Bertemu Mommy Kembali

1226 Kata
“Kita mau cari Mommy ke mana, Dad?” tanya Eca entah sudah yang ke berapa kalinya. Dengan sabar Razka mengusap pucuk kepala anaknya dengan lembut. Dia tersenyum menatap anaknya yang kini sudah bertambah besar. Sudah banyak waktu yang dia lewatkan tanpa memperhatikan perkembangan Eca. Gadis kecil yang tumbuh tanpa seorang ibu dan perhatian ayahnya yang terlalu sibuk bekerja. “Maafkan Daddy, ya?” “Kenapa Daddy minta maaf?” “Karena Daddy belum bisa buat kamu bahagia,” Razka tersenyum getir. Sudah banyak wanita yang dijodohkan oleh Maminya namun ia tolak. Hatinya masih terpaku pada masa lalu, dia merasa tidak bisa untuk menikah lagi. “Kemarin Eca bahagia kok, waktu ada Mommy sama di kasur Daddy. Tapi sekarang Eca sedih lagi,” keluh gadis cilik itu. Ia memintal tali sling bag-nya yang bermerk itu. “Maaf ya,” ucap Razka penuh rasa bersalah. Eca mengangguk, lalu sedetik kemudian dia tersenyum lebar. “Tapi sekarang kan, kita mau cari Mommy. Jadi, Eca udah gak terlalu sedih, hehe ....” Gadis kecil itu tersenyum lebar memamerkan deretan gigi susunya yang rapi. Padahal di luaran sana banyak anak kecil seusianya yang giginya menghitam ataupun ompong karena patah. Tapi tidak dengan Eca, dia selalu patuh bila disuruh untuk menggosok giginya. Razka menepuk puncak kepala anaknya. Dia tersenyum getir, andai Eca tahu jika wanita yang kemarin datang ke rumahnya adalah wanita pemuas nafsu ayahnya, pasti dia akan malu atau bahkan trauma. Lagi- lagi Razka mengutuk dirinya yang sudah gegabah memasukkan wanita panggilan ke dalam rumah intinya. Ia pikir pada saat itu semua akan berjalan sesuai rencana. Setiap hari Eca memang diasuh oleh Maminya, dan jika hari libur tiba dia akan diboyong ke rumahnya kembali untuk menghabiskan waktu dengan ayahnya. Namun karena tragedi kesiangan semua jadi berantakan. Harusnya wanita itu sudah pergi sebelum waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Padahal dia sudah mewanti-wanti Shasha agar segera pergi dari rumahnya setelah melakukan tugasnya. Ck, wanita memang harus dikasih pelajaran. Karena dirinya sekarang Eca jadi sering tantrum mencari ibunya, padahal selama ini dia tidak pernah menanyakan keberadaan sosok ibu. Entah sekarang dia harus pergi ke mana untuk membodohi putrinya yang polos ini. Dia tidak mungkin membawa Eca ke tempat di mana wanita berada. Sangat tidak layak sekali bila dia menemuinya. “Masih lamakah, Dad?” tanya Eca tak sabar. Dia menatap jalanan yang macet. Gerak matanya gelisah, rasanya dia sudah tidak sabar untuk menemui Shasha. “Sabar, ya sayang. Kita masih terjebak macet,” kata Razka sembari menahan senyumnya. Padahal dia sengaja masuk ke jalan yang rawan macet. Lantas, dia harus bagaimana lagi kalau tidak dengan alasan seperti ini. Terlihat gadis kecil yang cantiknya itu menghela napas tak sabar, dia lalu menengadahkan kedua tangannya ke atas. “Ya Tuhan semoga macetnya cepat selesai, Eca mau ketemu Mommy soalnya. Aamiin.” Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil. Razka melongo, dia tidak pernah berpikir anaknya akan melakukan hal itu. Namun ia juga terharu, anak kecil memang polos tapi dia tidak lupa untuk meminta pada Tuhannya. “Ayo bantu Aaminkan doa Eca, Dad,” desak Eca. “Eh iya, sayang, aamiin,” jawab Razka gelagapan. Setelah itu gadis kecilnya kembali tersenyum. Lamanya perjalanan yang tak sampai membuat bola mata Eca memerah. Dia sudah bersiap akan menangis kembali. Kesabarannya sudah habis dibawa putar-puter ke sana kemari oleh ayahnya namun tidak sampai-sampai. Razka tentu merasa bersalah. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, setiap kali ditawari untuk ke rumah auntynya dia menggeleng keras. Dia masih tetap pada pendiriannya, mencari Mommy abalnya. “Kita makan dulu, yuk,” tawar Razka. Eca menggeleng keras, “Eca mau ketemu Mommy,” tangisnya pun pecah dengan keras. Ia mengamuk lagi dengan gerakan brutalnya. Razka panik, dia belum pernah menangani amukan anaknya secara langsung. Ia pun meminggirkan mobilnya trotoar jalan untuk menenangkan amukan Eca. “Sayang maafkan Daddy ya. Daddy mohon jangan nangis lagi,” bujuk Razka. Tangisan eca semakin keras dia menendang-nendang dashboard mobil tak mau mendengarkan suara ayahnya. Lalu terdengar ketukan di kaca jendelanya. Razka menoleh, terlihat orang-orang di sekitar sudah mulai penasaran dan memandangi mobilnya penuh tanda tanya. “Sayang jangan begini, oke. Daddy minta maaf, kita akan segera sampai di rumah Mommy.” “Eca mau ketemu Mommy,” jerit Eca nyaring. “Iya-iya sayang, tapi berhenti ya nangisnya.” “Enggak mau. Eca mau ketemu Mommy.” Eca terus berontak dia tidak berhenti menangis dan masih menjerit-jerit memanggil ibunya. Kesabaran Razka diuji, dia ingin sekali memukul anaknya agar berhenti menangis. Tapi dia tidak bisa melakukan itu, dia tidak mau anaknya semakin membenci dirinya. Ketukan di kaca jendelanya semakin membuat Razka kalang kabut. Orang-orang mungkin menganggapnya sebagai penculik anak. Dia tidak menghiraukannya, biar saja orang menganggapnya seperti apa. Di saat yang bersamaan ponselnya berdering nyaring, suaranya bersahut-sahutan dengan tangis Eca. Suara orang mengetuk kaca jendela saja belum berhenti, kini ditambah dengan suara ponselnya yang tak mau berhenti juga. Rasanya kepalanya akan pecah saat ini juga. Tangan kekarnya itu langsung menyambar ponselnya, lalu mematikan. Tak lama ponsel itu kembali berdering, dengan kesal Razka menjawabnya dengan membentak. “Bisa diam tidak?!” bentak Razka. Seketika Eca diam, juga orang yang berada di seberang telepon ikut diam. Setelah beberapa detik, Razka baru menyadari kalau anaknya mengkerut ketakutan setelah mendengar bentakannya. “Ups, sorry kalau aku mengganggu-“ “Kamu siapa? Beraninya meneleponku di saat seperti ini!” ucapnya dingin. “Maaf , Tuan saya Felisha yang sudah ada booking kemarin malam. Tolong datang ke Restoran Z ya, ini sangat penting. Tolong saya-“ “Saya tidak ada urusan denganmu-“ “Eit-tunggu Tuan. Jangan lupakan sisa pembayaran Anda kepada saya yang belum dilunasi. Saya minta Anda datang sekarang atau saya akan memviralkan Anda!” Razka mendecih, ancaman macam apa itu. Rupanya dia tidak tahu, kalau dia adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh di mana pun. Kecil baginya kalau untuk masalah sosial media. “Saya transfer saja,” putusnya. “Tidak Tuan. Rekening saya baru saja diblokir karena kesalahan pin. Tolong saya, saya mohon-“ “Dad, siapa dia?” tanya Eca yang sedari tadi mencoba masuk ke dalam pembicaraan orang tuanya. “ECA! HALLO SAYANG INI TANTE!” jerit Shasha di seberang sana, membuat Eca langsung menoleh dan ingin melihat ponsel ayahnya. “Mommy?! Daddy apakah itu Mommy?” seru Eca bahagia dan penuh antusias. Razka terpaku, bagaimana ini? Sangat tidak mungkin bila dia membawa Eca kembali bertemu dengannya. Ini tidak bisa dibiarkan dia harus segera menyelesaikan pembicaraan ini. “Saya akan transfer lain kali saat nomor rekeningmu sudah pulih-“ “Dad, aku mau bicara sama Mommy,” sahut Eca keras. Dia merasa diabaikan oleh Razka. “Tidak sayang ini bukan Mommy kamu-“ “ECA SAYANG, TOLONG MOMMY, NAK.” Shasha berteriak keras. Dia tidak peduli bagaimana orang lain akan melihat dirinya sebagai orang gila yang berdandan cantik dan seksi. “Mommy! Daddy, Eca mau ketemu Mommy sekarang!” Eca mendesak Razka untuk segera menemui Shasha segera. “Sayang diam dulu, ini orang lain bukan Mommy kamu,” ucapnya lembut berharap Eca akan mengerti. “Engga-“ “Shuut ... berhenti dulu ya-“ “Engga! Itu Mommy, Eca mau ketemu Mommy!” Dan usahanya sia-sia. Dia harus memberi wanita itu pelajaran karena telah memanfaatkan Eca yang tidak tahu apa-apa untuk kepentingannya. “Ck, baiklah. Cepat kirim alamatnya!” seru Razka kesal pada anaknya sekaligus Shasha. Eca dan Shasha bersorak kesenangan, membuat Razka semakin jengkel dan marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN