Sekarang. “Ada yang bisa Jesselyn bantu, Kak?” Reza menolehkan kepala. Lelaki dengan kemeja hitamnya itu memutar bola matanya malas dan menggeleng. “Nggak ada. Lo tanya aja sama yang lain,” jawab lelaki itu acuh dan mulai mengangkat kardus berisikan sound system dengan tenaganya. Jesselyn yang melihat hanya bisa menghela napas pelan. Saat akan kembali, matanya membulat melihat Reza yang akan jatuh karena tak sengaja menginjak kabel terminal di lantai. Dengan cepat Jesselyn menahan tangan lelaki itu dengan kedua tangannya. Membuat Reza yang hampir jatuh bisa bernapas lega. “Tinggal bilang iya, susah banget,” gerutu Jesselyn lalu membantu Reza membawa kardus itu ke belakang lemari. Reza yang mendengarnya hanya bisa berdehem canggung. Merasa malu sekaligus kesal karena sudah sempat men

