“Dad, Mommy mana?” tanya Eca saat tahu Shasha sudah tak ada di rumahnya. Ia terus merengek mencari Mommy nya, ia sudah berlari mencari ke sana ke mari namun tetap tak menemukan keberadaan Shasha.
“Mommy mana Dad, apa Daddy yang menyuruhnya pergi? Daddy jahat, Eca benci Daddy!” Eca menjerit dia berlari ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya keras-keras.
Lagi-lagi Razka hanya menghela napasnya. Entah sudah berapa kali dia melakukan ini, yang jelas untuk hari ini dia merasa pusing sekali. Ini hari liburnya, hari di mana seharusnya dia menghabiskan waktu bersama Eca.
Tetapi dia malah membuat kekacauan dengan bangun kesiangan bersama wanita panggilan yang sudah dia booking semalaman. Andai hasratnya tak menggebu-gebu pada malam itu, sudah pasti dia tidak akan mengalami kesialan ini.
Hari kemarin adalah hari kedua dia memanggil seorang wanita penjual kehangatan. Biasanya dia akan membawa wanita itu ke apartemennya. Namun entah kenapa pada malam itu dia malah membelokkan setir mobilnya ke rumah. Alhasil inilah yang terjadi sekarang, dia bangun kesiangan dan kepergok ibu serta anaknya.
Padahal dia sudah berjanji tidak akan memuaskan hasratnya dengan sembarang wanita lagi. Namun lagi-lagi semua di luar kendalinya, hasratnya tiba-tiba memuncak dan dia sudah tidak bisa menunggu lagi.
Bayangan dikepalanya kembali pada malam itu. Malam di mana dia merasa tak cukup hanya sebentar dan sekali. Malam itu, rasanya adalah malam yang membara. Hasratnya yang berada di puncak tak dapat dikontrol lagi dan tanpa dia duga Shasha dapat mengimbangi permainannya. Dia sungguh merasa ... puas.
Ah, mengingatnya membuat adik kecilnya kembali berontak. Haruskan dia memesan dia lagi? Ck, Razka menggelengkan kepalanya keras. Dia bahkan memukulnya pelan untuk menghilangkan bayangan-bayangan kehangatan semalam.
Felisha ...
“Sial!”
Razka mengacak rambutnya kasar. Kenapa dia harus memikirkan dia di saat seperti ini. Tak mau dihantui bayangan memabukkan semalam, Razka segera mengejar Eca ke kamar. Gadis berusia lima tahun itu pasti kesal kepadanya, hanya saja dia salah paham. Ia bahkan tak mengenal Shasha lebih jauh selain hubungan antara penjual dan pembeli.
Ngomong-ngomong soal itu, dia belum membayar sisa pelunasannya pada Shasha. Ck, lagi dan lagi Razka memukul kepalanya yang tiba-tiba berubah menjadi bodoh hari ini. Kenapa dia masih memikirkan pembayaran sedangkan anaknya masih merajuk di dalam kamarnya.
“Eca sayang, Daddy datang. Maafkan Daddy ya, sudah membuat Eca marah,” ucap Razka lembut. Beruntung bocah itu belum bisa mengunci pintu kamarnya sendiri. Pernah sekali dia menguncinya, dan akhirnya dia tidak bisa keluar. Itu membuatnya trauma tidak mau lagi mengunci pintu kamarnya.
“Enggak mau! Daddy sudah gak sayang lagi sama Eca! Daddy jahat.” Air mata Eca kembali turun. Dia menangis lagi dengan kencang.
Ayah satu anak itu kembali panik. Tidak biasanya Eca marah seperti ini padanya.
“Maafkan Daddy ya, Eca mau apa biar gak marah lagi sama Daddy?” bujuknya sebisa mungkin.
“Eca mau Mommy! Pokoknya Eca mau Mommy. Kata Daddy, Mommy akan pulang tapi waktu Mommy pulang ... Daddy malah usir Mommy.” Eca menangis lagi. Kali ini dia benar-benar kecewa pada ayahnya. Kenapa ibunya harus diusir? Padahal dia sangat merindukannya.
Razka diam. Dia bingung harus menjawab apa pada anak berusia lima tahun ini. Dia hanya mampu memeluk dan mengusap penuh kasih sayang kepalanya, hanya itu yang dapat dia lakukan saat ini. Entah harus bagaimana lagi dia menjelaskan pada Eca jika Shasha bukanlah ibunya.
“Daddy jahat! Eca benci Daddy!”
“Maafkan Daddy ya, sayang.”
Razka merutuki kelakuannya yang bodoh dan gegabah. Kalau sudah seperti ini dia harus bagaimana. Eca, anaknya sangat merindukan sosok seorang ibu dalam hidupnya. Dan untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, dia lihat wanita asing selain Nenek dan pelayan di rumah ini. Otomatis dia langsung mengklaim Shasha sebagai ibunya.
Ibu Eca yang asli sudah meninggalkannya sejak bayi. Dia mengalami pendarahan dan tak terselamatkan. Hanya bayi mungilnya saja yang bertahan, namun dia juga harus kehilangan sosok ibu dari anaknya.
Perlahan air mata Razka ikut turun. Eca masih saja menangis di pelukannya, mendengar tangis Eca yang menyedihkan dia jadi ikut sedih. Eca sangat merindukan sosok ibu dihidupnya.
“Daddy jahat! Daddy udah gak sayang lagi sama Eca.”
“Sayang, Daddy selalu menyayangimu. Jangan bilang Daddy jahat lagi, ya.”
“Tapi Daddy usir Mommy.”
“Baiklah, nanti kita cari Mommy sama-sama, ya?”
Eca berhenti menangis, dia menatap wajah ayahnya yang juga basah. Bola mata bundar itu berbinar, lalu lengkung senyuman muncul di wajahnya.
“Beneran Daddy mau cari Mommy?” tanya Eca penuh harapan. Razka mengangguk pasti, membuat Eca bersorak girang.
“Benar ya, Dad.” Eca memastikan.
“Iya, sayang. Tapi Eca jangan menangis lagi, ya. Janji?”
Razka memberikan jari kelingkingnya pada Eca. Dengan senang hati eca menautkan jari kelingkingnya yang mungil pada sang ayah.
“Eca janji!” seru Eca senang.
**
“Makanya nurut sama Mami. Kalau sudah seperti ini mau bagaimana, kan? Jadi anak susah banget dikasih tahunya!” omel Mami Razka pada anak laki-lakinya sendiri.
Razka hanya bisa diam. Dari dulu Mami tak ada bosan-bosannya menyuruh dia untuk mencari istri lagi. Tapi cari istri tak semudah yang dipikirkan oleh Maminya. Dia mau istrinya sesuai apa yang dia mau, dan juga Eca menyukainya
Cari istri sekaligus ibu di zaman sekarang tidaklah mudah. Apalagi dia mempunyai harta yang tak sedikit, wajah tampan dan kekuasaan. Siapa yang tak mau menikah dengannya? Namun, yang dia pikirkan adalah Eca. Dia tidak mau ibu barunya tidak tulus. Walau bagaimanapun niatnya mencari istri adalah untuk anaknya.
“Tapi semudah itu, Mi,” desah Razka. Pusing kepalanya semakin menjadi-jadi mendengar ucapan Maminya.
“Itu saja yang kamu ucapkan dari dulu, tapi gak ada usahanya. Lihat Eca, dia sangat butuh sosok ibu dalam hidupnya. Kasihan dia bila seperti ini terus!”
“Terus aku harus apa?”
“Astaga, ya kamu cari istrilah!”
“Tapi-“
“Sudah, jangan ada tapi-tapian! Mami akan carikan lagi jodoh buat kamu. Cukup sekali kejadian ini ada di hidup Eca. Sebelum kamu punya istri, tidak ada wanita-wanita panggilan lain yang datang ke sini lagi juga di tempat manapun! Cari penyakit saja!”
Razka meneguk air ludahnya susah payah. Ia tidak yakin bisa melewati masa yang berat ini terlalu lama lagi. Tapi dia harus cari wanita seperti apa yang cocok untuk menjadi istrinya juga ibu sambung bagi Eca?
Razka mengacak rambutnya kasar. Kedatangan Felisha ke rumah ini membuat semuanya kacau. Tapi, dia yang mengajaknya ke sini. Batinnya berseru keras.
Andai saja Felisha bukan wanita panggilan. Eh, Razka segera meralat isi kepalanya. Lalu dia harus bagaimana setelah ini? Eca sudah tidak bisa diam kalang kabut mencari Felisha yang entah sudah di mana.