Kebahagiaan Eca

1103 Kata
Razka Abimana Carlos, seorang duda anak satu yang kaya raya. Lima tahun sudah dia habiskan waktunya untuk menyendiri dalam status dudanya. Kesehariannya hanya bekerja, dan menjenguk anaknya yang berada di rumah orang tuanya. Setiap hari libur barulah dia yang akan merawat gadis kecilnya meskipun masih dibantu suster. Alesya Shintia Carlos atau biasa disebut Eca adalah nama gadis cilik yang kini semakin tumbuh besar menjadi seorang gadis yang cantik. Wajah ayunya itu berasal dari perpaduan wajah Razka dan Shintia, ibu kandung Eca yang telah meninggal. Dia belum pernah melihat foto Shintia di rumahnya, tapi yang Daddy dan neneknya katakan Ibunya sudah pergi. Dan sampai sekarang dia belum mengerti ke mana ibunya selama ini. karena itu dia selalu meyakini, jika suatu saat ibunya akan datang menemuinya. Dan waktu itu adalah kemarin, Eca menemuinya. Bahagia tidak terkira yang dia rasakan saat itu, ia sampai tak mempercayainya jika ayahnya yang sangat dia sayangi akan membawa ibunya pada hari itu. Meskipun kata suster, nenek dan ayahnya, Shasha itu bukanlah ibunya. Tapi dia sudah menganggap Shasha adalah pengganti ibunya yang hilang. Ibu yang cantik seperti dirinya. Kini gadis itu tak berhenti tersenyum, dia terus menempelkan tubuhnya pada Shasha. Dia tidak mau kehilangan lagi, dia sangat takut. “Sayang kamu duduk di sini saja,” ujar Razka dengan wajah ditekuknya. Amarahnya belum hilang pada wanita itu, tapi dia juga tidak bisa meluapkan emosinya saat ini karena ada Eca di sampingnya. Eca menggeleng, “Mommy suapin ....” Eca tak menghiraukan ayahnya. Dia malah menatap wajah Shasha dengan penuh harapan agar Shasha mau menyuapinya. Shasha yang tidak terbiasa berhadapan dengan anak kecil jadi risih karena Eca yang terus menempel. Namun, anehnya gadis kecil itu selalu berhasil menghipnotis dirinya untuk mengatakan ‘iya’ padanya. Eca bersorak gembira. “Aku mau makan itu Mommy.” Tunjuknya pada udang tepung goreng. Shasha pun mengambil udang itu dengan tangannya. Namun segera dihentikan oleh Razka. “Hey pakai sumpit ini!” seru Razka kesal. Shasha pun jadi ikut kesal, padahal tangannya juga tidak kotor. Namun dia masih menyuapi Eca dengan telaten, dia tidak mau Razka pergi begitu saja kalau dia tidak sabar menghadapi anaknya. Pasalnya pembayarannya masih belum dilunasi. Entah sengaja atau tidak, tapi dia masih menunggu Razka mengeluarkan uang dari dompetnya. “Terima kasih Mommy, Eca senang deh, bisa disuapi sama Mommy.” Eca memeluk Shasha erat. Wanita cantik itu terlihat canggung dipeluk oleh gadis cilik di depan umum. Dia merasa mereka seperti keluarga cemara saja. “Eca sayang, makan dulu ya biar kenyang.” Shasha melepas pelukan Eca pelan. Eca mengangguk patuh, dengan lahap dia memakan suapan demi suapan dari tangan Shasha. Pemandangan di depannya membuat Razka terenyuh. Dia belum pernah melihat Eca seceria ini, dia bercerita banyak hal pada Shasha hingga wanita itu tampak kewalahan meladeninya. Setelah memastikan Eca akan baik-baik saja di dekat Shasha ia pun izin ke toilet sebentar pada Eca. “Maaf Tuan, Anda jangan kabur!” cegah Shasha memegang tangan Razka kuat-kuat. Razka melirik tangan Shasha, seketika bayangan-bayangan malam itu memenuhi isi kepalanya. Astaga, kenapa dia jadi m***m seperti ini, pikir Razka seolah kehilangan jati dirinya. “Aku tidak akan kabur, lagi pula ada anakku di sini! Tolong jaga dia sebentar.” Setelah mengucapkan kalimat itu dia pun pergi meninggalkan Eca dengan Shasha. Setiap langkahnya menuju ke toilet, Razka merasakan debaran jantungnya yang tak biasa. Darahnya berdesir mengalir membuat sesuatu di bawah sana mengeras. Apa ini? kenapa dengan tubuhnya yang tiba-tiba bereaksi berlebihan seperti ini. Hanya karena disentuh oleh wanita itu, dia jadi menegang kembali. Sungguh gila, apa wanita itu pakai ilmu pengasihan? Ck, Razka berdecap kesal dengan pemikirannya sendiri. Tahun berapa ini, kenapa dia masih percaya hal-hal kuno seperti itu. Setelah menuntaskan hajatnya, dia pun kembali ke meja di mana anaknya dan wanita itu berada. Dari kejauhan terlihat Eca sudah tertidur di pangkuan Shasha, beruntung dia memilih tempat duduk yang memakai kursi sofa dan lebih privat dibanding yang lain. Razka memperhatikan lengan wanita itu yang terus mengusap-pelan rambut anaknya pelan. Sepertinya dia tidak meracuni Eca, pikir Razka negatif. “Maaf saya sedikit lama.” Razka duduk di samping kaki Eca. Shasha mendengus, dia menatap Razka dengan kesal. Pahanya sudah pegal dijadikan bantal oleh gadis kecil ini dia ingin memindahkannya tapi Eca menolak. “Bukan lama lagi, tapi lama banget. Anaknya saja sampai ketiduran, pegal paha saya,” keluh Shasha kesal. Razka menatap Shasha dengan tatapan datarnya. “Ini bill pesanan kamu dan anak saya yang sudah saya bayar. Sisa pembayarannya nanti saja, aku tidak punya uang cash sebanyak itu.” “Anda bagaimana sih. Saya lagi butuh banget, sewa apartemen saya sudah jatuh tempo.” “Itu urusanmu, siapa suruh nomor rekeningmu pakai terblokir segala.” “Ya ... itu kan, musibah. Tapi ini semua gara-gara Anda, jika Anda membayar lunas kemarin maka hal seperti ini tidak akan terjadi.” “Kenapa kamu menyalahkan saya? Seharusnya kamu yang harus disalahkan. Sudah saya bilang untuk segera pergi dari rumah saya sebelum jam tujuh pagi.” Razka menatap wanita itu dengan tajam. Semua jadi rumit seperti ini karena ulah wanita sendiri. Andai dia pulang tepat waktu, maka kejadiannya tidak akan merembet ke mana-mana. Emosi kembali menguasai dirinya saat mengingat kejadian kemarin. Terlebih pada anaknya, sekarang gadis kecilnya sudah bisa membantah sejak kejadian kemarin. “Um ... itu, aku minta maaf. Aku mengantuk sekali, lagi pula semalamam kita melakukan itu mustahil aku tidak kesiangan.” Shasha membenarkan letak rambut panjangnya. Sedangkan Razka dia jadi kegerahan mendengar jawaban Shasha. Bahkan wanita itu mengatakannya seolah itu adalah hal yang biasa. Tapi ... itu memang biasa baginya. Razka menggerutu. Kesal dengan dirinya sendiri yang sudah memilih Shasha untuk menemani malamnya kemarin. “Sudahlah, cepat pergi dari sini. Sudah muak aku melihat wajahmu.” Shasha melongo mendengar ucapan mantan kliennya yang sangat tidak sopan itu. Bahkan dia sudah ingin pergi sejak tadi, tapi ditahan oleh anaknya ini. kurang baik apa dia, tapi laki-laki itu malah mengusirnya. Dengan kesal, Shasha memindahkan kepala Eca ke atas sofa lalu bersiap untuk pergi tanpa basa-basi lagi. Kesal bukan main dirinya saat ini. Andai saja dia tidak butuh uang, pasti dia tidak akan pernah bertemu dengan manusia seperti Razka. Setelah kepergian Shasha, Razka menghela napasnya yang terasa berat. Begitu pun dengan hari-harinya yang juga terasa sangat berat setelah dia tidur dengan Shasha. Harusnya dia menuruti keinginan Maminya untuk segera menikah. Namun, dia masih ingin sendiri. Dia tidak mau mengorbankan perasaan orang lain demi kebahagian Eca dan Maminya, di saat hatinya masih terpaut pada masa lalu yang sampai saat ini masih belum bisa dia lupakan. Bahkan bila melihat fotonya, perasaan yang ada di hatinya terasa semakin tumbuh subur. Namun lagi-lagi dia harus merelakan semuanya. Pujaan hatinya sudah tidak bisa dia miliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN