum disertai mata yang berbinar, “Perlu dijemput beserta barang-barangnya juga?” Kevin terkejut dengan semangatnya yang penuh dengan binar kekanakan, seperti anak yang ditawari es krim. Ia jadi bingung, misi bosnya itu kan harusnya melindungi Annisa dari jauh, kenapa ia sekarang malah seolah ia ingin dikenali. “Maaf Boss, bukannya harusnya Anda membantu dari jauh? Kalau Nona Annisa peka sedikit saja, harusnya keberadaan kontrakan mewah yang harga 1.000.000,- itu sudah cukup mencurigakan, tak perlu ditambahka lagi untuk menambah kecurigaan.” Adrew lesu, ia bar saddar karena saking semangatnya hamper saja melakukan hal ceroboh yang akan menghancurkan semua rencananya. Sial, ia jadi melakukan hal yang di luar logika gara-gara kecintaannya yang berlebih. “Oke, gak usah kalau begitu.” “Ya, Boss. Lagipula saya sudah pastikan bahwa Bu Tati akan memperlakukan mereka layaknya Ratu.” “Hem, bagus,” ujar Adrew kembali berkutat pada dokumen-dokumennya itu. “Lalu bagaimana kelanjutan urusan kontrakan itu, Boss, mereka sudah hamper kehilangan lima penghuninya.” “Itu milik saya sekarang, kenapa kamu repot-repot mikirin itu. Lagipula kamu piker deh, pasti kamu bakal gak nyaman kan kalau ada teman serumahmu bawa pasangan ke rumah, meski itu privasi mereka, lalu bagaimana dengan privasi kita, apakah mereka memikirkannya?” Kevin terdiam, ia juga sih kalau ia di posisi itu ia akan merasa terganggu bahkan ketika gaya hidupnya juga bebas. Ia lebih memilih ke hotel daripada membawa pacar ke kost yang di sana bukan hanya ia sendiri yang menghuni. “Saya punya pengalaman buruk memiliki teman serumah yang selalu bawa pacar, main di kamar tapi suaranya sampai ke mana-mana. Udah gitu kadang pacarnya nginep, ditambah pakeannya sembrono, suka merayu lagi. Jijik banget kalau inget pengalaman itu. Makanya saya ingin jika memiliki sebuah kontrakan, tidak ingin ada yang berani mengusik penghuni yang lain. Kebebasan itu ada bukan untuk mengusik yang lain kan, hanya melindungi hak yang harusnya tidak diusik oleh pihak lain. Jadi kalau ada yang melanggar, jangan ragu untuk mendepak mereka. Awas aja bikin Annisa gak nyaman,” ujarnya. Meski semuanya terlihat bijak, egoisme Adrew tak terbantahkan, ia memperhatikan Annisa nomor satu di atas segalanya. Hal yang membuatnya tak tenang kalau Annisa dalam bahaya lagi. Kevin mengerti apa yang dikhawairkan bosnya, meski ia juga masih bingung mengapa bosnya menyukai gadis itu sampai bucin. Tak hanya itu, Annisa juga tak secantik yang harusnya bisa mengikat hati Adrew. Atau mungkin ada hal special lain yang tak bisa dilihat oleh mata, tetapi bisa dirasakan oleh hati, kebaikan hati dan perasaan yang murni. “Oke, siap Boss.” “Bagus,” balas Adrew lalu membiarkan Kevin pamit pergi darii ruangannya. Adrew mengamati dokumen itu tetapi teringat dengan Annisa, ia belum melakukan banyak hal untuknya bahkan jika ia membeli semua yang bisa ia beli. Ia masih harus tau diri untuk muncul di hadapan Annisa dengan ia sebagai Adrew yang menjadi alasannya buta seperti sekarang. Ia sungguh ingin menebus semuanya, makas etiap ia ingin melakukan itu, ada air mata yang mengalir untuk mengerti kesedihannya. Waktu ia menyelamatkan Annisa dari preman b******k itu merupakah moment langka yang tak bisa ia ulang lagi, sungguh ia ingin mencintai Annisa secara gantle dan terang-terangan, mengumumkan pada dunia bahwa ia hanya mencintai Annisa seorang. Namun apa lah daya, semua sudah terjadi dan ia tak layak untuk muncul di kehidupan Annisa yang berharga itu. Ia hanya bisa melindunginya dari jauh, merindukannya lewat angan dan memberikan apapun yang ia bisa meski dari tangan orang lain sebagai perantara. Ia akan puas bahkan hanya mendengar kabar baik dari sang pujaan hati. Meski itu hanya kabar, ia akan mengalahkan seluruh kabar baik lain yang ia miliki dan ia capai selama ini, Annisa adalah segalanya dan akan ia jaga sampai waktu yang tak bisa ia kira sampai kapan. Ia hanya ingin Annisa tetap sehat, baik-baik saja dan selalu merasa senang. Meski mungkin kebutaannya tak bisa dibayar dengan apapu, ia tau banyak hal yang bisa membuatnya sedikit lega, hanya sedikit meski itu besar bagi Annisa tetapi Adrew merasa belum cukup karena rasa bersalahnya yang terlalu besar itu. Ia tak masalah dengan itu, bahkan mungkin jika suatu hari ia harus melepas Annisa dengan pria lain, meski sakit tetapi ia akan bisa melakukannya. Mungkin, atau entah apa yang terjadi ke depannya. “Entah seberapa kuat aku menahan ini, pastinya … aku akan tetap berusaha, bahkan ketika semuanya belum tentu kuat untuk dijalani,” gumam Adrew melamun sejenak, sebelum kembali menjadi sosok gila kerja yang bisa menghabiskan waktu sampai esok hari demi sebuah pekerjaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN