“Tapi-“
“Lepaskan dia! Eca ayo sini sama Daddy.”
Razka merebut Eca dari pangkuan Shasha dengan kasar. Dia tidak mengizinkan orang asing menggendong anaknya tanpa izin. Eca terlalu berharga, dan dia tidak mau anaknya terluka karena orang asing.
“Daddy aku mau sama Mommy. Aku mau digendong Mommy!” Eca menangis keras, dia memberontak membuat Razka kewalahan menggendongnya. Tubuh bocah itu melengkung ke belakang mencoba melepaskan pegangan ayahnya sendiri.
“Razka, kamu akan menyakiti dia,” ucap Maminya cemas.
“Eca tenang sayang. Nanti kamu akan jatuh.”
“Enggak, Eca mau sama Mommy!” Lalu Eca menangis keras-keras, matanya terus menatap Shasha mencoba meminta bantuan. Namun Shasha tidak bisa membantunya, karena dengan keras Razka tidak mengizinkan dia untuk memangku Eca.
“Mommy ... Mommy,” panggil Eca, suaranya sudah serak. Dia terus memberontak, Razka tidak mendengarkan ucapan anaknya sama sekali. Dia masih kukuh menahan bobot tubuh Eca yang seakan bertambah beratnya ketika mengamuk seperti ini.
“Heh, kamu cepat pergi dari sini!” usir Ibu Razka galak.
Shasha mengangguk. Sebenarnya dia memang ingin segera pergi dari sini, tapi untungnya dia masih ingat Razka belum melunasi pembayarannya yang tinggal setengah lagi.
“Tuan, Anda belum melunasi pembayarannya.”
“Astaga, persetan dengan pembayaran. Cepat pergi!”
“Tapi-“
“Mommy ... Mommy jangan pergi!”
Eca semakin mengamuk melihat Shasha akan pergi, dia berontak ingin turun dari pangkuan ayahnya. Razka sudah tak bisa lagi menahan Eca, bocah perempuan itu hampir terjatuh karena terus menangis. Akhirnya ia menurunkan Eca dan bocah itu langsung memeluk kaki Shasha.
“Mommy ... jangan tinggalkan Eca lagi.“ Eca menangis tersedu-sedu sambil memeluk Shasha.
Shasha jadi bingung dengan situasi ini. Dia tidak menyukai anak kecil, tapi entah kenapa dia merasa tersentuh karena tangisan Eca. Ini seperti mengingatkannya pada kenangan beberapa tahun silam.
Tak tega, Shasha pun langsung berjongkok menyamai tinggi Eca. Tangan lentiknya mengusap air mata yang terus turun dari mata Eca. Dia tersenyum, diikuti Eca.
“Jangan menangis ya, lihat, wajahmu jadi jelek, kan.” Shasha menunjuk cermin di hadapan mereka. Eca mengangguk, lalu dia menyusut air matanya kasar.
“Eca tidak akan menangis lagi, asalkan Mommy jangan pergi.” Eca tersenyum, lalu memeluk Shasha. “Eca kangen sekali sama Mommy.”
Tubuh Shasha membeku. Dia ingin melepaskan pelukan bocah ini tapi tidak bisa, anak ini benar-benar tak ingin dia pergi dari sini. Shasha melihat ke arah Razka, mencoba meminta bantuan pada kliennya itu untuk melepaskan tangan Eca dari lehernya.
Razka mengerti, dia pun berjongkok dan memberi pengertian pada putrinya. Karena Eca yakin, Mommynya tidak akan pergi. Dia pun melepaskan tangannya, namun kini ia malah menggenggam tangan Shasha.
Shasha melirik tangannya, itu sama saja Eca tidak memberinya kesempatan untuk pergi. Pandangannya beralih pada anak cantik itu, Eca langsung tersenyum manis. Akhirnya Shasha hanya mampu menghela napasnya pasrah, inilah yang dia tidak suka pada anak kecil. Pemaksa.
“Mommy ayo kita ke kamarku, Mommy belum tahu kan, di mana kamarku?” tanya Eca, mata polosnya membuat Shasha tak bisa untuk tidak meladeninya. Shasha menggelengkan kepala, dan anak kecil itu lagi-lagi tersenyum.
“Kalau begitu ayo kita ke kamar Eca! Yeeey ....”
Eca menarik tangan Shasha kuat-kuat, setelah mendapatkan izin dari Razka mau tak mau dia menuruti langkah bocah itu. Andai saja dia bangun tepat waktu pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Dia masih ngantuk, dan anak kecil ini malah membuat dia terjebak di rumah besar ini.
“Razka, kenapa kamu membiarkan dia?” tanya Maminya geram.
“Aku tidak tega melihat Eca menangis seperti tadi, Mam,” jawabnya serba salah.
Razka menghela napasnya, dia terduduk di ranjang. Mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak ke kamar mandi saat ingat dia belum sempat mencuci wajahnya.
“Astaga! Sudah Mami katakan jangan membawa wanita panggilan ke rumah ini lagi. Kalau sudah begini kan, Mami yang direpotkan,” gerutunya.
“Iya-iya, aku minta maaf, Mam.”
“Setelah ini Mami mau bicara sama kalian berdua di bawah!”
Razka sudah membawa Shasha turun ke lantai bawah. Dia membiarkan Eca untuk main bersama Susternya dulu, beruntung untuk kali ini Eca mau menuruti perintah Razka.
“Namamu siapa?” tanya Mami Razka dengan mata tajamnya.
Shasha yang tidak tahu malu, hanya biasa saja melihat tatapan tak bersahabat itu. Dia sudah kebal dengan pandangan orang lain terhadapnya. Walau bagaimanapun anaknyalah, yang mengundang dia ke rumah ini.
“Felisha, Tante,” jawabnya sembari tersenyum.
Bola mata Mami Razka semakin melotot, “kamu pikir saya ini Tante kamu!” tandasnya kesal.
“Oh iya, maaf. Lagi pula saya sudah tidak punya Tante.” Shasha tersenyum lagi.
Mami Razka semakin berang, dia sangat tidak suka dengan wanita di depannya ini.
“Kamu benar-benar wanita tidak tahu malu! Sudahlah seorang p*****r tidak punya ettitud pula. Razka, cepat usir dia!” ketus Roseline tanpa tedeng aling aling-aling.
“Tidak perlu marah-marah pada saya Tante. Bukan saya yang datang ke rumah ini sendiri. Melainkan anak Anda sendiri yang membawa saya ke sini. Oh iya, maaf Tuan pembayaran Anda mau di transfer atau mau cash saja?” Setelah menjawab perkataan Roseline pandangan matanya beralih pada Razka.
Di tanya perihal seperti ini di depan orang tuanya membuat Razka malu setengah mati. Entah kenapa wanita yang dia panggil kali ini tidak ada urat malunya sama sekali. Bisa kan, dia menanyakan hal ini lewat pesan. Bukan langsung frontal seperti ini.
Wanita di hadapannya ini memang cantik, juga mempunyai keahlian yang mumpuni untuk menandinginya di atas ranjang. Tapi ternyata dia ada minusnya juga.
“Maaf Tuan-“ ucapannya Shasha terhenti.
Razka berdeham, “Nanti saya transfer, cepat pergi dari sini!” usir Razka dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
“Oke kalau begitu, saya tunggu, ya.” Shasha mengedipkan matanya dengan genit, lalu meraih tasnya kemudian melenggang pergi dari rumah besar ini.
“Mari Tante,” pamitnya pada Mami Razka. Mami Razka hanya mendengkus sebal melihat kepergian Shasha.
“Memalukan!” cetus Mami Razka kesal. “Bisa-bisanya kamu bawa wanita seperti itu ke rumah ini. Apa kata orang jika tahu kelakuan kamu seperti ini? Apalagi di sini ada Eca, anakmu yang polos itu. Bagaimana bisa Eca menganggapnya sebagai ibunya.” Lanjut Roseline penuh amarah.
Ia memijat keningnya yang terasa berdenyut nyeri.
“Kenapa Mami tidak telepon aku dulu kalau mau ke sini?” ujar Razka mencoba mencari pembelaan.
Mendengar ucapan anaknya, Bola mata Roseline membulat sempurna. Dia tidak percaya Razka malah mencoba mencari pembelaan setelah semuanya ini tidak ada yang benar.
“Kamu bilang telepon? Untuk apa Mami telepon? Bukakah setiap Mami telepon tidak kamu jawab! Lagi pula ini hari libur, dan Eca sudah biasa ke sini setiap hari libur. Razka—Razka sudah tahu salah, tapi masih saja menyalahkan orang lain.”
“Bukannya begitu, Mi. Hanya saja, aku-aku ...”
“Halah, sudahlah Mami memang selalu salah di matamu. Jika kamu tidur dengan Falen, Mami tidak masalah. Dia wanita cantik, baik, bebet bobotnya juga jelas. Kalau perlu Mami nikahkan, kalian saat ini juga.”
“Tapi tidak ada wanita baik-baik yang mau tidur di pertemuan pertama, Mi.”
“Razka!”
Roseline menatap tajam. Entah mengapa Razka semakin menjengkelkan setiap membicarakan wanita.