Annisa menata barang-barangnya di lemari dengan arahan ibunya dan nalurinya dengan bantuan sentuhan untuk mengenali tekstur. Sementara itu Eni masih belum sreg dengan apa yang terjadi pada mereka, ruangan flat itu terlalu mahal untuk mereka yang hanya memiliki uang di bawah 2.000.000,- itu, rasanya sangat tidak masuk akal. Ini membuatnya khawatir, sepertinya ia harus tau siapa Kris sebenarnya. “Kalau temenmu itu gak keberatan, kita bisa ketemu nggak ya, Nis?” tanya Eni pada putrinya. Annisa yang sedang mengelap bingkai foto pun menghentikan kegiatannya, “Temen yang mana?” “Yang Kris itu, Ibu mau berterima kasih atas kebaikannya akhirnya kita bisa tinggal ditempat yang layak dengan harga murah.” “Alhamdulillah, iya Bu. Nanti coba aku telepon dia siapa tau dia lagi kosong waktunya,” ujar

