Reza menutup buku miliknya. Lelaki yang baru saja selesai mencatat itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Mencoba menghubungi salah satu temannya yang mungkin saja sudah berada di luar kelas. Mengingat dirinya yang tidak membawa kendaraan, Reza berfikir untuk menumpang dengan temannya dan pergi ke rumah Naza sebelum pulang ke kosan. “Halo, Na?” ujar Reza saat sambungan telepon antara ia dan Naza sudah terhubung. “Kenapa?” tanya Naza tanpa basa-basi. “Lo di mana?” “Udah di jalan balik. Lo masih di kampus?” Reza menghela napas panjang. Ia tidak bisa pulang bersama dengan Naza. Sepertinya lelaki itu juga sudah pulang sejak ia berada di kantin kampus. “Iya. Lo tau Putra dimana? Wahyu kalau nggak Zayan.” “Gue gak tahu. Gue tadi langsung pul—“ “Siapa?” Reza yang mendeng

