Kerja Sampingan

1040 Kata
Meski dia seorang wanita panggilan tapi Shasha juga mempunyai harga diri yang tinggi. Kesal karena perlakuan Razka dia melenggang pergi tanpa permisi. Razka memang tampan, tubuhnya tinggi dan gagah bak seorang perwira. Hanya satu kekurangannya, dia menyebalkan. Sepanjang perjalanan ke apartemennya Shasha terus menggerutu. Baru kali ini, klien papan atasnya menghutangi jasa pemuas hasratnya. Sudah cape-cape melayani sampai dini hari, dia hanya mendapatkan bayaran setengahnya. Memang bayarannya besar, tapi kebutuhan hidupnya juga jauh lebih besar. Untuk makan saja dia membutuhkan uang lebih dari dua juta, itu hanya untuk satu kali. Bagaimana dengan biaya yang lain. Hidup di kota besar membuat dia mudah jika menginginkan sesuatu, tapi tentu semua itu bila ada dananya. Untuk itu dia terjun ke dunia malam demi menyelamatkan gaya hedonnya yang sudah dia geluti setelah lulus kuliah. Pekerja kantoran tak dapat menutupi semua itu, dia harus mencari sampingan lain yang sangat menjanjikan. Sampai akhirnya dia cocok di bisnis jasa ini. Shasha melihat pesan di ponsel keluaran terbarunya. Tagihan sewa apartemen sudah masuk ke dalam emailnya. Bingung dia harus cari uang di mana lagi, tidak mungkinkan dia meminjam pada Jerry. Jerry adalah mantan pacarnya yang sudah dia putuskan secara sepihak. Dia satu kantor bersama Jerry, tentu saja dia tahu berapa gaji mantannya itu. Dan itu tidak akan cukup untuk biaya hidupnya. Realistis saja, wanita mana yang tak menginginkan kemewahan, barang branded, dan jalan-jalan ke tempat bagus, semua wanita menginginkan itu semua. Sama seperti Shasha, dan ia ingin mewujudkan itu semua dengan mempunyai suami tajir melintir yang tampan. Jerry cukup tampan dan baik, tapi dia tidak kaya. Hanya itu kekurangan Jerry. Shasha menghela napasnya, sebenarnya dia masih ada uang tapi itu tidak cukup untuk menutupi pembayaran sewanya belum lagi dia harus mempunyai pegangan untuk bekerja dan itu masih lusa. Shasha merebahkan dirinya di sofa empuk miliknya. Gedung-gedung tinggi menjadi pemandangannya setiap hari. Tentu ini adalah salah satu kelebihan dari apartemen ini. “Gara-gara rekeningku di blokir aku jadi harus pusing memikirkan pembayaran, sialan!” gerutunya. Tidak mungkin dia menerima tamu untuk malam ini, moodnya sangat jelek dan dia hanya ingin me time untuk hari ini. “Sialan, mana pahaku pegal banget lagi!” Shasha memijat kakinya, ingin rasanya dia pergi ke spa. Tapi lagi-lagi dompetnya menjerit. Terpaksa untuk hari ini dia harus menahannya sampai hari kerja tiba dan dia akan mengurus nomor rekeningnya. Setelah itu, dia akan memalak Razka karena sudah sangat merepotkan dirinya. Ya, setidaknya itulah rencana dia untuk lusa nanti. Felisha Azhari seorang Sarjana Ekonomi yang selalu berpenampilan cantik dan seksi. Tubuhnya yang tinggi jenjang membuat ia selalu menarik bila memakai pakaian model apa pun. Rambutnya yang selalu digerai indah menjadi salah satu andalan dirinya. Untuk menunjang penampilan dirinya yang lain, tentunya dia selalu rajin olahraga di tempat Gym yang berada satu gedung dengan apartemennya. Shasha bagai seorang selebriti yang menjelma sebagai karyawan kantor biasa. Namun di luar semua itu, dia menggila di dunia malam. Hanya segelintir orang yang tahu seliar apa dia di atas ranjang sampai diberi predikat ratu ular karena liukan tubuhnya yang menggoda. Ponselnya tiba-tiba berdering nyaring. Nomor Mami terpampang di layar ponselnya, dengan malas dia menjawab panggilan itu. “Hallo ... iya Mi, ada apa?” tanya Shasha to the point. Rasanya dia sudah malas berada di bawah naungan Mami Claranya itu. Bagaimana tidak, dia harus rela tarifnya dipotong dua puluh lima persen dari penghasilannya. Andai saja ada kesempatan, dia pasti akan keluar dari manajemen Mami Clara. “Halo Shasha sayang, gimana malam ini, bisa? Ada klien hot dan tajir melintir, nih,” ujar Mami Clara dengan suaranya yang dibuat selembut mungkin. Shasha adalah tambang emasnya, bagaimana mungkin dia bisa memperlakukan Shasha dengan buruk seperti anak buahnya yang lain. Helaan napas Shasha terdengar, membuat kening Maminya berkerut di seberang sana. “Halo sayang, apa ada masalah? Ayo cerita sama Mami,” desak Mami Clara seakan tahu seluk beluk hidup Shasha. “Gak kok, Mi. Hanya aku sedikit lelah hari ini. kayaknya gak bisa-“ “Eits, untuk malam ini kamu gak bisa libur dulu ya sayang. Klien kali ini sangat menginginkan kamu, katanya kamu akan diberi surprise gitu. Kamu pasti senang,” ucap Mami Clara antusias. Tapi tetap saja dia tidak mengerti keadaan Shasha. Tidak tahu saja Mami Claranya itu, setiap klien yang berhubungan dengannya pasti akan takluk dan memberikan apa pun yang dia minta. Jadi, untuk surprise yang dimaksud Mami Clara dia belum berminat untuk sekarang ini. “Gak tahu, aku gak bisa janji.” “Jangan begitulah sayang. Kamu harus dandan yang cantik ya, untuk malam ini, Mami tunggu. Atau apa perlu Mami jemput ke apartemen kamu?” “Gak usah, Mi. Aku bisa sendiri.” Shasha menutup panggilan itu secara sepihak. Malas sekali menuruti keinginan Maminya itu. Apa tidak bisa dia me time hanya untuk hari ini saja. Cih, Shasha mendesah kesal. Bagaimana mungkin dia akan menikmati percintaannya malam ini jika moodnya saja seburuk ini. Dengan malas dia beranjak dari kasur empuknya. Mencari dress yang sesuai dan berhias secepat mungkin. Tak perlu susah payah mengaplikasikan make up ke wajahnya, hanya dengan sentuhan sederhana saja sudah mampu membuat wajahnya menjadi lebih cantik. Lagi-lagi dia mendesah, tubuhnya ingin sekali beristirahat untuk malam ini. Tetapi rezeki tidak boleh ditolak bukan? Otaknya dengan cepat memproses apalagi saat membayangkan pundi-pundi uang yang akan kembali masuk ke dalam rekeningnya. Sebenarnya bisa saja dia meminta langsung pada kliennya itu, sudah barang tentu mereka akan dengan suka rela memberi. Tentunya nanti akan ada imbalannya juga. Hanya saja, Shasha tidak mau seperti itu. Bila dia melakukannya sudah pasti dia akan mudah dikendalikan oleh para laki-laki hidung belang itu. Dan itu adalah mimpi buruk terbesar dalam hidupnya. Sekali lagi, dia sangat menjunjung tinggi harga diri. Dia tidak mau disetir oleh p****************g, kecuali pria seperti Razka. Shasha tersenyum kecil dengan pemikirannya ini. Sudah lama sekali dia tidak tertarik pada pria lagi, maksudnya secara tulus bukan karena materi melainkan dari lubuk hatinya. Ah, andai dia terlahir dari orang kaya. Dia tak akan bersusah payah menjadi seperti wanita malam seperti ini untuk memenuhi gaya hidupnya. Lantas dia menggelengkan kepala pelan, bila mengingat masa lalu biasanya dia akan bertambah badmood. Ada banyak hal yang ingin dia lupakan dari masa lalunya itu. Selama ini dia sudah cukup damai dengan kehidupannya, dan dia tidak akan semakin mengacaukan harinya dengan bayangan masa lalu yang memuakkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN