“Hai, anak kesayangan Mami ternyata sudah datang, toh.” Mami Clara mendekati Shasha yang sudah duduk di sofa kelab malam tempatnya mencari pelanggan, tentunya ini di ruangan khusus ya.
Shasha memutar bola matanya malas. Ini baru jam sembilan malam, tapi dia sudah harus sampai di sini, menyebalkan sekali. Shasha meneguk minuman berwarna merah tua dalam sekaligus. Stres lama-lama bila begini terus.
“Siapa klien spesial itu, Mi?” tanya Shasha to the point. Malas dia berbasa-basi.
“Kamu sudah mengenalnya sayang. Dia baik banget, Mami suka sama dia.” Mami Clara tersenyum genit, dia menuangkan minuman yang sama pada gelas berkaki langsing itu. Lalu mengajak bersulang dengan Shasha.
“Kalau Mami suka kenapa bukan Mami saja yang layani?” Senyum miring tercetak jelas di wajah Shasha. Mami Clara seketika cemberut. Dia menatap Shasha seolah tersinggung dengan ucapan anak buahnya.
“Dia maunya kamu! Sudahlah jangan bahas itu. Pokoknya layani dia dengan baik, dia akan membayarmu besar hari ini.”
“Dia itu siapa sih?”
“Om Burhan Sha, masa kamu lupa sih. Dia kan, salah satu klien kita yang terbaik.”
Astaga, Shasha hampir saja mengumpat di dalam hati. Spesial dari mananya, semua klien yang bekerja sama dengannya pasti akan memberinya tips besar, dan bayaran dari Om Burhan itu tidak lebih besar dari yang lain. Hanya saja Mami Clara tidak tahu bonus yang sudah dia terima selama ini.
Tetapi bayaran Razka kemarin itu melebihi kliennya yang lain. Dia membayar dirinya dua kali lipat dari biasanya. Jadi, untuk saat ini Om Burhan bukanlah klien istimewanya. Lagi pula Shasha sedang tidak berminat melayani Om-om.
“Oh, di mana?” tanyanya langsung tak ingin mendengarkan apa pun lagi dari Maminya itu.
“Katanya tunggu saja di Hotel X. Oh ya, cepat kamu berangkat, jangan sampai Om Burhan menunggu terlalu lama.”
Shasha hanya mengangguk tak peduli. Setelah kepergian Mami Clara dari ruangan, ia kembali menghabiskan minuman yang menurutnya sangat lezat itu. Tak berapa lama dia pun bangkit untuk segera ke Hotel yang dimaksud.
Malas menggelayuti tubuhnya sampai-sampai dia tertidur di dalam mobil yang mengantarnya ke Hotel. Ia pun dibangunkan oleh bodiguard Mami Clara.
“Mbak Shasha, sudah sampai,” ujar Bodiguard bernama Rudi itu.
Shasha merengut tak suka saat dibangunkan, tubuhnya sangat lelah sekali. Dia sangat ingin istirahat malam ini.
“Mbak-“
“Iya-iya berisik.” Shasha pun bangun kemudian membenarkan riasan wajahnya terlebih dahulu. Setelah itu ia segera keluar dari mobil.
“Sudah kamu pulang saja. Sepertinya ini akan lama.” Shasha mengibaskan tangannya bergerak mengusir. Risih kalau harus dibuntuti terus.
“Baik, Mbak Shasha.”
Mobil yang mengantarkannya pun melesat pergi meninggalkannya seorang diri di depan lobi hotel. Saat kakinya hendak melangkah, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring.
“Halo-“
“Kamu ada di mana?” tanya seseorang dari seberang sana. Jidat Shasha mengernyit bingung, dari suaranya yang macho dia seperti mengenalinya.
“Tuan. Anda mencari saya?” Shasha balik bertanya. Dia tidak percaya, Tuan Razka yang tampan dan gagah itu akan mencarinya kembali. Padahal pertemuan mereka berakhir buruk.
Shasha tersenyum penuh kemenangan, bahkan laki-laki secuek Razka pun kini sudah bertekuk lutut di bawah kakinya. Buktinya saja Razka mencari dia kembali. Shasha mengibaskan rambutnya yang tergerai penuh percaya diri, entah kenapa staminanya langsung pulih saat Razka mencari dirinya.
Ya, meskipun dia masih sakit hati atas sikap Razka tadi siang. Tapi tak apalah sudah dia maafkan. Lalu bagaimana dengan Om Burhan yang sudah menantinya? Sudah barang tentu dia tidak akan menemuinya dan lebih memilih menemani Razka yang tampan itu.
“Ya, kamu di mana? Cepat ke rumah saya!”
Cih. Tadi siang dia seolah tak butuh lagi padanya. Tapi sekarang dia sangat memaksa sekali. Memang orang kaya itu suka seenak jidatnya sendiri.
“Tuan apa Anda yakin?” tanya Shasha mencoba mempermainkan. Jual mahal sedikit kan, tidak ada salahnya.
“Stop panggil saya dengan sebutan Tuan. Panggil saja Razka. Dan juga tak perlu banyak tanya lagi, cepat ke mari!”
“Oke baiklah, Tuan-eh Razka. Maaf saya tidak terbiasa memanggil klien saya dengan sebutan nama. Baiklah kalau begitu saya akan langsung ke sana.”
Sepertinya dia memang tidak ditakdirkan untuk jual mahal.
“Cepat, gak pake lama!” Dasar si pemaksa, tapi dia suka.
Dengan semangat empat lima Shasha mencari taksi. Dia akan menjemput rezekinya yang tertinggal sekaligus menjemput rezekinya yang lain. Senyum mengembang sempurna dari wajahnya. Teringat bagaimana gagahnya Razka saat di atas ranjang membuat pipinya merona. Dia sungguh tak sabar merasakan betapa kerasnya perut dan d**a Razka yang bidang.
Ah, kenapa dia jadi seperti pemain pemula. Shasha menggelengkan kepalanya, dia tidak akan bersikap seperti tadi lagi. Itu akan membuat harganya turun bila dia terlalu tergila-gila pada kliennya sendiri.
Setelah menarik napas dalam dan menghembuskannya, Shasha lalu turun dari taksi. Di hadapannya sudah terpampang rumah besar Razka dengan banyak lampu yang menyala terang. Di malam hari saja sudah terlihat indah apalagi jika dilihatnya siang hari.
Kemarin dia tak sempat mengagumi keindahan duniawi ini. Ah, tak sabar rasanya ingin memasuki rumah ini untuk yang kedua kali.
“Cepat masuk!” titah Razka seakan tak sabar. Dia melihat penampilan Shasha dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sekilas ia tersenyum miring. Rupanya Shasha terlalu siap untuk malam ini.
Shasha berdehem sebentar untuk menghilangkan gugup. Bagaimana tidak, kali ini dia akan bermain tanpa dibuat mabuk terlebih dahulu. Bukankah ini sangat menantang dan penuh sensasi dengan kesadaran yang penuh? Dia tak boleh menyia-nyiakan malam ini.
“Kenapa masih berdiri di situ? Cepat ikuti saya!” titah Razka tanpa senyum.
Ya Tuhan, kenapa Razka sangat tidak sabaran sih. Pikir Shasha penuh senyuman dan debaran di hati.
“Katanya saya tidak boleh datang ke rumah ini lagi,” ejek Shasha.
Dia tersenyum sinis, penasaran ingin melihat wajah salah tingkah Razka. Tapi laki-laki itu malah berjalan memunggunginya. Tak mempedulikan ucapannya sama sekali.
Sial! Umpat Shasha, untung ganteng kalau tidak dia tidak akan sudi walau di bayar mahal.
Terlihat dari belakang bahu Razka yang tegap sangat membuat Shasha ingin segera bersandar di bahu itu. Kini dia yang berubah jadi tidak sabaran.
“Saya berubah pikiran,” jawab Razka singkat. Lagi-lagi membuat Shasha tidak bisa menahan senyumannya. Apa dia boleh menaikkan harga saat kliennya tergila-gila padanya seperti ini? Dia tertawa keras di dalam hati.
“Loh, kenapa ke kamar ini?”
Shasha terperangah melihat pemandangan di depannya. kamar bernuansa beby pink dengan banyak mainan di dalamnya. Ia menoleh menatap Razka yang tengah tersenyum kecil.
“Anak saya terus memanggil-manggil nama kamu. Jadi dengan sangat terpaksa saya memanggil kamu ke rumah ini kembali,” jelas Razka.
Shasha menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia tidak mau jadi babysitter lagi, sudah cukup tadi siang dia merasakan kakinya menjadi pegal luar biasa. Dia tidak ingin merusak badannya kembali. Lagi pula dia datang ke sini untuk menghangatkan ranjang tuan besar di rumah ini. Bukan jadi Babysitter anaknya.
“Maaf, tapi itu bukan pekerjaan sa-“
“Saya akan bayar kamu dua kali lipat dari bayaran kemarin,” tegas Razka yang seketika membuat mulut Shasha bungkam.